Tampilkan postingan dengan label #RicchanMenulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #RicchanMenulis. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2020

Menyusui Layak Diperjuangkan

MENGAPA MENYUSUI LAYAK DIPERJUANGKAN

Kulwap Kisah Kasih MengASIhi
Sabtu, 22 Agustus 2020

Pemateri: dr. Hazwani Fadhillah, Nst

Fitrahnya setiap mamalia baru termasuk bayi manusia menyusu pada induknya, maka dari itu ASI (Air Susu Ibu/Induk) seharusnya menjadi satu-satunya sumber makanan pokok terbaik yang tak tergantikan oleh apapun. Karenanya kami percaya bahwa setiap ibu (induk) secara alami pasti dapat menyusui.

Sayangnya di luar sana masih banyak orangtua yang belum benar-benar mengerti dan teredukasi akan manfaat luar biasa dari ASI. Saya pribadi insyaallah selalu meniatkan proses menyusui utamanya adalah demi bayi saya, kemudian untuk kebaikan dan kenyamanan hati saya sendiri. Setelah mengikuti kuliah online bersama dr. Dilla selaku konselor ASI, saya semakin tahu besarnya manfaat ASI baik itu bagi bayi, ibu, keluarga, bahkan berkontribusi positif terhadap kelestarian lingkungan. Masyaallah...

Menurut penelitian ASI memiliki kandungan nutrisi unik nan tepat yang tidak dapat dibuat tiruannya dan tidak mungkin terdapat dalam susu lain, di antaranya anti bakteri, anti virus, anti peradangan, hingga HMO (Human Milk Oligosaccharides). ASI dirancang sedemikian menakjubkan oleh Tuhan dengan segala keajaiban dan fleksibilitasnya yang dapat menyesuaikan serta memenuhi kebutuhan bayi dalam situasi apapun--termasuk saat ibu/bayi sakit. Kualitas ASI akan selalu bagus dan terbaik sepanjang waktu.

Paham dengan peran ASI yang begitu besarnya, saya sangat bersyukur senantiasa dimampukan menyusui kedua anak saya selama 4 tahun terakhir. Perjalanan kami sebagai keluarga ASI memang tidak selalu mudah, tapi kami percaya perjuangan kami untuk konsisten mengASIhi niscaya menjadi investasi bagi kebaikan keluarga kami di masa depan.

Sebagaimana wawasan dan semangat yang saya dapatkan dari kelas online tentang perjuangan mengASIhi ini, saya berharap teman-teman sesama busui yang juga tengah berjuang menyusui dengan segala kisahnya masing-masing pun akan selalu istiqomah dalam mengASIhi buah hati. Insyaallah kisah kasih kita bernilai ibadah.

#projectnulisbarengbatch5 #ruangnulis #kisahkasihmengasihi #asieksklusif #ibuasi #ricchanmenulis #writingchallenge

Minggu, 02 Agustus 2020

4 Tahun Menjadi Ibu ASI (Bagian 1)

Dalam minggu ini Si Bungsu genap berusia 2 tahun, dan segera lulus ASI, insyaallah. Jika berkaca pada sang kakak yang lulus ASI pada usia 25 bulan, mungkin si adik akan mendapat toleransi yang serupa. Ya paling tidak sampai penghujung tahun ini.

Terhitung, sudah 4 tahun lebih aku menjadi seorang ibu ASI, tepatnya sejak Juni 2016 ketika sang kakak, putra pertamaku lahir. Waktu itu masih teringat jelas keinginan terbesarku untuk melahirkan secara normal dan bisa melakukan Inisiasi Dini sebaik mungkin.

Atas izin Allah, aku dimampukan untuk mengantarkan kakak Ari lahir ke dunia secara normal. Namun sayangnya, karena kesalahan teknis saat mengenjan yang begitu menguras tenaga--hingga berakhir aku super lemas dan terpaksa diinfus, aku tidak bisa melakukan Inisiasi Dini dengan baik dan optimal. ASI-ku tidak langsung keluar. Aku kesulitan menyusui bayiku pada beberapa jam pertama. Bersyukur setelahnya kolostrum perlahan-lahan keluar, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. :'(

Salah satu hal yang aku sesalkan, saat itu aku seolah tidak punya kuasa atas bayiku sendiri. Aku tidak bisa menolak saat pihak keluarga memberi susu formula pada si bayi yang kerap menangis. Mereka bilang bayiku kelaparan karena ASI-ku sangat sedikit dan itu tidak cukup. Apalagi dia anak laki-laki yang harus banyak menyusu. Dengan berat hati aku pun mengikuti suara terbanyak untuk memberikan susu formula pada si bayi. Namun aku tetap bertekad agar bisa sesegera mungkin menyusuinya langsung. Setiap ada kesempatan aku memompa ASI dan menyimpannya, memberikannya bergantian dengan susu formula.

Alhamdulillah, pada hari ketiga ASI-ku akhirnya cukup lancar dan deras. Bayiku kembali menyusu langsung. Terbukti dia lebih tenang, lebih, nyaman, dan menyusu lebih sering. Payudara mulai penuh dan harus dipompa agar tidak merembes. Dengan fakta itu saja aku sudah luar biasa bahagia.

Untungnya susu formula yang dibeli cuma sekotak, dan agar tidak mubazir kami hanya memberikannya ketika si bayi kutinggal untuk urusan pribadi dan sedang ditunggui oleh anggota keluarga yang lain.

Tepat seminggu ketika stok susu formula habis, aku makin aktif menyusui dan memerah ASI untuk disimpan. Waktu itu memang ada wacana aku kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Karena sangat menyesali pemberian susu formula dan berharap dapat memenuhi ASI Eksklusif (6 bulan), aku pun giat menimbun stok ASIP.

Qadarullah, baby Ari ternyata lebih senang menyusu langsung daripada minum ASIP dari dot. Dia mengalami bingung puting, sehingga selama beberapa waktu harus minum ASIP secara manual dengan sendok. Kemudian Allah kembali menolong memantapkan hatiku untuk resign dari kantor. Akhirnya aku kembali menyusui baby Ari dengan penuh semangat dan cinta kasih. Melihatnya tumbuh sehat dan gembul, ya, bahagiaku cukup sesederhana itu.

Berkat ASI Eksklusif aku auto mengalami kontrasepsi alami. Salah satu keinginanku yang akhirnya lunas. Selama hampir 11 bulan aku tidak mengalami menstruasi dan merasa baik-baik saja, kecuali belum mampu menjalankan puasa Ramadhan sebagai busui aktif. Namun sebelum baby Aris genap berusia setahun, aku kembali datang bulan. Sedih sekali rasanya...

Bulan-bulan berikutnya menstruasiku kembali pada siklus sebelum hamil, tapi dengan flow yang lebih berat. Menyadari KB laktasiku sudah usai, aku mulai belajar menggunakan KB kalender dan perhitungan masa ovulasi. Jadi, aku memang sengaja tidak menggunakan alat kontrasepsi resmi dan lebih berusaha mengontrolnya secara manual.

Everything was very fine, sampai pada penghujung 2017 aku sudah lupa kapan terakhir kali menstruasi. Tbh, I was so afraid what if I got pregnant, since baby Ari was just 18 months old, dan masih menyusu. It was my biggest worried. Terlalu tidak tega jika tiba-tiba harus menyapihnya, berharap masih mampu memberikan haknya hingga 2 tahun.

Januari 2018, it confirmed that I got pregnant. Speechless. It felt like bless and frightened. Jujur, di satu sisi merasa gambira dan bersyukur, sementara di sisi lain galau karena merasa tidak percaya diri akan mampu mengatasi semuanya sekaligus. Terutama kewajiban sebagai busui yang belum lunas tertunaikan.

So, I thanked to the doctors and nurses who positively help me through my dilemma. Gave me strength and supported me that since my pregnancy all was well, I still can give direct-breastfeeding to my first child. And yess! Aku mampu menjalankan peran ganda sebagai bumil dan busui. Tentu saja mengantisipasi berbagai macam skenario terburuk, kami tetap melakukan sounding kepada baby Ari bahwa dia sudah besar dan segera menjadi kakak, makanya dalam waktu dekat tidak boleh nenen bunda lagi. Sounding tersebut selalu kusampaikan sejak awal kehamilan sampai tiba akhir masa menyapih.

Beberapa saat setelah ulangtahun keduanya, baby Ari secara sukarela minta tidur dengan ayah atau mbahbuk, sementara bunda sengaja 'sok sibuk' demi menghindari rutinitas nenen sebelum tidur. Kegiatan tersebut berjalan selama kurang lebih sepekan hingga akhirnya baby Ari benar-benar lepas dan berpisah dari nenen.

Dan begitulah, kakak Ari berhasil lulus ASI 2 tahun dan sukses melewati masa penyapihan tanpa drama. Win win solution, lah. Debay dapat tumbuh sehat, normal sesuai chart dan kakak tetap terpenuhi masa menyusunya.

Ada efek sampingnya kah, tetap menyusui selama hamil?

Insyaallah, bersambung di '4 Tahun Menjadi Ibu ASI (Bagian 2)' selanjutnya!

Sabtu, 01 Agustus 2020

Pekan ASI Sedunia

Selamat menyambut pekan ASI sedunia!

Bagi para ibu, kebahagiaan terbesar setelah mampu melahirkan bayi dengan selamat dan sehat adalah sukses menyusui. Setiap ibu yang baru melahirkan, tentu besar harapan mereka untuk dapat segera menyusui buah hatinya. Selain alasan ilmiah bahwa kolostrum dalam ASI kaya akan protein, vitamin A, nitrogen 11, garam, sel darah putih, serta beberapa antibodi tertentu yang sangat dibutuhkan oleh bayi baru lahir, pendekatan Inisiasi Dini diharapkan mampu membantu meningkatkan kualitas bonding antara ibu dan bayi.

Sebagaimana melahirkan, menyusui merupakan fitrah bagi tiap-tiap wanita. Ada kewajiban dan hak dalam prosesnya, yakni:
  • KEWAJIBAN ibu memberikan sumber makanan pertama kepada bayinya yaitu ASI yang mengandung air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, zat antibodi, dan enzim; sekaligus memperoleh rasa nyaman dan terlindungi dari sosok ibu. Bayi ASI dipercaya memiliki antibodi yang lebih baik dan kedekatan emosi yang lebih intim dengan sang ibu. 
  • HAK bagi ibu melepaskan hormon prolaktin (yang berperan dalam produksi ASI) berfungsi dalam menjaga kesehatan mental dan penataan emosi. Ibu yang menyusui biasanya terlihat lebih tenang dan santai, tidak mudah marah maupun gelisah. Mereka juga cenderung berpikiran positif dan tidak mudah mengalami baby blues atau bahkan post partum depression syndrom. Selain itu menyusui dapat menekan hormon estrogen (yang dikenal sebagai pemicu penyakit kanker), serta membantu pemulihan kondisi rahim lebih cepat. 
Menurutku pribadi menyusui merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Quality time bersama buah hati yang niscaya dapat membangun kedekatan antara ibu dan anak.

Selama 4 tahun menjadi full-timer ibu ASI, alhamdulillah tidak banyak duka yang kualami, karena memang hampir semua diisi bahagia. Setidaknya aku sempat mengalami beberapa kegalauan di antaranya:
  • Anak pertama sempat kesulitan menyusu dan harus 'kena' sufor selama seminggu. 
  • Keharusan memerah dan menyetok ASI jelang habis masa cuti kantor. 
  • Membagi waktu antara menjadi ibu pekerja dan ibu ASI Ekslusif. 
  • Anak pertama bingung puting dan enggan menyusu dari dot. 
  • Bayi hanya mau menyusu sambil tiduran/berbaring.
  • Puting digigit atau ditarik-tarik. 
  • Susahnya menemukan Nursing Room di tempat umum. 
kemudian kusadari itu semua normal dan wajar terjadi dalam perjalanan menjadi ibu. Keadaan kurang nyaman tersebut berangsur-angsur berkurang, hingga aku benar-benar rileks dan nyaman menyusui. Justru bila dalam jangka waktu beberapa jam tidak menyusui, aku akan gelisah sendiri. Seperti ada yang kurang. 'Efek samping'nya payudara akan penuh oleh stok ASI (yang tidak segera disusukan), dan itu dapat menimbulkan rasa sakit atau tidak nyaman.

Mungkin sebagian ibu lain mengalami hal yang sama, barangkali juga ada banyak pengalaman berbeda. 

Yang manapun adalah baik bagi masing-masing, karena tidak ada salah dan benar dalam pengasuhan, yang ada hanyalah pembelajaran. Belajar memilah dan memilih mana yang terbaik untuk diterapkan kepada diri sendiri dan buah hati. Ambil yang baik dan sesuai, singkirkan yang kurang tepat dan tidak relevan bagi kondisi real kita. Karena setiap kita adalah ibu terbaik baik anak-anak kita. :) 

Semangat meng-ASI-hi, para ibu! 

Rabu, 29 April 2020

Rindu Ibu Guru

Telah banyak kisah tercurah
Di sini,
hari-hari penuh kasih kita lalui setiap hari
Tawa, canda, celoteh ria...
Belajar, bermain, tumbuh bersama

Kini,
Jarak memisahkan kita
Demi kebaikan semua
Mari kita menyimpan rindu di rumah saja

Semoga,
akan tiba hari di mana kita dapat berjumpa
Melepas rindu dan segala cerita saat kita berjauh raga

Sampai saat itu,
kami harap anak2 sehat selalu
Tetap giat belajar dan menuntut ilmu

Doa ibu guru selalu beserta anak didik sekalian
Di mana pun kalian berada, Nak
Kami, para ibu guru akan selalu sayang dan terkenang



Guru-guru
TK Pertiwi Kabupaten Mojokerto

Minggu, 09 Februari 2020

Review Novel Nona Teh dan Tuan Kopi, Arkais

Judul: Nona Teh dan Tuan Kopi, Arkais
Penulis: Crowdstoria
Penerbit: KataDepan
Cetakan: 1, 2018
Tebal: 378 hal
ISBN: 978-602-5713-68-2

Blurb:
"Bagaimana jika menjadi alasan seseorang untuk bahagia ternyata tak segampang yang ia duga?
Bagaimana jika alasan yang kau punya untuk bahagia ternyata hanya sekadar fana? 
Ketika Nona Teh memberi ultimatum yang membuat hati Tuan Kopi kembali patah. Ketika kebetulan ternyata tak membawa akhir bahagia. Apa yang harus Tuan Kopi lakukan untuk melanjutkan hidupnya?"

Terdiri dari 19 bab (-8 hingga 0 dan 19 hingga 28, yang entah apa alasan di baliknya), Arkais terasa sangat padat kendati lebih cepat rampung dibaca ketimbang Parak. Bisa jadi efek kisah yang kian larut dan pekat. Hingga benar-benar menyita perhatian--harus segera tuntas dibaca--agar tidak bikin penasaran.

Novel ini cukup menguras emosi. Lebih banyak mengungkap masalalu dan sisi lain dari Tuan Kopi, kebetulan-kebetulan antara dirinya dan Nona Teh mulai menemukan titik temu. Tidak menafikan jika keduanya saling tertarik, bisa jadi karena suatu ketika, bisa jadi juga mulai tumbuh cinta.

Mengangkat topik yang tidak biasa yakni psychology illness, banyak ilmu baru terkait yang pembaca jadi tahu dari Arkais. Betapa sosok keluarga dan kasih sayang tulus sangat dibutuhkan dan berperan penting dalam perkembangan mental dan psikologi seseorang, serta bagaimana hal tersebut berdampak pada kehidupannya di masa depan.

Selain alur maju-mundur, seri NTdTK menggunakan trilingual: Bahasa, English, dan Deutsch, yang menariknya tidak mengurangi kualitas jalannya cerita, sehingga tetap bisa dinikmati dengan runut oleh readers berbagai lapisan. Sangat suka dengan dialog-dialognya yang nyata dan mengena. Bagaimana Tuan Kopi dan Nona Teh berusaha membuka diri sekaligus menerima kehadiran masing-masing, lengkap beserta masalalu dan rahasia.

"...apa yang bakal kamu lakukan kalau kamu nggak ketemu atau nggak dipersatukan dengan jodohmu di dunia?"
"Doing good things that please God,"

Meski sedikit kurang puas dan jadi kesepian di halaman terakhir, aku melepas kisah cinta Nona Teh dan Tuan Kopi lunas di sini.

Jumat, 07 Februari 2020

Review Novel Nona Teh dan Tuan Kopi, Parak

Judul: Nona Teh dan Tuan Kopi, Parak
Penulis: Crowdstoria
Penerbit: KataDepan
Cetakan: 1, 2017
Tebal: 352 hal
ISBN: 978-602-6475-29-9

Membaca judul dan mengamati covernya; aku berekspektasi tinggi pada novel ini, mengingat kepopuleran dan ratingnya di Wattpad. Sekaligus menjawab tantangan sebagai pecinta kopi dan teh, wajib baca, dong!

Blurb:
"Dalam secangkir teh, adakalanya kalian temukan rasa manis jika meminumnya dengan gula. Pahit, mungkin saja. Sejatinya, yang tercecap adalah sepat semata. Kalian mungkin tak pernah tahu apa yang tersimpan dalam secangkir teh yang tertuang." 
"Dalam secangkir kopi, ada rasa pahit yang pekat kalian menyesapnya tanpa gula. Namun, dengan caranya sendiri, secangkir kopi menyemangati, membuat kita seketika terjaga."

Percayakah kau pada kebetulan yang (mungkin) mengabulkan harapan?

Nona Teh yang nyaris sempurna rupanya tengah menanti belahan jiwa. Berupaya menjalani hidupnya sebaik mungkin dan menghargai setiap perjalanan bersama orang-orang tersayang. Sayangnya, nasib baik tak selalu menyertai orang baik. Berbagai ujian datang. Jika tak bisa menemukan jodoh di dunia, barangkali di akhirat pun tak apa.

Tuan Kopi dianggap sebagai sosok tanpa cela. Namun, ia memiliki ketakutan akan mimpi buruk yang bersumber dari masa lalu kelamnya. Sebuah memori hitam dalam hidup yang mati-matian ingin dienyahkan. Rentetan kejadian berujung duka pada orang-orang yang berharga baginya.

Kebetulan demi kebetulan mempertemukan keduanya yang tidak pernah benar-benar asing. Ketika banyak rahasia akhirnya terkuak, akankah semua mewujud takdir, atau memang kebetulan belaka yang tak semestinya hadir?


Novel ini dituturkan dengan sangat apik dalam dua bagian berbeda: bagian Nona Teh dan bagian Tuan Kopi, yang kemudian 'menyambung' di bagian epilog. Alur cerita maju-mundur dengan detil yang sesuai porsi, memperkuat kisah romansa yang dibalut isu dan problema keluarga.

Membaca hari-hari Nona Teh dan Tuan Kopi seperti bercermin. Cerita mereka sungguh dekat. Tentang diri sendiri, keluarga, kehilangan, dan melepaskan. Keseluruhan isi novel adalah 'pengantar' bagi sekuel selanjutnya: Arkais.

Kamis, 30 Januari 2020

30/366

Ketika pada akhirnya saling menemukan, mungkin itulah saat bagi kita untuk menyudahi masa pencarian dan penantian.

Aku berhenti di kamu.

Bukan selesai. Sekadar beristirahat dan melepas penat sejenak, untuk bangkit memulai lagi lembar-lembar baru, bukan sendiri tapi berdua. Petualangan-petualangan kita dalam mengarungi hidup bersama.

Lelah selalu ada. Pun bosan dan mungkin juga hilang arah tujuan. Begitu juga tak apa. Asal kita selalu mengingat titik awal kita berjumpa dan berjuang beriringan.

Jika kamu ingin berhenti, aku akan ada di situ.

Kepadamu, aku kembali pulang selalu.

Rabu, 29 Januari 2020

29/366

"Kamu itu feminin atau tomboy sih, sebenernya?" aku terlalu gemas untuk tidak bertanya.

"Menurutmu?" tanyamu balik.

"Kamu itu yaa kamu..."

"Excellent!"

"Ya tapi mana yang lebih kamu banget? Secara kalau aku lihat kamu bisa termasuk keduanya. Atau tidak." aku masih mencoba menerka. "Karena setahuku meski fisikmu mungil, kamu termasuk kuat. You're cute but sometimes kinda badgirl even a devil. Kamu manja dan keras kepala, tapi kadang juga sangat penurut, pas ada maunya. Hahaha..."

Aku bisa melihatmu mendengus dari balik buku yang kamu baca. Akhirnya kamu berhenti juga darinya dan membalas tatapanku.

"Girls are forever girls, My Dear. Terlepas dari apa yang mereka kenakan, apakah itu heels atau sport shoes, apakah itu kebaya atau jeans belel," jawabmu sembari menyeruput kopi hitam yang tersaji. Kebalikan dari milktea yang kupesan. "Sama halnya dengan kalian para cowok yang kadang fancy saat ngafe dan tetap oke berkeringat pas main basket atau futsal. We're all just dressed up and make up."

"I know... Tapi setidaknya ada kan sesuatu yang lebih kamu suka dibandingkan yang lainnya?"

"Sure. I thought you've known me so well, Honey."

"Oke, fine. Lemme make myself clear then. Kamu mau apa sebagai hadiah ulang tahun pekan depan?" aku menyerah karena tak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaan yang kumaksud.

"I'm fine just being with you. All along day." kamu mengerling cantik saat akhirnya menjawabku dengan cepat.

"Deal."

Senin, 27 Januari 2020

27/366

"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," susah payah kamu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.

"Mau ke mana kamu dengan kondisi seperti itu? Apanya yang tidak apa-apa!?" aku murka.

"Aku yakin bisa! Percayalah... Uhhuk." nah, kamu terbatuk lagi. "Lagipula aku belum pernah absen sebelumnya. Dan hari ini jadwal piketku dan akan ada meeting juga. Aku benar-benar harus pergi sekarang."

"Kenapa kamu tidak pernah sekali aja mendengarkan aku? Kamu pikir aku mau mengantar padahal kamu sedang tidak sehat begini?" Aku sudah muak dengan keras kepalamu. "Kamu pikir aku setega itu?"

Airmatamu meleleh dan kamu mulai terisak. "Ayolah, Ferrel... Kumohon... You know I need this job."

"And I need you to be safe..." aku membenci airmata yang membuatku luluh itu. "Sudahlah, aku buatkan kamu kopi dan sarapan."

Selagi kamu mandi dan bersiap-siap, aku selesai menghidangkan sarapan lengkap dengan kopi kegemaranmu. Aku tahu kamu tidak suka diperlakukan seperti orang sakit.

"Thankyou, Ferrel," kamu tersenyum sembari menyesap kopi. Aku selalu berpikir cukup aku saja yang menikmati senyumanmu itu. "Aku sudah baikan, kita berangkat sekar- huekk..."

Tiba-tiba kamu terhuyung dan jatuh dari kursi. Aku melihat tubuhmu kejang sesaat, tak lama busa keluar dari bibirmu.

"Fer...rel..."

Kamu berusaha meraihku. Tapi sudah terlambat. Aku sungguh menyayangkan akhir yang seperti ini.

Tubuhmu akhirnya kulai dan tidak bergerak sama sekali. Kuhela napas dan segera membereskan pecahan cangkir yang berserakan sebelum aku memindahkan tubuhmu.

Seharusnya kamu mendengarkanku.

Maaf, Freya. Kali ini kamu benar-benar harus berhenti dan istirahat dengan baik.

@30haribercerita #30hbc #30hbc20 #30hbc2027

Minggu, 26 Januari 2020

26/366


Budi membacakan anaknya sebuah dongeng tragis abadi tentang keluarga kecil yang tak pernah bisa utuh bersama. Sama seperti ia yang ditinggalkan oleh Ani, sang istri. Budi dan anaknya berusaha untuk move on, setelah bertahun lamanya mereka hidup dengan mempertanyakan keberadaan wanita tersebut--sebagaimana kehadiran sosok bapak yang dirindukan namun tak kunjung muncul dan tercetak dalam kaleng Khong Guan.

Di korea, Ani yang telah membuang masa lalu dan mendedikasikan hidupnya sebagai fanwoman (bukan fangirl), kini dilanda kelaparan dan terlunta-lunta di tepian sungai Han. Pupus sudah harapannya untuk bisa rutin makan tteokbokki, kimchi jjigae, jjajangmyeon, serta bibimbap idaman di akhir bulan--apalagi nonton konser oppadeul kesayangan--karena saldo O-pay nya habis dan belum top up.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc #30hbc20 #30hbc2026

Rabu, 22 Januari 2020

22/366

Jika pikirmu kepribadianku yang begini ini suram, mungkin saja kamu belum pernah pergi ke tempat yang tidak kau ingini dan menanti dengan harap-harap cemas akan suatu ketidakpastian.

Membayangkan yang buruk-buruk. Mengakumulasi rasa jenuh, penat, dan kecil hati. Jadi satu. Jadi biru dan kelu. Seolah matahari hanya terbit subuh tadi dan tidak akan ada lagi esok hari.

Bukannya aku merasa paling menderita sedunia, tapi pastilah ada satu dua ketika semesta membuang muka. Hidup terasa tidak adil dan menyiksa. Atau memang cuma aku yang berpikir begitu?

"Atas nama pasien Mikhayla Reinissa Putri!"

Itu namaku dipanggil. Setelah berjam-jam lamanya. Sayang, menyahut saja aku tidak bisa.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc #30hbc20 #30hbc2022

Senin, 20 Januari 2020

20/366



Jika waktu bisa kembali, aku akan jadi anak yang lebih baik
Jika waktu bisa kembali, aku akan rukun dengan kakak-kakak dan mematuhi ibu-ayah
Jika waktu bisa kembali, aku akan minta dimandikan setiap hari dan belajar mencuri hati
Jika waktu bisa kembali, akan kulindungi keluargaku alih-alih sembunyi dan lari...
Jika waktu bisa kembali, bisakah aku dilahirkan sebagai manusia saja?

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc202020

Jumat, 10 Januari 2020

10/366

Selamat hari Jumat!
Kalau aku punya bokap, apakah tengah hari begini ia akan mengajak cucu-cucu lelakinya pergi jumatan, seperti kebanyakan kakek yang lain?
Jika aku punya bokap, apakah akhir pekan besok akan kami habiskan dengan berwisata sekeluarga?
Seandainya aku masih punya bokap, apakah kami akan bisa ngopi bareng setiap kali aku ingin?

Dengan atau tanpa kehadirannya, aku selalu tetap bisa punya bokap dalam hati.
Kopi susu cream cheese
Kelak anak-anak akan pergi jumatan bersama sang ayah, atau mereka berdua bisa jalan kaki ke masjid ramai-ramai dengan teman.
Kami tetap bisa berwisata sekeluarga meski ke tempat yang dekat dan sederhana saja.
Dan aku masih akan selalu ngopi setiap saat aku ingin. Dengan atau tanpa siapapun.

Ya, tidak apa-apa.

Selamat ulang tahun, Ayah. Maaf terlambat. Bukan lupa, cuma baru sempat. Semoga Ayah selalu sehat, bahagia, dan awet muda hingga saat kita kembali berjumpa.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc #30hbc20 #30hbc2010