Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2020

Rindu Ibu Guru

Telah banyak kisah tercurah
Di sini,
hari-hari penuh kasih kita lalui setiap hari
Tawa, canda, celoteh ria...
Belajar, bermain, tumbuh bersama

Kini,
Jarak memisahkan kita
Demi kebaikan semua
Mari kita menyimpan rindu di rumah saja

Semoga,
akan tiba hari di mana kita dapat berjumpa
Melepas rindu dan segala cerita saat kita berjauh raga

Sampai saat itu,
kami harap anak2 sehat selalu
Tetap giat belajar dan menuntut ilmu

Doa ibu guru selalu beserta anak didik sekalian
Di mana pun kalian berada, Nak
Kami, para ibu guru akan selalu sayang dan terkenang



Guru-guru
TK Pertiwi Kabupaten Mojokerto

Kamis, 04 Februari 2016

Waktu Istirahat Makan Siang

Hai! Aku sering melihatmu beberapa waktu terakhir di daerah sekitar tempatku bekerja. Kau yang setiap jelang siang duduk sendiri di tembok tepi sungai, mau tidak mau tertangkap inderaku yang hampir setiap hari pula melintasi ruas jalan itu untuk membeli makan siang di sebuah warung kecil di ujung jalan.

Mungkin sedikit tidak sopan, tapi boleh kutahu apa yang kau lakukan di sana? Setiap hari. Seorang diri. Tidakkah terik matahari yang pasti tengah panas-panasnya, akan sangat melelehkan peluh? Belum lagi kotor debu udara dan bising dari kendaraan yang berlalu-lalang. Sungguh kau tidak terganggu dengan itu? Bagaimana dengan para ABG yang juga suka numpang pacaran si sana. Tak membuatmu risih sama sekali juga?

Ya, itu memang terserahmu. Sama halnya dengan terserahku untuk tetap memerhatikanmu yang tetap tak beranjak dari tempatmu duduk--sejak aku melangkahkan kaki masuk warung, memesan makanan, membayar, lalu sudah akan kembali ke kantor. Kau tak bergerak sedikitpun dari situ. Kukuh menatap nyalang Sungai Brantas berarus sedang tepat di depanmu. Apa sih, yang sedemikian seriusnya kau lihat?

★★★

Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatmu. Dirimu yang biasanya menanti kepulanganku, ada di manakah sekarang? Sepi rasanya menatap bangku kosong tanpamu duduk di sana. Sendirian menungguku sambil membaca buku sembari sesekali merapikan rambut yang ditiup angin petang dengan jemari.

Lelahkah kau?

Tapi mungkin itulah yang terbaik, pikirku. Sesak menahan rindu karena tidak bisa melihatmu, samakah dengan dukamu yang terus menunggu, meski kita tetap tak dapat bertemu?


Hei, aku sudah tak lagi ada di sana, kau tahu. Jadi Sayang, berhentilah menunggu.



Penantian panjang, 4 Februari 2016
Yang sudah pergi darimu

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-5

Kamis, 02 Juli 2015

Assalamu'alaikum, Bapak...

Ayahanda dari pria kecintaan saya.

Sebelumnya, ijinkan saya berterima kasih atas restu dan doa Bapak. Pertengahan Mei lalu pernikahan saya dengan putra kedua Bapak -Kak Anto- berjalan lancar sesuai rencana tanpa ada kendala. Meski tak dipungkiri kami sangat mengharapkan Bapak bisa hadir dan menyaksikan langsung janji suci kami.

Saya tahu Bapak ingin sekali menghadiri hari bahagia kami, namun apa daya, terbentangnya jarak antar-pulau dan kondisi kesehatan Bapak kala itu sama sekali tidak memungkinkan. Sebagai gantinya kami sudah menerima berkat dan doa-restu dari Bapak yang diwakilkan oleh Kak Rudi. Insya Allah itu sudah cukup, Pak.

His beloved siblings; your children
Yang tak akan pernah bisa saya lupa, malam, beberapa hari pasca kesibukan pernikahan, Kak Anto mengajak saya untuk menyapa Bapak via telepon. Bertukar kabar, sekadar memberitahukan situasi kami terkini. Dia ingin mengenalkan istrinya ini kepada ayahandanya. Dia ingin suatu saat istrinya ini bisa bertemu dengan bapaknya.

Cita-cita Kak Anto menjadi cita-cita saya juga.

Dia banyak bercerita tentang Bapak. Tentang ibu dan adik-adik. Tentang keluarga di Senipah. Saya hanya bisa tersenyum tatkala memperhatikannya bercerita. Kak Anto tampak begitu senang dan bersemangat ketika menceritakan hari-harinya di sana. Tempat-tempat menarik dan budaya setempat yang belum pernah saya tahu. Namun saya seperti bisa membayangkan. Saya seperti sudah dekat dengan keluarga Bapak sekalian.
Ahh... Mungkin dia rindu Bapak. Barangkali dia ingin pulang ke tanah Kalimantannya. Bisa jadi sayalah alasannya untuk pergi, dan kini dia ingin kembali.

Kak Anto menyuruh saya menyapa Bapak, membicarakan satu-dua hal untuk kali pertama. Apa yang harus saya katakan? Ada rasa malu dan canggung. Sudah lama saya tidak membicarakan hal-hal pribadi dengan orangtua laki-laki. Orangtua suami secara otomatis akan menjadi orangtua istri juga, kan? Maka beruntunglah saya, karena sekali lagi diijinkan memiliki sesosok orangtua laki-laki. Saya senang karena berpikir akhirnya saya bisa punya seorang bapak.

Apakah pemikiran saya tersebut terlalu lancang, Pak?

Saya kehilangan ayah saya hampir sebelas tahun lalu, saat saya berusia tigabelas dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Bisa dibilang masa kanak-kanak saya harus terhenti di situ. Saya harus bisa fight sebagaimana ibu saya yang berjuang sendirian sebagai single-parent.

Saya berusaha mandiri, tapi bohong jika saya bilang tak pernah merindukan ayah. Saya amat sangat rindu beliau, tapi cukup hati saya dan Tuhan (dan sekarang ditambah Bapak) saja yang tahu, nanti ibu dan adik-adik saya ikut teringat dan jadi sedih. Saya tidak ingin itu. :')

Saat diperdengarkan suara Bapak oleh Kak Anto via sambungan telepon malam itu, saya benar-benar dibuat kagum sekaligus heran, saya merasa tidak asing dengan suara Bapak.

Ahh... Itu...

Pernah Kak Anto memperlihatkan foto Bapak pada saya, waktu itu mungkin saya sembari mengira-ngira -Bapak yang tersenyum hangat dan ramah dalam foto- bagaimana cara Bapak berbicara? Bapak kan tahu bahwa Kak Anto memiliki aksen bicara yang khas, belakangan saya dapati cara bicara Kak Rudi juga tidak jauh berbeda. Mungkinkah Bapak memiliki nada suara dan cara bicara seperti yang saya pikirkan?

Ternyata sama.

Suara Bapak sama persis dengan yang pernah saya bayangkan. :D Saya benar-benar senang bisa berkesempatan mengobrol dengan Bapak. Meski sebagian besar saya hanya mendengarkan nasehat Bapak demi hubungan rumah tangga saya dengan Kak Anto. Terima kasih, Pak. Saya akan selalu mengingat dan berusaha melakukan apa yang Bapak sarankan. :')

Oh iya, Pak. Foto-foto pernikahan kami sudah selesai cetak. Kak Anto berniat mengirimkan sebuah album foto -yang ada kami sebagai pasangan mempelai bersama keluarga besar- pada Bapak. Dia bilang akan segera memaketkannya ke Senipah...

Tapi Pak, belum sempat suami saya pergi ke kantorpos guna memaketkan album foto pernikahan kami untuk Bapak -seperti tak sabar- sore tadi dia sudah terbang dari Bandara Juanda menuju Bandara Sepinggan, Kalimatan. Kak Anto terbang pulang menemui Bapak.

Kak Anto bergegas pulang ke Senipah begitu mendapat kabar kesehatan Bapak makin memburuk. Anak mana yang kuasa hatinya mengetahui kemungkinan terburuk; tidak akan bisa bertemu dengan orangtuanya lagi?

Kak Anto sangat menyangi Bapak. Dia sangat mencintai bapaknya.

Kenapa Bapak tidak bisa menunggunya sebentar saja? Sebentar lagi saja...

Dia belum sempat menyampaikan perasaannya pada Bapak. Dia belum sempat memberi dan memperlihatkan pada Bapak album foto pernikahan kami. Dia belum sempat memamerkan betapa tampan dirinya saat mengenakan busana pengantin...

Dia belum sempat berkata, "Pak, ini Riza, istriku. Bagaimana menurut Bapak?"

Terlambat satu jam. Terlewat satu jam dan tak seorang pun dari dia atau saya bisa bertemu muka dengan Bapak untuk selama-lamanya.

Barangkali Tuhan mencukupkan rasa sakit Bapak di hari ini. Agar Bapak tidak perlu banyak menderita lagi. Semoga kesakitan terakhir Bapak hanya ada di sini, semua tertinggal di sini, dan Bapak cukup berbahagia saja di surga. :')
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu...
Marhaban yaa ramadhan... Insya Allah segala amalan badah Bapak diterima oleh-Nya. Aamiiin ya robbal 'alamin...

Wassalamu'alaikum, Bapak...
Semoga suatu saat Tuhan berkenan mempertemukan kita ya, Pak. *^_^*



Kota kecil Mojokerto, 1 Juli 2015
Menantu Bapak nomor dua


Panggil saja Riza

Rabu, 12 November 2014

Selamat Hari Ayah Sedunia, Yah...


Selamat Hari Ayah Sedunia, Yah...

Dear, Ayah...
Pagi ini begitu aku memulai hari dengan mengecek semua akun jejaring sosialku mulai dari BBM, Path, Twitter, Facebook, aku mendapati semua temanku menuliskan 'Selamat Hari Ayah' pada status mereka. Barangkali berkesempatan mengucapkannya langsung untuk ayah mereka masing-masing. Aku... Aku belum menuliskan status apapun, Yah. Bolehkah aku mengucapkan "Selamat Hari Ayah" padamu? Bisakah?

Benci sekali mengatakan ini, tapi kukira aku memang iri. Kecemburuan yang kurasakan pada mereka yang bisa melewatkan waktu bersama ayah mereka. Bahkan tidak sedikit yang mengupload foto bersama di Instagram, lengkap dengan tagar #SelamatHariAyah atau #LoveDad.

Aku membayangkan. Jika masih bisa memilikimu sampai saat ini, apa aku bisa tertawa selebar itu, ketika Ayah merengkuh pundakku dan melakukan 'peace' untuk selfie kita? Apakah aku bisa tersenyum sebahagia itu kala Ayah mengajakku jalan-jalan di akhir pekan? Entah berwisata ke luar kota dengan bus atau kereta. Mungkin juga sebatas jalan kaki ke alun-alun kota, atau mengayuh sepeda bersama...

Apa Ayah juga akan mendukung tim sepakbola yang kudukung, Liverpool? Apa aku bisa memboncengmu untuk pergi nobar bola, Yah? Bolehkah aku pulang malam seperti beberapa teman Kopites Angel-ku yang lain? Menurut Ayah sebaiknya aku beli buku di toko buku dekat rumah, atau online saja?

Sial, kuharap aku tahu apa jawaban Ayah.

Anak-anak lain mungkin bisa mendapatkan hadiah yang spesial dari orangtua mereka saat berulang tahun atau naik kelas atau setelah dapat nilai baik di sekolah. Betapa mudahnya anak-anak 'sekarang' memperoleh barang-barang mewah seperti gadget, perhiasan, pakaian dan asesoris mahal, bahkan motor atau mobil. Barang-barang yang sayangnya belum pernah Ayah berikan padaku. Dan aku juga tidak menginginkannya.

The whole thing that I always want is you, Dad. Really do. So much. It would be better if I don't have all those things but you. I wouldn't care about anything else since I have you by my side. I know that you wouldn't give me what I wanted, but you always gave me what you think I needed the most. And I do want you to watch me grown up, make sure that your little girl has been becoming a nice young woman. As you will. Haven't I grow up according your plan?

Ibu menyayangiku sebanyak bagian Ayah juga. Tapi kami sama-sama tahu bahwa hal itu tidak akan pernah sama. Aku bersyukur dan sangat menghargai Ibu yang sudah berusaha untukku, untuk keluarga kecil kita yang Ayah tinggalkan. Tapi Yah, cinta Ayah adalah bagian yang sudah lama hilang dariku, yang tidak akan pernah ada gantinya lagi. Dan aku memang akan tetap membiarkannya saja seperti itu. Dengan begitu aku akan selalu mengingat dan merindukanmu, Yah...

Bilangan ini nyaris sampai pada tahun kesepuluh sejak terakhir kali aku melihatmu. Satu hal yang selalu kusesali saat Ayah pergi adalah aku yang belum cukup baik sebagai anak gadis Ayah. Aku lemah dan belum cukup kuat untuk menjaga keluarga kecil kita. Belum sempat memberikan prestasi terbaikku dan membuat Ayah bangga. Aku minta maaf, Yah...

Bisakah aku tahu kalau-kalau Ayah sudah memaafkanku? Bisakah aku -sekali lagi saja- berdiri memeluk lehermu, di atas boncengan sepeda seperti dulu?

Karena aku rindu Ayah. Sungguh. Sangat...

I love you not only at this Father's Day, but every single day of my whole life...


Daddy's little girl,


Liya

Jumat, 02 Mei 2014

Keresahan Nada

Kepadamu, yang aku tidak akan pernah bisa merasakan apapun selain cinta, pastikanlah ini. Kamu boleh mencintainya sebuta-butanya hati, pun jiwamu. Tapi aku, yang sedetikpun tak pernah berarti lebih untukmu daripada sekadar teman –jika aku tak berhak menyebutmu ‘sahabat’– meyakini bahwasanya aku mencintaimu jauh lebih banyak dibandingkan cintanya padamu.
Aku sudah pernah bilang kan, Nada? Ada baiknya kamu mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Bukan berarti menimbang untung-rugi dari memercayai seseorang terlebih jika dia adalah seseorang yang amat kamu kasihi tapi sekali lagi, bersikap waspada dan mempersiapkan diri terhadap kemungkinan paling buruk, bukanlah suatu penistaan perasaan. Itu logika mencintai. 

Kamu begitu mencintainya. Aku pun tahu benar akan hal itu. Tapi Nada, apakah dia juga sedemikian dalamnya mencintaimu, sebagaimana besarnya rasa cintamu terhadapnya? Kamu pun mulai mempertanyakannya juga, kan? Tidak ada salahnya. Sangat manusiawi. Kamu berhak tahu, sudah cukup layakkah kamu dicintai olehnya, sekalipun kita sama-sama tahu, cintamu yang tumpah ruah untuknya tidak bisa disamakan begitu saja dengan sekilas kecupan yang ia jejakkan pada bibirmu. Atau memang yang demikian itu sudah cukup bagimu?


Pikirku, tiap orang yang tahu rasanya mencintai tentu pernah berharap untuk melabuhkan hatinya pada seseorang yang teramat ia cintai, satu-satunya. Tanpa harus takut akan berpisah/ditinggalkan. Tanpa perlu khawatir akan ada orang lain yang menggantikan dirinya dalam usaha mencintai dan membahagiakan orang kecintaannya. 

Apa begini sudah benar? Apa cintaku sudah layak untuk mencintainya? Bisakah ia sungguh-sungguh mencintaiku dengan segala kekuranganku, tanpa pernah berpikir akan menemukan sosok lain yang mungkin lebih baik dariku? Pastikah bahwa aku tidak akan ditinggalkan? Bahwa dia akan selalu ada di sisiku? Bersumpah setia pada kebersamaan sisa usia kita? 


Tidak akan ada selesainya, Nada...

Mencintai ya, sudah, mencintai saja... Aku tetap mencintaimu, sekalipun nyata-nyata kamu mencintainya. Tapi tunggu dulu! Aku pernah tetap mencintaimu, sekalipun nyata-nyata kamu mencintainya. 

Ya, Nada. Aku sudah memutuskan berhenti mencintaimu. Terlepas dari cinta tidaknya kamu padanya, pada akhirnya kamu memang tidak akan pernah bisa melihatku. Jadi bagaimana bisa kita bersama? Untuk itulah, aku melindungi hatiku sendiri, aku melindungi cintaku yang tidak pernah tersinkron pada perasaanmu. Sia-sia hanya akan membuatku berhenti melihat keindahan yang ada padamu, dan menggantinya dengan kebencian. Membenci, adalah satu-satunya yang tidak akan mungkin bisa kurasakan terhadapmu, sekalipun cinta untukmu pun tak lagi ada.


Tapi kamu tahu aku selalu ada di sini untukmu. Kapanpun, kamu akan selalu tahu di mana harus mencariku kala kamu membutuhkanku untuk sekadar mendengarkan kisahmu tentangnya. Tidak apa, jangan khawatir aku akan bagaimana-bagaimana. Kamu pun tahu, aku kan kuat! 


Bukannya aku membencinya, tapi bukan berarti aku suka padanya. Biasa saja. Bagiku ia cuma perempuan yang kamu cintai, itu saja. Mana mungkin aku cemburu padanya dan mendadak jadi sakit hati saat kamu membicarakannya denganku, kan? Baik sekali kamu memikirkan perasaanku sampai seperti itu. Tidak apa-apa, seperti yang selalu kubilang, aku kuat. Hatiku pun sama kuatnya. 


Doaku senantiasa besertamu, Nada. Apapun langkah yang kamu ambil: entah itu tetap bertahan dengan segala resiko atasnya, atau pada akhirnya kamu harus menyerah dan mengambil hikmah bahwa tiada hati yang benar-benar sempurna -termasuk hati miliknya-, aku akan tetap mendukungmu sepenuh hatiku.


Yang sabar ya, Nada...

Sabtu, 26 April 2014

SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA, AY-CHAN...!!

To: Ay-chan


Met tiga harinya ne, Ay-chan... *^_^*
Aku bukannya melupakan hari jadimu, kok. Sengaja saja, supaya ucapanku ada di urutan paling atas di antara ucapan-ucapan lain yang semua orang kirim padamu tanggal 24 April lalu. "Selamat Ulang Tahun" ini dariku. :)

Doaku untukmu: semoga panjang umur, sehat selalu, dilancarkan segala urusan, dimudahkan pencapaian cita-citanya, serta senantiasa dilimpahi rahmat oleh Allah SWT, Allahumma aamiin...
Dan yang tak kalah penting, semoga setiap perhitungan angka usia yang selalu berganti ini tidak sia-sia. Bahwa waktu manusia di dunia sebenarnya bukan bertambah banyak, tapi justru makin berkurang. Lakukan apapun yang kamu sukai dan bermanfaat bagi dirimu dan orang lain, selagi tidak bertentangan dengan norma hukum dan agama tentunya. ;)

Aku sudah mencicipi usia baruku sebulan lebih dua hari lebih dulu darimu. Ini baru hari ketigamu, kan? Bagaimana rasanya? Sensasinya? Adakah perbedaan yang kamu temukan pada usia baru ini dibandingkan dengan usiamu sebelumnya? Apapun itu semoga lebih baik dan selalu baik saja yang ada di depan setelah ini. Aamiin...
Aku bingung mau memberimu apa. Menyempatkan diri main ke rumahmu saja belum bisa-bisa. Why don't you stay in your Pulo house? It is nearest from here. :(
Well, I don't have any goods to give you as a birthday present, so these pictures of 23rd birthday cake are for you. The look very delicious. :9 I was goggling them. x))

Btw, kamu sudah pernah kuberitahu tentang ini (judul: Tentang Sebuah Janji) atau belum, ya? Salah satu tulisanku yang kukumpulkan untuk tugas buku harian, mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X dulu.
Lumayan, 'buku harian' alias binder bergambar Naruto yang sudah kumanipulasi jadi buku harian itu, secara keseluruhan mendapat nilai A. Tapi, untuk tulisan yang kumaksud tadi cuma dihargai 85 plus komen dari Ibu Guru, "Tulisanmu sudah bagus, tapi masih terkesan abu-abu,"
Aku selalu penasaran apa maksudnya, tapi beliau tidak mau menjawab... -_-

Silakan baca kalau kamu berkenan. Tapi, untukku yang sekarang itu benar-benar memalukan. Boleh kok, kalau kamu mau menertawakannya juga. xD

Oiya, masih ingat 'Get The Wings Back'? Beberapa hari lalu versi cerpennya sudah kukirimkan ke pihak penerbit, sebagai teaser sekaligus audisi untuk masuk pelatihan menulis. Kalau lolos bakalan dapat bimbingan untuk dinovelkan. Kalau belum berhasil akan kujadikan novel dulu, baru setelah itu kukirimkan lagi. ^^ Doakan, ya...

Jadi, postingan ini sebenarnya maksudnya apa? Hahahaha... Ide spontan nih, ya begini ini hasilnya. Gomen ne, tidak bisa memberimu hadiah ulang tahun yang layak.

Once again, happy birthday, my dearest friend... you have to know that I always love you... :*

From: me

Senin, 31 Maret 2014

SURAT UNTUK MANTAN

Teruntukmu: pelangi terindah setelah hujan, secangkir kopi panas temanku menghitung embun, kupu-kupu hitam cantik yang masih beterbangan mengelilingi sudut kecil hatiku.

Hai, kamu yang namanya pernah selalu kusebut dalam setiap tetes doaku. Boleh kutahu bagaimana kabarmu di kejauhan sana? Aku sendiri masih hidup, selalu ingin tetap berbahagia menikmati hidup, dengan atau tanpamu. Barangkali itu yang akan kukatakan sebagai jawaban kalau-kalau kamu pun menanyakan keberadaanku. Tapi mungkinkah? Akankah mungkin kamu bahkan mengingatku setelah hampir setahun perpisahan kita?

Kamu yang pelukannya masih bisa dirasakan oleh masing-masing bulu halus kulitku, ingatkah kamu pada pertemuan kembali kita setahun lalu? Kamu menemuiku lagi sekembalimu dari perantauan bertahun-tahun terhitung sejak upacara kelulusan SMA kita. Tahukah kamu segembira apa aku kala itu? Sebahagia apa aku akhirnya bisa melihatmu lagi?

Kita berdua tahu betul kamu adalah cinta pertamaku. Cinta lama yang kusembunyikan diam-diam tanpa mampu kunyatakan demi tidak menjauhkanmu dari pandanganku. Cinta sepihak yang kunikmati seorang diri demi tidak mengacaukan hubunganmu dengan gadismu tujuh tahun lalu.
"Aku bahagia selama kamu bahagia sekalipun ia yang ada bersamamu, sekalipun kamu bukan milikku."
Sungguh naif, aku terus berpikir seperti itu sambil menjalani hidupku tanpamu, untuk kali pertama. Tapi kemudian Tuhan mempertemukan kita kembali. Di awal tahun lalu akhirnya kamu bersedia menjadikanku wanitamu. Aku pernah berharap ada baiknya hidupku terhenti di waktu itu saja. Pada saat aku masih merasakan hangat genggaman tangan kokohmu pada jemariku. Ketika aku bisa mengukir senyumanmu sedekat bahu kita yang melekat, bukan lagi sekadar emotikon warna kuning pada layar telepon genggam.

Namun kebahagiaan yang kusangka akan kekal bersamamu rupanya hanya nyata dalam hitungan dua bulan saja. Dua bulan untuk tujuh tahun penantian. Kamu pergi meninggalkanku lagi, membiarkanku menatap punggung sepimu yang kian menjauh. Tidak bisa menjanjikanku bahagia, kamu bilang? Ingin aku mendapatkan lelaki yang bisa lebih membahagiakanku daripada dirimu? Tidakkah kamu tahu mantan kekasihmu satu ini bodohnya seperti apa?

Adalah aku. Gadis bodoh yang (dulu) percaya hidup-matinya bergantung padamu. Seorang idiot yang mengorbankan waktu tujuh tahunnya mencintai sesosok lelaki yang belum tentu bisa mencintai dirinya, yang rela melakukan segalanya demi menciptakan kebahagiaanmu di sisiku. Si keras kepala yang tak mampu memalingkan hati barang sedetikpun pada selain dirimu. Yang pagi-siang-sore-malam, baik nyata atau maya hanya bernafas dengan melafalkan namamu saja. Mendoakan yang terbaik bagi dirimu dan hatimu.

Jangan khawatir aku akan sakit hati dikatai bodoh olehmu. Aku memang sebodoh sangkamu, bahkan mungkin lebih bodoh lagi. Sekitarku pun berpendapat demikian. Apalagi yang bisa diharapkan dari seseorang yang keberadaannya saja di mana, tidak kau tahu?” Mereka bertanya sinis.
Biarlah. Terserah orang lain berkata apapun sesukanya. Mereka boleh mencelaku sampai puas. Mereka hanya tidak boleh menjelek-jelekkan dirimu. Aku akan jauh lebih sakit hati jika itu terjadi.
Sekalipun keinginanmu atas perpisahan kita memporak-porandakan perasaanku dan menghancurkan hatiku, namun sungguh tidak adil untuk menimpakan semua sebab-musabab kesalahan sebagai tanggung jawabmu. Kurasa kamu memang sengaja mengambil keputusan itu

Aku tidak mengenalmu sehari-dua hari. Bukan memerhatikanmu dari sudut pandang sesempit dan sesederhana kaca spion. Kamu memang pribadi seperti itu, yang apabila merasa terbebani oleh harapan yang terlalu besar –yang kamu tidak percaya diri bisa memenuhinya– kamu akan lari dan sembunyi. Kamu akan menolak menjelaskan apapun, tapi juga tidak akan membela diri. Pengecut, eh? Tidak, itu adalah caramu untuk menjaga citraku, dengan menjadikan dirimu sendiri penjahatnya. Kamu terlalu baik, Sayang.

Itulah kamu, karakter nyata yang (pernah) amat kucintai. Tanyakan padaku, masihkah aku mencintaimu di detik ini? Mungkin. Karena walau tak bisa memilikimu dalam genggaman tangan, aku masih bebas menghadirkanmu sebatas angan.

Pun aku masih bodoh, namun kemudian memahami. Tuhan tidak memberikan apa yang kuinginkan melainkan apa yang sesungguhnya kubutuhkan. Perkenalanku denganmu, persahabatan kita, sempat kehilanganmu, pertemuan kita kembali, pernah menjadi kekasihmu, lalu melepasmu lagi, yang manapun tidak sedikitpun aku pernah menyesal. Bertemu dan sempat memilikimu adalah bagian terbaik. Hanya saja, aku tak lagi bernyali mengharapkan kamu kembali.
Sayangnya kita berdua belum jodoh saja.
Bolehkah kutambahkan bagian itu dalam doaku seperti dulu?
Tuhan, mohon jodohkanlah aku dengan dia. Jika dia bukan jodohku maka jodohkan aku dengan seseorang yang mirip dirinya, dengan wajah dan postur tubuh serupa, bercara bicara sama sepertinya, yang sifat dan karakternya serupa dengannya. Dengan kata lain, dia saja, Tuhan. Terima kasih, Aamiin...
Sungguhan aku pernah berdoa seperti itu, tahu! Sering sekali dulu. Tidak percaya?

Jika memang belum menemukan seseorang yang bisa mencintaimu sebaik aku, kamu tahu ke mana harus pulang, kan? Nantilah, akan kukisahkan lebih banyak lagi, sebanyak yang kamu inginkan, saat Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu (lagi). Bagaimana menurutmu?

Seseorang yang berbangga hati (pernah dan masih) merasa paling mencintaimu (setelah orangtua dan keluargamu) di dunia ini lebih dari siapapun.



NB: Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth Novel by Bernard Batubara.

Sabtu, 01 Maret 2014

Grandpa's Letter

Atas ridho Allah, menuju masa depan yang lebih baik.

Wahai anak-anakku yang selalu dirahmati Allah SWT, mari kita semua mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT yang begitu banyaknya sehingga kita tidak bisa menghitungnya saru per satu. Yang utama nikmat Iman, Islam, dan kesehatan, serta kasih sayang Allah.
Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kita, memberikan ampunan terhadap semua kesalahan dan dosa-dosa kita, kemudian memasukkan kita semua ke dalam surga Allah SWT, Aamiin…

Selanjutnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, sifat rahman-rahim kepada hamba-Nya yang bertaqwa. Marilah kita istiqomah dalam mengerjakan semua perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya. Sesuai permohonan kita setiap sholat, memohon petunjuk kepada Allah, yakni jalan lurus yang diridhoi-Nya.

Kemudian kita berbakti kepada orang tua, saling memaafkan, berkasih-sayang, berpesan dalam hal kebajikan/kebenaran dan kesabaran. Bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah untuk kebaikan kita semua, dan tidak saling menyalahkan.

Mari kita bersegera menuju ampunan Allah, sekali lagi:
  1. Mensyukuri nikmat Allah
  2. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
  3. Berbakti kepada orang tua
  4. Berkasih sayang sesama saudara
  5. Saling bersilaturrahmi untuk mempererat persaudaraan
Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kesalahan. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin…

Dengan ampunan dan ridho Allah SWT hari esok akan lebih baik dari hari ini.



Mojokerto, 1 Maret 2014
Fatchur Rohman

Jumat, 21 Februari 2014

#SuratValentine Untuk Nada

Kepada
Yang terkasih,
Nada
di
Lubuk hatiku


Dear, Nada…
Selamat senja!

Aku tak kuasa berhenti tersenyum membayangkanmu tengah membuka surat ini, ditemani oleh rasa penasaran yang terus merayumu untuk segera membacanya hingga akhir. Surat ini kutulis saat matahari jingga sudah tinggal tiga perempat bagian. Cahaya merah keemasan yang seolah membakar langit barat demikian benderangnya, membuatku sempat yakin jika tidak segera beranjak, tidak lama lagi pasti lidah-lidah api matahari akan sampai di beranda lalu membakar habis suratku. Tidak, tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk pada surat ini. Tidak selama kamu belum membacanya sampai habis.

Nada, ketika surat ini tiba di hadapanmu dan terbaca olehmu, aku senantiasa berharap kamu baik-baik saja. Sebagaimana aku yang selalu baik meski semalaman kemarin hingga dini hari tadi masih gelisah memikirkan apa yang sebaiknya kutuliskan untukmu dalam surat ini. Menurutmu seharusnya surat ini berisi apa? Apa kuisi saja ia dengan perasaanku? Perasaanku yang kini dilanda prahara akibat sudah terlalu lama kita berdua tidak bisa melewatkan waktu bersama.

Iya, kamu benar, Nada. Kamu tahu persis bahwa kamu selalu benar tentang apapun, termasuk perasaanku padamu. Maka melalui surat ini aku ingin sekali memberitahukanmu perasaanku. Tentang sebanyak apa aku memikirkan dirimu sepanjang hari, dimulai sejak aku membuka mata hingga tubuh ini tak mampu lagi terjaga. Tentang bagaimana gelisah hadir setiap kali kububuhkan tanda silang pada tanggal-tanggal dalam kalender saat waktu berjalan demikian lambat menuju hari di mana kita bisa bertemu. Tentangku yang tidak bisa tidak otomatis teringat padamu setiap kali mendengar lagu-lagu kita akrab menyapa telingaku, entah itu dari radio, dari acara musik di televisi, mengalun di speaker café saat aku ngopi bersama teman-teman, diputarkan oleh rekan kerja di kantor sengaja untuk menggodaku yang segera melamunkanmu, di mana saja.

Ingatkah kamu? Pernah kamu menemaniku bernyanyi saat hari hujan dulu. Aku yang sebelumnya selalu iseng asal bersenandung tiba-tiba saja jatuh hati padamu, yang sempurna sekali mengiringi nyanyian kacauku dengan permainan gitar akustikmu. Kemudian sekejap saja kamu dan aku, kita semakin terbiasa membagi segalanya berdua. Bisakah menghitung, berapa banyak lagu yang sudah kita nyanyikan bersama di senja itu, kala menunggu pelangi tiba?

Saat itu kita masih begitu muda. Kita hanya tahu cita, asa, dan bahagia. Tak peduli apapun lagi selama kita masih bisa bernyanyi. Enyah saja lainnya, hingga waktu membawa jarak dan kenyataan yang tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Kamu harus berada jauh dariku sementara waktu. Bahwa aku tidak lagi bisa melihatmu setiap hari. Tidak bisa memintamu datang sekiranya aku tak tahan ingin bertemu. Kamu tahu aku tidak pernah menginginkan apapun. Cukup kamu ada bersamaku. Itu saja. Cukup dengan kamu di sini dan menyanyikanku lagu-lagu favorit kita. Aku tidak akan meminta apapun lagi. Tuhan sudah memberiku yang terbaik, yakni dirimu.

Padamu Nada, aku benar-benar merasa... Ahh, bagaimana orang biasa menyebut perasaanku ini? Hasrat ingin membenamkan tubuh tak berdayaku dalam peluk hangatmu tanpa ada usai. Hanya aku dan kamu, lalu segera bahagia akan mengekori kita dengan sendirinya, tanpa ada jeda, tanpa ada jika.

Nada, kekasihku... Apakah kamu merasakan perasaan yang sama dengan yang sedang kurasakan sekarang? Sungguhkah? Aku tahu kamu pun tak sabar ingin bertemu denganku. Tapi, jangan. Tolong jangan sebut perasaan indah itu dalam kata. Biar kita merasakannya dalam hati saja. Biar kita meresapinya sambil menanti perjumpaan kita selanjutnya. Karena tidak semua kata bisa menjelaskan tepat seperti apa yang hati kita rasakan. Ya kan, Nada?

Baiklah, akan segera kusudahi surat ini. Tampaknya kamu pun sudah mulai bosan membacanya. Hahaha... Tentu saja, ini tidak seperti komik Naruto kegemaranmu. Tapi, kamu belum mengantuk, kan? Tenang saja, sedikit lagi. Hanya tinggal beberapa kata lagi dan aku akan melipat surat ini lalu memasukkannya dalam amplop bersamaan dengan raja siang yang hendak berpulang dipeluk petang. Menyisakan semburat jingga di langit yang mulai beralih lembayung. Syukurlah, jika kamu tuntas membaca surat ini di sini, artinya matahari tidak jadi membakar suratku dengan lidah-lidah apinya. Ia rupanya iba padaku yang sangat ingin menghadiahimu surat ini sebagai tanda kasihku untukmu. Terima kasih sudah menjadi segalaku, Nada.

Sampai jumpa segera!

PS : Jariku sedikit terfoto. Tapi bagus, tidak? Baiklah, aku tahu lukisan senjamu jauh lebih bagus.


Beranda, 13 Februari 2014
Sincerely
The one who wants you the most,



R. Ch. Auliya Sari