Tampilkan postingan dengan label Naskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Maret 2014

SURAT UNTUK MANTAN

Teruntukmu: pelangi terindah setelah hujan, secangkir kopi panas temanku menghitung embun, kupu-kupu hitam cantik yang masih beterbangan mengelilingi sudut kecil hatiku.

Hai, kamu yang namanya pernah selalu kusebut dalam setiap tetes doaku. Boleh kutahu bagaimana kabarmu di kejauhan sana? Aku sendiri masih hidup, selalu ingin tetap berbahagia menikmati hidup, dengan atau tanpamu. Barangkali itu yang akan kukatakan sebagai jawaban kalau-kalau kamu pun menanyakan keberadaanku. Tapi mungkinkah? Akankah mungkin kamu bahkan mengingatku setelah hampir setahun perpisahan kita?

Kamu yang pelukannya masih bisa dirasakan oleh masing-masing bulu halus kulitku, ingatkah kamu pada pertemuan kembali kita setahun lalu? Kamu menemuiku lagi sekembalimu dari perantauan bertahun-tahun terhitung sejak upacara kelulusan SMA kita. Tahukah kamu segembira apa aku kala itu? Sebahagia apa aku akhirnya bisa melihatmu lagi?

Kita berdua tahu betul kamu adalah cinta pertamaku. Cinta lama yang kusembunyikan diam-diam tanpa mampu kunyatakan demi tidak menjauhkanmu dari pandanganku. Cinta sepihak yang kunikmati seorang diri demi tidak mengacaukan hubunganmu dengan gadismu tujuh tahun lalu.
"Aku bahagia selama kamu bahagia sekalipun ia yang ada bersamamu, sekalipun kamu bukan milikku."
Sungguh naif, aku terus berpikir seperti itu sambil menjalani hidupku tanpamu, untuk kali pertama. Tapi kemudian Tuhan mempertemukan kita kembali. Di awal tahun lalu akhirnya kamu bersedia menjadikanku wanitamu. Aku pernah berharap ada baiknya hidupku terhenti di waktu itu saja. Pada saat aku masih merasakan hangat genggaman tangan kokohmu pada jemariku. Ketika aku bisa mengukir senyumanmu sedekat bahu kita yang melekat, bukan lagi sekadar emotikon warna kuning pada layar telepon genggam.

Namun kebahagiaan yang kusangka akan kekal bersamamu rupanya hanya nyata dalam hitungan dua bulan saja. Dua bulan untuk tujuh tahun penantian. Kamu pergi meninggalkanku lagi, membiarkanku menatap punggung sepimu yang kian menjauh. Tidak bisa menjanjikanku bahagia, kamu bilang? Ingin aku mendapatkan lelaki yang bisa lebih membahagiakanku daripada dirimu? Tidakkah kamu tahu mantan kekasihmu satu ini bodohnya seperti apa?

Adalah aku. Gadis bodoh yang (dulu) percaya hidup-matinya bergantung padamu. Seorang idiot yang mengorbankan waktu tujuh tahunnya mencintai sesosok lelaki yang belum tentu bisa mencintai dirinya, yang rela melakukan segalanya demi menciptakan kebahagiaanmu di sisiku. Si keras kepala yang tak mampu memalingkan hati barang sedetikpun pada selain dirimu. Yang pagi-siang-sore-malam, baik nyata atau maya hanya bernafas dengan melafalkan namamu saja. Mendoakan yang terbaik bagi dirimu dan hatimu.

Jangan khawatir aku akan sakit hati dikatai bodoh olehmu. Aku memang sebodoh sangkamu, bahkan mungkin lebih bodoh lagi. Sekitarku pun berpendapat demikian. Apalagi yang bisa diharapkan dari seseorang yang keberadaannya saja di mana, tidak kau tahu?” Mereka bertanya sinis.
Biarlah. Terserah orang lain berkata apapun sesukanya. Mereka boleh mencelaku sampai puas. Mereka hanya tidak boleh menjelek-jelekkan dirimu. Aku akan jauh lebih sakit hati jika itu terjadi.
Sekalipun keinginanmu atas perpisahan kita memporak-porandakan perasaanku dan menghancurkan hatiku, namun sungguh tidak adil untuk menimpakan semua sebab-musabab kesalahan sebagai tanggung jawabmu. Kurasa kamu memang sengaja mengambil keputusan itu

Aku tidak mengenalmu sehari-dua hari. Bukan memerhatikanmu dari sudut pandang sesempit dan sesederhana kaca spion. Kamu memang pribadi seperti itu, yang apabila merasa terbebani oleh harapan yang terlalu besar –yang kamu tidak percaya diri bisa memenuhinya– kamu akan lari dan sembunyi. Kamu akan menolak menjelaskan apapun, tapi juga tidak akan membela diri. Pengecut, eh? Tidak, itu adalah caramu untuk menjaga citraku, dengan menjadikan dirimu sendiri penjahatnya. Kamu terlalu baik, Sayang.

Itulah kamu, karakter nyata yang (pernah) amat kucintai. Tanyakan padaku, masihkah aku mencintaimu di detik ini? Mungkin. Karena walau tak bisa memilikimu dalam genggaman tangan, aku masih bebas menghadirkanmu sebatas angan.

Pun aku masih bodoh, namun kemudian memahami. Tuhan tidak memberikan apa yang kuinginkan melainkan apa yang sesungguhnya kubutuhkan. Perkenalanku denganmu, persahabatan kita, sempat kehilanganmu, pertemuan kita kembali, pernah menjadi kekasihmu, lalu melepasmu lagi, yang manapun tidak sedikitpun aku pernah menyesal. Bertemu dan sempat memilikimu adalah bagian terbaik. Hanya saja, aku tak lagi bernyali mengharapkan kamu kembali.
Sayangnya kita berdua belum jodoh saja.
Bolehkah kutambahkan bagian itu dalam doaku seperti dulu?
Tuhan, mohon jodohkanlah aku dengan dia. Jika dia bukan jodohku maka jodohkan aku dengan seseorang yang mirip dirinya, dengan wajah dan postur tubuh serupa, bercara bicara sama sepertinya, yang sifat dan karakternya serupa dengannya. Dengan kata lain, dia saja, Tuhan. Terima kasih, Aamiin...
Sungguhan aku pernah berdoa seperti itu, tahu! Sering sekali dulu. Tidak percaya?

Jika memang belum menemukan seseorang yang bisa mencintaimu sebaik aku, kamu tahu ke mana harus pulang, kan? Nantilah, akan kukisahkan lebih banyak lagi, sebanyak yang kamu inginkan, saat Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu (lagi). Bagaimana menurutmu?

Seseorang yang berbangga hati (pernah dan masih) merasa paling mencintaimu (setelah orangtua dan keluargamu) di dunia ini lebih dari siapapun.



NB: Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth Novel by Bernard Batubara.

Jumat, 21 Februari 2014

#SuratValentine Untuk Nada

Kepada
Yang terkasih,
Nada
di
Lubuk hatiku


Dear, Nada…
Selamat senja!

Aku tak kuasa berhenti tersenyum membayangkanmu tengah membuka surat ini, ditemani oleh rasa penasaran yang terus merayumu untuk segera membacanya hingga akhir. Surat ini kutulis saat matahari jingga sudah tinggal tiga perempat bagian. Cahaya merah keemasan yang seolah membakar langit barat demikian benderangnya, membuatku sempat yakin jika tidak segera beranjak, tidak lama lagi pasti lidah-lidah api matahari akan sampai di beranda lalu membakar habis suratku. Tidak, tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk pada surat ini. Tidak selama kamu belum membacanya sampai habis.

Nada, ketika surat ini tiba di hadapanmu dan terbaca olehmu, aku senantiasa berharap kamu baik-baik saja. Sebagaimana aku yang selalu baik meski semalaman kemarin hingga dini hari tadi masih gelisah memikirkan apa yang sebaiknya kutuliskan untukmu dalam surat ini. Menurutmu seharusnya surat ini berisi apa? Apa kuisi saja ia dengan perasaanku? Perasaanku yang kini dilanda prahara akibat sudah terlalu lama kita berdua tidak bisa melewatkan waktu bersama.

Iya, kamu benar, Nada. Kamu tahu persis bahwa kamu selalu benar tentang apapun, termasuk perasaanku padamu. Maka melalui surat ini aku ingin sekali memberitahukanmu perasaanku. Tentang sebanyak apa aku memikirkan dirimu sepanjang hari, dimulai sejak aku membuka mata hingga tubuh ini tak mampu lagi terjaga. Tentang bagaimana gelisah hadir setiap kali kububuhkan tanda silang pada tanggal-tanggal dalam kalender saat waktu berjalan demikian lambat menuju hari di mana kita bisa bertemu. Tentangku yang tidak bisa tidak otomatis teringat padamu setiap kali mendengar lagu-lagu kita akrab menyapa telingaku, entah itu dari radio, dari acara musik di televisi, mengalun di speaker café saat aku ngopi bersama teman-teman, diputarkan oleh rekan kerja di kantor sengaja untuk menggodaku yang segera melamunkanmu, di mana saja.

Ingatkah kamu? Pernah kamu menemaniku bernyanyi saat hari hujan dulu. Aku yang sebelumnya selalu iseng asal bersenandung tiba-tiba saja jatuh hati padamu, yang sempurna sekali mengiringi nyanyian kacauku dengan permainan gitar akustikmu. Kemudian sekejap saja kamu dan aku, kita semakin terbiasa membagi segalanya berdua. Bisakah menghitung, berapa banyak lagu yang sudah kita nyanyikan bersama di senja itu, kala menunggu pelangi tiba?

Saat itu kita masih begitu muda. Kita hanya tahu cita, asa, dan bahagia. Tak peduli apapun lagi selama kita masih bisa bernyanyi. Enyah saja lainnya, hingga waktu membawa jarak dan kenyataan yang tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Kamu harus berada jauh dariku sementara waktu. Bahwa aku tidak lagi bisa melihatmu setiap hari. Tidak bisa memintamu datang sekiranya aku tak tahan ingin bertemu. Kamu tahu aku tidak pernah menginginkan apapun. Cukup kamu ada bersamaku. Itu saja. Cukup dengan kamu di sini dan menyanyikanku lagu-lagu favorit kita. Aku tidak akan meminta apapun lagi. Tuhan sudah memberiku yang terbaik, yakni dirimu.

Padamu Nada, aku benar-benar merasa... Ahh, bagaimana orang biasa menyebut perasaanku ini? Hasrat ingin membenamkan tubuh tak berdayaku dalam peluk hangatmu tanpa ada usai. Hanya aku dan kamu, lalu segera bahagia akan mengekori kita dengan sendirinya, tanpa ada jeda, tanpa ada jika.

Nada, kekasihku... Apakah kamu merasakan perasaan yang sama dengan yang sedang kurasakan sekarang? Sungguhkah? Aku tahu kamu pun tak sabar ingin bertemu denganku. Tapi, jangan. Tolong jangan sebut perasaan indah itu dalam kata. Biar kita merasakannya dalam hati saja. Biar kita meresapinya sambil menanti perjumpaan kita selanjutnya. Karena tidak semua kata bisa menjelaskan tepat seperti apa yang hati kita rasakan. Ya kan, Nada?

Baiklah, akan segera kusudahi surat ini. Tampaknya kamu pun sudah mulai bosan membacanya. Hahaha... Tentu saja, ini tidak seperti komik Naruto kegemaranmu. Tapi, kamu belum mengantuk, kan? Tenang saja, sedikit lagi. Hanya tinggal beberapa kata lagi dan aku akan melipat surat ini lalu memasukkannya dalam amplop bersamaan dengan raja siang yang hendak berpulang dipeluk petang. Menyisakan semburat jingga di langit yang mulai beralih lembayung. Syukurlah, jika kamu tuntas membaca surat ini di sini, artinya matahari tidak jadi membakar suratku dengan lidah-lidah apinya. Ia rupanya iba padaku yang sangat ingin menghadiahimu surat ini sebagai tanda kasihku untukmu. Terima kasih sudah menjadi segalaku, Nada.

Sampai jumpa segera!

PS : Jariku sedikit terfoto. Tapi bagus, tidak? Baiklah, aku tahu lukisan senjamu jauh lebih bagus.


Beranda, 13 Februari 2014
Sincerely
The one who wants you the most,



R. Ch. Auliya Sari

Selasa, 11 Februari 2014

Do(not) Love Me

If there is anyone else loves me, all i can do is bringing up my corpse to her. Here, inside, there is a soul of me that i won’t share it anymore to anybody else.
Thanks to you for being my morning tears. I wish you wouldn’t say such thing like that. I didn’t get why the hell you could say so, but i hate it. I hate the way you said that hell thing easily. Why? Why you? Why me, the one who you sent that message to?
It definetely reminded me to a sad story which is very similiar with your words.
Aku ingat seseorang yang patah hatinya di pagi hari tepat ketika ia baru saja terbangun dari mimpi indahnya, semalaman bersama sang pangeran pujaan.
Jika seseorang lain mencintaiku, aku hanya bisa membawakan mayatku padanya, di dalam sini ada jiwa, yang tak ingin kubagi-bagi lagi.
Tidakkah itu berarti, “Apapun yang sudah dan akan kau lakukan nanti –demiku– tidak akan kubuka hatiku untukmu –untuk siapapun juga– karena jiwaku sudah kupersembahkan padanya.”? Artinya semua usaha dan doa akan sia-sia saja. Mencintai seseorang yang telah terambil jiwanya adalah suatu kebodohan gila.

Itukah yang sesungguhnya ingin kau katakan? Ingin memperkecil hatiku yang sudah kerdil, eh? 
Arre pikir sudah benar hatinya memilih Tian sebagai calon kawan masa depannya. Tian yang sahabat lamanya, yang ia tahu persis bagaimana bibit, bebet, dan bobotnya. Tian yang sering datang ke rumah Arre, mengantar-jemput gadis itu ke kampus, mengerjakan tugas kuliah bersama-sama, bahkan mencuri pinjam snack dan komik milik Arre. 
Di tengah-tengah persahabatan hangat itu, siapa sangka cinta akan tumbuh? Awalnya Arre sempat gelisah saat mengenali perasaan salah tingkahnya terhadap Tian beberapa bulan terakhir sebagai permulaan rasa sukanya pada pemuda berkepribadian menyenangkan itu. Tapi kemudian seiring berjalannya waktu Arre sudah bisa mengendalikan hatinya yang sering mendadak hiperaktif ketika bertemu Tian. Arre ingin mengutarakan perasaannya pada Tian ketika waktunya tepat.
Arre boleh jadi percaya diri, sebab selama persahabatannya dengan Tian gadis itu sangat yakin Tian belum memiliki kekasih, dan jarang sekali membicarakan masalah perempuan di hadapannya. Sikap Tian juga selalu manis pada Arre, membuat Arre meyakinkan hati bahwa Tian (mungkin) juga menyukainya. 
Benarkah begitu? Mungkinkah Tian akan benar-benar menerima perasaan Arre?

Sayangnya, ini bukan cerita rekaan tentang Cinderella, Ariel si Putri Duyung, bahkan Snow White yang memang sudah dikisahkan akan berakhir bahagia dengan pangeran masing-masing di akhir cerita. Ini bukan dongeng yang sudah tertebak Happy Ending-nya.
Kenyataan bahwa dunia Tian, kehidupan Tian tidak hanya berkutat di Surabaya saja, kota tempatnya menuntut ilmu selama di bangku kuliah. Tentu saja pemuda itu memiliki kehidupannya sendiri, hari-hari di kota kelahirannya, Mojokerto. Ia punya keluarga, saudara, teman masa kecil, mantan pacar saat SMP/SMA, bahkan mungkin seseorang yang masih menjadi kekasihnya. Siapa tahu? Apakah Arre tahu? Haruskah Tian menceritakan segala-galanya pada gadis yang baru dikenalnya tidak lebih lama dari usia statusnya sebagai mahasiswa.

Sakit bukan, bahwa harapan yang mati-matian ingin diwujudkan namun sudah dipastikan tidak akan terkabul bahkan sebelum harapan itu sempat diselipkan dalam doa? Pahit harus ditelan bulat-bulat oleh Arre, si gadis malang yang cintanya terlanjur layu sebelum berkembang.
Miris? Kritis.

Senin, 23 Desember 2013

KAU, AKU, DAN KITA (#MyLoveMyLife)

Pernah aku melihat senyummu dalam remang malam. Pada batas nyata dan khayalan. Kau membagi tawamu, dan memerangkapku di sana. Dalam hangat yang jiwamu ciptakan pada detik harapan baruku terlahir.
Dan aku jatuh cinta padamu begitu saja. Bukan pada kali pertama kita bersama-sama menikmati senja. Tapi jauh sebelum itu. Hatiku sudah tertambat padamu sejak lama. Sejak takdir mengeratkan genggaman tanganmu pada tepian gelisahku. Jika tak kau temukan, mungkin serpihan diri ini akan hilang. Hanyut entah ke mana terbawa arus kehidupan.
Maka mungkin ini jawaban dari berjuta doa yang kumohonkan. Dari luasnya samudera mimpi yang ingin kuwujudkan. Kau, dirimu, adalah yang sangat kuinginkan untuk diriku sendiri. Kau yang paling kucintai, paling ajaib yang pernah Tuhan anugerahkan. Tidak bisa digantikan orang lain. Mustahil jika bukan dirimu. Bahagiamu adalah bahagiaku. Keberadaanmu adalah hidupku. Aku tidak bisa meminta apapun lagi selain kerelaanmu agar juga menginginkan aku.
***
Aku mengenal genggaman tangan itu. Mengingat betul setiap lekuk jemari. Merekam jelas hangatnya yang tercipta dalam sudut kecil hatiku. Ku kenali bayangan itu. Bayanganmu yang selalu kurindukan. Keberadaan yang menerbitkan haru biru. Satu-satunya di dunia yang membuatku melayang.
Aku jatuh cinta pada tawa lepas dari sudut bibirmu. Aku jatuh cinta pada kelakar-kelakar. Pada detingan gitar, pada besarnya perlindungan yang kau berikan. Tanpa syarat, tanpa terikat. Aku mencintaimu begitu saja. Begitu membuka mata dan dirimulah segalanya. Aku merindukanmu tak peduli waktu. Persetan dengan orang lain yang meragu. Yang ku tahu aku menginginkanmu jadi milikku.
***
Tiada yang lebih menyakitkan daripada melihatmu sakit. Tak ada yang lebih mengiris hatiku selain menjumpai tangismu. Airmata dan dukamu yang bukan untukku. Pandanganmu yang seolah tak pernah lepas darinya. Dia yang mengabaikanmu. Dia yang seharusnya tak lagi berhak mendapatkan cintamu.
Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku yang mampu menyembuhkan luka hatimu? Kenapa bukan aku yang bisa membahagiakanmu? Kenapa itu bukan aku, aku yang rela menyerahkan segalaku buatmu? Tidak adakah yang bisa kulakukan untuk sekedar membunuh jarak pada hati kita, dan kembali lagi seperti dulu?
***
Diam menghampiri. Nyaris tanpa bosan mengajakku menari. Tapi bayanganku bahkan tak beranjak. Hampir lelah kuperbaiki jalan hatiku yang mulai retak. Sedang langkah ini searah ke mana angin membawamu pergi. Tak peduli seperti apa, bersamamu aku seperti mendapatkan kembali semua inderaku.
Aku buta dan kau memperlihatkanku cinta. Aku tuli dan kau tak pernah jemu bernyanyi. Aku bisu, tapi sejatinya kau mengerti isi hatiku. Lumpuh pun, mati rasapun aku masih bisa menyentuh bayanganmu. Mimpimu. Cintamu (yang dulu) untukku.

Demi setiap kecup, rengkuh, dan cinta kasih, detikku berirama detak jantungmu. Seberapa jauh egoismu pergi aku akan menunggu. Mendoakanmu kembali padaku. Sekali lagi. Lalu selamanya kita (akan) bisa bahagia bersama. 

MENJADI SEORANG AKU (#MyDream)

Sering aku berpikir, sama sekali tidak ada bagusnya menjadi seorang ‘aku’. Sungguh, tidak ada bagusnya menjadi aku. Berusaha menjadi orang lain itu benar-benar melelahkan. Terasa konyol dan menyedihkan. Dan aku sudah terlalu mahir untuk itu, hingga tidak tahu lagi diriku yang sebenarnya seperti apa.

Aku tumbuh dengan mendoktrin diriku sendiri: lakukan sesuai perintah tanpa membantah, dengan begitu orang dewasa akan puas dan tidak lagi mengusikmu. Sekalipun itu aneh, sulit, dan tidak sesuai dengan logikamu. Biar saja. Karena bagi ‘orang dewasa’ ketika kau melakukan tepat seperti yang mereka inginkan, maka kau ‘hebat’, ‘pintar’. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya kau mungkin akan mendapat hujatan. Dinilai tidak menurut atau pembangkang.

Dan aku sudah kenyang disebut begitu. Mulanya masih kupertanyakan tentang apa-apa yang sebaiknya kulakukan dan apa yang para orang dewasa ingin aku hindari. Tapi lama-kelamaan aku muak. Persetan dengan keinginanku yang selalu jadi debu. Kata-kata seorang anak ingusan sama sekali tidak berarti.
Jadilah kusegel rapi suara hatiku. Hanya kubuka jika aku sudah terlalu rindu. Selebihnya kuciptakan pribadi ideal yang bisa meluluskan segala tuntutan orang dewasa padaku. Yang mereka tahu aku selalu tersenyum. Bertutur kata dengan baik, berperilaku sopan, seorang penurut. Atau itu jin penjaga lampu ajaib pengabul segala? Dan mereka tidak akan peduli aku ingin apa, pendapatku bagaimana. Munafik? Iya, setidaknya di pikiran mereka aku memuaskan. Hahaha.

Dan ingatanku ada di dua persimpangan: sebelum dan sesudah ayah tiada. Fase sebelum kepergian ayah berisi kenangan-kenangan serba bahagia. Bahwa aku adalah cucu perempuan yang dinanti dan dijanjikan limpahan cinta dari kedua pihak keluarga besar Ayah dan Bunda. Lia kecil yang cepat pintar dan Ayah-Bunda yang begitu bangga akan prestasiku dari anak-anak lain sepantaran. Lalu adik-adikku lahir dan Ayah akhirnya mampu menghadiahi Bunda sebuah rumah kecil untuk keluarga kecil kami. Berlima, kami sungguh berbahagia lebih dari keluarga-keluarga lain walau yang kami punya hanya dua buah sepeda tua, bukan kendaraan motor seperti yang banyak terparkir di teras-teras rumah tetangga.

Kemudian mimpi buruk yang tidak pernah ingin kubayangkan, justru hadir dengan sangat nyata. Ayah berpulang ke Rahmatullah tepat di saat seluruh dunia tengah merayakan suka cita Idul Fitri, 2004 silam. Sudah hampir 9 tahun berlalu tapi rasanya seperti baru kemarin. Seperti baru saja aku dan ayah bertengkar tentang ke SMP mana aku akan melanjutkan sekolah setelah UAN berakhir, dan tahu-tahu ayah sudah meninggalkan kami. Tiba-tiba saja aku, Bunda, dan adik-adik harus kembali tinggal di rumah kakek dan nenek dari pihak Bunda. Bunda hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan, mendadak harus menghidupi kami berempat pastilah sangat berat.

Usiaku baru tiga belas dan tidak ada yang bisa kulakukan selain tidak membiarkan diriku terlalu larut dalam kesedihan dan airmata. Sudah cukup melihat bahu Bunda yang kadang masih gemetar menyembunyikan isak tangis, sedang adik-adikku masih terlalu dini untuk memahami mengapa ayah harus tidur sendirian di pemakaman alih-alih kembali pulang bersama ke rumah kecil kami.Maka tidak seorang pun boleh melihat air mata ini, kecuali Tuhan. Aku hanya harus tersenyum dan memeluk mereka, berkata bahwa semua akan baik-baik saja selama kita percaya pada Allah SWT.

Kuharap aku bisa bertemu dengan Lia kecil dan mengajaknya bermain bersama. Mendengarkan keluh kesahnya yang tidak pernah terucap. Menyeka airmatanya yang hanya disaksikan oleh bisunya dinding kamar. Aku tahu ia telah banyak terluka dan menderita. Dengan kekuatannya yang terbatas Lia kecil sudah berusaha, ia selalu berusaha. Bukan untuk dirinya, tapi untuk Bunda dan adik-adiknya. Untuk merekalah Lia kecil menyembunyikan segala kelemahannya. Agar orang lain hanya akan melihat versi dirinya yang kuat. Agar mereka percaya ia yang sekecil itupun bisa melindungi apa yang dianggapnya berharga, jadi mereka tidak akan menginjak-injaknya.

Aku ingat pernah berjanji. Di depan pusara ayah saat beliau dikebumikan. Tidak ada airmata di sana. Tapi hatiku bertekad, aku akan melindungi keluarga kecil kami apapun yang terjadi, menggantikan ayah. Ayah mungkin tengah mencemaskan kami dan aku tidak menginginkan itu. Aku adalah anak gadis ayah yang kuat. Yang selalu bisa menjaga amanat dan tidak mengecewakan ayah. Aku ingin ayah melihat dari tempatnya surga, bahwa keluarga kecil yang selalu diperjuangkannya, masih terus kuperjuangkan. Aku akan meneruskan cita-cita ayah. Kami akan bahagia bersama-sama demi bagian ayah juga.

Untuk Lia kecil, terima kasih sudah berjuang dan bertahan sampai akhir. Kau memang sangat kuat, walaupun pasti banyak kesepian. Tanpamu mungkin tidak akan ada diriku yang sekarang. Tanpamu aku pasti akan jadi pribadi egois yang selalu menyalahkan nasib dan Tuhan. Kini aku yang akan meneruskan mimpimu. Aku tidak akan lupa kau pernah ada. Kau adalah bagian penting dari diriku. Aku mencintaimu. Terima kasih...

MALAIKAT NOMOR SATU (#MyMomMyAngel)

Adalah sesosok malaikat berwujud seorang wanita, yang keberadaannya sama pentingnya dengan dunia ini bagiku. Yang tanpanya entah nanti aku akan bagaimana. Untukku yang selalu merasa sendiri di bumi ini, ibuku lebih dari sekedar sosok penyeimbang maupun hiasan. Ia adalah hidup dan matiku.
Faizah Laila, nama malaikat yang dikirim Tuhan sebagai ibuku. Ia menghadirkanku ke dunia dua puluh tahun silam dengan menggadaikan hidupnya. Entah sudah berapa banyak cinta yang kuterima darinya. Ibuku yang adalah seorang ibu rumah tangga biasa telah dengan sempurna mengajarkanku segalanya. Ia benar-benar memperhatikan tumbuh kembangku dengan baik. Beruntungnya aku menjadi si sulung. Sempat merasakan menjadi anak tunggal berlimpah kasih sayang yang memonopoli cinta kedua orang tua, terutama ibu.

Memang sejak ibu mulai fokus pada adik-adikku, aku menjadi ‘anak perempuan ayah’. Semenjak berstatus ‘kakak’ aku jadi lebih dekat dengan ayah. Tapi justru karena itulah ketika ayah telah tiada aku benar-benar bergantung pada sosok ‘ibu’ dari ibuku. Aku merasa kehilangan dunia dan segalanya, lalu kusadari hanya ibuku lah yang tersisa. Ingat bahwa ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa? Serta merta menyandang status janda tiga anak tanpa penghasilan bukanlah sesuatu yang sekalipun pernah terlintas di pikiran. Aku tahu sejak kiamat kecil itu hidup tidak akan pernah sama, tidak akan semudah itu lagi baginya.

Tidak pernah sekalipun ada keluhan yang terucap dari bibir malaikat tercantikku itu. Tapi aku tahu, ibu selalu menyimpan pedih hati untuk dirinya sendiri. Seorang diri berusaha membesarkan tiga orang anak yang luar biasa nakal dan menyusahkan seperti kami, aku dan dua orang adikku.
Ada kalanya ia mulai menyalahkan diri sendiri. Menganggap telah lalai memperhatikan pertumbuhan kami sebagai konsekuensi karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Ya, ibu harus berperan ganda mengurus rumah tangga dan mencari nafkah. Sedangkan aku belum bisa melakukan apapun untuknya. Maka aku bertekad selesai SMA aku juga akan bekerja. Aku ingin bisa berguna, ingin meringankan sedikit bebannya, aku ingin membuatnya bangga.

Andai ibu tahu betapa berharganya ibu untukku. Alarm bangun alami, sarapan pagi, sms dan telepon yang menanyakan keberadaanku adalah bentuk kecil cinta ibu. Ibu menyadari bahwa pekerjaannya, kesibukanku, dan kegiatan sekolah adik-adik sedikit banyak telah meciptakan jarak di antara kami dan betapa inginnya ibu menghapus rentangan itu. Ibu selalu ingin dinomorsatukan oleh kami, tanpa menyadari bahwa dirinya sudah menjadi nomor satu sejak dulu.

Ibu, seperti kata-kata seorang bijak, “Bukan ‘aku mencintaimu karena membutuhkanmu’, melainkan ‘karena aku (sangat) mencintai dan menyayangimu maka aku (begitu) membutuhkanmu dalam hidupku.’”

Tidak ada yang lebih kuinginkan daripada keberadaanmu di sisiku. Tak peduli berapa lama waktu berlalu, meski ini sangatlah egois, tapi mohon menungguku, Bu. Tunggulah sebentar lagi sampai aku bisa membalas cintamu walau tak mungkin menyamainya. Biarkan aku memberimu sedikit bahagia meski cuma sederhana. Perhatikan aku tumbuh dewasa untuk membuatmu bangga, berusaha mewujudkan harapan terbaikmu untukku dalam doa-doa.

Lia sayang Ibu. Sangat. Selalu. :’) :*

Jumat, 14 Juni 2013

14 Mei 2013

SECRET ADMIRER

Cahya-oppa datang lagi. Dia tidak mau jadi L lagi, setelah kemarin Sari meneriakinya heboh demikian rupa. Tapi malam ini dia masih manis, dan memang selalu seperti itu. Di mata hati Sari, Cahya memang selalu sempurna.
Malam ini hangat. Akan sangat sayang jika mereka langsung pulang. “Emang bisa ketemu Oppa itu gampang !” Sari pasti akan merajuk jika Cahya menolak menemani lebih lama. Cahya yang masih dengan flu dan sariawannya, tapi mengiyakan ajakan Sari untuk mampir ke Green Cafe sejenak.
Beriringan mereka memasuki tempat minum yang juga lokasi nongkrong berbagai kalangan itu. Cahya mengedarkan pandangannya sejenak. Suasana cafe sedang cukup ramai. “Mau duduk di mana, Yang ?” Tanyanya pada Sari yang masih memindai beberapa meja kosong tersisa. Mencari posisi paling pewe.
“Di meja situ aja, Oppa.” Jawabnya menunjuk meja untuk dua orang yang dekat dengan pintu. Cahya mengangguk. Berjalan santai meraih salah satu kursi lalu mendudukkan tubuhnya di sana. Sari menarik kursi yang lain, namun tiba-tiba teringat mereka belum memesan minuman.
“Akhirnya kita ke sini juga, ya.” Sari tersenyum saat duduk menghadapi wajah Cahya yang berjarak tak sampai semeter di depannya. Serasa gadis itu bisa memetakan setiap lekuk mahakarya Tuhan pada wajah kekasihnya itu. Sudah dipesannya jus nangka untuk Cahya, jus stoberi bagiannya, dan seporsi kentang goreng kress yang ceria.
Ingatan Sari melayang ke beberapa waktu silam. Ketika dia dan Cahya berselisih hebat, mereka pernah memilih untuk ‘membahas rapat’ mereka di tempat itu. Di beranda luar cafe tepatnya. Tapi itu sudah berlalu. Waktu dan situasinya sudah jauh berbeda. Kini mereka berdua tengah berbahagia.
Sari mendesah jengah saat yukime memunculkan beberapa sms dari penggemar rahasia yang tidak diharapkan. Tipe cowok galau yang meski sudah jelas-jelas tidak pernah ditanggapi tapi masih saja memburunya. Tanpa minat ia sudah akan menghapus langsung sms-sms naas itu namun tiba-tiba Cahya merebut yukime begitu saja.
“Sms dari siapa ?” Tanya Cahya sambil mengecek inbox satu per satu.
Sari yakin ia memutar bola matanya barusan. “Penggemar alay. Sudah jelas-jelas dicuekin masih aja ngganggu. Oppa liat aja sms-smsnya. ” Tukasnya kesal.
“Eh, dia ngajakin Sayang ketemuan loh.” Cahya terkikik geli. Menatap wajah Sari yang menampilkan ekspresi muak pada yang sedang mereka bicarakan. “Nih, Sayang balas gih.”
“Males ahh, Oppa.” Sari langsung menolak. “Ngapain juga diladenin. Oppa mau aku ketemuan sama orang kayak gitu ?”
Cahya masih dengan sisa-sisa tawanya. “Suruh aja dia nyamperin Sayang ke sini. Aku pengen tau manusianya kayak gimana.” Oh oh, Sari segera mengenali, ‘Evil Cahya’ mode: ON. “Cepet dibalas. Kalau dia emang laki, suruh ketemu ke sini.”
“Andwae Oppa... Shirreo...” Sari merajuk. Oppa-nya ini juga ada-ada saja. Masa’ mau memaksanya ketemuan dengan makhluk asing yang ia tidak minat sama sekali, demi iseng ? Sungguh tidak masuk akal.
“Udah, balas aja kok. Kalau nggak gini dia pasti bakal gangguin Sayang terus.” Cahya bersikukuh tak mau kalah. “Emang Sayang mau dismsin terus ?” Senyumnya mengembang saat Sari menggeleng pasrah. “Nah, gitu pinter. Sekarang panggil dia ke sini. Biar kapok dia, sudah berani gangguin pacar orang.”
Mau tak mau Sari mengikuti saja alur permainan Cahya yang tampak menikmati setiap kemajuan dari sms-sms yang diterima Sari kemudian. Tanpa sadar Sari tersenyum. Ditemukannya lagi satu nilai lebih dari kekasihnya itu. Perhatian tidak langsung yang diberikan Cahya padanya. Kelembutan hati di balik tutur katanya yang kadang sembarangan, namun memesona.
Sembari menunggu si penggemar-korban-iseng itu muncul keduanya segera terlibat dalam percakapan ringan yang intim. Ditemani gelas-gelas tinggi jus masing-masing, Cahya dan Sari membicarakan apa saja. Mereka mengobrol seru dan tertawa. Saling mendengarkan saat yang lain bicara. Malam yang membuat Sari merasa begitu bahagia, lebih-lebih karena bisa bersama Cahya.
Namun tak pelak, Cahya masih berambisi meneruskan keisengannya. Memonitori yukime dan meminta Sari cepat membalas jika ada sms baru masuk dari si penggemar. Tapi sayang, beberapa saat berlalu tidak ada sms lagi. Sari mendapati yukimenya yang ganti merajuk. “Sial.”
Sigap gadis itu merestart ponsel tunggalnya. Berharap tidak ada masalah, sementara Cahya yang tak mengerti cara kerja yukime hanya bisa memerhatikan dengan tak sabar. “Hapenya Sayang sering gitu ya ?” Selorohnya membuat Sari menatapnya sok galak. “Sini sini, aku bantu betulin case-nya.”
Tak yakin Sari mengangsurkan yukime pada Cahya. Namun dalam sekali sentakan ujung tepi silicon case ponsel itu langsung sobek. Cahya buru-buru meletakkan benda malang itu begitu saja sambil nyengir bersalah.
“Yak ! Oppa ! Malah sobek...” Sari mengamuk. “Yaaah... Harus ganti dong nih.” Dengan teliti dikembalikannya case itu seperti semula walau bekas sobekannya jelas terlihat.
“Maaf ya, Sayang. Habisnya...”
“Lho !?” Pekik Sari mengejutkan Cahya. “Sms-smsku nggak ada semua, Oppa... Gimana nih ?” Buru-buru Sari mengecek ulang data-data dalam ponselnya. “Iyaa... Smsku hilang semuaa...”
Kening Cahya berkerut. “Kok bisa ?”
“Gara-gara Oppa ini kan. Smsku jadi hilang. Sms-sms dari Oppa hilang semua. Tanggung jawab ! Kirimin ulang semua smsnya.”
Cahya terkekeh. “Mana bisa ? Aku nggak pernah nyimpan sms kok. Ya nanti kan aku sms Sayang lagi.” Sari akan membuka mulut untuk protes namun jari telunjuk Cahya sudah menyentuh bibirya. “Biar aja sms-sms itu hilang. Yang penting aku nggak hilang dari Sayang, kan ?”
Cesss... Dan Sari merasakan amarahnya menguap seketika. Berganti dengan senyum salah tingkah untuk menutupi rona memerah wajahnya atas apa yang baru saja diperbuat oleh Cahya.
“Hemm... Sudah jam 9 ini, penggemarmu nggak jadi datang ya ? Ahh, dasar pengecut.” Ujar Cahya sembari menyeruput sisa jus terakhirnya. “Ayo cepat dihabisin, Yang. Aku antar Sayang pulang.”
Sari mengangguk. Senang menerima uluran tangan Cahya yang menariknya berdiri. Berdua mereka berlalu meninggalkan cafe itu. Meninggalkan si penggemar rahasia yang rupanya sudah diam-diam menunggu. Biar saja, jangan mengganggu. Biar saja tetap seperti itu. Selalu...

***

Rabu, 12 Juni 2013

21 Maret 2013

“Aku sudah benar-benar nggak bisa, Kak...” Sari menemukan suaranya bergetar hebat. Tangannya menggenggam ponsel kuat-kuat seolah benda mungil itu adalah tumpuan satu-satunya, dan akan limbung dirinya jika genggaman itu dilepaskan.
Dengan bibir yang tampak sudah tidak berdaya untuk digerakkan ia berucap lagi, “Aku sudah nyaris gila. Aku nggak akan bisa bertahan dengannya lagi. Aku nggak sanggup, Kak. Kakak harus menolongku...” Sangat lirih, tapi Sari yakin segenap energinya sudah habis untuk itu.
“Andai aku bisa menolongmu, Sayang...” Suara rendah di seberang telepon itu menyahut. Sama lirih dan sarat pilu dengan milik Sari yang didengarnya sejak tadi. Dihelanya napas panjang. Ia tahu hal seperti ini akan segera terjadi. Tapi secepat ini, adalah yang ia harap tidak pernah mau tahu.
“Bawa aku, Kak. Bawa aku pergi bersamamu, atau aku bisa mati di sini...”
Suara gadis itu kian melemah. Timbul tenggelam diantara isak tangis dan pengaturan nafas yang tak sempurna. Cahya tahu kekasihnya itu benar-benar menderita saat ini. Dan ia sangat membenci dirinya yang bahkan tidak mampu berbuat apa-apa untuk Sari.
“Sayang nggak boleh ngomong gitu.” Ucapnya pada akhirnya. “Badai ini akan segera berlalu dan kamu menghadapinya bersamaku.” Berharap kalimatnya dapat sedikit menenangkan gadis itu, dan juga hatinya yang tak henti bergemuruh. Ingin sekali Cahya mendatangi Sari untuk memeluknya. Memberitahu gadis itu bahwa Cahya bersamanya. Tapi ia tidak bisa. Semuanya tidak sesederhana itu. Tidak sesederhana impiannya dan Sari untuk bisa bersatu.
Sari kembali terisak. Bersusah payah menyusun kata. “Me-mereka semua jahat padaku. Mereka yang sangat kusayangi tega melakukan hal ini padaku.” Dan tangisnya kembali pecah.
Cahya sudah akan mengucapkan sesuatu. Bibirnya sudah terbuka namun diurungkan niatnya. Ia mendesah lagi. “Aku tahu Sayang kuat. Sayang pasti bisa melewati malam ini. Dan berjanjilah akan tetap bertahan hidup untuk bersamaku nanti.”
“Sayang masih nggak mau makan?” Pertanyaan Cahya menguap. Hanya isak tangis Sari yang bisa ia dengar, lain tidak. Terakhir kali diingatnya Sari sempat mengabarinya sudah makan siang tadi. Setelah itu Cahya yakin tidak ada apapun yang masuk dalam tubuh lemah gadis itu hingga kini. Kecemasan kembali menyusup dalam celah-celah hatinya. “Aku sama tersiksanya sepertimu, Sayang.”
Dihelanya nafas panjang. Berat sekali. “Yakin mau pergi bersamaku? Kita lihat bagaimana perkembangannya dulu. Kalau memang tidak ada pilihan untuk kita, aku akan membawamu pergi.” Janji Cahya. “Makan atau minumlah sesuatu, lalu tidur. Ini sudah hampir subuh. Dan Sayang sudah menangis sejak jam sembilan malam tadi.”
“I-iya, Kak...” Sari bersuara akhirnya. “Tapi aku tetap belum bisa tenang.”
“Kamu percaya aku, kan?” Cahya yakin Sari mengangguk pelan di seberang sana. “Berdoalah, semua akan baik-baik saja. I love you, Sayang...”
“Love you too, Kak Cahya...”

***

Senin, 27 Mei 2013

Mini Drama : "Dilema"

Tema : 
Dibalik setiap keputusan yang telah diambil, ada akibat yang akan dipertanggungjawabkan.
Judul : 
Dilema
Sinopsis : (ringkasan cerita/gambaran inti cerita)
Pemain :
1. Ares
2. Zeus
3. Hera
4. El (Angel)
5. Il (Devil)

Narasi : (memperjelas situasi/kondisi di tempat kejadian/peristiwa dengan disertakan tokoh yang bermasalah dan penjelasan suatu masalah)

Di suatu siang yang terik, trotoar sepanjang SMK Olimpus menuju halte
Ares : (Keluar dari gerbang sekolah. Melepas dasi. Mengeluarkan ujung kemeja seragamnya. Berjalan gontai menyusuri trotoar, sambil sesekali menyeka peluh yang membanjiri dahinya. Melihat halte kosong, lantas duduk di bangku terdekat).
Zeus : (Memesan sebungkus es jus di warung kecil dekat halte. Usai membayar, dimasukkannya dompet ke dalam saku belakang celana. Lalu menunggu pesanan es jus-nya).
Ares : (Memperhatikan Zeus. Entah darimana tiba-tiba muncul niat buruk).
Il : (Di sisi kiri Ares). (Ada secercah harapan pada dompet yang tampak berisi itu).
El : (Merapat ke sebelah kanan Ares).
Ares : (Menimbang-nimbang, bimbang).
Il : (Merayu menggebu-gebu).
Ares : (Bangkit dan berjalan menuju Zeus dengan sebungkus es jus di yang hampir jadi, kelihatannya sangat segar).
Zeus : (Menerima es jus, berjalan ke arah Ares).
Ares : (Beberapa meter di depan Zeus. Terus berjalan sambil memainkan batu kerikil dengan menendang-nendangnya).
Il & El : (Berjalan mengapit Ares. Il tertawa-tawa senang, sementara El sibuk berkomat-komit).
Zeus : (Sibuk dengan es jusnya hingga tidak melihat Ares yang berjalan lurus ke arahnya).
Ares & Zeus : (Bertabrakan bahu sekilas, Zeus tampak terkejut).
Zeus : (Tersedak).
Ares : (Membungkukkan badan, meminta maaf sekilas).
. . .
Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah
Ares : (Resah).
Il & El : (Menunjuk ke arah Hera yang saat itu sedang bersama seorang, Zeus).
Ares : (Tidak mengenali Zeus).
Il : (Tertawa mengejek).
El : (Memelototi Il).
Hera & Zeus : (Di kejauhan, sedang seru membicarakan sesuatu sambil sesekali bercanda dan tertawa-tawa bersama. Mereka kelihatan sangat akrab).
Ares : (Memperhatikan dua orang di seberangnya. Tampak tak senang Hera tertawa menanggapi perkataan Zeus yang tak bisa ia dengar dengan jelas. Merasa cemburu).
Ares : (Tidak mempedulikan perkataan El dan langsung menghampiri Hera & Zeus).
Zeus : (Sedang bercanda dengan Hera. Merasa ada yang menepuk bahunya, ia menoleh).
Ares : (Mendaratkan sebuah bogem mentah di wajah Zeus).
Zeus : (Menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya).
Hera : (Menjerit)
Ares : (Kaget, memucat ketika akhirnya mengenal Zeus).

Zeus : (Mengenali wajah Ares lantas menarik kerah kemejanya).
Ares : (Panik. Baru menyadari kalau Zeus adalah mahasiswa pemilik dompet yang sudah dicurinya itu).
Il : (Tertawa).
Zeus : (Memukul Ares).
Ares : (Tidak mampu membalas karena kedoknya sudah terbongkar di depan Hera).

Dialog

Ares : Ya Allah, panasnya! Mana laper dan haus, pula. Duit abis. Padahal akhir bulan masih jauh, tapi jatah uang saku udah sekarat banget! Kalau gini gimana aku nembak Hera dan ngajak dia jalan?
Il : Ini kesempatan, Man.
El : Jangan Boyyy… itu nggak baik, dosa! Kamu tau resikonya, kan?
El : Udahlah, ayo cepet pulang aja…
Il : Res… kesempatan nggak datang 2 kali lho! Kamu bakal menyesal kalau nggak kamu lakukan sekarang. Santai aja, Man… pasti aman! Kamu pengen uang jajan lebih buat ngajak Hera jalan, kan? Sekaranglah saatnya!
Zeus : Hei! Kalau jalan lihat-lihat dong! Dasar, bocah…
Ares : Maaf kak, benar-benar nggak sengaja.
Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah.
Ares : Dari kemarin-kemarin pengen banget nembak Hera, tapi belum ada moment yang pas. Kayaknya hari ini aku harus cepet ngomong ke dia. Tapi Hera kemana, ya?
Il & El : Tuh…
Ares : Lho, siapa itu cowok? Kok Hera bisa sama dia, sih?
Il : Cowoknya, kaliii… Wah… Keduluan nih.
El : Kan belum tentu juga, Res. Tanyain dulu aja, gih. Siapa tau mereka cuma teman.
Ares : Sialan, itu cowok! Bisa-bisanya dia godain Hera kayak gitu. Baru kali ini aku lihat Hera bisa tertawa kayak gitu terhadap seorang cowok, bahkan dia nggak pernah bersikap seperti itu saat bersamaku.
Il : Dasar cewek itu… Padahal kamu sudah bela-belain, tapi dia malah deket sama cowok lain.
El : Kita nggak boleh negative thinking, belum tentu juga itu cowoknya. Disamperin aja dulu Res, tanya baik-baik. Hei, hei…
Ares : Heh! Anak mana lo? Jangan beraninya godain cewek sekolah gue, yah!
Hera : Ares! Kamu itu apa-apaan sih? Ngapain pukul-pukul dia, segala?
Ares : Tolong minggir, Ra. Cowok mata keranjang ini tadi godain kamu, kan? Kamu nggak diapa-apain sama dia?
Hera : Omong kosong apa ini?! Res, kenapa kamu mukulin kakakku, sih?
Ares : Kakak? Maksud kamu? Jadi, cowok ini kakak kamu?
Hera : Ya, cowok “mata keranjang” ini kakakku. Dan kamu sudah seenaknya mukul dia sembarangan.
Zeus : Kamu bocah yang udah nyolong dompetku waktu itu, kan?!
El : Aduh… gawat! Il, kita harus bantu Ares!
Il : Kenapa harus? Dia yang menebar benih, jadi biarkan Ares sendiri yang menuai hasil dari perbuatannya. Sudah El, kita nonton saja.
Hera : Kakak kenal sama Ares?
Zeus : Nggak, tapi aku yakin dia yang udah nyolong dompetku. Dasar kurang ajar! Balikin dompetku, bocah!
Hera : Apa itu bener, Res? Kamu yang nyopet kakak aku?
Akhirnya Ares dilaporkan kepada pihak sekolah atas kejadian ini. Orang tuanya pun dipanggil dan ia mendapat skors selama beberapa hari.

. . .