Tampilkan postingan dengan label M.ArisCahyanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M.ArisCahyanto. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2020

4 Tahun Menjadi Ibu ASI (Bagian 1)

Dalam minggu ini Si Bungsu genap berusia 2 tahun, dan segera lulus ASI, insyaallah. Jika berkaca pada sang kakak yang lulus ASI pada usia 25 bulan, mungkin si adik akan mendapat toleransi yang serupa. Ya paling tidak sampai penghujung tahun ini.

Terhitung, sudah 4 tahun lebih aku menjadi seorang ibu ASI, tepatnya sejak Juni 2016 ketika sang kakak, putra pertamaku lahir. Waktu itu masih teringat jelas keinginan terbesarku untuk melahirkan secara normal dan bisa melakukan Inisiasi Dini sebaik mungkin.

Atas izin Allah, aku dimampukan untuk mengantarkan kakak Ari lahir ke dunia secara normal. Namun sayangnya, karena kesalahan teknis saat mengenjan yang begitu menguras tenaga--hingga berakhir aku super lemas dan terpaksa diinfus, aku tidak bisa melakukan Inisiasi Dini dengan baik dan optimal. ASI-ku tidak langsung keluar. Aku kesulitan menyusui bayiku pada beberapa jam pertama. Bersyukur setelahnya kolostrum perlahan-lahan keluar, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. :'(

Salah satu hal yang aku sesalkan, saat itu aku seolah tidak punya kuasa atas bayiku sendiri. Aku tidak bisa menolak saat pihak keluarga memberi susu formula pada si bayi yang kerap menangis. Mereka bilang bayiku kelaparan karena ASI-ku sangat sedikit dan itu tidak cukup. Apalagi dia anak laki-laki yang harus banyak menyusu. Dengan berat hati aku pun mengikuti suara terbanyak untuk memberikan susu formula pada si bayi. Namun aku tetap bertekad agar bisa sesegera mungkin menyusuinya langsung. Setiap ada kesempatan aku memompa ASI dan menyimpannya, memberikannya bergantian dengan susu formula.

Alhamdulillah, pada hari ketiga ASI-ku akhirnya cukup lancar dan deras. Bayiku kembali menyusu langsung. Terbukti dia lebih tenang, lebih, nyaman, dan menyusu lebih sering. Payudara mulai penuh dan harus dipompa agar tidak merembes. Dengan fakta itu saja aku sudah luar biasa bahagia.

Untungnya susu formula yang dibeli cuma sekotak, dan agar tidak mubazir kami hanya memberikannya ketika si bayi kutinggal untuk urusan pribadi dan sedang ditunggui oleh anggota keluarga yang lain.

Tepat seminggu ketika stok susu formula habis, aku makin aktif menyusui dan memerah ASI untuk disimpan. Waktu itu memang ada wacana aku kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Karena sangat menyesali pemberian susu formula dan berharap dapat memenuhi ASI Eksklusif (6 bulan), aku pun giat menimbun stok ASIP.

Qadarullah, baby Ari ternyata lebih senang menyusu langsung daripada minum ASIP dari dot. Dia mengalami bingung puting, sehingga selama beberapa waktu harus minum ASIP secara manual dengan sendok. Kemudian Allah kembali menolong memantapkan hatiku untuk resign dari kantor. Akhirnya aku kembali menyusui baby Ari dengan penuh semangat dan cinta kasih. Melihatnya tumbuh sehat dan gembul, ya, bahagiaku cukup sesederhana itu.

Berkat ASI Eksklusif aku auto mengalami kontrasepsi alami. Salah satu keinginanku yang akhirnya lunas. Selama hampir 11 bulan aku tidak mengalami menstruasi dan merasa baik-baik saja, kecuali belum mampu menjalankan puasa Ramadhan sebagai busui aktif. Namun sebelum baby Aris genap berusia setahun, aku kembali datang bulan. Sedih sekali rasanya...

Bulan-bulan berikutnya menstruasiku kembali pada siklus sebelum hamil, tapi dengan flow yang lebih berat. Menyadari KB laktasiku sudah usai, aku mulai belajar menggunakan KB kalender dan perhitungan masa ovulasi. Jadi, aku memang sengaja tidak menggunakan alat kontrasepsi resmi dan lebih berusaha mengontrolnya secara manual.

Everything was very fine, sampai pada penghujung 2017 aku sudah lupa kapan terakhir kali menstruasi. Tbh, I was so afraid what if I got pregnant, since baby Ari was just 18 months old, dan masih menyusu. It was my biggest worried. Terlalu tidak tega jika tiba-tiba harus menyapihnya, berharap masih mampu memberikan haknya hingga 2 tahun.

Januari 2018, it confirmed that I got pregnant. Speechless. It felt like bless and frightened. Jujur, di satu sisi merasa gambira dan bersyukur, sementara di sisi lain galau karena merasa tidak percaya diri akan mampu mengatasi semuanya sekaligus. Terutama kewajiban sebagai busui yang belum lunas tertunaikan.

So, I thanked to the doctors and nurses who positively help me through my dilemma. Gave me strength and supported me that since my pregnancy all was well, I still can give direct-breastfeeding to my first child. And yess! Aku mampu menjalankan peran ganda sebagai bumil dan busui. Tentu saja mengantisipasi berbagai macam skenario terburuk, kami tetap melakukan sounding kepada baby Ari bahwa dia sudah besar dan segera menjadi kakak, makanya dalam waktu dekat tidak boleh nenen bunda lagi. Sounding tersebut selalu kusampaikan sejak awal kehamilan sampai tiba akhir masa menyapih.

Beberapa saat setelah ulangtahun keduanya, baby Ari secara sukarela minta tidur dengan ayah atau mbahbuk, sementara bunda sengaja 'sok sibuk' demi menghindari rutinitas nenen sebelum tidur. Kegiatan tersebut berjalan selama kurang lebih sepekan hingga akhirnya baby Ari benar-benar lepas dan berpisah dari nenen.

Dan begitulah, kakak Ari berhasil lulus ASI 2 tahun dan sukses melewati masa penyapihan tanpa drama. Win win solution, lah. Debay dapat tumbuh sehat, normal sesuai chart dan kakak tetap terpenuhi masa menyusunya.

Ada efek sampingnya kah, tetap menyusui selama hamil?

Insyaallah, bersambung di '4 Tahun Menjadi Ibu ASI (Bagian 2)' selanjutnya!

Sabtu, 13 Juni 2020

Selamat 4 Tahun, Kakak Ari!

"Selamat ulang tahun, kami ucapkan. 
Selamat panjang umur, kita kan doakan. 
Selamat sejahtera, sehat sentosa. 
Selamat panjang umur, dan bahagia..."
Masyaallah, tidak terasa hari ini sulungku tepat berusia 4 tahun. Rasanya seperti baru kemarin dia lahir dan menjadikanku seorang ibu, sekarang kakakmbul sudah mau sekolah saja.

Senang dan terharu. Bersyukur Kakak Ari tumbuh dengan baik. Meski masih banyak kekurangan, Allah Maha Tahu dia dan kami sudah berusaha yang terbaik semaksimal mungkin.

Tidak ada kue ulang tahun seperti tahun lalu, karena inti dari momen ini adalah bersyukur. Tapi insyaallah tiap tahun di tahun-tahun yang akan datang, kita akan mensyukuri hari ini kembali bersama-sama.

Besar harapan bunda padamu, Nak. Tapi di atas segalanya, yang paling penting bunda ingin agar kamu berbahagia. Jadilah anak yang tulus berbahagia dari lubuk hatimu. Jika itu bukan karena kami sebagai orangtua yang masih fakir segalanya, semoga kamu selalu mampu menciptakan kebahagiaanmu sendiri bagaimanapun itu wujudnya.

Selamat hari lahir, sulungku sayang...

Sabtu, 30 September 2017

WALK ON

Jadi, sudah berapa banyak bayimu di-bully oleh sekitar hanya karena lebih memilih tenang-tenang saja perihal progress tumbuh kembangnya?

Sudah berapa kamu galau terganggu dengan pikiran-pikiran: "kok anakku belum bisa gini, ya?" "kapan si baby bakal bisa kayak anak lain gitu?"

"Aris wis iso nyonggo gulu? Putune pak erte wis iso digendong ngarep,"
"Sudah bisa tengkurap, belum? Hayo dulu si xx usia segini sudah pinter tengkurap dan balik sendiri," "Belum bisa duduk sendiri, kah? Berapa bulan sekarang?"
"Aris ini emang nggak merangkak apa gimana? Kok malah berenang-renang di lantai."
"Jangan ngerangkak terus dong, dek. Itu temennya sudah jalan semua!"
"Masih dipegangin aja, sih? Nggak malu sama dedeknya yang 9 bulan sudah bisa jalan?"
 "15 bulan? Anaknya belakang rumah 16 bulan sudah pinter lari-larian sejak umur 10 bulan, dan sekarang sudah lancar ngomong."
Aku dan Aris sudah kenyaaaangg~~ makan bully-an dan alhamdulillah cukup bisa rasional meski sesekali galau. Dari awal memang sudah pasang mindset bahwa setiap insan itu unik. Setiap bayi itu spesial, nggak sama. Nggak bisa dan jangan disama-samain potensial dan progress tumbuh kembangnya.

Buncah bahagia dan haru berdesakan dalam dada, ketika tawa lepas, sorak sorai, ditambah tepuk tangan meriah mengiringi langkah-langkah kaki kecil Aris Cimbul menapak. Jejak. Berlepas tangan. Seorang diri. Anak lelaki kecintaanku akhirnya mampu berjalan di atas kaki dan kemauannya sendiri.
Perdana di rumah mbah uti,
disaksikan bunda, ayah, dan Tante Putri.
Senang? Tentu. Bahagia? Pasti. Lega karena sudah lepas dari gunjingan karena bayinya terlambat dan belum bisa apa-apa dibandingkan bayi-bayi lain seusianya?

Nope.

Aris belum berjalan sendiri pun nggak akan menyurutkan cinta kasih kami padanya. Tapi dengan ia sudah bisa berjalan, maka semakin kemandirian akan mudah ia raih. Aris yang sudah pintar melakukan berbagai macam hal sendiri, niscaya akan lebih mandiri, karena dengan berjalan ia akan lebih mampu melakukan hal-hal yang semasa merangkak belum bisa ia lakukan.

Dengan berjalan Aris bisa menyamai langkah-langkah kaki ayah dan bunda, bahkan mengejar. Aris bisa melangkah-langkahi barang-barang dan mainan yang menghalangi jalan tanpa perlu menyingkirkannya lagi. Aris juga makin mahir menaiki tangga menuju ke lantai atas, atau berjalan ke pintu depan untuk membukakan pintu bagi orang yang datang--tanpa perlu merangkak lagi... Aris bisa menjangkau benda-benda lebih jauh dari sebelumnya, lebih tinggi dari sebelumnya. Aris bisa mencari dan menemukan bunda yang nggak ada di kamar ketika Aris bangun tidur, mengikuti bunda ke dapur, bahkan menyusul masuk ke kamar mandi... Tanpa harus berkotor-kotor dengan merangkak. Itu semua karena kini Aris sudah bisa berjalan sendiri.

Bunda selalu sayang  dan bangga dengan apapun keadaan Aris sekarang, dan di masa mendatang. Nggak perlu dengarkan omongan orang lain yang nggak tahu kebenaran sejatinya. Cukup dengarkan, dan buktikan, bahwa meski tanpa bantuan dari siapapun Aris akan selalu percaya diri dan Allah selalu menyertai.

Terimakasih, sudah singgah dalam rahim bunda.


Peluk cium cinta,
Bunda.

Rabu, 13 September 2017

Aris Cimbul is 15 Months Old

Hari ini jagoan bunda sudah 15 bulan, dooong~
Bener-bener nggak kerasa, Cimbul sudah makin gede, makin pinter, bundanya juga makin kewalahan...
15 months old baby boy
Progress bulan ini cukup memuaskan. Cimbul sudah semakin aktif dan atraktif, rasa penasaran dan keingintahuannya kian besar, makin suka makan sendiri, semakin tahu keinginannya sendiri dan bagaimana untuk memenuhi itu. Makin mandiri lah. Komunikasi dan feedback-nya sudah cukup bagus dan sesuai, makin hafal rutinitas dan peraturan rumah juga.

Sementara jalannya makin mantap dengan jarak jangkauan lebih jauh, tapi yah, harus puas dengan semaumaunya Cimbul cause however doi belum siap(baca: belum berani) untuk jalan lepas tangan. Bicara juga masih tahap belajar, meski bunda sudah 90% yakin Cimbul bisa ngerti dan paham apa yang orang omongin ke dia. Bahkan sudah mampu menganalisa bunda/ayah sedang marah atau ngamuk atau pura-pura marah, Cimbul tahu bedanya. Reaksinya pun tepat.

Jadi suka kasihan dan menyesal kalau habis marahin Cimbul. Kalau malam mau tidur pasti cium-ciumin minta maaf sambil baper, kok jadi ibu anak baru satu aja jahat bener. Hiks...

Maaf ya, Sayang... Yang pinter dan nurut bunda makanya... *ehh*

Selamat ulang bulan, kekasih kecilku... :*

Senin, 04 September 2017

Imunisasi Campak & Rubella

Hi, there! What a monday~~
First monday in the new month means posyandu day~ and today Cimbul proudly had imunisasi MR, setelah bulan lalu kecele belum jadwalnya imunisasi. Kali ini demi antisipasi ayah diajak nemenin juga. Hehehe...

Prosesnya cepet banget, kok. Setelah absen seperti biasa, lalu nimbang dan ukur tinggi badan+lingkar kepala dulu sambil ngantri giliran vaksin. Bidan yang bertugas dari Puskesmas Kedundung, sudah familiar dan beliaunya cukup friendly.

Alhamdulillah, Mbul pinter nggak nangis, paling berontak dikit pas tangannya dipegangin kuat-kuat biar nggak gerak dan mengsle suntikannya. :'D

Usai disuntik ternyata kami belum bolehin pulang dulu, diminta nunggu kira-kira setengah jam untuk mengamati efek imunisasi. Jika normal dan aman-aman saja, anak sudah boleh dibawa pulang.
Selebaran imunisasi MR
Apa sih imunisasi MR itu?
Adalah vaksinasi terhadap virus campak dan rubella yang baru-baru ini mulai 'viral' di Indonesia karena dampaknya yang sangat serius, sehingga pemerintah mulai mewaspadai serta mengupayakan pencegahan penyebaran virus tersebut dengan sosialiasi dan imunisasi gratis bagi semua bayi, balita, dan anak mulai usia 9 bulan hingga 15 tahun per tahun 2017 selama bulan kampanye Agustus-September.

Siapakah yang berisiko terjangkit virus rubella?
Normalnya virus rubella bisa menyerang siapa saja yang kebetulan imunitasnya sedang tidak baik atau belum punya kekebalan terhadap virus tersebut. Namun lebih rentan terjadi pada anak usia sekolah dan ibu hamil. Virus memang tidak akan secara langsung menyerang si ibu melainkan janin yang dikandung. Naudzubillah min dzalik...

Apa kaitannya dengan anak-anak yang 'wajib' diimunisasi? Bukan ibu hamilnya yang divaksin langsung?
Mencegah lebih baik daripada mengobati, selain karena memang obat dari virus rubella saat ini belum ada.
Pada kasus orang normal (termasuk anak-anak usia sekolah) 'efek samping' dari virus tersebut cukup ringan dan tidak fatal, tetapi lain halnya jika yang tertular adalah ibu hamil (terutama trimester awal). Bayi berisiko terlahir cacat dengan kelainan bocor jantung, buta, tuli, hingga meninggal.
Awalnya mungkin sekilas nggak ada kaitannya antara anak-anak yang divaksin dengan ibu hamil yang tertular rubella. Namun faktanya anak-anak usia sekolah lah yang banyak berperan menularkan virus tersebut pada ibu hamil di sekitar mereka, seperti: ibu guru yang hamil, tetangga yang hamil, dsb.


Kenapa bunda Aris memilih pro dengan imunisasi dan segera membawa Cimbul untuk segera divaksin MR nggak lain atas kesadaran bahwa virus tersebut sangat berbahaya dan bahkan dapat mengancam keselamatan janin dari ibu hamil yang tertular rubella.
Nggak bisa bayangin lah, setelah 9 bulan hamil dengan segala tetek bengek menyertai lalu excited dengan jabang bayi yang akan lahir (apalagi anak pertama) namun alangkah hancurnya hati jika anak yang dilahirkan ternyata cacat dengan kemungkinan hidup yang juga begitu tipis. >_<

Lagipula insyaallah imunisasi yang digalakkan oleh pemerintah pastinya sudah digodok matang-matang dengan berbagai pertimbangan agar generasi selanjutnya akan selalu sehat dengan imunitas yang baik karena semakin berubahnya zaman, penyakit yang ada semakin beragam. Memang segala penyakit adalah dari Allah, demikian pula penawar/obatnya. Dan menurutku pribadi pro-imunisasi merupakan salah satu bentuk ikhtiar senantiasa ingin sehat dan terhindar dari macam-macam penyakit. Aamiiin...

Because, fyi, di luar sana (media sosial apalagi) masih banyak debat mengenai imunisasi--yay or nay to do--dengan berbagai macam alasan dan argumentasi yang seringkali menjatuhkan lawan bicara. Bahkan di lingkungan keluarga sendiri juga ada beberapa yang terang-terangan menolak anaknya diimunisasi. Sekalipun sejak bayi!

So, jadi bunda cerdas, yuk! Dengan mulai membiasakan diri mencari informasi yang valid dan tidak langsung percaya pada satu sumber saja, serta tidak mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab--yang menyebarkan berita bohong(hoax). Demi kehidupan masyarakat yang lebih baik, yang saling menjaga, dan senantiasa sehat.


Salam imunisasi.
Bunda Aris Cimbul

Selasa, 13 Desember 2016

My 6 Months Old Baby's 1st Food

December 13th! My baby has been 6 months old today, and as my promise, I'd start to feed him more than only breast-feeding.
Get ready to eat~~
 Jujur, jika 6 bulan lalu pasca melahirkan Aris aku mengklaim diriku nggak mengalami baby blues syndrome--well, yeah--I thought I get it now. Bagaimana menyakitkannya menyadari bahwa ASI-ku bukan lagi satu-satunya yang dibutuhkan oleh bayiku--yang telah kian tumbuh besar. It is really hurt. And sad deep inside my heart. Waktu benar-benar lekas sekali berlalu. Sadar sih, Aris makin gede, aktifitasnya makin banyak, akalnya makin 'main', dan makin butuh banyak energi juga untuk itu.
Aris Cimbul harus makan apa, dong?
Asupan makanan pertama Aris yaitu bubur beras putih, yang kumasak sendiri, meski dari tepung beli jadi. Efek nggak bisa masak, sih. Jangan ditiru, yaa~ ( ;∀;) Jika kemarin-kemarin pede nian dengan kemampuan dan semangatku untuk fokus ASI Eksklusif selama 6 bulan (insyaallah sampai 2 tahun karena alhamdulillah asiku lancar jaya), sekarang--realistis saja--aku terpaksa menyerah saat ayah membelikan si boy biskuit bayi kemasan dan bubur bayi instan--walaupun nggak setiap hari dibikin dan sesekali aku juga mencoba masak resep-resep mpasi sederhana. #nojudging #nobullying

Hari ini dan besok mungkin menunya akan sama, sebagai perkenalan bagi Aris terhadap rasa dan tekstur suatu makanan. Setelah dua hari tentu akan kuganti dengan menu lain, demikian juga dengan menu dalam satu hari yang sebisanya bervariasi.
Day 1-3 ➡ 1× sehari, siang (pagi dan sore nenen banyak-banyak).
Day 4-7 ➡ 2× sehari, pagi dan sore.
Day 8-10 ➡ 2× sehari, pagi dan sore+snack siang dan petang.
Day 11-14 ➡ 3× sehari. Snack dikondisikan.
Dan seterusnya~~
Happy eating

Rabu, 07 Desember 2016

Sakit Kepala

Rasa-rasanya sudah cukup lama sejak kali terakhir perasaan macam ini singgah. Aku mengenalnya. Hanya saja lebih baik lupa. Berpura-pura juga boleh. Yang pasti kali ini jangan sampai terjatuh lagi.

Dalam pelukannya.

Sempat kudengar ia mengocehkan sesuatu sebelum pergi. Tentang minum obat atau semacamnya. Manalah bisa kuingat? Dentuman jantung dan napasku yang memburu telah mengacaukan pendengaran. Sebentar lagi mungkin mataku akan jadi gelap.

Tapi tidak bisa.

Kaki-kaki itu mengayun. Menjejak apa-apa yang menghalangi, termasuk selembar kain tipis yang membungkus tubuhnya--berharap mampu sedikit menghangatkan di bawah deru kipas angin yang tak henti berputar sehari semalam.

Bagaimana aku bisa tidur?

Kutarik kembali kain tipis hingga sebatas dada. Menepuk-nepuk pelan tubuh mungilnya sembari membacakan doa pengantar tidur. Kukecup keningnya yang berpeluh. Menyekanya agar ia terbuai lebih nyaman. Memandangi wajah lelapnya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan bahagia. Ya, sesederhana itu. Memang sesepele itulah cintaku.

Rasa-rasa yang aneh tadi masih timbul-tenggelam. Tidak apa-apa, nanti pasti akan hilang sendiri. Mungkin cuma sedikit lelah, itu lumrah. Yang penting tidurmu nyenyak. Takkan kubiarkan nyamuk dan kroni-kroninya mencuri darahmu sedikitpun! Meninggalkan bekas gigitan yang akan mengganggumu seharian. Tidak akan.

Karenanya tidurlah, Sayang. Mimpikan dirimu sehebat yang kau mau. Belajarlah apa yang belum kau temukan dariku atau ayahmu, para malaikat dalam mimpi akan mengajarkanmu dengan senang hati. Lalu kau akan bangun dengan semangat baru dan kemampuan yang kian bertambah. Kian membuat kami bangga.

Sakit kepala ini bukan apa-apa. Percayalah. Aku akan mengatasinya dengan mudah. Pening ini tidak sebanding dengan kekuatan yang dianugerahkan-Nya padaku--6 bulan lalu--saat aku mengantarkanmu bertemu dunia pertama kalinya.

Iya, aku tentu sehebat itu.

Bunda akan selalu jadi yang terhebat, untukmu, buah hatiku.

Rabu, 21 September 2016

1st Weekdays with Cimbul❤

Been back to work for a week and it is sooo exhausting~~ duhh masyaallah capeknya dobel tripel. Ya ngurus kerjaan, ya ngurus anak, pulangnya masih harus ngurus keperluan anak dan suami di rumah. #akusetrong

What I didn't expect is Cimbul surprisingly spent his days with me at my office more often than stayed at home with ayah and yangtit--as my A plan. What we had now is the B plan for real. So here is the map:
09/14 ➡ rumah
09/15 ➡ rumah
09/16 ➡ kantor dan rumah
09/17 ➡ kantor
09/19 ➡ kantor dan rumah
09/20 ➡ kantor
09/21 ➡ kantor
Hari pertama dan kedua Aris dijagain si ayah dibantu yangtit di rumah. Dapat laporan macam-macam mulai dari sekadar rewel, nangis terus, ngomel-ngomel, minta gendong sampai dosis nggak mau minum ASIP dari dot dan ngamuk-ngamuk, lalu dapat SMS "Kamu nggak bisa kah, pulang sebentar sekarang?"

Kantor dan rumah itu maksudnya pagi sampai siang ikut ngantor, lalu pas istirahat Cimbul dan ayah pulang ke rumah, karena mbahbuk sudah pulang dan bisa bantuin momong. Sekitar jam 1 atau jam setengah duaan aku ikut pulang untuk maksi dan nenenin.

Pikirku okelah sesekali ajak Aris ngantor toh ada ayahnya juga yang bersedia full momong ketika aku sedang ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal, karena gimanapun Tantit nggak selalu bisa datang untuk bantu jagain. Tapi ternyata masbeb keterusan keenakan(?) semangat hore-hore ikut ngantor sambil bawa baby karena dia beneran lebih selo; Cimbul yang seketika jadi idola para bude di kantor niscaya banyak yang gendongin dan kami terbantu sekali momongnya. ^^

Singkat cerita tiap pagi kami 'piknik' ke kantorku. Bawa-bawa tas bayi yang isinya segala macam tetek bengek perintilannya Aris mulai dari popok, baju ganti, perlak, minyak telon-baby oil-sabun-tisu basah, saputangan, handuk, sampai mainan. Sengaja nggak bawa botol dot karena nenennya 'live' dooong~~ skin to skin breast feeding is the best dan tetap yang utama.

Jadwal sehari-hari pun kisaran antara: berangkat, sampai kantor tidur pagi, bangun-nenen, main, digendong bergilir, tidur siang, bangun-nenen, main, mandi, tidur sore, pulang. Gitu-gitu terus...

Capek? Banget. Nggak kebayang levelnya. Seneng? Pastilah. Secara kerja ditemenin suami dan anak, nggak kehilangan momen kebersaman dan bisa terus memantau tumbuh kembang si Cimbul. Quality time is everywhere. Serempong apapun pasti dijalani dengan sukacita. Bagus juga karena mengenalkan baby bersosialisasi. Anak jadi ramah dan nggak takut dengan oranglain. Kan nggak sedikit juga anak kecil yang cuma mau sama ibu-ayah pol sama neneknya dan takut sama oranglain? Semoga Aris nggak kayak gitu, deh.

Big thanks to hubby daddy yang luar biasa konsisten berperan-serta dalam mengasuh Aris bersama. Love love you full to the moon and back~~

Rabu, 10 Agustus 2016

Cimbul vs Medicines

What a very very terrible day~~
After a whole last night couldn't sleep well 'til 9am this morning--penuh drama tangisan dan airmata--I do hate but have to took Aris to puskesmas imidiately, see the doctor.
・(/Д`)・

Nggak seperti biasanya--meski begadang semalaman namun subuh/paginya bisa tidur--sampai hampir siang si Cimbul tetap terjaga sembari rewel nggak henti. Semua kemungkinan yang kira-kira jadi penyebab sudah dicek, tapi nihil. Kami tetap nggak menemukan kenapa ini bayi terus menangis, menjerit, nggak kunjung lelap tertidur kendati segala upaya sudah dicoba.

Aku yang sudah amat sangat panik dunno what to do memaksa si ayah untuk membawa Aris berobat--apapun yang bisa membuatnya lebih baik. Dengan persiapan singkat seadanya--karena memang sama sekali nggak direncanakan--pukul 10 pagi kami berangkat.

Puskesmas jam segitu antriannya nggak terlalu ramai, tapi nunggu diperiksa dan nunggu dokter anak datang, itu yang lumayan lama. Setelah menunggu hampir 1 jam--usai nyasar di ruang tunggu depan ruang BP dan dicari-cari Bidan Nurul dari KIA, Aris sempat timbang badan dan dicek suhu tubuh, ditanya-tanya keluhannya juga--perdana kami berjumpa dokter anak. Untuk kali pertama pula aku berusaha menjelaskan keluhan yang bukan kualami sendiri. :( Semoga tepat sasaran.

Dr. Trias mendengarkan semua keluhan kami dengan baik. Aku tahu dia berusaha memberi jalan keluar yang masuk akal bagi kami yang kalut. Menurutnya Aris bisa jadi alergi terhadap sesuatu--entah makanan atau debu. Belum lagi bentuk pusar si Mbul yang unik tapi mendebarkan membuatnya rentan masuk angin dan jadi kembung. Itulah yang diindikasi menyebabkan Aris nggak enak badan hingga ia rewel. Subhanallah... o(╥﹏╥)o

Dari hasil pemeriksaan Aris diberikan resep obat, terdiri dari 3 jenis, yang bisa diambil di loket obat puskesmas. Tapiii~~ bayi 2 bulan, ges, sudah harus minum selain ASI. ヘ(;´Д`ヘ) beruntung Aris mudah sekali minum obat. Masing-masing obat diminum 1× sehari. Aku meminumkan salah satunya segera sepulang dari puskesmas (Zinc 20mg), yang kedua jelang mandi sore (Lacto-B), dan sebelum tidur malam (Cetirizine). Semoga semoga semoga tanpa menunggu obat habispun Aris akan lekas kembali pulih. Allahumma aamiiin~~~ *"Dalem, Bunda," sahut Aris* *ehh*

If only I could at his place, consume those medicines for him. Seperti inilah rasanya seorang ibu yang ikut merasakan kesakitan yang dialami sang buah hati, malah kalau bisa biarkan kami saja yang sakit, biarkan anak kami tetap sehat dan ceria seperti biasa.

Syafakillah Aris, nak cimbulku sayang...

Senin, 08 Agustus 2016

Eighty 8

Homeyyy~~
*bau busyuk*
Blog ini sudah lebih dari sekadar berkarat, tumbuh jamur, penuh sarang laba-laba, dan udara pengap. Jadi mari kita bersihkan dan hidupkan kembali. Ehehehe...

There are so many things happened in these recent days, weeks, months, that I haven't saved yet, but I really want to share it somehow, as my journal, my memories. My treasure.

Nggak tahu harus mulai dari mana karena banyak banget yang mau aku bagi dan simpan di sini, jadi postingan ini anggap saja sebagai teaser apa yang akan kutulis--segera. Sebagian akan jadi jurnal tentang beberapa kejadian di hari esok, beberapa lainnya akan tersempil ke tanggal-tanggal drafts tersebut seharusnya posted.

The clues: I've been staying at home for almost 2 months and for the next month. I have my baby already, it is Aris, dear world. I'm a mommy now. So there possibly will be a new tags #MArisCahyanto❤

Here, gimme a chuu~