Tampilkan postingan dengan label Handmade. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Handmade. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2020

Dalgona Iced Coffee Anti Gagal

Hello, Kanca Ngopi!
Kalian pasti sudah nggak asing lagi dengan Dalgona Iced Coffee yang viral belakangan ini. Varian kopi yang hits ini berasal dari Korea Selatan, loh. Nama Dalgona sendiri diambil dari nama kue tradisional Korsel yaitu kue Dalgona merujuk creamy foam kecoklatan yang bentuknya menyerupai kue tersebut. Unik, ya.

Di masa self-quarantine akibat pandemi Corona ini, banyak netizen yang kemudian berlomba-lomba mencoba membuat Dalgona Coffee sendiri di rumah. Mereka pun mengunggahnya ke media sosial dan menjadi tren.

Nggak mau ketinggalan hype? Kuy, coba bikin Es Kopi Dalgona ala kamu di rumah. Bahan dan cara buatnya gampang banget dan dijamin anti gagal!!

Bahan:
  • Kopi Nescafe Classic
  • Gula
  • Air panas
  • Susu cair UHT Plain
  • Es batu
Cara membuat:
  1. Campur kopi+gula+air panas dengan perbandingan 1:1:1 sendok makan. Aduk rata menggunakan garpu/pengocok/mixer hingga rata dan mengembang. Foam dikatakan sukses apabila sudah berwarna coklat muda dan tidak tumpah ketika dibalik. 
  2. Siapkan es batu dalam gelas secukupnya. 
  3. Tuangkan susu cair ke dalam gelas berisi es batu, setengah bagian saja. 
  4. Masukkan adonan creamy foam di bagian atas susu hingga memenuhi bagian gelas. 
  5. Tada! Selesai. 
Dalgio Iced Coffee ala Ume
Overall minuman ini beraroma wangi khas kopi. Creamy foam-nya ini yummy sekali dengan teksturnya lembut. Pahit kopinya terasa, segar susunya pun dapat. Ditambah es batu, this is perfect for a hot long day. Padahal aku bikinnya malam-malam.

Aku sendiri alhamdulillah langsung berhasil dalam percobaan pertama. Ini juga nggak lepas dari hasil riset dan tanya ke teman-teman yang sudah lebih dulu bereksperimen. Muahkasih. 

Nah, apa tipsnya biar nggak gagal? 
Poin terpenting dari misi pembuatan kopi Dalgona ini adalah meracik creamy foam-nya. Kalian harus pilih kopi hitam yang tanpa gula. Kemudian, patuhi perbandingan, hindari memberi air terlalu banyak. Selanjutnya, konsistensi untuk mencampur ketiga bahan tersebut. Karena meski sederhana tapi gampang-gampang susah loh, mengaduknya. Apalagi kalau kalian nggak ada mixer dan terpaksa melakukannya manual. Kayak aku. Dengan garpu dan kekuatan/kecepatan tangan perempuan yang nggak pernah masak, butuh sekitar 20-30 menit untuk menghasilkan adonan foam mengembang sempurnah. 
Gitu ya, gengs...
Oh iya, kalau kalian nggak bisa minum kopi atau mau  coba varian lain bisa pakai bubuk Milo/Chocolatos. Dan biar lebih hemat, susu UHT bisa diganti dengan susu bubuk yang sudah diseduh terlebih dahulu, atau kental manis. Rasanya nggak jauh beda, kok.

Selamat mencoba, ya!

Selasa, 08 Juli 2014

'Firasat' X A Nightmare X Miss You

Kemarin 
Kulihat awan membentuk wajahku
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku
Semalam
Bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari
Ku segera berlari

Cepat pulang...
Cepat kembali jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau 'tuk cepat pulang
Cepat kembali
Jangan pergi lagi

Akhirnya
Bagai sungai yang mendamba samudera
Ku tahu pasti ke mana kan ku bermuara
Semoga ada waktu
Sayangku
Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini...
Rasa rindukah atau kan tanda bahaya
Aku tak peduli
Ku terus berlari...

*

Sayup-sayup terdengar lagu itu disenandungkan. Firasat.

Ia menoleh. Mendapati Desstya yang juga tengah menoleh dan melempar sekilas senyuman padanya, sebelum berlalu menghampiri mesin fotokopi. Rupanya pemuda itu yang barusan bernyanyi.

"Pas banget!" dikembalikannya fokus pada monitor komputer. Tugasnya untuk hari ini tidak bisa dibilang sedikit. Ia yakin menatap halaman excel untuk meng-input data, tapi yang tertangkap matanya adalah screen tab yang menampilkan chat BBM-nya dengan Vem beberapa saat lalu.

Damn! Ia mengantukkan kepalanya pada meja kerja keras-keras. Setengah sadar. Beberapa rekan seruangannya menoleh, tapi ia tidak ambil peduli. Hatinya lebih sakit daripada sekadar dahinya yang memerah. 

Hari ini akan jadi hari yang sangat panjang dan melelahkan. Ia mendesah. Lelah.

Mengingat mimpinya semalam. Arre sangat jarang bermimpi, apalagi sampai teringat dan masih segar ingatan tentang mimpi tersebut hingga keesokan paginya, sepanjang hari. Semula ia memang tidak menyadari apa yang membuatnya pening dan malas bangun sahur. Malam itu tidurnya sama sekali jauh dari nyenyak. 

Usai makan sahur gadis itu kembali naik ke tempat tidur. Saat itulah ingatannya muncul. Mimpinya berlanjut, dan semakin jelas jalan ceritanya. Para pelakunya. Dirinya tentu ada di sana, berikut Vem, lalu seseorang yang seharusnya tidak (pernah) ada, yakni perempuan itu. Seseorang yang pernah mengisi hati Vem sebelum dirinya.

Arre nyaris sadar dirinya sedang bermimpi, tapi sialnya ia tidak bisa membangunkan dirinya sendiri dan lari dari mimpi yang tidak pernah ingin ia lihat itu. Saat seseorang yang ia kasihi harus bersama perempuan lain, apalagi mantan pacar.
"a nightmare x sickmotion x miss you"
Status BBM baru terpasang sudah. Setengah berharap Vem akan tertarik untuk menanyakan apa yang telah ia alami dalam mimpi. Tapi barangkali kehendak Tuhan tidak ada yang bisa menentukan. Alih-alih mendapat penghiburan dari kekasihnya di pagi hari itu, Arre mendapatkan sakit kepala susulan. Seolah ia dan Vem ditakdirkan untuk melihat mimpi yang sama.
"mimpiin mantan..."
Ha!
Betapa lelucon yang saking lucunya hingga hanya bisa menerbitkan tawa jengah. Hancur sudah. Berharap dihibur apanya? Mungkin justru dirinya yang harus menghibur Vem agar lelaki itu tidak berlarut-larut mengenang masa lalu.

Hampir seharian ia mendadak badmood dengan segala hal. Morningsick dini hari tadi tentu jadi hal paling dicurigai atas ke-eror-an-nya sepanjang hari. Belum lagi frekuensi chatnya dengan Vem yang (entah kenapa) menurutnya agak berkurang. Ia kesepian. Ia merasa kehilangan. Tapi jika demi mendapatkan penjabaran detil mimpi versi Vem, lebih baik keduanya saling menyibukkan diri dengan hal lain dulu. Arre belum siap mengetahui isi mimpi Vem.

Gadis itu sempat menduga, Vem pun sedang menetralisir perasaannya pasca tragedi mimpi itu dan sedang tidak ingin membahas apapun yang bisa menyerempet topik tersebut. Arre sendiri juga ingin sekali segera melupakannya, tapi tak kunjung bisa.

**

Bukan inginnya untuk selalu terkikik geli tiap kali iseng melihat chapture-an chat BBM antara Vem dengan Mbak Mantan, tapi 'kasus' ini agaknya cukup 'lucu' dan menghibur bagi Arre. Bagaimana tidak? Tidak lama setelah tiba-tiba mengingat mimpi yang bahkan tidak ingin ia impikan, Arre ingin sekali mendapat reaksi menenangkan dari Vem alih-alih harus menemukan lelakinya mengupdate status BBM yang tidak kalah mengerikan dari mimpinya.

Namun barangkali kekhawatiran Arre agaknya tidak beralasan. Malamnya tanpa menunggu chat darinya, Vem memulai percakapan terlebih dahulu. Menanyakan kabarnya hari itu, dan perihal mimpinya. Sekalian saja sekali-sekali gadis itu akan pura-pura merajuk. Meminta perhatian lebih dari sang kekasih. Berharap apa yang ia cemaskan tidak akan menjadi kenyataan.

Percakapan mengalir begitu saja, seolah pagi hingga sore sama sekali tidak mempermasalahkan komunikasi mereka berdua. Rasa penasaran Arre lunas sudah dengan detil-detil yang diberikan oleh Vem tentang mimpi keduanya.

tertanggal kemarin. ;)
Tentu Arre menjadi lega. Dengan ringan ia pun menceritakan pada Vem tentang mimpinya sendiri. Bahwa keduanya memang memimpikan hal yang sama, tapi dengan sudut pandang yang berbeda: jika Vem bermimpi berbincang-bincang dengan Mbak Mantan, maka Arre jelas memimpikan Vem yang (sialnya) lebih banyak menghabiskan waktunya dengan perempuan itu dibanding dirinya yang sama-sama juga berada dalam mimpi. 

Tahu awalnya Vem setengah tertawa menganggapi curhatan Arre tentang mimpi-mimpi mereka. Kebetulan yang sangat rapi. Lelaki itu akhirnya membagi beberapa fakta yang sengaja ia simpan dari Arre sebelumnya: bahwa Mbak Mantan menghubunginya dalam beberapa waktu lalu. Mendapat ejekan dari Vem.

"Hehehe Sayang ni aslinya takut nek aku ketemu sama mantanku yang di sini paling. Demi Allah Sayang, aku nggak nakal kok di sini,"

Tak kuasa Arre menahan senyumnya. Ia bahkan tertawa lebar sekali saat Vem mengiriminya 'bukti' bahwa sekalipun lelaki itu saling sapa dengan mantannya, kali ini Vem benar-benar menegaskan status hubungannya dengan Arre.

Vem juga bersumpah tidak bermaksud dengan sengaja memimpikan sang mantan. Sama sekali bukan faktor kangen dan sejenisnya, murni kebetulan. Lelaki itu mengaku hanya berjalan-jalan sambil mengobrol dengan Mbak Mantan (dalam apa-apa). Tidak ada apa-apa lagi.

Salah paham hari itupun berakhir dengan baik. Arre dan Vem sudah saling membalas senyum satu sama lain dan mengikhlaskan semuanya. Dan kini menertawakan.

"Sweet dream ya Sayang, jangan bad dream lagi..." ;)

Rabu, 02 Juli 2014

My First Love at The First Sight

Cinta pada pandangan pertama? Mana ada? Banyak orang menyangsikan keberadaan perasaan semacam itu. Seringkali ia dinama-lainkan dengan kekaguman singkat, pesona sesaat, khilaf, atau bahkan nafsu. Tapi aku tidak sependapat. Bilamana tidak? Terlepas dari apa yang disebut maya oleh mereka yang tidak percaya, cinta pada pandangan pertama benar terjadi padaku. Delapan tahun lalu, dalam 1x10 detik bersitatap mata, kulabuhan satu-satunya cintaku padanya.

***

Lorong sekolah tak ubahnya pasar saat harga barang dapur sedang turun drastis. Sangat ramai. Ratusan siswa berkerumun di depan papan pengumuman. Berdesak-desakan, saling dorong. Ricuh sekali. Mereka pasti siswa baru, sama sepertiku, harap-harap cemas ingin tahu di kelas mana akan ditempatkan untuk setahun ke depan.

Dua puluh menit menunggu, gelombang siswa yang berjejalan di sekitar satu-satunya papan pengumuman belum mereda. Aku belum juga mendapatkan kesempatan mencari tahu kelasku. Ini sangat tidak adil bagi orang-orang bertubuh kecil lagi pendek sepertiku. Jangankan bisa mencermati daftar pembagian kelas dengan jelas, mendekati lautan manusia itu saja rasanya mustahil. Tubuh-tubuh di sana sudah pasti jauh lebih besar. Membayangkannya saja aku ngeri.

Dan aku terus mendengar suara yang sama. Berasal dari seorang siswa jangkung yang berteriak beberapa kali pada sekawanan siswa di luar kerumunan. Beberapa dari mereka balik meneriakkan nama-nama lain. Si jangkung kembali memindai papan pengumunan, berseru lagi menyebutkan kelas si penanya. Rupanya siswa itu tengah membantu teman-temannya menemukan kelas-kelas mereka.

Tanpa sadar aku memerhatikan. Tubuh kurus menjulang dengan suara lantang beraksen khas Jawa Tengah yang kental, ia sangat mencolok dan seketika menyedot segenap perhatianku. 

Kuamati lagi ia cenderung berkulit agak gelap dari kebanyakan siswa yang berasal kota ini. Rambutnya ikal dengan potongan yang pas. Ia mempunyai raut wajah yang tegas, namun tampak hangat dan bersahabat. Apalagi senyumannya. Tawa si jangkung itu. Sepasang gigi gingsul-nya terlihat di balik bibir setiap kali ia tertawa lebar. 

Manis sekali, Ya Tuhan... Ah, seandainya aku mengenal siswa jangkung baik hati itu, ia pasti mau membantu menemukan kelasku. Terus saja aku memerhatikannya.

Secara ajaib ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Mata kami bersitatap. Selama 10 detik. Sepuluh detik yang terasa selamanya dan tahu-tahu dadaku bergemuruh saat siswa jangkung itu melemparkan senyum. Padaku.
"Hei, kamu!" ia melambaikan tangan, setengah berteriak. Jelas-jelas sedang berbicara padaku. "Iya, yang berjaket Milan! Namamu?"
Bodohnya, aku refleks mengarahkan jari telunjuk ke hidungku sendiri alih-alih langsung menjawabnya. Aku melihatnya mengangguk. Masih dengan senyum lebarnya yang manis.
"Riza Chanifa! C-H-A! Pakai 'Ce-Ha', Chanifa! Nomor 11477!" aku takut ia tidak mendengarku dengan jelas. Namaku menggunakan ejaan yang sedikit tidak lazim. 
Namun kemudian ia mengacungkan ibu jarinya. Tanda mengerti. Mengalihkan pandangannya pada papan pengumuman. Mencarikan namaku. "Sepuluh E!" serunya beberapa saat kemudian. Ia tersenyum lagi. Apa tersenyum itu memang hobinya?
Tanpa kusadari aku pun ikut tersenyum. Jantungku yang sudah bertingkah aneh sejak tadi makin dag-dig-dug sejadi-jadinya. Gawat! Semakin lama kunikmati senyumannya, semakin gemuruh dalam dada ini tak terkendalikan. Gugup. Jarak kami cukup jauh, tapi aku merasa takut suara degup jantungku akan terdengar sampai ke tempatnya. Sayangnya, saat hendak mendekat untuk sekadar mengucapkan terima kasih, siswa jangkung itu sudah tidak terlihat lagi.

Senyuman di bibirku pun surut.

Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Inikah yang disebut-sebut sebagai cinta pada pandangan pertama? Terasa begitu manis dan indah. Jemariku bergetar saking berdebarnya. Menikmati senyumannya benar-benar melenakan dan membuatku ingin tersenyum juga. Lalu ada cemas, gelisah, malu. Juga terbit kecewa, saat aku tidak sempat menanyakan namanya.

Tuhan... Aku niat masuk ke sekolah idamanku ini untuk belajar. Tapi apa yang terjadi? Tidak pernah terpikir aku yang introvert dan serba biasa saja ini akan bisa merasakan jatuh cinta. Kalau memang bukan cinta, lalu perasaan apa yang kurasakan padanya kini? Kali pertama aku jatuh cinta pada pandangan yang pertama pula, kepada dirinya. Begitu tiba-tiba, begitu cepat, dan tidak terelakkan. Tidak bisa kupalingkan hati ini darinya, Tuhan...

***

Selang beberapa bulan kemudian, barulah aku mengetahui namanya. Kelasnya, hobinya, makanan kesukaannya, film anime favoritnya, sampai genre musik yang sering kami bagi bersama. Semua hal tentang si jangkung, dengan murah hati diberitahukan oleh Tuhan padaku. Aku lebih suka menyebutnya 'takdir' karena siapa sangka, aku ternyata punya begitu banyak persamaan selera dengan seseorang yang kucinta? Singkat kata, aku dan si jangkung mulai bersahabat.

Apa cintaku padanya akan bisa berbalas dengan mudah? Karena ia adalah sahabatku dan kami sangat dekat? Sayangnya tidak. Aku memang masih sangat menyukainya, sekaligus tak ingin ia tahu. Tidak rela rasanya mengorbankan persahabatan kami demi perasaanku yang bisa jadi cuma sepihak. Mau bagaimana lagi? Saat kami naik kelas sebelas, ia jadian dengan seorang adik kelas. Kala itu hatiku begitu terluka. Hancur. Sedihnya luar biasa. Benar-benar merasa kalah. Tapi aku tahu, aku tidak akan pernah mampu untuk kehilangannya.

Apa lalu aku menyerah? Tidak. Aku masih selalu menyukainya. Kusukai apapun darinya, apapun tentangnya. Sekalipun dia bukan kekasihku. Sekalipun yang bisa kulakukan cuma mencintainya secara sepihak. Dengan diam-diam tanpa sepengetahuan dirinya, aku ingin menjaga kebahagiaannya. Ingin lebih banyak menikmati senyumannya. Ingin selalu mendukungnya, bahkan saat harus mendampinginya kala cintanya dengan sang gadis, kandas.

Percayakah? Cinta pertamaku di kali pertama berpandangan dengannya, masih tetap ada. Semakin bertumbuh seiring berjalannya waktu. Lambat laun aku pun membiarkannya mengetahui perasaan yang selama ini kusimpan untuknya. Menyerahkan semua seperti aliran air sesuai yang dikehendaki Tuhan.

***

Juli, 2014.

Aku masih seorang gadis introvert yang memercayai cinta pada pandangan pertama. Menyimpan dan menumbuhkan cinta itu sebaik yang kubisa.Pun masih aku bersahabat dengan si jangkung yang selalu kucintai hingga kini. Ia pun masih tetap seorang pemuda jangkung baik hati, dengan logat Jawa Tengah yang aku suka sekali mendengarnya berbicara. Bedanya hanya satu, selain sahabat ia sekarang berstatus sebagai pasanganku. Ya, setelah delapan tahun, sekarang aku menjadi gadisnya. :)

Maka, apa lagi yang bisa lebih membahagiakan dari ini?





NB. Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba menulis #NovelSecondChance by @NovelAddict_ dan @GlennAlexei

Senin, 09 Juni 2014

ANIMASI; KARTUN

Jangan seheran itu, lah. Begini-begini aku juga makan sastra sesekali, nggak cuma bisa nyepik berbahasa meme aja. :P Jadi, aku memang follower twitter +Akun Fiksimini sekaligus pengagum pecandu sastra yang kelihaiannya menuangkan ide gagasan ke dalam barisan 140 karakter, kayaknya nggak bakal bisa kusamai. 

Bukan berarti aku nggak pernah berpartisipasi sama sekali, sering sih, dulu. Hehe... dan belum pernah sekalipun twit-ku nyantol, terpilih untuk di-RT oleh admin FiksiMini. Lalu pagi ini pas lagi ol twitter, nggak sengaja 'papasan' dengan #topikfiksimini edisi Hari Senin ini: ANIMASI. Iseng-iseng aku langsung reply:
Ya, sesingkat itu. Aku nggak berharap macam-macam, murni ingin berpartisipasi, tertarik karena topiknya barangkali adalah sesuatu yang kusuka dan lekat dengan hidupku. Dan siapa sangka, setelah puluhan kali mencoba dan nggak kunjung beruntung, siang tadi twit sederhanaku itu malah jadi salah satu yang terpilih untuk disebarluaskan kepada para penikmat fiksi dan sastra di luar sana? Sentuhan seringan itu dan aku sudah merasa hebat banget! XD *lebeh* *iya, biarin*

Halal-halal saja untukku mengabadikan momen ini, kan? Siapa tahu keberuntunganku nggak cuma berhenti di sini. Yosh! ^^

Gitu deh, kira-kira. Ada yang berkenan menafsirkan artinya? ;)

Jumat, 06 Juni 2014

Jangan Baik Padaku Jika Tak Bisa Tinggal

...
maafkan jika kau kusayangi
dan bila kumenanti
pernahkah engkau coba mengerti
lihatlah ku di sini
mungkinkah jika aku bermimpi
salahkah 'tuk menanti?
...

diterbangkan demikian tinggi, lalu dihempaskan keras kembali sejatuh-jatuhnya. menjelma cinta, sekaligus benci.

Senin, 05 Mei 2014

Please God! Aku Ingin Dia

Jeng jeeeeengg~~
My very first anthology book has released already!! XD

Alhamdulillahirabbil'alamin... *sujud syukur*
Penantianku selama beberapa bulan belakangan ini akhirnya berbuah manis. Yup! Tadi pagi, tepat di hari pembuka minggu baru bertanggal cantik 05-05-14 ini, paket yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga. Paket kiriman dari Penerbit Diva Press itu berisi sebuah buku dan selembar sertifikat sebagai hadiah atas terpilihnya karya tulisku, bersama dengan 42 penulis lain yang nama akun twitternya mejeng di cover buku kumcer tersebut. 

Walaupun bukan pemenang dan hanya menyandang predikat nominator, tapi yang kurasakan saat ini benar-benar lebih dari sekadar 'senang'. Ya, ada rasa haru, bangga, deg-degan, tidak percaya, sangat sangat senang, luar biasa! Dari beratus-ratus kompetitor yang berpartisipasi dalam lomba, aku termasuk 43 orang beruntung yang karyanya dianggap memenuhi kriteria dan layak untuk diterbitkan. Bagi diriku, aku tetaplah seorang pemenang. 

Aku menang dari rasa minder pada kemungkinan diterima atau ditolak lagi-nya tulisanku. Aku menang dari deadline lomba ini. Aku menang dari keegoisanku untuk mau berkompetisi dengan banyak penulis pemula lain karena menganggap aku pasti lebih baik dari mereka (mohon maaf). Aku menang dari kegalauanku apakah menulis dengan tema seperti itu tidak akan membuatku malu atau nantinya tulisanku dianggap 'curhat'. Apalah itu, tapi dengan diterbitkannya buku antologi ini, berarti aku sudah menang! :D

Kurang ingat kapan tepatnya aku mengirimkan tulisanku untuk mengikuti event nulis bareng ini, dan bukan kali pertama sebenarnya, hanya saja memang baru sekali ini akhirnya salah satu karya tulisku bisa diterima dan kemudian diterbitkan, meskipun hanya berupa cerita pendek dan yang muncul adalah nama akun twitterku, @ercehauliyasari.
Kuucapkan selamat, kepada diriku sendiri. Eru, ini bukti bahwa kerja kerasmu akhirnya diakui. Orang lain akan segera tahu kompetensimu, apakah itu sesuai dengan yang kamu harapkan, atau kamu masih harus lebih banyak lagi belajar memperbaiki diri agar bisa semakin layak untuk lebih dekat dengan cita-citamu.

Jangan pernah mudah merasa puas, ini bukan apa-apa dibandingkan mimpi yang ingin kucapai. Masih jauuuh~~ sekali. Tapi ini adalah awal. Bahwa jika diusahakan dengan sungguh-sungguh, aku pasti bisa. :))

Semangat! Semangat!!

Jumat, 02 Mei 2014

Keresahan Nada

Kepadamu, yang aku tidak akan pernah bisa merasakan apapun selain cinta, pastikanlah ini. Kamu boleh mencintainya sebuta-butanya hati, pun jiwamu. Tapi aku, yang sedetikpun tak pernah berarti lebih untukmu daripada sekadar teman –jika aku tak berhak menyebutmu ‘sahabat’– meyakini bahwasanya aku mencintaimu jauh lebih banyak dibandingkan cintanya padamu.
Aku sudah pernah bilang kan, Nada? Ada baiknya kamu mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Bukan berarti menimbang untung-rugi dari memercayai seseorang terlebih jika dia adalah seseorang yang amat kamu kasihi tapi sekali lagi, bersikap waspada dan mempersiapkan diri terhadap kemungkinan paling buruk, bukanlah suatu penistaan perasaan. Itu logika mencintai. 

Kamu begitu mencintainya. Aku pun tahu benar akan hal itu. Tapi Nada, apakah dia juga sedemikian dalamnya mencintaimu, sebagaimana besarnya rasa cintamu terhadapnya? Kamu pun mulai mempertanyakannya juga, kan? Tidak ada salahnya. Sangat manusiawi. Kamu berhak tahu, sudah cukup layakkah kamu dicintai olehnya, sekalipun kita sama-sama tahu, cintamu yang tumpah ruah untuknya tidak bisa disamakan begitu saja dengan sekilas kecupan yang ia jejakkan pada bibirmu. Atau memang yang demikian itu sudah cukup bagimu?


Pikirku, tiap orang yang tahu rasanya mencintai tentu pernah berharap untuk melabuhkan hatinya pada seseorang yang teramat ia cintai, satu-satunya. Tanpa harus takut akan berpisah/ditinggalkan. Tanpa perlu khawatir akan ada orang lain yang menggantikan dirinya dalam usaha mencintai dan membahagiakan orang kecintaannya. 

Apa begini sudah benar? Apa cintaku sudah layak untuk mencintainya? Bisakah ia sungguh-sungguh mencintaiku dengan segala kekuranganku, tanpa pernah berpikir akan menemukan sosok lain yang mungkin lebih baik dariku? Pastikah bahwa aku tidak akan ditinggalkan? Bahwa dia akan selalu ada di sisiku? Bersumpah setia pada kebersamaan sisa usia kita? 


Tidak akan ada selesainya, Nada...

Mencintai ya, sudah, mencintai saja... Aku tetap mencintaimu, sekalipun nyata-nyata kamu mencintainya. Tapi tunggu dulu! Aku pernah tetap mencintaimu, sekalipun nyata-nyata kamu mencintainya. 

Ya, Nada. Aku sudah memutuskan berhenti mencintaimu. Terlepas dari cinta tidaknya kamu padanya, pada akhirnya kamu memang tidak akan pernah bisa melihatku. Jadi bagaimana bisa kita bersama? Untuk itulah, aku melindungi hatiku sendiri, aku melindungi cintaku yang tidak pernah tersinkron pada perasaanmu. Sia-sia hanya akan membuatku berhenti melihat keindahan yang ada padamu, dan menggantinya dengan kebencian. Membenci, adalah satu-satunya yang tidak akan mungkin bisa kurasakan terhadapmu, sekalipun cinta untukmu pun tak lagi ada.


Tapi kamu tahu aku selalu ada di sini untukmu. Kapanpun, kamu akan selalu tahu di mana harus mencariku kala kamu membutuhkanku untuk sekadar mendengarkan kisahmu tentangnya. Tidak apa, jangan khawatir aku akan bagaimana-bagaimana. Kamu pun tahu, aku kan kuat! 


Bukannya aku membencinya, tapi bukan berarti aku suka padanya. Biasa saja. Bagiku ia cuma perempuan yang kamu cintai, itu saja. Mana mungkin aku cemburu padanya dan mendadak jadi sakit hati saat kamu membicarakannya denganku, kan? Baik sekali kamu memikirkan perasaanku sampai seperti itu. Tidak apa-apa, seperti yang selalu kubilang, aku kuat. Hatiku pun sama kuatnya. 


Doaku senantiasa besertamu, Nada. Apapun langkah yang kamu ambil: entah itu tetap bertahan dengan segala resiko atasnya, atau pada akhirnya kamu harus menyerah dan mengambil hikmah bahwa tiada hati yang benar-benar sempurna -termasuk hati miliknya-, aku akan tetap mendukungmu sepenuh hatiku.


Yang sabar ya, Nada...

Sabtu, 26 April 2014

Tentang Sebuah Janji

Haruskah kisah Aryl dan Ays berakhir di sini? Apakah janji persahabatan yang mereka ikrarkan adalah suatu kebohongan belaka? Kalau memang akan jadi begini akhirnya, seharusnya janji itu tidak pernah terucap! Harusnya ikatan persahabatan itu jangan pernah dibiarkan ada.

Rasa kebersamaan yang menjadi impian bersama sudah terlanjur mengalir dalam nadiku. Entah apa yang akan terjadi kelak, jika aku tidak bisa menghilangkannya dari jalan hidupku. 

Sejujurnya, aku merasa sangat kecewa. Kecewa dengan semua mimpi-mimpiku yang mustahil jadi nyata. Padahal sudah sejauh ini. Sudah tidak mungkin lagi aku membencinya. Seseorang yang telah mengorbankan dirinya untuk membangkitkanku, haruskah dilenyapkan? 


jika menengok dan memandang sisiku 
kau selalu ada di sana 
senyuman aneh di wajahmu itu 
membuatku ingin 
jalan di hadapan kita 
takkan pernah terputus 
oleh masa dan waktu 

kalau ditanya perasaanku yang sesungguhnya, 
bagiku 
kau adalah segala-galanya 
aku menganggapmu bagian dariku 
kau, aku, dan tubuh kita 
menghabiskan hari-hari kita bersama 

daripada diam dan menyimpan semua sendiri 
berbagi tentulah lebih baik 
aku benar-benar tidak ingin 
bunga-bunga musim panas itu jatuh berguguran 
menangisi kepergianmu 
perbedaan cara pandang hidup dan prinsip 
mungkin mengjauhkanmu dariku 

tapi, tahukah kau? 
bahwa di sini ada hati 
yang selalu menanti kepulanganmu? 



Mojokerto, 27 Agustus 2006
R.Ch. Auliya Sari


*sudah berapa tahun usia tulisan ini, ya? nulis-nulis sendiri, malu-malu sendiri. aaaaakk~~ /,\

Kamis, 10 April 2014

Mau Kamu Yang Itu

Posted!

Alhamdulillah... akhirnya~~ April 10th 2014, almost 10 PM but we're still in my office, finishing our deadline(again). Hahaha...

Pengerjaan proyek seluruhnya dikerjakan hari ini sampai rampung, what a night! Sama sekali nggak segampang pas kita masih mengobrol-isengkan rencana keikutsertaan kami dalam lomba ini. It wasn't a easy work to do, trust me.

Kali ini lomba menyanyi/karaoke yang diadain sama Gagas Media membawakan lagu yang jadi soundtrack salah satu novel terbaru keluaran penerbit tersebut oleh Clara Canceriana.

Lepas dari lolos atau tidaknya usaha keras kami ini, we did very enjoy every single step of it. So as I always believe, "a win is a bonus, just enjoy the progress no matter what." *^_^*
My sister and I have recorded our voice twice. Nyehehehe~~

This is mine and here is our duet. Happy Listening! :D

Selasa, 11 Februari 2014

Do(not) Love Me

If there is anyone else loves me, all i can do is bringing up my corpse to her. Here, inside, there is a soul of me that i won’t share it anymore to anybody else.
Thanks to you for being my morning tears. I wish you wouldn’t say such thing like that. I didn’t get why the hell you could say so, but i hate it. I hate the way you said that hell thing easily. Why? Why you? Why me, the one who you sent that message to?
It definetely reminded me to a sad story which is very similiar with your words.
Aku ingat seseorang yang patah hatinya di pagi hari tepat ketika ia baru saja terbangun dari mimpi indahnya, semalaman bersama sang pangeran pujaan.
Jika seseorang lain mencintaiku, aku hanya bisa membawakan mayatku padanya, di dalam sini ada jiwa, yang tak ingin kubagi-bagi lagi.
Tidakkah itu berarti, “Apapun yang sudah dan akan kau lakukan nanti –demiku– tidak akan kubuka hatiku untukmu –untuk siapapun juga– karena jiwaku sudah kupersembahkan padanya.”? Artinya semua usaha dan doa akan sia-sia saja. Mencintai seseorang yang telah terambil jiwanya adalah suatu kebodohan gila.

Itukah yang sesungguhnya ingin kau katakan? Ingin memperkecil hatiku yang sudah kerdil, eh? 
Arre pikir sudah benar hatinya memilih Tian sebagai calon kawan masa depannya. Tian yang sahabat lamanya, yang ia tahu persis bagaimana bibit, bebet, dan bobotnya. Tian yang sering datang ke rumah Arre, mengantar-jemput gadis itu ke kampus, mengerjakan tugas kuliah bersama-sama, bahkan mencuri pinjam snack dan komik milik Arre. 
Di tengah-tengah persahabatan hangat itu, siapa sangka cinta akan tumbuh? Awalnya Arre sempat gelisah saat mengenali perasaan salah tingkahnya terhadap Tian beberapa bulan terakhir sebagai permulaan rasa sukanya pada pemuda berkepribadian menyenangkan itu. Tapi kemudian seiring berjalannya waktu Arre sudah bisa mengendalikan hatinya yang sering mendadak hiperaktif ketika bertemu Tian. Arre ingin mengutarakan perasaannya pada Tian ketika waktunya tepat.
Arre boleh jadi percaya diri, sebab selama persahabatannya dengan Tian gadis itu sangat yakin Tian belum memiliki kekasih, dan jarang sekali membicarakan masalah perempuan di hadapannya. Sikap Tian juga selalu manis pada Arre, membuat Arre meyakinkan hati bahwa Tian (mungkin) juga menyukainya. 
Benarkah begitu? Mungkinkah Tian akan benar-benar menerima perasaan Arre?

Sayangnya, ini bukan cerita rekaan tentang Cinderella, Ariel si Putri Duyung, bahkan Snow White yang memang sudah dikisahkan akan berakhir bahagia dengan pangeran masing-masing di akhir cerita. Ini bukan dongeng yang sudah tertebak Happy Ending-nya.
Kenyataan bahwa dunia Tian, kehidupan Tian tidak hanya berkutat di Surabaya saja, kota tempatnya menuntut ilmu selama di bangku kuliah. Tentu saja pemuda itu memiliki kehidupannya sendiri, hari-hari di kota kelahirannya, Mojokerto. Ia punya keluarga, saudara, teman masa kecil, mantan pacar saat SMP/SMA, bahkan mungkin seseorang yang masih menjadi kekasihnya. Siapa tahu? Apakah Arre tahu? Haruskah Tian menceritakan segala-galanya pada gadis yang baru dikenalnya tidak lebih lama dari usia statusnya sebagai mahasiswa.

Sakit bukan, bahwa harapan yang mati-matian ingin diwujudkan namun sudah dipastikan tidak akan terkabul bahkan sebelum harapan itu sempat diselipkan dalam doa? Pahit harus ditelan bulat-bulat oleh Arre, si gadis malang yang cintanya terlanjur layu sebelum berkembang.
Miris? Kritis.

Senin, 10 Februari 2014

Titik Tik Tik

tiktik tiktik
hujan turun
dingin memerangkap lamun

tiktik tiktik
ia kian deras
airmataku segera terkuras

tiktik tiktik
sedang di mana kamu?
baru berpisah aku sudah rindu

tiktik tiktik
adakah basah?
memikirkanmu aku gelisah

tiktik tiktik
basah hingga teras
suara hatiku tetap tak terbalas

tiktik tiktik
hujan sudah reda
aku pun terlupa

tik tik tik tik
cuma rintik tanpa titik...


http://soundcloud.com/ercehauliyasari/titik-tik-tik


Senin, 23 Desember 2013

KAU, AKU, DAN KITA (#MyLoveMyLife)

Pernah aku melihat senyummu dalam remang malam. Pada batas nyata dan khayalan. Kau membagi tawamu, dan memerangkapku di sana. Dalam hangat yang jiwamu ciptakan pada detik harapan baruku terlahir.
Dan aku jatuh cinta padamu begitu saja. Bukan pada kali pertama kita bersama-sama menikmati senja. Tapi jauh sebelum itu. Hatiku sudah tertambat padamu sejak lama. Sejak takdir mengeratkan genggaman tanganmu pada tepian gelisahku. Jika tak kau temukan, mungkin serpihan diri ini akan hilang. Hanyut entah ke mana terbawa arus kehidupan.
Maka mungkin ini jawaban dari berjuta doa yang kumohonkan. Dari luasnya samudera mimpi yang ingin kuwujudkan. Kau, dirimu, adalah yang sangat kuinginkan untuk diriku sendiri. Kau yang paling kucintai, paling ajaib yang pernah Tuhan anugerahkan. Tidak bisa digantikan orang lain. Mustahil jika bukan dirimu. Bahagiamu adalah bahagiaku. Keberadaanmu adalah hidupku. Aku tidak bisa meminta apapun lagi selain kerelaanmu agar juga menginginkan aku.
***
Aku mengenal genggaman tangan itu. Mengingat betul setiap lekuk jemari. Merekam jelas hangatnya yang tercipta dalam sudut kecil hatiku. Ku kenali bayangan itu. Bayanganmu yang selalu kurindukan. Keberadaan yang menerbitkan haru biru. Satu-satunya di dunia yang membuatku melayang.
Aku jatuh cinta pada tawa lepas dari sudut bibirmu. Aku jatuh cinta pada kelakar-kelakar. Pada detingan gitar, pada besarnya perlindungan yang kau berikan. Tanpa syarat, tanpa terikat. Aku mencintaimu begitu saja. Begitu membuka mata dan dirimulah segalanya. Aku merindukanmu tak peduli waktu. Persetan dengan orang lain yang meragu. Yang ku tahu aku menginginkanmu jadi milikku.
***
Tiada yang lebih menyakitkan daripada melihatmu sakit. Tak ada yang lebih mengiris hatiku selain menjumpai tangismu. Airmata dan dukamu yang bukan untukku. Pandanganmu yang seolah tak pernah lepas darinya. Dia yang mengabaikanmu. Dia yang seharusnya tak lagi berhak mendapatkan cintamu.
Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku yang mampu menyembuhkan luka hatimu? Kenapa bukan aku yang bisa membahagiakanmu? Kenapa itu bukan aku, aku yang rela menyerahkan segalaku buatmu? Tidak adakah yang bisa kulakukan untuk sekedar membunuh jarak pada hati kita, dan kembali lagi seperti dulu?
***
Diam menghampiri. Nyaris tanpa bosan mengajakku menari. Tapi bayanganku bahkan tak beranjak. Hampir lelah kuperbaiki jalan hatiku yang mulai retak. Sedang langkah ini searah ke mana angin membawamu pergi. Tak peduli seperti apa, bersamamu aku seperti mendapatkan kembali semua inderaku.
Aku buta dan kau memperlihatkanku cinta. Aku tuli dan kau tak pernah jemu bernyanyi. Aku bisu, tapi sejatinya kau mengerti isi hatiku. Lumpuh pun, mati rasapun aku masih bisa menyentuh bayanganmu. Mimpimu. Cintamu (yang dulu) untukku.

Demi setiap kecup, rengkuh, dan cinta kasih, detikku berirama detak jantungmu. Seberapa jauh egoismu pergi aku akan menunggu. Mendoakanmu kembali padaku. Sekali lagi. Lalu selamanya kita (akan) bisa bahagia bersama. 

MENJADI SEORANG AKU (#MyDream)

Sering aku berpikir, sama sekali tidak ada bagusnya menjadi seorang ‘aku’. Sungguh, tidak ada bagusnya menjadi aku. Berusaha menjadi orang lain itu benar-benar melelahkan. Terasa konyol dan menyedihkan. Dan aku sudah terlalu mahir untuk itu, hingga tidak tahu lagi diriku yang sebenarnya seperti apa.

Aku tumbuh dengan mendoktrin diriku sendiri: lakukan sesuai perintah tanpa membantah, dengan begitu orang dewasa akan puas dan tidak lagi mengusikmu. Sekalipun itu aneh, sulit, dan tidak sesuai dengan logikamu. Biar saja. Karena bagi ‘orang dewasa’ ketika kau melakukan tepat seperti yang mereka inginkan, maka kau ‘hebat’, ‘pintar’. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya kau mungkin akan mendapat hujatan. Dinilai tidak menurut atau pembangkang.

Dan aku sudah kenyang disebut begitu. Mulanya masih kupertanyakan tentang apa-apa yang sebaiknya kulakukan dan apa yang para orang dewasa ingin aku hindari. Tapi lama-kelamaan aku muak. Persetan dengan keinginanku yang selalu jadi debu. Kata-kata seorang anak ingusan sama sekali tidak berarti.
Jadilah kusegel rapi suara hatiku. Hanya kubuka jika aku sudah terlalu rindu. Selebihnya kuciptakan pribadi ideal yang bisa meluluskan segala tuntutan orang dewasa padaku. Yang mereka tahu aku selalu tersenyum. Bertutur kata dengan baik, berperilaku sopan, seorang penurut. Atau itu jin penjaga lampu ajaib pengabul segala? Dan mereka tidak akan peduli aku ingin apa, pendapatku bagaimana. Munafik? Iya, setidaknya di pikiran mereka aku memuaskan. Hahaha.

Dan ingatanku ada di dua persimpangan: sebelum dan sesudah ayah tiada. Fase sebelum kepergian ayah berisi kenangan-kenangan serba bahagia. Bahwa aku adalah cucu perempuan yang dinanti dan dijanjikan limpahan cinta dari kedua pihak keluarga besar Ayah dan Bunda. Lia kecil yang cepat pintar dan Ayah-Bunda yang begitu bangga akan prestasiku dari anak-anak lain sepantaran. Lalu adik-adikku lahir dan Ayah akhirnya mampu menghadiahi Bunda sebuah rumah kecil untuk keluarga kecil kami. Berlima, kami sungguh berbahagia lebih dari keluarga-keluarga lain walau yang kami punya hanya dua buah sepeda tua, bukan kendaraan motor seperti yang banyak terparkir di teras-teras rumah tetangga.

Kemudian mimpi buruk yang tidak pernah ingin kubayangkan, justru hadir dengan sangat nyata. Ayah berpulang ke Rahmatullah tepat di saat seluruh dunia tengah merayakan suka cita Idul Fitri, 2004 silam. Sudah hampir 9 tahun berlalu tapi rasanya seperti baru kemarin. Seperti baru saja aku dan ayah bertengkar tentang ke SMP mana aku akan melanjutkan sekolah setelah UAN berakhir, dan tahu-tahu ayah sudah meninggalkan kami. Tiba-tiba saja aku, Bunda, dan adik-adik harus kembali tinggal di rumah kakek dan nenek dari pihak Bunda. Bunda hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan, mendadak harus menghidupi kami berempat pastilah sangat berat.

Usiaku baru tiga belas dan tidak ada yang bisa kulakukan selain tidak membiarkan diriku terlalu larut dalam kesedihan dan airmata. Sudah cukup melihat bahu Bunda yang kadang masih gemetar menyembunyikan isak tangis, sedang adik-adikku masih terlalu dini untuk memahami mengapa ayah harus tidur sendirian di pemakaman alih-alih kembali pulang bersama ke rumah kecil kami.Maka tidak seorang pun boleh melihat air mata ini, kecuali Tuhan. Aku hanya harus tersenyum dan memeluk mereka, berkata bahwa semua akan baik-baik saja selama kita percaya pada Allah SWT.

Kuharap aku bisa bertemu dengan Lia kecil dan mengajaknya bermain bersama. Mendengarkan keluh kesahnya yang tidak pernah terucap. Menyeka airmatanya yang hanya disaksikan oleh bisunya dinding kamar. Aku tahu ia telah banyak terluka dan menderita. Dengan kekuatannya yang terbatas Lia kecil sudah berusaha, ia selalu berusaha. Bukan untuk dirinya, tapi untuk Bunda dan adik-adiknya. Untuk merekalah Lia kecil menyembunyikan segala kelemahannya. Agar orang lain hanya akan melihat versi dirinya yang kuat. Agar mereka percaya ia yang sekecil itupun bisa melindungi apa yang dianggapnya berharga, jadi mereka tidak akan menginjak-injaknya.

Aku ingat pernah berjanji. Di depan pusara ayah saat beliau dikebumikan. Tidak ada airmata di sana. Tapi hatiku bertekad, aku akan melindungi keluarga kecil kami apapun yang terjadi, menggantikan ayah. Ayah mungkin tengah mencemaskan kami dan aku tidak menginginkan itu. Aku adalah anak gadis ayah yang kuat. Yang selalu bisa menjaga amanat dan tidak mengecewakan ayah. Aku ingin ayah melihat dari tempatnya surga, bahwa keluarga kecil yang selalu diperjuangkannya, masih terus kuperjuangkan. Aku akan meneruskan cita-cita ayah. Kami akan bahagia bersama-sama demi bagian ayah juga.

Untuk Lia kecil, terima kasih sudah berjuang dan bertahan sampai akhir. Kau memang sangat kuat, walaupun pasti banyak kesepian. Tanpamu mungkin tidak akan ada diriku yang sekarang. Tanpamu aku pasti akan jadi pribadi egois yang selalu menyalahkan nasib dan Tuhan. Kini aku yang akan meneruskan mimpimu. Aku tidak akan lupa kau pernah ada. Kau adalah bagian penting dari diriku. Aku mencintaimu. Terima kasih...

MALAIKAT NOMOR SATU (#MyMomMyAngel)

Adalah sesosok malaikat berwujud seorang wanita, yang keberadaannya sama pentingnya dengan dunia ini bagiku. Yang tanpanya entah nanti aku akan bagaimana. Untukku yang selalu merasa sendiri di bumi ini, ibuku lebih dari sekedar sosok penyeimbang maupun hiasan. Ia adalah hidup dan matiku.
Faizah Laila, nama malaikat yang dikirim Tuhan sebagai ibuku. Ia menghadirkanku ke dunia dua puluh tahun silam dengan menggadaikan hidupnya. Entah sudah berapa banyak cinta yang kuterima darinya. Ibuku yang adalah seorang ibu rumah tangga biasa telah dengan sempurna mengajarkanku segalanya. Ia benar-benar memperhatikan tumbuh kembangku dengan baik. Beruntungnya aku menjadi si sulung. Sempat merasakan menjadi anak tunggal berlimpah kasih sayang yang memonopoli cinta kedua orang tua, terutama ibu.

Memang sejak ibu mulai fokus pada adik-adikku, aku menjadi ‘anak perempuan ayah’. Semenjak berstatus ‘kakak’ aku jadi lebih dekat dengan ayah. Tapi justru karena itulah ketika ayah telah tiada aku benar-benar bergantung pada sosok ‘ibu’ dari ibuku. Aku merasa kehilangan dunia dan segalanya, lalu kusadari hanya ibuku lah yang tersisa. Ingat bahwa ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa? Serta merta menyandang status janda tiga anak tanpa penghasilan bukanlah sesuatu yang sekalipun pernah terlintas di pikiran. Aku tahu sejak kiamat kecil itu hidup tidak akan pernah sama, tidak akan semudah itu lagi baginya.

Tidak pernah sekalipun ada keluhan yang terucap dari bibir malaikat tercantikku itu. Tapi aku tahu, ibu selalu menyimpan pedih hati untuk dirinya sendiri. Seorang diri berusaha membesarkan tiga orang anak yang luar biasa nakal dan menyusahkan seperti kami, aku dan dua orang adikku.
Ada kalanya ia mulai menyalahkan diri sendiri. Menganggap telah lalai memperhatikan pertumbuhan kami sebagai konsekuensi karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Ya, ibu harus berperan ganda mengurus rumah tangga dan mencari nafkah. Sedangkan aku belum bisa melakukan apapun untuknya. Maka aku bertekad selesai SMA aku juga akan bekerja. Aku ingin bisa berguna, ingin meringankan sedikit bebannya, aku ingin membuatnya bangga.

Andai ibu tahu betapa berharganya ibu untukku. Alarm bangun alami, sarapan pagi, sms dan telepon yang menanyakan keberadaanku adalah bentuk kecil cinta ibu. Ibu menyadari bahwa pekerjaannya, kesibukanku, dan kegiatan sekolah adik-adik sedikit banyak telah meciptakan jarak di antara kami dan betapa inginnya ibu menghapus rentangan itu. Ibu selalu ingin dinomorsatukan oleh kami, tanpa menyadari bahwa dirinya sudah menjadi nomor satu sejak dulu.

Ibu, seperti kata-kata seorang bijak, “Bukan ‘aku mencintaimu karena membutuhkanmu’, melainkan ‘karena aku (sangat) mencintai dan menyayangimu maka aku (begitu) membutuhkanmu dalam hidupku.’”

Tidak ada yang lebih kuinginkan daripada keberadaanmu di sisiku. Tak peduli berapa lama waktu berlalu, meski ini sangatlah egois, tapi mohon menungguku, Bu. Tunggulah sebentar lagi sampai aku bisa membalas cintamu walau tak mungkin menyamainya. Biarkan aku memberimu sedikit bahagia meski cuma sederhana. Perhatikan aku tumbuh dewasa untuk membuatmu bangga, berusaha mewujudkan harapan terbaikmu untukku dalam doa-doa.

Lia sayang Ibu. Sangat. Selalu. :’) :*