Sabtu, 28 Februari 2015

Gadis 10 Tahun Lalu

Kepada gadis sepuluh tahun lalu,

tahun 2005, dua puluh dua hari jelang ulang tahunmu yang ke-14. Bagaimana kabarmu? Sudahkah lebih baik? Bulan Maret ini adalah kali pertamamu merayakan ulang tahun tanpa ayah. November 2004 lalu merupakan perjumpaan terakhir kalian. Selanjutnya tidak akan ada lagi anak perempuan ayah yang manja. Kelak kau harus benar-benar jadi kuat demi melindungi dan mempertahankan keluarga kecil kalian. Ibu dan dua orang adikmu akan sangat bergantung padamu. Kau adalah harapan besar ayah.

Meski begitu, Eru, biar kuberitahukan padamu. Tak perlu terlalu mencemaskan masa depan. Jalani saja. Semampumu. Perlahan-lahan, sesuai porsimu, aku percaya kau pasti bisa. Dan syukurlah kau memang bisa.

Tertatih, kau naik kelas 3, sekelas dengan orang-orang yang akan menjadi sahabat baikmu kelak. Berhasil lulus SMP dengan nilai baik dan masuk ke SMA pilihanmu. Di sana kau akan bertemu orang-orang baru dan belajar lebih banyak hal. Berteman, berorganisasi, melakukan kegiatan-kegiatan yang kau inginkan, juga jatuh cinta.

Cinta pertamamu muncul di tahun pertamamu berseragam putih abu-abu. Seorang pemuda dengan hati hangat bersahabat. Anak laki-laki jangkung berkulit sawo matang dengan senyum lebar yang memamerkan gigi-gigi gingsul nan manis. Kepadanyalah, kau labuhkan hati mudamu, meski dia bukan orang pertama yang menjadikanmu kekasihnya.

Setelah lulus SMA kau mengikuti tes penerimaan universitas, namun gagal. Mungkin kau harus belajar lebih giat lagi. Sayangnya, kau yang terlanjur putus asa memilih langsung bekerja. Tapi menurutku itu bukan sembarang keputusan. Berkat kerja kerasmu jugalah, sedikit demi sedikit beban keluarga bisa terangkat.

4 tahun berpacaran, hubunganmu dengan kekasihmu terpaksa kandas. Cinta pertamamu kembali hadir, dan kau segera tahu bahwa lelaki itulah yang memang kau inginkan. Berbagai prahara menerpa, tapi kalian berhasil mengatasinya bersama.

Tahukah kau bagian terbaiknya, Eru? Pada bulan ke 10 hubungan kalian, lelakimu berencana melamar, dan pernikahan kalian akan dihelat dua bulan setelahnya. Kuperkirakan tepat setahun anniversary jadianmu dengannya, statusmu sudah berubah. Dari seorang kekasih, menjadi seorang istri.

Selamat ya, Eru. Mari kita buktikan bahwa upik abu pun berhak bahagia serupa Cinderella.

Cepatlah tumbuh dewasa.



Sekarang, 28 Februari 2015,


Dirimu 10 tahun lagi
Surat Ke-30 #30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 21 Februari 2015

Aku yang Mencinta

Lagi-lagi kamu mengabaikan panggilan telepon dariku. Hari ini saja, sudah berapa banyak missed call-ku terkumpul?

Sudah tidak ada waktu lagi. Sama sekali tidak bisa. Lebih baik aku menyerah saja.

Memang cuma kamu yang bisa.
Mendiamkanku melalui berbagai hari. Cuma kamu saja. Aku tidak.

Kamu bisa merentangkan jarak selebar ini, tapi aku tidak.
Kamu bisa terus mendiamkan kita, tapi aku tidak.
Kamu bisa menganggap tak ada yang terjadi selagi kamu pergi, tapi aku tidak.

Kamu mungkin menyangka aku bisa tanpamu, nyatanya aku tidak.

Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, sebaliknya kamu bisa.
Aku tidak bisa sehari saja tidak bicara denganmu, ternyata kamu bisa.
Aku tidak bisa menenangkan perasaanku yang kacau karena kita, dan ya, kamu selalu bisa.

Kamu bisa melakukan apa saja tanpaku, dan sayangnya aku tak bisa begitu.

Aku ingin mencintaimu sebatas kini, tapi tak bisa.
Aku ingin menghentikan laju airmata yang terlanjur ada, tapi tak bisa.
Aku ingin mengenyahkan rindu, tetap tak bisa.
Aku ingin membuatmu menatapku meski sekejap, menjadikan diriku satu-satunya yang terbaik bagimu, tapi memang tidak bisa.

Kalaupun aku bisa, itu pasti saat aku belum jatuh cinta padamu.



Penghujung rindu, 21 Februari 2015,


Yang ingin mengulang tanggal 21 bersamamu
Surat Ke-23 #30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 20 Februari 2015

Hari Libur Kekasih

Kamu yang beberapa hari ini tak bisa kutemui,

tidakkah ada alasan bagimu untuk sengaja menemuiku? Oleh sebabmu sendiri, bukan karena aku yang terlalu merindukan hadirmu.

Kamu yang sedikit sekali memberi kabar,

tidakkah ingin tahu kabar hari-hariku? Kabar hatiku selama tak bisa bersamamu?

Seperti cinta ini hanya milikku seorang. Seperti rindu ini tak pernah sekalipun singgah di hatimu, apalagi tinggal dan bersarang.

Ada apa dengan panggilan teleponku yang kamu bilang selalu salah waktu? Aku bahkan berusaha tidak peduli saat menyadari bahwa yang kamu teriaki dari seberang sana ternyata diriku.

Ya, aku.

Aku yang berusaha mendiamkan gelisahku karena rindu. Hanya karena aku sudah terlampau rindu serindunya dan ingin sekali bertemu denganmu. Setidaknya di libur akhir pekan ini.

Tapi, sudahlah. Aku bisa melakukan sesuatu terhadap hatiku, meski tanpa pedulimu. Kukatakan semua baik-baik saja. Akan kuatasi rindu ini sendiri. Kamu urusi saja hatimu yang sedang menolak kuurus.

Itulah kamu. Muncul dengan seraut wajah masam. Kali ini tanpa senyuman. Tanpa candaan. Tanpa pelukan. Tanpa kecup yang kurindukan.

Maka kini biarlah hanya aku yang tersenyum padamu. Tertawa pada usahamu mencipta canda yang meski tidak lucu, adalah yang terbaik yang bisa kamu beri saat ini. Biar aku saja yang memelukmu. Berbagi hangat sembari menjejakkan bibirku pada bibir keringmu yang beraroma mint berpadu wangi tembakau.

Coba diam saja, dan aku akan tetap di situ selamanya.

Terima kasih sudah datang, Sayang...



Rumahku, 20 Februari 2015,


Pecandumu
Surat Ke-22 #30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 18 Februari 2015

Kisah Padang Ilalang

Tak kusangka, akan tiba masanya aku harus bicara pada seseorang. Tentang perasaanku. Meski hanya melalui surat, karena aku terlalu malu untuk mendiskusikan langsung hal ini denganmu.

Matahari, kau yang paling tahu bukan, apa yang terjadi padaku belakangan ini?

Aku tahu beberapa waktu lalu, aku memang sudah memutuskan untuk pergi. Melupakan padang ilalang dan kehidupanku disini. Berharap pada sebuah taman lain di luar sana, akan ada setitik kebahagiaan yang selalu kudamba.

Ya, kau saksinya kutinggalkan semua. Melupakan segala yang ada di padang ilalang ini. Mengenyahkan persahabatanku dengan Bunga Kristal. Membunuh perasaanku terhadapnya.

Terus-menerus kucari bahagia yang aku pun tak tahu bagaimana wujudnya. Berjuang sekuat tenaga namun tak kunjung kujumpai akhir dahaga. Lalu, apa artinya dulu aku bersikeras pergi? Untuk apa aku membuang segala yang kupunya di padang ilalang, demi secuil ego yang sia-sia belaka?

Dan di antara airmata lelahku, aku teringat padanya. Sebuah kejutan tersendiri ternyata aku begitu merindukannya. Apa kabarnya Bunga Kristal di padang ilalang? Apakah ia bertambah cantik sejak terakhir kali kami bertemu? Sudikah ia kembali bersahabat denganku?

Takkan bisa kubohongimu, Matahari. Kau sudah melihat semua. Betapa lucu angin bulan Agustus menerbangkanku kembali kemari. Tak peduli betapapun aku enggan mengakui, aku senang kembali pulang.

Padang ilalang kering dengan langit biru cemerlangnya. Pada satu titik, sekuntum bunga berwangi abadi tengah merekahkan diri. Bunga Kristal yang rupanya masih menungguku.

Demi musim panas yang membakar sayapku. Matahari, menurutmu, apa yang sesungguhnya ia lihat dariku? Aku tidak cantik. Pun tak semenarik kupu-kupu lain dengan warna-warni elok sayap mereka yang tak pernah kupunya.

Lihatlah! Apa bagusnya hitam legam ini? Tak pernah kumengerti kenapa sebelumnya Bunga Kristal begitu menaruh perhatian padaku yang tak ada apa-apanya ini. Perhatian yang demikian hangat dan -entah sejak kapan- lambat laun memikat, yang selalu mampu menguatkan sayap-sayap ringkihku yang suatu ketika lelah terbang. Tidak lagi sanggup membawaku pergi jauh.

Seperti katamu, Matahari, aku terlalu pengecut untuk tinggal, namun enggan terbang sendirian. Jika saja, hanya jika saja Bunga Kristal mengizinkanku untuk pulang ke sisinya...

Begitu saja sudah cukup. Aku tidak ingin lagi pergi ke manapun jika harus sendiri, padahal jelas-jelas yang kurindukan ada sedekat ini. Ia yang kubutuhkan selalu berada di sini. Di padang ilalang ini.

Mungkin sesungguhnya itulah bahagiaku. Ya, sebatas itu. Sesederhana itu.



Rumah ilalang, 18 Februari 2015,


Kupu-Kupu (Hitam)
Surat Ke-20 #30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 17 Februari 2015

Untuk Apa Mengkambinghitamkan Kambing Hitam

Kucing Hitam yang baik,

aku bahkan tidak tahu haruskah aku membuatmu sakit mata demi membaca tuntas isi surat ini. Tapi karena kau sangat baik hati dan sudah repot-repot memikirkan kebaikanku, semoga matamu selalu sehat, Kucing Hitam.

Sepulang dari pertemuan kita senja lalu, aku terus memikirkan perkataanmu, juga pertanyaanmu, yang jujur saja tak pernah terlintas dalam benakku sebelumnya.
"Kambing Hitam, sungguh, sampai di mana batas kesabaranmu? Banyak sekali di luar sana yang senang bersalahpaham atasmu, dan kau cuma membiarkannya saja!" 
Kau bahkan mengucapkannya sambil sesenggukan menahan airmata. Aku mengerti maksudmu, hanya saja yang tidak kupahami adalah... Entahlah, aku hanya tidak terbiasa mencampuri pemikiran orang lain terhadapku. Itu saja.

Apa pendapat mereka tentangku, bagaimana cara pandang mereka terhadapku, sekalipun memang tidak jarang namaku disebut-sebut atas sesuatu yang aku tidak tahu.

Aku tidak peduli.

Makhluk Tuhan yang manapun adalah yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Begitu pula dengan jiwa dan hatinya masing-masing. Aku tidak pernah berpikir bahwa mereka lebih buruk dariku, sama halnya aku yang tidak lebih baik dari siapapun dalam hal apapun. Semua pribadi memiliki porsinya sendiri-sendiri. Begitulah aku ada. Begitulah kau ada.

Yang terjadi kemudian, beberapa pribadi lebih senang mengeksplor kemampuannya sendiri. Beberapa pasrah saja pada yang sudah ada. Dan sisanya, karena -mungkin- terlalu bosan dengan dua hal sebelumnya, ya, adalah mereka yang senang mengurusi urusan orang lain.

Tidak, Kucing Hitam. Kau bukanlah satu dari yang terakhir. Karena kau sungguh-sungguh mempedulikanku. Terlepas dari kesamaan warna tubuh kita -hitam- aku sangat berterimakasih dan bersyukur atas dirimu. Karena Tuhan telah dengan sangat baik menempatkan kita di sisi yang sama.

Hanya saja, berbeda denganmu yang hidup dengan kebanggaan atas dirimu sendiri, atas warna hitammu, aku lebih senang menjadikan hitamku sebagai selimut hangat alih-alih tameng kokoh seperti milikmu.

Berbeda denganmu yang gagah berani menolak pemikiran yang bertentangan dengan kebenaran hatimu, aku lebih cenderung mengabaikannya. Berpikir cukup aku dan Pemilikku yang tahu keadaan sesungguhnya. Karena hanya orang bodohlah yang tidak tahu apa-apa tapi merasa tahu segalanya. Cukup diriku tahu, bahwa aku tidak sebodoh orang-orang itu.
Untuk apa mengkambinghitamkan Kambing Hitam?
Tidak akan ada untungnya. Kau tahu itu.

Jadi Kucing Hitam, tetaplah seperti apa adanya dirimu seharusnya. Pun aku yang agaknya akan tetap apa adanya diriku seharusnya. Cukup aku tahu kau ada di pihakku. Cukup aku tahu kau tahu bagaimana sebenarnya aku.

Jangan lagi menangis atas terkambing-hitamkannya aku, karena aku memanglah seekor kambing hitam dungu, yang hanya tahu tentang mencintai hitammu.



17 Februari 2015,


Kambing Hitam
Surat Ke-19 #30HariMenulisSuratCinta

Senin, 16 Februari 2015

Sebelum Surat Ke-18

Hai, kalian, kesepuluh surat yang tertinggal...

Kalau aku tidak salah, harusnya ini surat kedelapanbelas dan memang demikian jika dihitung sejak surat pertama di hari pertama #30HariMenulisSuratCinta dimulai. Kalian harus tahu bahwa aku pun sangat menyayangkan keberadaan surat sebelum kalian yang hanya sejumlah delapan, lalu ketika giliran kalian tiba surat kesembilan hingga ketujuhbelas– hitungan surat-surat tersebut akhirnya kacau.

Aku tahu kalian pasti sedih. Menyangka kalian bersepuluh tidak cukup baik hingga tidak sempat ditulis. Tapi percayalah –aku jamin– penulis kalian tidak pernah melupakan kalian. Mungkin, dia hanya... Yah, berbagai persoalan terjadi di dunianya yang tidak hanya seputar tulis-menulis pun surat-menyurat. Biar kukatakan pada kalian, dia sedang dalam fase yang oleh manusia-manusia itu sebut: galau.

Apakah aku tahu yang kalian tidak tahu? Jadi begini, aku akan menceritakan sedikit tentang penulis kalian, semoga setelah itu kalian benar-benar mempercayainya dan tidak lagi marah apalagi membencinya.

Tahukah bahwa penulis kalian sedang jatuh cinta? Perempuan muda itu tengah begitu bersemangat memperjuangkan cintanya menuju jenjang yang lebih mulia. Kalian mengerti maksudku? Ya, tentu saja, sang penulis berencana menikah dengan prianya dalam waktu dekat.

Sayangnya menurut mereka, praktek tidaklah semudah berkata-kata. Tahap demi tahap yang harus dilalui menuju pernikahan itu rupanya sama sekali tidak mudah bagi penulis. Bisakah kalian bayangkan?

Ketika dua perasaan telah bermuara, langkah berikutnya adalah menyatukan dua pihak keluarga. Bermusyawarah mencari hari terbaik untuk mengikat janji suci. Dari yang kutahu, pasangan kita ini hidup di zaman segalanya-bisa-dibuat-serba-gampang-dan-repot. Mandiri, berdua, mereka memutuskan untuk mengusahakan kebahagiaan mereka dengan kemampuan sendiri, dan sedikit sumbangsih keluarga.

Namun ada aja permasalahan terjadi. Hari baik yang tidak sesuai perkiraan –hingga akad dimajukan dan jatuh di tanggal merah saat KUA libur, tamu undangan yang belum fix jumlahnya, tentang jenis undangan souvenir yang juga belum ditentukan temanya padahal sudah H-3 bulan.

Sudah begitu, komunikasi di antara keduanya mulai berkurang karena kesibukan masing-masing. Penulis kalian sering cemas lantaran BBM-nya tidak kunjung dibalas. Sedangkan sang pria mengeluhkan sikap penulis yang dianggapnya terlalu posesif.

Belum lagi gangguan-gangguan dari mantan pacar yang susah move on darinya, sementara pacar baru mantan tersebut juga tak henti memburu. Kelewat cemburu.

Konflik kian menjadi saat penulis mengetahui bahwa sang kekasih ternyata masih kontinyu bertukar kabar dengan mantan. Meski tahu percakapan di antara masalalu itu hanya sebatas silaturrahmi, ia merasa gelisah. Pikiran-pikiran buruk berkecamuk. Benarkah hati kekasihnya sedang diuji? Antara tetap fokus hanya pada dirinya, atau harus berbaik santun dengan mantan?

Dan, yang menurutku paling disayangkan, penulis kalian mulai mempertanyakan kualitas dirinya sebagai calon pengantin wanita. Mulai membanding-bandingkan dirinya dengan para mantan sang kekasih. Tanpa sadar, sikapnya berubah skeptis. Menimbulkan pertanyaan bagi sang pria yang bahkan tak tahu menahu masalah psikis penulis.

Lalu dengan kondisi batin yang demikian, jangankan rutin menulis surat, siklus hidup penulis saja sudah tidak teratur lagi, kan? Aku benar-benar merindukan penulis yang mencurahkan perasaannya lewat tulisan. Penulis kan, selalu total dalam membagi perasaannya. Entah saat harinya sedang baik, pun ketika peruntungan terburuk.

Sama seperti kalian. Aku pun menyukai penulis ini. Jadi, berhentilah mendiamkannya.

Ahh, kenapa hati manusia rumit begini?

Haruskah kita membantunya menuliskan surat tentang perasaan mereka?



Senja sepuluh hari kemudian, 16 Februari 2015,


Tinta Hitam
Surat Ke-18 #30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 06 Februari 2015

Yang Membenci Jumat

Kau yang membenci Hari Jumat.

Apa kabar suasana hatimu? Hari ini Jumat. Satu hari yang paling kau hindari. Yang menurutmu lebih baik ditiadakan saja, harusnya di-skip hingga Sabtu. Bagimu Jumat tidak pernah menjadi hari yang baik, ia selalu saja membawa kesialan.

Jadi apa ada yang berbeda dengan Jumat kali ini? Jumat-Jumat yang lalu, linimasaku penuh dengan keluh kesahmu yang menyayangkan kenapa Jumat demikian menyebalkan, tepat sewaktu ada hal-hal yang harus kau urus pada saat bersamaan.

Aku resah. Kenapa? Karena berbeda denganmu, aku menyukai Jumat. Aku lahir di hari itu dan senang menyambutnya. Maka ketika aku melihatmu yang seperti itu, bagaimana aku jadi tidak ingin membagi Jumat-ku?

Maka, jadikan aku Jumat-mu. Siapa tahu keberuntunganmu itu aku.



Sudut lain Mojokerto, 6 Februari 2015,


Yang ingin menjadi Jumat-mu
Surat Ke-8 #30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 05 Februari 2015

Kepada Orang Dewasa Berikutnya

Selamat ulang tahun ke 20, Boy!
Memang terlambat sehari sih, tapi jauh lebih baik daripada lupa sama sekali. Hehehe...

Semoga diberikan umur panjang sarat manfaat, sukses dengan pekerjaan dan percintaan. Wish you all the best, lah.

Sudah 'kepala dua' ya, sejak kemarin? Bagaimana rasanya?

Yang jelas memasuki usia dua puluhan, bisa dibilang kita hampir menyudahi masa remaja dan semakin mendekati kedewasaan yang kian matang. Kini kamu sudah menjelma pria dewasa. Apalagi sudah bekerja, dan bersama gadismu, kalian sudah beberapa tahun menjalin hubungan yang seharusnya tidak boleh asal main-main lagi.

Sebagai pria muda yang merupakan sulung dalam keluarga, aku bisa mengerti betapa Tante Win begitu menggantungkan harapan besarnya padamu. Setelah ini, kamulah yang akan menjadi wakil Oom Rozi, ayahmu, untuk menjaga dan melindungi keluarga kecil kalian. Kebebasan boleh jadi yang paling ingin kamu dapatkan, tapi selalu ada tanggung jawab yang menyertai. Tanggung jawab atas ibumu, dua orang adikmu, dan dirimu sendiri.

Untukku pribadi, menjadi dewasa adalah memudahkan segala persoalan yang dahulu kita perlu bantuan dari orang lain yang lebih mampu untuk menyelesaikannya. Berarti sekarang tiba giliranmu untuk membantu para belia mmenghadapi perkembangan fisik, emosi, juga mental mereka. Bukan berarti menggampangkan permasalahan anak muda lain... Yah, you know what I mean.

Di sisi lain, permasalahan hidup yang jauh lebih berat pasti sudah menanti. Kuat-kuatlah dirimu. Jadilah orang dewasa yang tangguh dan bisa diandalkan. Aku percaya padamu.

Omong-omong, kamu belum mentraktirku sesuatu sebagai selamatan ultah. Segera, ya.



Sudut lain Mojokerto, 5 Februari 2015,


Mbak Liya –yang lebih dulu berusia 20an
Surat Ke-7 #30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 04 Februari 2015

Surat Untuk Oppa

Annyeong, Oppa! <Halo, Oppa!>
Jaljjinaesseoyo? Jinjja oremaniyo... <Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali, ya...>
Neomu bogoshipoyo, Oppa~ <Aku kangen sekali padamu, Oppa~> Oppa kangen padaku juga, tidak?

Sudah lama sekali kita tidak berkomunikasi, eoh? Mmm... Barangkali sejak kau mulai serius dengan Unni itu, dan aku juga fokus dengan namjachingu-ku. Tapi berbeda denganku, Oppa sepertinya benar-benar tidak bisa meluangkan waktu meski sedikit saja untuk sekadar menyapaku. Gwaenchana, memang sudah seharusnya kau lebih mementingkan yeojachingu-mu daripada aku yang cuma seorang dongsaeng 'angkat' bagimu. ^^ Hehehehe...

Benar-benar sudah lama sekali, sejak pertama kali aku memberanikan diri menyapamu via message Facebook. Ingat tidak? Oppa dulu adalah seorang admin di fanpage Ryeowook Super Junior Lover –Ryeosomnia. Satu-satunya dan pelopor admin cowok! *tepuk tangan*

Kala itu aku begitu takjub, kagum, sekaligus penasaran. Jarang sekali aku menemukan namja yang mengakui dirinya seorang K-Popers. Apalagi Elf. Apalagi Ryeosomnia. Dan menjadi admin di fanpage pula! Jinjja daebak! Uri oppa jjang!! >w<

Di antara sekian banyak admin yang selalu online bergantian selama 24 jam 7 hari seminggu, lambat laun aku mulai memperhatikanmu. Mengingat karakter dan pembawaanmu ketika bertugas menjadi admin. Aku merasa bisa langsung tahu itu dirimu sekalipun kalian semua menggunakan ID pengganti. Kau menggunakan 'Ryeogant' sebagai identitasmu.

Kau tahu tidak, kalau dulu kau sangat susah distalking, Oppa? Dasar sok misterius! Beruntung ketika ada sesi #AskAdmin aku berhasil mendapatkan akun Facebook pribadimu. (≧∇≦)っ

29 Januari 2013. Chat pertama kita bahkan masih tersimpan. Mengendap di antara banyaknya chat-chat iseng yang terlalu malas untuk kuhapusi manual satu per satu.

Berawal dari sana, hubungan kita 'naik kelas' menjadi teman curhat via sms dan Whatsapp. Aku sudah seperti tempat sampah bagimu, sebagaimana kau sudah kuanggap sebagai kotak harta karun yang menyimpan berbagai perasaan yang tidak mudah kubagi dengan sembarang orang.

Berdua kita saling menggosipkan artis-artis Korea, bertukar info tentang single terbaru Suju, juga berkeluh kesah tentang kejombloan kita, dulu. Obrolan yang membuatku tertawa-tawa sendiri tengah malam.

Minimal seminggu sekali Oppa menelepon. Seringkali saat tak bisa tidur, atau ketika mendapat bonusan sehabis mengisi pulsa. Jika sudah begitu kita berdua pasti akan mengobrol sangat panjang, melintasi malam, sampai salah satu di antara kita jatuh tertidur.

Ahh, itu cerita lama. Kini Oppa ada di mana aku tak tahu. BBM-mu centang tak berkesudahan. Sudah ganti ponsel, atau Oppa sengaja menghapus pinku? Sekalipun keadaan kita yang seperti ini sama sekali tidak membuatku senang, tapi jika kau menghendaki begini, tidak apa-apa.

Baik-baik dengan unni yang sekarang, ya. Semoga dia tidak seperti ex yeojachingu-mu yang lalu-lalu. Jika Oppa membaca ini, boleh lah kita saling berkontak lagi.

Tetap jadi Gantppa-ku, eoh?



Sapphire Blue Ocean, 4 Februari 2015,


Ryeongllya –Ryeosomnia, neo yeongsaeng
Surat Ke-6 #30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 03 Februari 2015

So Long and Good Night

Dear, Finisha, gadis chubby nan manis berambut hitam lurus dengan poni nyaris menutupi sepasang mata yang sipit.

Masihkah kau sama seperti yang terekam dalam memoriku? Bilangan tahun berlalu tanpa kita saling bertemu. Dan sebatas sapaan via dunia maya menjadi gantinya. Kuharap di mana pun kau berada sekarang, itu adalah sebaik-baiknya lingkungan dan kehidupan bagimu, meski mungkin yang demikian berarti kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi.

Finisha yang kukenal adalah anak perempuan teman sekelas di 1E yang pemalu namun begitu polos dan baik hati. Sama sepertiku, kau pun gemar menonton film kartun dan anime. Senang mengumpulkan bermacam-macam komik juga Serial Cantik. Di jam-jam kosong dan waktu istirahat seringkali kita heboh bertukar cerita dan mengomentari episode Minky Momo atau Hunter X Hunter yang tayang malam sebelumnya. Pikirku itulah yang membuat kita berdua bisa nyambung mengobrol lama, meski sebenarnya banyak teman-teman lain yang lebih dekat denganmu daripada aku.

'Finish' dari Finisha. Kami sekelas curiga bahwa kau seorang bungsu. Itu menjelaskan bagaimana tingkah lakumu bisa sangat cute dengan kemanjaan yang wajar. Aku ingat kami pernah mengolokmu, "Dinamakan Finish(a) karena kamu anak terakhir. Tapi gimana kalau suatu saat mamamu melahirkan bayi lagi? Nggak jadi finish, dooong... " dan tawa kami makin menjadi ketika melihat wajah bulatmu berubah merah padam, menahan kesal. Kami tahu kau adalah gadis kecil kesayangan mama.

Ohh, apa kabarnya beliau? Sudah lama sekali tidak bersilaturrahmi. Saking lamanya tidak pernah lagi mengunjungi rumahmu, aku bisa saja nyasar bila entah kapan bermaksud main-main ke sana. Hmmm... Mungkin dalam waktu dekat ini. Akan kusempatkan waktu. Makanya, kau cepat pulang.

Aku tidak bisa membayangkan jika ibuku harus berjauh-jauhan denganku, seperti yang kau dan mamamu jalani sekarang. Kuharap beliau bisa segera terbiasa hidup terpisah dengan anak gadis kesayangannya.
Fin, saat aku menulis ini, senja Mojokerto sedang bertemankan deru hujan. Seperti mengerti bahwa kepulanganmu kini adalah yang kali terakhir. Airmata yang saling lebur antara langit mendung dan hati mereka yang bercucuran di bawah atap rumah duka.

Aku, mungkin salah seorang yang ikut menangisi kepergianmu.

Selamat jalan, kawan. Menuju tempat peristirahatan yang terakhir mungkin tidak mudah. Maka sedikit doa dariku semoga bisa melapangkan jalanmu menuju sisi-Nya.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Allahummaghfir laha warhamha wa'aafiha wa'fu 'anha wa aj'alil jannata maswaha...

RIP. Finisha Putri Rizky (1991-2015) @finishaaaaa



Airmata langit Mojokerto, 3 Februari 2015,



Riza Chanifa Auliya S. –teman 1E, Spenda
Surat Ke-5 #30HariMenulisSuratCinta

Senin, 02 Februari 2015

Kepada Malang(2)

Sampai di mana kita kemarin? Ahh, bersenang-senang denganmu selalu saja berhasil membuatku lupa waktu.

Selamat hari senin, Malang!

Aku sudah pulang ke kotaku dengan selamat, dan kembali beraktifitas di kantor hari ini. Perjalanan kemarin membuat tubuhku amat sangat lelah, tapi kau berhasil membuat hati dan jiwaku seolah tersegarkan kembali, penuh sesak oleh bunga-bunga bahagia.

Sebagaimana kau tahu hujan kian menderas sejak kami menyusuri Jalan Gajayana menuju Soekarno-Hatta. Beriringan memacu dua motor yang membawa kami berempat yang menggigil dari balik jas hujan masing-masing. Ingin sekali menyempatkan mampir. Sekadar mengeringkan diri dan mencicipi beberapa kuliner di sepanjang jalanan yang membawa kami keluar dari Malang kota. Namun sempat tak kunjung didapat. Bagaimanapun kami harus meninggalkanmu. Selekasnya bertolak menuju Mojokerto.

Ahh, andai saja jarak antara kau dan kotaku hanya sebatas lebar Kali Brantas.

Kau tahu, pada malam sebelumnya, ya, Sabtu malam sebelum hari keberangkatan. Aku merasa begitu cemas. Tidak hanya bersama Ibu dan Aya, kali ini Kak Anto juga ikut bersama kami. Tidakkah formasi kami mengingatkanmu pada kejadian dua tahun lalu?

2 Juni 2013. Hari Minggu.

Otakku tak sudi lupa. Perjalanan perdanaku bersama keluarga dan kekasih ke Malang. Tentu saja Ibu yang meminta Kak Anto untuk memboncengiku, karena tidak tega membiarkanku menyetir sendiri pergi-pulang Mojokerto-Malang.

Yang aku menolak ingat, bagaimana egois dan serakahnya diriku yang sudah menyeret lelaki itu dalam keruwetan masalah intern keluarga kami. Kak Anto boleh jadi kekasihku, tapi isi kepalanya tetap miliknya.

Pikirku perjalanan sehari penuh tersebut adalah sebaik-baiknya kebersamaan kami melintasi waktu. Tapi kala itu, rupanya Kak Anto tidak berpikiran sama. Kau tidak tahu kan, kalau setelah itu kami sempat bertengkar hebat?

Sejak itu hubunganku dan Kak Anto memburuk, lost contact selama beberapa hari, dan saat aku bermaksud memperbaiki hubungan kami dengan mendatanginya di akhir pekan, semua sudah terlambat. 

Ia bilang tidak butuh seorang kekasih yang tidak membutuhkan dirinya. Tidak butuh seorang kekasih yang egois dan minim perhatian. Yang tidak peduli pada kondisi kesehatannya. Seorang gadis hanya mau keinginannya didengar, tapi enggan mendengar keinginan pasangannya. 

Ia (bilang) tidak membutuhkan aku. 

Lalu dari ibunya aku tahu, Kak Anto jatuh sakit sepulang dari Malang. Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Apa beliau pun mengira aku pelakunya? Hatiku sakit. Apa Kak Anto juga menyimpan kesakitan yang sama? Ingin sekali aku berlagak lupa bahwa sepanjang malam minggu itu ia bersamaku, dan tidak tidur sedikitpun hingga waktu janjian karena shift malamnya.

Ya Tuhan... Andai aku tahu ia sedang tidak enak badan dan benar-benar sakit. Andai aku tidak bersikeras menghadiri pesta pernikahan teman, dan memilih tinggal bersamanya. Andai aku lebih peka dan peduli. Andai aku bisa membujuk Ibu agar tidak memaksanya menemani kami ke Malang. Andai aku tidak perlu mengunjungimu lagi, Malang! 

Aihh, sungguh malang, namamu Malang.

Benar. aku pernah menyesali perjalanan kami yang rupanya berujung pada sakit hati. Aku menyalahkanmu. Hampir-hampir benci untuk kembali. Tapi bagaimanapun aku tetap merindukanmu, dan di sisi lain takut seandainya keping-keping hatiku yang sudah susah payah kukumpulkan akan terserak lagi begitu aku mengingat kejadian itu.

Ya, akulah si pengecut yang melimpahkan sebab kesedihannya padamu. Mungkinkah aku masih berhak untuk meminta sedikit maaf? Kau tahu kita terlalu akrab untuk saling mengabaikan. Jadi, mohon maafkan dan selalu terima diriku tiap berkunjung ke kotamu. Terima kasih.

Maka biar kuberitahukan padamu, Malang. Meski tidak selalu, tapi bagi kami waktu sangat berperan dalam menyembuhkan. Walau tidak sebentar. Sekalipun harus tersesat kesana-kemari lebih dulu, tapi sekali lagi, kami bisa saling menemukan.

Dengan perjalanan seharian kemarin, luka-luka kami pun akhirnya sembuh sama sekali. Dan kami, akan selalu punya alasan untuk kembali. Demi menjumpaimu. Untuk berbagi tawa bahagia di bawah langit Malang yang gemintang usai hujan. Lagi dan lagi.



Mojokerto –sepulang dari Malang, 2 Februari 2015,


Liya –yang ingin kembali ke kotamu
Surat Ke-4 #30HariMenulisSuratCinta

Minggu, 01 Februari 2015

Kepada Malang

Halo, Malang!

Sudah lama tidak bersua, bagaimana kabarmu? Masih berhawa dingin, kah? Masih asri dengan aneka penganan unik yang mengundang seleraku, kah?

Hari ini aku kembali. Hendak menapak tilas ruas-ruas jalan sarat kenangan antara kau, aku, dia, dan mereka. Secuil ingatan yang mengekalkan diri pada sudut hati. Yang betapapun tak ingin kuratapi, namun tiap kali kuinjakkan kaki ke tanah ini, hal-hal yang berkaitan dengan ingatan tadilah yang akan selalu muncul.

Sebuah ingatan yang sekalipun pahit tapi Tuhan sudah memberiku penawarnya aku bersedia.

Sebentar lagi. Aku masih dalam perjalanan. Tunggulah.



Melawan hujan, 1 Februari 2015,


Liya –yang ingin lebih lama berada di kotamu
Surat Ke-3 #30HariMenulisSuratCinta