Tampilkan postingan dengan label #KampusFiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #KampusFiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2015

Ter-#KampusFiksi13

Sabtu, 29 Agustus 2015

Dibuka dengan salam sapa dari Mas Wahyu selaku MC, materi pertama dibawakan oleh Mbak Nisrina yang merupakan salah satu editor kawakan Diva Press. Usai berkenalan kami--para peserta--diberi wawasan seputar naskah. Bagaimana membangun cerita yang baik dengan mengangkat setting tempat favorit, yang nantinya akan kami tuang dalam kelas #Menulis3Jam.

Pak Edy dan materi kepenulisan
Bapak Edy Mulyono selaku pemegang tampuk kepemimpinan Diva Press dan Kampus Fiksi mengisi materi tentang kepenulisan hingga jeda istirahat. Tata cara menulis yang baik, dan tips-tips menulis fiksi beliau sampaikan dengan bahasa yang ringan dan bersahabat namun mudah dicerna oleh kami yang pemula. Disusul selama satu jam, Mbak Ajjah mengisi materi tentang teknik editing dan berbagi tips mengenai self-edit.

Kelas #Menulis3Jam barangkali menjadi momok bagi hampir semua peserta(termasuk aku). Pasalnya dalam waktu hanya 3 jam kami dituntut menyelesaikan sebuah cerpen menggunakan setting tempat favorit, seperti yang telah kami sebutkan masing-masing di awal tatap muka dengan Mbak Rina. Sekalipun dibagi dalam satu-kelompok-lima-orang-dengan-seorang-mentor tetap saja itu tidak mudah buatku. *nangis*

Syaifullan #KF1 berbagi inspirasi menulis
Bersyukur ketegangan akibat sesi sebelumnya seketika dicairkan oleh Mas Syafullan yang sudah berbaik hati hadir dan membagi pengalamannya sebagai yang-juga-pernah-berstatus-penulis-pemula. Alumni KF generasi pertama yang sukses menelurkan beberapa novel di Diva Press tersebut secara kocak dan menyenangkan berinteraksi dengan peserta tentang proses menulis kreatif ala dirinya.

Beranjak malam, tiba saat naskah cerpen peserta dievaluasi perkelompok bersama mentor. Kelompok 5 terdiri dari aku, Patrick, Mbak Ria, Mitha, dan Mbak Yuni, plus Mbak Ajjah selaku mentor. Agak berbeda teknis dengan kelompok lain, Mbak Ajjah menyilakan kami untuk membaca dan mengeditori naskah rekan-rekan sekelompok, sebelum kami membahasnya ramai-ramai.

Rasa minder muncul begitu selesai kubaca empat naskah selain milikku. Semuanya bagus. Kenapa cuma cerpenku yang hancur begini? o(╥﹏╥)o Mbak Ajjah sendiri tidak banyak berkomentar namun sudah menyiapkan notes bagi cerpen-cerpen kami. Wasiat beliau, "Perkara typo atau tanda baca itu gampang. Tidak perlu terlalu dipusingkan. Yang paling penting untuk dibenahi adalah kerunutan cerita dan kelogisannya." Jeng jeeeengg~~ tapi justru itulah yang selama ini jadi kelemahanku. *senden tembok*
"Mengevaluasi karya orang lain jauh lebih mudah ketimbang membuatnya sendiri. Dari nol. Ngomong gampang, tapi melakoni sendiri belum tentu mampu." -Hamba Allah, #KF13 #SelfReminder
Memikirkan betapa mengenaskannya tulisan sendiri pangkal insomnia. Berpartisipasi dalam kegiatan khataman Al-Qur'an dan tahajud bareng--yang konon menu baru Kampus Fiksi--adalah pilihan yang tidak pernah kusesali. Dipimpin langsung oleh Pak Edy selama kurang lebih satu jam, berkat itu hatiku yang gelap dan galau menjadi damai dan kantuk pun lekas datang. Terima kasih Pak Edy, terima kasih Kampus Fiksi. *apadeh*

Minggu, 30 Agustus 2015

Hari kedua. Mbak Munnal mengawali Minggu pagi kami dengan informasi tentang keredaksian; mulai dari urutan penawaran naskah dan tata cara pengirimannya, pemafhuman bahwa penyeleksian naskah butuh waktu (penulis itu harus sabar, tidak disarankan bagi yang labil), proses MoU antara penulis dengan penerbit, hingga naskah siap dicetak dan diterbitkan.

Mas Aconk menyambung dengan materi seputar stategi marketingnya. Penulis yang mungkin berpikir sudah-pasrah-saja-pokok-buku-sudah-terbit niscaya terbuka wawasannya, bahwa penting bagi penulis untuk ikut aktif mempromosikan/mempublikasikan (diri dan)karyanya. Di sini sekaligus dibagi tips-tips kian eksis melalui dunia maya memanfaatkan jejaring sosial. ;)

Kelas kedua bersama Pak Edy membahas cerpen terpilih Salju Turun di Alun-Alun karya Mas Ginanjar Teguh. Fyi, Mas Gin ini penulis novel Bulan Merah yang cukup fenomenal. Cerpen tersebut adalah kontribusi keduanya pada laman basabasi.com setelah Middag in De Eendracht. *plokplokplok* *nih, kubantu publikasi, nih* Atas ketenarannya, ya wajarlah dia yang menang. *hush*

Sempat nyesek saat Pak Bos menyebut, "Kualitas tulisan-tulisan KF generasi 13 kalah jauh dengan angkatan KF sebelum-sebelumnya."

Kretek. Kalian dengar? Patah hati ini, Kawan. Kamipun ingin sekali bisa menghasilkan tulisan-tulisan berstandar dan layak terbit. Namun apa daya, mungkin beberapa dari kami(aku jelas salah satunya) ilmunya memang masih belum mumpuni. Hiks...

Joni Ariadinata, cerpenis sastra senior
Setelah ishoma, giliran Bung Joni Ariadinata menyapa, selaku 'bintang tamu' sekaligus senior dalam dunia kepenulisan. Beliau memberi pengarahan, tips, serta trik menulis hingga naskah kemungkinan besar diterima media massa. Mendengar sendiri beliau menuturkan kisah hidup dan karir menulisnya yang mulai dari nol--dengan penyampaian act-out nan memukau---sungguh menggugah hati. Melahirkan konflik batin. Jika beliau bisa, kami pun bisa, bukan? Setidaknya patut dicoba. *aihh...sok iyes*

Sungguhan. Apapun yang kutulis di sini tetap tak bisa melukiskan hari-hari yang sesungguhnya terjadi. Tak akan sesempurna yang benar-benar kami alami. Tapi ini jujur yang ingin kubagi pada siapa saja yang tertarik dan ingin merasakan hal serupa. Kamu harus datang ke Kampus Fiksi dan mengalaminya sendiri. :')

Minggu sore ditutup dengan materi mengenai bimbingan online oleh Mbak Rina. Fyi, semua alumni Kampus Fiksi berhak memperoleh bimbingan penuh dan menerbitkan novel perdana di Diva Press, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Peserta begitu antusias mengajukan pertanyaan terkait 'fasilitas eksklusif' ini. Penulis mana yang tidak tergiur untuk segera melahirkan karya di bawah bimbingan mentor sekaliber Mbak Rina yang termasuk jajaran editor utama? *salim Mbak Rina*

Hari yang menyenangkan selalu cepat berakhir. Selepas makan malam terakhir di karantina, peserta kembali berkumpul. Sayangnya tidak ada materi lagi. Kami hanya diminta untuk mengisi angket tentang Kampus Fiksi yang sudah dua hari kami ikuti. Barulah aku sadar betapa waktu seringan itu berlalu. Kampus Fiksi yang sebelumnya antusias dinanti, dijadwalkan; tiba hari H, sepenuh hati menerima materi meski sesekali diwarnai dengan mata berat menahan kantuk; kini sudah hampir usai. Begitu lembar angket diserahkan kembali, perpisahan adalah satu-satunya hal yang kuharap tidak terjadi.

Pak Edy menyampaikan petuah-petuah sebagai bekal penutupan. Minggu malam itu kami dinyatakan lulus sebagai peserta dan otomatis menjadi bagian baru keluarga Kampus Fiksi yang sah. Senang. Bangga. Haru. Bimbang. Semacam tidak mau pulang. Tapi di belakang kami akan ada angkatan-angkatan Kampus Fiksi selanjutnya. Harus ada lebih banyak lagi generasi yang tahu, mengenal, merasakan betapa indah dan menyenangkannya menulis bersama-sama, menjadi bagian dari Kampus Fiksi.
Mengikuti Kampus Fiksi adalah satu nikmat Tuhan yang tidak mungkin kudustakan.
Penyerahan sertifikat dan kartu keanggotaan #KampusFiksi dengan nama-nama kami tertera. Meja dan kursi peserta disingkirkan menepi. Dalam foto-foto, semoga kebersamaan kami tetap abadi.
Anak-anak #KF13 bersama 'ayah' Edy
Keluarga besar Kampus Fiksi
Usai sesi pengambilan gambar beberapa peserta alumni #KF13 pamit pulang malam itu juga, meski sebagian besar peserta tinggal semalam lagi. Mas Kiki terlihat beberapa kali berkeliaran memastikan jadwal kepulangan kami esok harinya. So long and good night, Jogja...

Senin, 31 Agustus 2015
"Dapat oleh-oleh apa dari Jogja? Masa' nggak dikasih uang transport?"
Brand new knowledges, experiences, and family are priceless. Apalah uang transport dibanding dengan 'ikatan' yang sudah terjalin di antara peserta dan keluarga Kampus Fiksi lainnya?l It's worth though, and all of us deserve it.

Ilmu gratis, penginapan gratis, konsumsi juga gratis. Tak pernah terlambat sekalipun! Kurang kasih sayang apa lagi Kampus Fiksi? Baik nasi kotak maupun kudapan selalu datang tepat waktu; penyelamat serangan kantuk di tengah materi, penghancur diet alami. ・(/□\*)・゜Mungkin ini adalah satu hal yang kelak dirindukan selain kelengkapan dapur Kampus Fiksi, perjuangan mengantre kamar mandi, dan lomba-cepat-menghabiskan-galon-air.
Dear para member #KampusFiksi13: Amin (Yogyakarta), Bening (Cilacap), Danang (Wonogiri), Devy (Yogyakarta), Fariha (Jombang), Garin (Klaten), Ginanjar (Magelang), Husnul (Lombok Barat), Riyana (Solo), Iken (Salatiga), Ilham (Mojokerto), Irma (Malang), Maulida (Banjarbaru), Aswary (Sampang), Munawir (Sleman), Qoida (Wiyoro), Miela (Sumenep), Tika (Yogyakarta), Ovie (Jakarta Timur), Patrich (Tana Toraja), Ria (Jombang), Mitha (Malang), dan Yuni (Bantul), pertemuanku dengan kalian semua itu bukanlah suatu kebetulan, tapi takdir.
#KampusFiksi13 #sipp #mantab
Kisskiss~~


Bermil-mil jauhnya dari Jogja, dua minggu setelahnya
R.C. Auliya Sari

Kampus Fiksi Episode 13

#KampusFiksi13
31 Agustus 2015. Rasanya baru kemarin, namun ternyata sudah dua minggu berlalu. Masih segar dalam ingatan, Jumat jelang siang Kereta Logawa tiba di Mojokerto sesuai jadwal--singgah tak lama--lalu segera membawaku melintasi beberapa kota untuk sampai di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Untuk apa? Tentu demi memenuhi undangan kehormatan dari Kampus Fiksi. Kenapa? Ya karena aku ingin jadi penulis!

Bermula April 2014 silam, pada event #KampusFiksiRoadShow Malang, kubulatkan tekad untuk mengirim salah satu cerpen terbaikku dalam rangka menembus seleksi Kampus Fiksi Reguler yang diadakan di Jogja.

Penantianku nyata berbuah manis tatkala judul cerpen "Dia, Bukan Aku" mengantarkan nama Riza Chanifa Auliya Sari lolos seleksi Kampus Fiksi dan terdaftar di angkatan tigabelas. Sesuatu yang semula di luar ekspektasi tiba-tiba terjadi. Mengingat betapa ketat dan sulitnya menembus seleksi, pun konon antrian angkatan memakan waktu tunggu yang relatif lama.

Siapa bilang 13 itu angka sial? Buatku 13 adalah simbol keberuntungan. 13 yang berisi 24 peserta dari berbagai penjuru Indonesia dengan keunikan yang masing-masing bawa. Teman? Bukan, kita keluarga.
Thirteen!
Keluarga yang begitu ramah menyambut kedatangan layaknya kepulangan. Para senior KF dan kru Diva Press membantu mengurus seluruh keperluan peserta, seperti kami segerombol adik kecil yang wajib dijaga baik-baik. Kecurigaanku gedung karantina sengaja diberi sentuhan sihir hingga terasa nyaman bagai rumah sendiri. (●´∀`●)

with them❤
Menempuh perjalanan di atas rel selama kurang lebih 5 jam, hampir tidak percaya kakiku akhirnya menjejak Jogja. Beruntung salah seorang peserta asal Jombang --Mbak Rialita-- rupanya menaiki kereta yang sama. Kendaraan jemputan pun tidak usah ditunggu. Mas Agus sudah siap menjemput di pintu keluar stasiun, memandu kami menuju gedung Kampus Fiksi.

Apa, ya? Ada semacam deja vu bahwa meski itu adalah kali pertamaku ke sana, namun semua terasa sangat akrab dan tidak asing. Singkatnya perjalanan itu tidak jauh berbeda dengan yang kubayangkan. Mungkin jiwaku sudah datang lebih dulu daripada ragaku?

Bersama Mbak Ria menjadi peserta ketiga dan keempat setelah Mbak Maulida dan Mbak Husnul yang sudah duluan sampai, terbang dari pulau masing-masing. Dalam sekejap saja peserta-peserta lain mulai berdatangan. Berjabat tangan dan berkenalan sembari menyebut daerah asal. Menambah riuh suasana karantina yang memang sudah hangat.

Jumat adalah prolog yang luar biasa, dan rangkaian kegiatan kami pada Sabtu dan Minggu esoknya pastilah lebih menakjubkan lagi.
ヽ(*≧ω≦)ノ


Next: Ter-#KampusFiksi13

Jumat, 07 Agustus 2015

Road to #KampusFiksi13 : Tiket Kereta Api Tut-tut-tut

Erceha go to Yogyakarta!! ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆

Berdasarkan file "ALAMAT DAN PENJEMPUTAN" yang di-email-kan redaksi Diva Press pada calon peserta #KampusFiksi, destinasi penjemputan yang ditentukan antara lain:
1. Bandara Adisucipto
2. Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Yogyakarta (Tugu)
3. Terminal Jombor dan Terminal Giwangan

Penjemputan FREE termasuk makan, penginapan, dan segala macam tetek-bengek selama karantina di Yogya. Jadi minus transport dari rumah saja yang tetap ditanggung peserta.

Namanya salaaah~~ :'<
Lalu aku? Perihal event ini sudah kuberitahukan pada oppa sebelum kami menikah dan sejak saat itu dia sudah berniat untuk ikut menemani. Syukur alhamdulillah terealisasi saat kami sudah sah menjadi suami-istri. Sudah nggak ragu-ragu lagi, deh. :Dv

Kami memutuskan untuk naik kereta api. Naik pesawat? Hell no! Naik bus? Kapan sampainya? I'm not in the mood to take any bus. Just not my favorite. :/ Sempat tanya ke teman-teman yang biasa jalan ke Yogya, baiknya ambil kereta apa yang tarifnya paling hemat. Ada yang menyarankan kami memilih KA Sancaka yang berdestinasi St. Tugu, beberapa yang lain cenderung mem-vote opsi KA yang turun di St. Lempuyangan dari segi ekonominya.

Jadi semua KA yang melewati jalur St. Lempuyangan adalah KA ekonomi, sedangkan KA bisnis dan eksekutif melalui rute St. Tugu. Tapiii~~ perbedaan tarifnya ituu lhooo~~ Σ(゜ロ゜;)

No doubt, kami segera memesan dua tiket KA Logawa dengan jadwal keberangkatan Hari Jumat tanggal 28 Agustus 2015 pukul 09:56am dari St. Mojokerto yang diperkirakan tiba di St. Lempuyangan pukul 02:41pm. Karena menurut rule, kami harus sudah sampai di Yogyakarta maksimal pukul 11pm. Ogah ambil resiko telat, dan memang cuma KA ini saja yang sangat sesuai dengan berbagai macam kondisi kamii~~ *dunanges deh*

Hari ini sudah selesai ngeprint Surat Pernyataan dan bikin daftar pertanyaan seputar permasalahan dalam menulis. Tapi scanner di kantor rusak. Entah ini mau scan Surat Pernyataan dan KTP-nya di mana... Masa' ya mau maksa difoto? Disuruh men-scan malah difoto doangan? Eh, tapi boleh juga idenya. *dikeplak* :(

Anw, Happy Jumat Mubarok, minna~~ Kisumi~ :*

Selasa, 04 Agustus 2015

Road to #KampusFiksi13 : Newborn August

Hello, August!

Hari keempat bulan delapan hadir. Begitu kalender baru dibuka, rangkaian acara dan kegiatan seolah berebut untuk direalisasikan. Apa saja rencana di bulan baru ini?

1 Agustus 2015, senja weekend kulewatkan bersama oppa, ibuk, dan keluarga oppa di rumah Krian. Tanpa banyak rencana, tahu-tahu ibuk menyampaikan keinginannya mengunjungi keluarga besan. And yah, it was a beautiful sunset, meski ada tragedi si ibuk kesasar.

pas acara keluarga
Buk Mudah dan Buk Iit menjamu kami dengan baik. Sambil mengobrol macam-macam, kami bertiga disuguhi pangsit mie ayam dengan porsi yang bagiku tetap super banyak meski selalu enyak. Selepas sholat maghrib ibuk akhirnya minta diri (karena ada jadwal show lagi), aku dan oppa juga pamit nggak lama kemudian karena kami berencana mampir ke stasiun dulu sebelum pulang. Tapi sayang, loket pemesanan tiket sudah tutup, cuma dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore saja. :(

Esok paginya minus Iis ditambah Tantit, dengan nebeng mobil Oom Rozi, kami menghadiri arisan keluarga di kediaman Mbah Yah dan Pakde Yono dkk di daerah Embong Malang, Surabaya. Kali pertama oppa ikut kumpul-kumpul family-branch ini. Garis keturunan dari orangtua kandung Mbah Buk, means buyut kami.

To be honest, I didn't get interest with the people. Dunno, just not one of my kind. Never feel that I'm one of them, except my direct fams of Mbah Buk-Mbak Bapak. Harusnya nggak boleh pilih kasih gitu, ya? Demo shikatanai ne~

Pulangnya kami mampir ke Masjid Agung Al-Akbar karena ibuk dan Bulek Wiwin belum sholat dzuhur. Sembari menunggu aku, oppa, dan Tantit mencoba naik ke menara masjid untuk kali pertama. Bertamasya mata menikmati elok pemandangan dari ketinggian. Masyaa Allah... What a wonderful experience it was! xD
Aku mendapat pencerahan(?) bahwa setelah kegiatan minggu pertama di Surabaya ini, besar kemungkinan minggu depan kami akan kemari lagi dengan tujuan berbeda; Minggu, 9 Agustus mendatang jadwalnya iring-iring lamaran Mas Dizar dan Mbak Ria, setelah Sabtu tanggal 8-nya memenuhi undangan resepsi pernikahan Widhi dan Kiki di Lamongan. Sugoi desu ne? Sedangkan minggu ketiga adalah giliranku piket kantor setelah paginya berpartisipasi jalan santai RW, dan saat minggu kelima aku sudah akan berada di Jogja. Hahaha~~ semoga nggak terjadi apa-apa di minggu keempat yang memang jatahnya goler-goler.
。・゚゚・(>д<;)・゚゚・。

Senin, 3 Agustus. Rutinitas kantor berjalan seperti biasa. Minggu ketiga pasca libur lebaran, hawa malas masih belum juga hilang, tapi pekerjaan sudah kembali semengalir semula. *mulet* Optik mengabari bahwa kacamata pesananku sudah jadi dan bisa diambil. Diantar oppa aku putar-putar Optik Modern,  Stasiun Mojokerto untuk pesan tiket kereta (meski gagal karena KTP oppa ketinggalan), dan TOP Steak&Milk sebagai venue makan siang kami.

pantes, nggak?
Ngomong-ngomong, kacamata Gino Armani tersebut selain dalam rangka ujicoba klaim BPJS, juga sebagai persiapan keberangkatanku ke Yogyakarta, memenuhi undangan Kampus Fiksi angkatan ketigabelas. Kami ke stasiun juga demi alasan serupa. Jangan sampai kehabisan tiket KA Logawa Mojokerto-Lempuyangan, yang akan membawa kami ke tujuan. Just can't wait 'till August 28th to take off. /,\

Kabar diterimanya aku sebagai calon bimbingan Kampus Fiksi memang sudah cukup lama. Eto~ sejak awal tahun? Jadwal keberangkatan semula Bulan Maret, lalu diundur Mei, dan baru benar-benar fix akhir Agustus ini. Alhamdulillah banget, dong! Jadi bisa pergi bareng suami sembari honeymoon. *ehh* *maunya* Apa kabar kalau berangkatnya sebelum itu? Bisa-bisa nggak dapat ijin pergi, kan. >_<

Senja Selasa ini mendung. Dan belum juga dapat kabar lanjutan dari event #30HariKotakuBercerita. Kinda dissappointed 'cause I've been so excited to participacing. :(

See you another day still in August! 

Senin, 05 Mei 2014

Please God! Aku Ingin Dia

Jeng jeeeeengg~~
My very first anthology book has released already!! XD

Alhamdulillahirabbil'alamin... *sujud syukur*
Penantianku selama beberapa bulan belakangan ini akhirnya berbuah manis. Yup! Tadi pagi, tepat di hari pembuka minggu baru bertanggal cantik 05-05-14 ini, paket yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga. Paket kiriman dari Penerbit Diva Press itu berisi sebuah buku dan selembar sertifikat sebagai hadiah atas terpilihnya karya tulisku, bersama dengan 42 penulis lain yang nama akun twitternya mejeng di cover buku kumcer tersebut. 

Walaupun bukan pemenang dan hanya menyandang predikat nominator, tapi yang kurasakan saat ini benar-benar lebih dari sekadar 'senang'. Ya, ada rasa haru, bangga, deg-degan, tidak percaya, sangat sangat senang, luar biasa! Dari beratus-ratus kompetitor yang berpartisipasi dalam lomba, aku termasuk 43 orang beruntung yang karyanya dianggap memenuhi kriteria dan layak untuk diterbitkan. Bagi diriku, aku tetaplah seorang pemenang. 

Aku menang dari rasa minder pada kemungkinan diterima atau ditolak lagi-nya tulisanku. Aku menang dari deadline lomba ini. Aku menang dari keegoisanku untuk mau berkompetisi dengan banyak penulis pemula lain karena menganggap aku pasti lebih baik dari mereka (mohon maaf). Aku menang dari kegalauanku apakah menulis dengan tema seperti itu tidak akan membuatku malu atau nantinya tulisanku dianggap 'curhat'. Apalah itu, tapi dengan diterbitkannya buku antologi ini, berarti aku sudah menang! :D

Kurang ingat kapan tepatnya aku mengirimkan tulisanku untuk mengikuti event nulis bareng ini, dan bukan kali pertama sebenarnya, hanya saja memang baru sekali ini akhirnya salah satu karya tulisku bisa diterima dan kemudian diterbitkan, meskipun hanya berupa cerita pendek dan yang muncul adalah nama akun twitterku, @ercehauliyasari.
Kuucapkan selamat, kepada diriku sendiri. Eru, ini bukti bahwa kerja kerasmu akhirnya diakui. Orang lain akan segera tahu kompetensimu, apakah itu sesuai dengan yang kamu harapkan, atau kamu masih harus lebih banyak lagi belajar memperbaiki diri agar bisa semakin layak untuk lebih dekat dengan cita-citamu.

Jangan pernah mudah merasa puas, ini bukan apa-apa dibandingkan mimpi yang ingin kucapai. Masih jauuuh~~ sekali. Tapi ini adalah awal. Bahwa jika diusahakan dengan sungguh-sungguh, aku pasti bisa. :))

Semangat! Semangat!!

Rabu, 19 Maret 2014

Next: #KampusFiksi Road Show Malang

Alhamdulillahirobbil 'alamin... >_< *sujud syukur*

#KampusFiksi Road Show adalah salah satu event kepenulisan impian yang aku pingin banget bisa berpartisipasi. Resminya dari Jogya, domisili asli Penerbit Diva Press sebagai penyelenggara. Nyaris mustahil buatku mengikuti yang reguler. Jadi begitu tahu ada versi 'Road Show'-nya ke daerah Jawa Timur begini, mana mungkin aku nggak bersemangat? 

Pendaftaran dibuka sejak 7 Maret 2014 lalu dengan kuota peserta 150 orang saja. Dan ironisnya aku bahkan baru mengirimkan surat pernyataan ke pihak #KampusFiksi kemarin, lepas 11 hari dari pendaftaran pertama. Telat sedikit saja pasti nggak kebagian. x_X
Bismillah, berbekal mulai sekarang! Yosh, see you soon in Malang. Gambatte! (^0^)9


#KampusFiksi Road Show Malang