Senin, 31 Maret 2014

SURAT UNTUK MANTAN

Teruntukmu: pelangi terindah setelah hujan, secangkir kopi panas temanku menghitung embun, kupu-kupu hitam cantik yang masih beterbangan mengelilingi sudut kecil hatiku.

Hai, kamu yang namanya pernah selalu kusebut dalam setiap tetes doaku. Boleh kutahu bagaimana kabarmu di kejauhan sana? Aku sendiri masih hidup, selalu ingin tetap berbahagia menikmati hidup, dengan atau tanpamu. Barangkali itu yang akan kukatakan sebagai jawaban kalau-kalau kamu pun menanyakan keberadaanku. Tapi mungkinkah? Akankah mungkin kamu bahkan mengingatku setelah hampir setahun perpisahan kita?

Kamu yang pelukannya masih bisa dirasakan oleh masing-masing bulu halus kulitku, ingatkah kamu pada pertemuan kembali kita setahun lalu? Kamu menemuiku lagi sekembalimu dari perantauan bertahun-tahun terhitung sejak upacara kelulusan SMA kita. Tahukah kamu segembira apa aku kala itu? Sebahagia apa aku akhirnya bisa melihatmu lagi?

Kita berdua tahu betul kamu adalah cinta pertamaku. Cinta lama yang kusembunyikan diam-diam tanpa mampu kunyatakan demi tidak menjauhkanmu dari pandanganku. Cinta sepihak yang kunikmati seorang diri demi tidak mengacaukan hubunganmu dengan gadismu tujuh tahun lalu.
"Aku bahagia selama kamu bahagia sekalipun ia yang ada bersamamu, sekalipun kamu bukan milikku."
Sungguh naif, aku terus berpikir seperti itu sambil menjalani hidupku tanpamu, untuk kali pertama. Tapi kemudian Tuhan mempertemukan kita kembali. Di awal tahun lalu akhirnya kamu bersedia menjadikanku wanitamu. Aku pernah berharap ada baiknya hidupku terhenti di waktu itu saja. Pada saat aku masih merasakan hangat genggaman tangan kokohmu pada jemariku. Ketika aku bisa mengukir senyumanmu sedekat bahu kita yang melekat, bukan lagi sekadar emotikon warna kuning pada layar telepon genggam.

Namun kebahagiaan yang kusangka akan kekal bersamamu rupanya hanya nyata dalam hitungan dua bulan saja. Dua bulan untuk tujuh tahun penantian. Kamu pergi meninggalkanku lagi, membiarkanku menatap punggung sepimu yang kian menjauh. Tidak bisa menjanjikanku bahagia, kamu bilang? Ingin aku mendapatkan lelaki yang bisa lebih membahagiakanku daripada dirimu? Tidakkah kamu tahu mantan kekasihmu satu ini bodohnya seperti apa?

Adalah aku. Gadis bodoh yang (dulu) percaya hidup-matinya bergantung padamu. Seorang idiot yang mengorbankan waktu tujuh tahunnya mencintai sesosok lelaki yang belum tentu bisa mencintai dirinya, yang rela melakukan segalanya demi menciptakan kebahagiaanmu di sisiku. Si keras kepala yang tak mampu memalingkan hati barang sedetikpun pada selain dirimu. Yang pagi-siang-sore-malam, baik nyata atau maya hanya bernafas dengan melafalkan namamu saja. Mendoakan yang terbaik bagi dirimu dan hatimu.

Jangan khawatir aku akan sakit hati dikatai bodoh olehmu. Aku memang sebodoh sangkamu, bahkan mungkin lebih bodoh lagi. Sekitarku pun berpendapat demikian. Apalagi yang bisa diharapkan dari seseorang yang keberadaannya saja di mana, tidak kau tahu?” Mereka bertanya sinis.
Biarlah. Terserah orang lain berkata apapun sesukanya. Mereka boleh mencelaku sampai puas. Mereka hanya tidak boleh menjelek-jelekkan dirimu. Aku akan jauh lebih sakit hati jika itu terjadi.
Sekalipun keinginanmu atas perpisahan kita memporak-porandakan perasaanku dan menghancurkan hatiku, namun sungguh tidak adil untuk menimpakan semua sebab-musabab kesalahan sebagai tanggung jawabmu. Kurasa kamu memang sengaja mengambil keputusan itu

Aku tidak mengenalmu sehari-dua hari. Bukan memerhatikanmu dari sudut pandang sesempit dan sesederhana kaca spion. Kamu memang pribadi seperti itu, yang apabila merasa terbebani oleh harapan yang terlalu besar –yang kamu tidak percaya diri bisa memenuhinya– kamu akan lari dan sembunyi. Kamu akan menolak menjelaskan apapun, tapi juga tidak akan membela diri. Pengecut, eh? Tidak, itu adalah caramu untuk menjaga citraku, dengan menjadikan dirimu sendiri penjahatnya. Kamu terlalu baik, Sayang.

Itulah kamu, karakter nyata yang (pernah) amat kucintai. Tanyakan padaku, masihkah aku mencintaimu di detik ini? Mungkin. Karena walau tak bisa memilikimu dalam genggaman tangan, aku masih bebas menghadirkanmu sebatas angan.

Pun aku masih bodoh, namun kemudian memahami. Tuhan tidak memberikan apa yang kuinginkan melainkan apa yang sesungguhnya kubutuhkan. Perkenalanku denganmu, persahabatan kita, sempat kehilanganmu, pertemuan kita kembali, pernah menjadi kekasihmu, lalu melepasmu lagi, yang manapun tidak sedikitpun aku pernah menyesal. Bertemu dan sempat memilikimu adalah bagian terbaik. Hanya saja, aku tak lagi bernyali mengharapkan kamu kembali.
Sayangnya kita berdua belum jodoh saja.
Bolehkah kutambahkan bagian itu dalam doaku seperti dulu?
Tuhan, mohon jodohkanlah aku dengan dia. Jika dia bukan jodohku maka jodohkan aku dengan seseorang yang mirip dirinya, dengan wajah dan postur tubuh serupa, bercara bicara sama sepertinya, yang sifat dan karakternya serupa dengannya. Dengan kata lain, dia saja, Tuhan. Terima kasih, Aamiin...
Sungguhan aku pernah berdoa seperti itu, tahu! Sering sekali dulu. Tidak percaya?

Jika memang belum menemukan seseorang yang bisa mencintaimu sebaik aku, kamu tahu ke mana harus pulang, kan? Nantilah, akan kukisahkan lebih banyak lagi, sebanyak yang kamu inginkan, saat Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu (lagi). Bagaimana menurutmu?

Seseorang yang berbangga hati (pernah dan masih) merasa paling mencintaimu (setelah orangtua dan keluargamu) di dunia ini lebih dari siapapun.



NB: Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth Novel by Bernard Batubara.

Jumat, 21 Maret 2014

H-1, Sayonara 22...

Alunan lagu 'Last Friday Night' yang dilantunkan Katy Perry menemani hening kopi hitam khas Celebrity Cafe yang rasa-rasanya sudah lama sekali nggak kunikmati.

Hikmad, kataku. Alih-alih terganggu dengan ingar-bingar Jalan Semeru di penghujung minggu, aku kenal sekali sendu ini. Bertemankan bayangan, kopi hitam, dan koneksi internet yang lumayan, penghabisan 22 kuabadikan di sini.
Well, nice to through these days of 22 years recent, but i gotta move on, leaving yesterday and today soon to meet tomorrow. I dunno what'll happen next but yah... this is life. My life.
Let's count...

Rabu, 19 Maret 2014

Next: #KampusFiksi Road Show Malang

Alhamdulillahirobbil 'alamin... >_< *sujud syukur*

#KampusFiksi Road Show adalah salah satu event kepenulisan impian yang aku pingin banget bisa berpartisipasi. Resminya dari Jogya, domisili asli Penerbit Diva Press sebagai penyelenggara. Nyaris mustahil buatku mengikuti yang reguler. Jadi begitu tahu ada versi 'Road Show'-nya ke daerah Jawa Timur begini, mana mungkin aku nggak bersemangat? 

Pendaftaran dibuka sejak 7 Maret 2014 lalu dengan kuota peserta 150 orang saja. Dan ironisnya aku bahkan baru mengirimkan surat pernyataan ke pihak #KampusFiksi kemarin, lepas 11 hari dari pendaftaran pertama. Telat sedikit saja pasti nggak kebagian. x_X
Bismillah, berbekal mulai sekarang! Yosh, see you soon in Malang. Gambatte! (^0^)9


#KampusFiksi Road Show Malang

Senin, 17 Maret 2014

#happym0nd3y

Happy Monday!
Jarang-jarang kan Senin bisa se-membahagiakan ini? Dan apalagi yang bisa membuatnya demikian menyenangkan kalau bukan karena hasil pertandingan Liverpool menyambangi kandang Manchester United semalam berakhir begitu manis? 0-3 untuk tim tuan rumah! Demi Moyes! Apa saja yang kesebelasan Setan Merah lakukan? Ayolah, MU yang dulu jauh lebih baik dari ini.

Ini laga yang begitu dinantikan baik oleh Kopites/Liverpudlian atau para Mancunian sebagai tuan rumah Old Trafford. Tidak mengherankan mengingat reputasi kedua tim besar Liga Inggris tersebut yang sudah terkenal sebagai rival sepanjang masa. Apalagi keduanya mengusung warna bendera yang sama: MERAH. The Red Devils vs The Reds. Warna yang penuh semangat dan ambisi untuk jadi yang terbaik dari yang lain.

Jadwal laga ini sudah muncul sejak awal tahun, aku sendiri sudah ketar-ketir menyusun jadwal nobar. Entah bagaimana caranya, pokoknya wajib lihat live! >_< And thanks God, bigmatch ini kickoff pukul 08:30pm, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menghadiri nobar yang diundang langsung oleh United Mojokerto. Ya, mereka berbaik hati mempersilakan Kopites Mojokerto untuk duduk bersama menyaksikan pertandingan tersebut langsung dari markas nobar mereka yang bertempat di 162 Chit-Chat Cafe.

Warna merah segera membanjiri ruangan nobar yang berasal dari kedua kubu. Mengantisipasi hal ini aku sengaja mengenakan jersey berbeda, kombinasi warna hitam-putih-ungu. Yup, seragam ketiga Liverpool. ^^ Ingin sekali menyamakan seragam tandang yang dipakai The Reds, tapi apa daya aku tidak memiliki kostum putih-hitam-bercorak merah itu. Susah sekali menemukannya. :'(

Pertandingan berlangsung sengit. Masing-masing fans pun berlomba meneriakkan chants dan yell-yell pengobar semangat. Keduanya sama-sama total dalam mendukung kesebelasannya masing-masing. Tapi malang tak dapat dicegah, MU terpaksa menyerah 0-3 meladeni Liverpool yang memperoleh 3 points, yang ketiga golnya berupa eksekusi sempurna dari penalti.

Well, sudah bukan rahasia lagi bahwa Manchester United dan Liverpool adalah rival abadi, pun fans mereka terhadap masing-masing yang lain. Sebagai seorang Kopite, kupikir dalam suatu pertandingan adalah keharusan yang mutlak, apalagi melawan sesosok rival, yang kebanyakan turut membawa-bawa nama baik dan harga diri.

Beruntung, ini kemenangan yang kami, kopites, yakini akan benar-benar teraih. Mengingat pada beberapa laga terakhir Liverpool selalu tampil prima lagi sempurna, sungguh berbeda dengan MU yang harus menelan kekalahan pahit bahkan dari tim berskala medioker sekalipun. Menganggap remeh lawan memang bisa sangat fatal akibatnya.

Tapi tetap, pertandingan yang cantik dan menarik adalah yang terbaik menurutku, dan malam ini The Reds-ku menyuguhkan itu. Terbukti dengan 3 hadiah penalti dari wasit atas pelanggaran yang dilakukan oleh kesebelasan MU terhadap pemain Liverpool. Fans MU yang benar-benar menyaksikan dengan sepenuh hati harusnya bisa menerima dengan lapang dada bahwa timnya tidak bermain dengan baik selama menjamu Liverpool di markas mereka.

At last, that was a great night, great match, and so great score as the result. Congratulations, my Reds. Hope this is a start for us keep believing that we can win this championship. BPL is no wonder Liverpool's. #YNWA

Senin, 03 Maret 2014

UMM Dome Malang: Japan Culture Daisuki - Taiyoutopia

sakura no hana
Agak mimpi-mimpi gimanaa gitu, bisa beneran datang ke event akbar jejepangan ini, yang -sumpah- ketjeh mampus pokoknya! >_< Semalam pas nyampe rumah pun masih agak-agak nggak sadar, "Wow! Aku baru pulang dari Malang, menghadiri acara JCD-Taiyoutopia!" yang setelah beberapa hari dinanti-nanti kepastiannya, tahu-tahu sudah memberi oleh-oleh pengalaman seru dan foto-foto yang tak kalah ketjeh bareng para cosplayers. Satu kata, KAKKOIII!! XD

Berawal dari kabar di wall Mojokerto Animanga tentang acara tersebut, sama sekali nggak ada bayangan bakal beneran pergi. Keinginan sih selangit, tapi menimbang situasi-kondisi-toleransi dkk selama beberapa waktu terakhir ini, kok kayaknya nggak akan semudah itu bisa datang ke acara tersebut. Tomodachi di Moxer Anima (aku nyebutnya gitu) sudah sepakat mau berangkat bareng-bareng dari Mojokerto dengan menyewa kendaraan. They asked me if i wanted to join them... Masalahnya, aku belum pasti juga berangkat apa enggak, terlebih rencana Eomma ke Malang juga masih ngambang.

But yess, we did! Luckyly, Fir-san rupanya bersedia mengantar kami ke Malang. Jadilah, kami nebeng mobilnya. Bersama Akbar, Ucup-kun, juga okaa-san, aku dan Icchan berangkat sehabis sarapan dengan Fir-san yang mengemudikan mobil. Bagiku perjalanan kami bisa dibilang cukup ekstrem, karena ini kali kedua kami menempuh rute melewati cangar yang pada episode perjalanan lalu dengan mobil Rozi-san, aku mabuk. :(




Don't have any idea what to say, it's just to amazing to be true. *super terharu* Foto-foto juga masih banyak yang belum ke-upload, dong! xD

Yang pasti ini bukan kali terakhir. Lain kali kudu banget hadir lagi dengan persiapan yang lebih maksimal. :*

Otsukareee~

Sabtu, 01 Maret 2014

Grandpa's Letter

Atas ridho Allah, menuju masa depan yang lebih baik.

Wahai anak-anakku yang selalu dirahmati Allah SWT, mari kita semua mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT yang begitu banyaknya sehingga kita tidak bisa menghitungnya saru per satu. Yang utama nikmat Iman, Islam, dan kesehatan, serta kasih sayang Allah.
Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kita, memberikan ampunan terhadap semua kesalahan dan dosa-dosa kita, kemudian memasukkan kita semua ke dalam surga Allah SWT, Aamiin…

Selanjutnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, sifat rahman-rahim kepada hamba-Nya yang bertaqwa. Marilah kita istiqomah dalam mengerjakan semua perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya. Sesuai permohonan kita setiap sholat, memohon petunjuk kepada Allah, yakni jalan lurus yang diridhoi-Nya.

Kemudian kita berbakti kepada orang tua, saling memaafkan, berkasih-sayang, berpesan dalam hal kebajikan/kebenaran dan kesabaran. Bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah untuk kebaikan kita semua, dan tidak saling menyalahkan.

Mari kita bersegera menuju ampunan Allah, sekali lagi:
  1. Mensyukuri nikmat Allah
  2. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
  3. Berbakti kepada orang tua
  4. Berkasih sayang sesama saudara
  5. Saling bersilaturrahmi untuk mempererat persaudaraan
Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kesalahan. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin…

Dengan ampunan dan ridho Allah SWT hari esok akan lebih baik dari hari ini.



Mojokerto, 1 Maret 2014
Fatchur Rohman

Jumat, 28 Februari 2014

Penghujung Bulan Dua

Penghujung bulan benar-benar ada di sini. Besok sudah bukan lagi bulan dua, mau tidak mau aku pun akan segera menghadapi Maret. Bisakah? Haruskah? Tidak bolehkah jika aku melewatkannya begitu saja? Ijinkan aku tidur sebelum jam berdentang dua belas kali malam ini, lalu bangunkan aku lagi jika kau sudah menjumpai April Mop. Tapi sebelum itu jangan pernah coba-coba mengganggu mimpiku tentang kesempurnaan bulan tiga yang hanya tinggal angan, tak pernah bisa kumiliki. Belum. Hanya saja tak cukup yakin yang seperti itu akan benar-benar datang padaku.

Apa yang sebaiknya kukatakan padanya ketika ia akhirnya tiba? Dengan perasaan bagaimana aku harus bertemu muka dengannya? Ia yang kuhindari selama sebelas bulan terakhir ini. Si Maret sialan itu! Kau harus tahu apa yang ia lakukan padaku tahun lalu. Dan aku benci. Aku membenci pikiranku sendiri yang membayangkan kebencianku terhadapnya. Ya, si Maret itulah yang menghadirkanku ke dunia. Betapa tidak? Hampir 23 tahun silam, saat Ramadhan sudah berjalan separuhnya, aku lahir. Maret 1991 silam adalah waktu yang baik. Bagaimana dengan Maret yang sekarang? Maret yang setahun lalu sudah menghabisi hatiku? 

Jumat, 21 Februari 2014

14 Februari 2014 - From Mojokerto to Surabaya With Love

Sudah direncanakan jauh-jauh hari, Ai, adikku pingin banget menghadiri acara yang diadakan Penerbit Haru bertajuk #HaruRoadShow, sebuah event Meet & Greet yang memungkinkan fans/readers bertemu dengan authors yang nggak lain adalah para penulis (muda) berbakat idola mereka.

Setahuku Ai memang penggemar berat Kak Orizuka. Ia punya banyak sekali novel-novel karyanya, yang menurutku pribadi nggak ada yang nggak bagus. Koleksinya sudah hampir lengkap. Ia bilang cuma tinggal satu judul novel saja yang nggak ia miliki, sebuah novel terbitan lama.

Maka anak itu sengaja minta tukar jadwal shift kerja, yang semula libur pada Hari Rabu, dia tetep masuk, dan Hari Jumat-nya ia bisa terbang bebas ke Surabaya. Hahaha... Dasar! Ya, deminya (demiku sendiri juga) aku ikut-ikutan ambil cuti. Tentu saja, bagaimana Ai bisa ke Surabaya tanpaku, kan? :Dv

Seperti sudah kebiasaan, kalau besoknya mau ada rencana atau acara penting, aku malah makin susah tidur. And I was writing my short-story project featuring Ai, yang digagas oleh Nulis Buku. Lagi-lagi aku harus mengejar waktu karena deadline-nya besok! Sempat ke-gap sama ibuk yang tiba-tiba terbangun tengah malam dan menemukanku belum tidur sama sekali. Beliau marah dan mengancam kami batal ke Surabaya kalau nggak segera naik ke tempat tidur.

Sebelum tidur aku sempat online Shiroyuki, kala itu timeline sedang ramai masalah Gunung Kelud di Kediri yang akhirnya meletus setelah beberapa waktu berstatus siaga. Ketika akan mencari berita lebih, aku malah ketiduran. Pagi-pagi pas mengeluarkan motor dan hendak menyapu halaman, tahu-tahu semua yang ada di luar menjadi bernuansa abu-abu. Berdebu. Aneh banget dilihat. Rupanya debu abu vulkanik yang disebabkan letusan Gunung Kelud semalam benar-benar berefek sampai depan rumah. Luar biasa!

Beberapa jam setelahnya acara berita di TV masih banyak menyiarkan tentang peristiwa abu vulkanik pasca Gunung Kelud meletus, yang ternyata terjadi di hampir seluruh Pulau Jawa, Madura, Bali, dan sekitarnya. Begitu juga dengan yang dinamakan 'hujan abu'. Kota Sidoarjo dan Surabaya mengalaminya dan pemerintah mengimbau kepada masyarakat di daerah tersebut agar sebaiknya tidak keluar rumah dulu sampai situasi benar-benar aman. Karena abu vulkanik itu sendiri disebut-sebut sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Aku panik. Padahal kurang dari delapan jam lagi aku sudah harus berada di Surabaya kalau nggak mau ketinggalan #HaruRoadShow yang sudah kami tunggu-tunggu. Berbekal niat dan tekad, doa (juga nekat) aku dan Ai pun berangkat usai sholat dzuhur. Sekitar jam 1 siang, betul-betul molor dari perkiraan yang semula paling lambat jam 12 kami harus sudah keluar dari rumah. Selain untuk menghindari macet dan cuaca yang panas (menurutku) kami sengaja berjaga-jaga barangkali ibu mengurungkan ijinnya setelah nonton berita mengenai hujan abu di TV. Tapi syukurlah ibu tetap mengijinkan kami berangkat dengan semangat. (^0^)9

Perjalanan Mojokerto-Surabaya memakan waktu kurang lebih 45 menitan (sampai Cito) dan butuh sekitar 30 menit lagi untuk tiba di tempat yang kami tuju, Mall Tunjungan Plasa. Arus kendaraan di sepanjang perjalanan sangat sepi, aku baru sadar kami jarang berpapasan dengan banyak pengguna jalan lain apalagi sampai terjebak macet. Sungguh berbeda dengan biasanya, jalan tol menuju Surabaya yang hampir selalu padat kendaraan.

Cuaca Surabaya ekstrim sekali~~ Setelah sebelumnya menembus hujan abu selama 20 menitan, beberapa meter jelang masuk Surabaya pun hujan turun cukup lebat menggantikan angin lengket yang menerbangkan debu vulkanik sepanjang separuh perjalanan menuju Surabaya. Alhasil hampir sekujur tubuh kami yang berbalut jas hujan kuyup, dan tragis karena debu dan air menghasilkan kotoran yang mirip lumpur. Seolah kami habis berkubang di kali atau apa.

Ai parah! Dia lupa lokasinya, Tunjungan Plasa atau Plasa Surabaya? Anak itu segera cek ulang ponselnya, berharap nggak lupa menyimpan foto pamflet acara ini. Dan benar saja, Tunjungan Plasa! Kami baru melewatinya dan terpaksa kudu putar balik lagi. Sial nggak hanya sampai situ, Tunjungan Plasa(TP) punya banyak pintu masuk yang membingungkan kami, yang baru kali pertama ini datang sendiri ke sana. Gimana nggak? Parkir mobil sendiri, sekalinya ada parkiran motor ternyata parkiran milik perusahaan yang kebetulan lokasinya juga di situ.


Parkiran motornya ada di pintu masuk paling kiri, menembus sampai bagian belakang mall supergede, masuk lebih dalam, lewat gang sempit, dan berujung di sebuah lapangan(kataku) outdoor berpaving nggak rata lengkap dengan genangan air pasca hujan di mana-mana. Yaiks! Nggak ada tukang parkir yang bantuin kami nyari lahan kosong untuk parkir, lapangan itu sendiri nyaris penuh dan kami nggak melihat ada pilihan lebih aman selain menyurukkan Hojo secara random di antara celah-celah motor lain yang tersisa. :(


TP ini ada berapa?? Aku dan Ai dengan polosnya ngikutin mbak-mbak masuk dari pintu basement ke dalam mall, lalu galau. Ada TP1, TP2, hingga TP3. Dan tiap-tiap TP punya Gramedia sendiri-sendiri. Nah, kita menuju Gramed yang manaa?? Akhirnya setelah cukup lama putar-putar, kami menemukan lokasi acara. Dan yah, sudah mulai dari tadi~~ T___T

Kami segera menyusup di antara pengunjung-pengunjung yang sudah memadati toko buku Gramedia sebagai venue penyelenggara. Berusaha fokus beradaptasi dan mengikuti serangkaian acara yang telah berlangsung.

Ini benar-benar kali pertama aku bertemu dengan para penulis yang novel-novel karya mereka sering kubaca. Ada suatu perasaan yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. It's just too awesome! Secara mereka ini kan semacam selebriti dalam dunia tulis-menulis fiksi.

Ada segmen tanya-jawab, lalu aku ikut mengajukan pertanyaan buat para penulis, "Ketika saya mulai menulis, saya akan mencari referensi dan bisa jadi terinspirasi oleh tulisan karya penulis lain yang saya idolakan. Bagaimana kiatnya agar tulisan saya tidak terlalu 'serupa' dengan tulisan orang lain, sehingga terhindar dari plagiasi?" aku kan suka terpengaruh dengan gaya bahasa orang lain kadang-kadang. -___-
Dari kiri bawah berputar searah jarum jam: Kak Lia Indra IndrianaClara CancerianaFeiAndri Setyawan, dan Orizuka. :*
Inti dari jawaban yang diberikan para penulis tentang pertanyaanku, bahwa menulis ya tinggal menulis saja. Sebagai pemula, terpengaruh gaya bahasa penulis lain itu wajar. Bahkan sebagian besar orang melakukannya. Ketika kita baru saja mendapat 'pencerahan' yang menginspirasi, kita pasti ingin membaginya juga kepada orang lain, dan otomatis apa yang kita sampaikan kurang lebih sama dengan asal kita mendapat informasi tersebut. Seiring berjalannya waktu, jika sudah mahir, penulis pasti akan menemukan gaya bahasanya sendiri. (ini gaya bahasaku. hahaha)


Ai pun memenangkan beberapa kuis tanya-jawab yang diberikan panitia. Keren sekali rasanya mengetahui semua yang hadir menatap Ai takjub lantaran ia membawa semua koleksi novel terbitan Haru miliknya. SEMUA. Ia serius ingin meminta tandatangan bagi seluruh novel-novelnya. Daebak!! *plokplokplok*

Acara diakhiri dengan foto bersama dan booksigned. Luckily Ai yang membawa serta semua novelnya, sudah pasti ia mendapatkan semua tandatangan penulis yang hadir di sini. Sekaligus, menjadi top-reader paling hebat dan nekat! Ya, karena berkat keras kepalanya-lah dia jadi mendapatkan perhatian dan apresiasi lebih dari semua orang. Chukkae!
Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang didapat di sini. ^_^
Baru nyadar kalau warna pakaianku sangat eye-catching ^///^
Combo Beef dan Double Chocolate
Begitu selesai acara, aku menggelandang Ai untuk mencari snack corner demi membelikan sesuatu untuk perutku yang mulai keroncongan. Kami galau lagi. Sempat tersesat, kami berdua dibuat bingung dengan berbagai macam pilihan makanan dari yang ringan sampai berat beserta variasi harganya.

Hingga lelah berjalan, kami lalu berhenti di counter makanan paling sudut yang menjual aneka Crepes dengan banyak pilihan rasa.

Di luar perkiraan, niatku ingin sekalian diner di Oost, tapi keburu kelaparannya di sini. :( Sementara lagi-lagi baru teringat naskah yang belum selesai dan hampir mencapai tenggat waktu. Maka sembari menunggu pesanan kami datang, aku nekat menyalakan laptop (yang sengaja dibawa dan syukurlah berguna), mencoba merampungkan naskah yang tinggal finishing.

Bertolak ke Oost Koffie and Thee untuk berpartisipasi dalam #MalamPuisi namun terlambat. :( Ini semua gara-gara polisi jayus yang menilang kami di perjalanan sepulang dari TP menuju Kaliwaron. Yess, kuakui aku lupa jalan dan nyasar. Mohon maklum, sudah lama kami nggak ke Surabaya dan hari sudah malam saat kami mencoba mencari jalan yang benar, namun takdir Allah berkata lain: ya kami harus menghadapi para polisi yang terang-terangan minta keuntungan pribadi dari kami itu. Dasar! :'(

Terlalu sungkan untuk tiba-tiba bergabung. Acara #MalamPuisi start pukul tujuh, sementara kami baru tiba di TKP jam setengah delapan lewat. :( Apa boleh buat, untung saja masih ada seat tersisa di indoor, jadinya kami langsung memesan sesuatu karena sudah sangat-sangat lapar! >_<
De Haven Van Rotterdam feat Gebakken Pannenkoek yang yummyyy :9
Chocolate coin charity for Kelud's victims.
Waktu sudah menujukkan pukul sepuluh malam dan kami masih belum beranjak dari sofa hommy-nya Oost. Kafe ketjeh itu juga masih ramai pengunjung, tapi sepertinya sudah hampir last order. Sebelum beranjak seorang punggawa menghampiri meja kami, membawakan seporsi Siomay Eyang Dielus 'take away', oleh-oleh untuk ibu di rumah karena kami gagal mendapatkan roti goreng pesanannya.

Alhamdulillah perjalanan pulang sangat lancar. Kami mendarat dengan selamat di rumah pas jam 12 tet. xD Aihh, senangnya... Kapan bisa mbolang gini lagi, ya? ^^

#SuratValentine Untuk Nada

Kepada
Yang terkasih,
Nada
di
Lubuk hatiku


Dear, Nada…
Selamat senja!

Aku tak kuasa berhenti tersenyum membayangkanmu tengah membuka surat ini, ditemani oleh rasa penasaran yang terus merayumu untuk segera membacanya hingga akhir. Surat ini kutulis saat matahari jingga sudah tinggal tiga perempat bagian. Cahaya merah keemasan yang seolah membakar langit barat demikian benderangnya, membuatku sempat yakin jika tidak segera beranjak, tidak lama lagi pasti lidah-lidah api matahari akan sampai di beranda lalu membakar habis suratku. Tidak, tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk pada surat ini. Tidak selama kamu belum membacanya sampai habis.

Nada, ketika surat ini tiba di hadapanmu dan terbaca olehmu, aku senantiasa berharap kamu baik-baik saja. Sebagaimana aku yang selalu baik meski semalaman kemarin hingga dini hari tadi masih gelisah memikirkan apa yang sebaiknya kutuliskan untukmu dalam surat ini. Menurutmu seharusnya surat ini berisi apa? Apa kuisi saja ia dengan perasaanku? Perasaanku yang kini dilanda prahara akibat sudah terlalu lama kita berdua tidak bisa melewatkan waktu bersama.

Iya, kamu benar, Nada. Kamu tahu persis bahwa kamu selalu benar tentang apapun, termasuk perasaanku padamu. Maka melalui surat ini aku ingin sekali memberitahukanmu perasaanku. Tentang sebanyak apa aku memikirkan dirimu sepanjang hari, dimulai sejak aku membuka mata hingga tubuh ini tak mampu lagi terjaga. Tentang bagaimana gelisah hadir setiap kali kububuhkan tanda silang pada tanggal-tanggal dalam kalender saat waktu berjalan demikian lambat menuju hari di mana kita bisa bertemu. Tentangku yang tidak bisa tidak otomatis teringat padamu setiap kali mendengar lagu-lagu kita akrab menyapa telingaku, entah itu dari radio, dari acara musik di televisi, mengalun di speaker café saat aku ngopi bersama teman-teman, diputarkan oleh rekan kerja di kantor sengaja untuk menggodaku yang segera melamunkanmu, di mana saja.

Ingatkah kamu? Pernah kamu menemaniku bernyanyi saat hari hujan dulu. Aku yang sebelumnya selalu iseng asal bersenandung tiba-tiba saja jatuh hati padamu, yang sempurna sekali mengiringi nyanyian kacauku dengan permainan gitar akustikmu. Kemudian sekejap saja kamu dan aku, kita semakin terbiasa membagi segalanya berdua. Bisakah menghitung, berapa banyak lagu yang sudah kita nyanyikan bersama di senja itu, kala menunggu pelangi tiba?

Saat itu kita masih begitu muda. Kita hanya tahu cita, asa, dan bahagia. Tak peduli apapun lagi selama kita masih bisa bernyanyi. Enyah saja lainnya, hingga waktu membawa jarak dan kenyataan yang tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Kamu harus berada jauh dariku sementara waktu. Bahwa aku tidak lagi bisa melihatmu setiap hari. Tidak bisa memintamu datang sekiranya aku tak tahan ingin bertemu. Kamu tahu aku tidak pernah menginginkan apapun. Cukup kamu ada bersamaku. Itu saja. Cukup dengan kamu di sini dan menyanyikanku lagu-lagu favorit kita. Aku tidak akan meminta apapun lagi. Tuhan sudah memberiku yang terbaik, yakni dirimu.

Padamu Nada, aku benar-benar merasa... Ahh, bagaimana orang biasa menyebut perasaanku ini? Hasrat ingin membenamkan tubuh tak berdayaku dalam peluk hangatmu tanpa ada usai. Hanya aku dan kamu, lalu segera bahagia akan mengekori kita dengan sendirinya, tanpa ada jeda, tanpa ada jika.

Nada, kekasihku... Apakah kamu merasakan perasaan yang sama dengan yang sedang kurasakan sekarang? Sungguhkah? Aku tahu kamu pun tak sabar ingin bertemu denganku. Tapi, jangan. Tolong jangan sebut perasaan indah itu dalam kata. Biar kita merasakannya dalam hati saja. Biar kita meresapinya sambil menanti perjumpaan kita selanjutnya. Karena tidak semua kata bisa menjelaskan tepat seperti apa yang hati kita rasakan. Ya kan, Nada?

Baiklah, akan segera kusudahi surat ini. Tampaknya kamu pun sudah mulai bosan membacanya. Hahaha... Tentu saja, ini tidak seperti komik Naruto kegemaranmu. Tapi, kamu belum mengantuk, kan? Tenang saja, sedikit lagi. Hanya tinggal beberapa kata lagi dan aku akan melipat surat ini lalu memasukkannya dalam amplop bersamaan dengan raja siang yang hendak berpulang dipeluk petang. Menyisakan semburat jingga di langit yang mulai beralih lembayung. Syukurlah, jika kamu tuntas membaca surat ini di sini, artinya matahari tidak jadi membakar suratku dengan lidah-lidah apinya. Ia rupanya iba padaku yang sangat ingin menghadiahimu surat ini sebagai tanda kasihku untukmu. Terima kasih sudah menjadi segalaku, Nada.

Sampai jumpa segera!

PS : Jariku sedikit terfoto. Tapi bagus, tidak? Baiklah, aku tahu lukisan senjamu jauh lebih bagus.


Beranda, 13 Februari 2014
Sincerely
The one who wants you the most,



R. Ch. Auliya Sari

Selasa, 11 Februari 2014

Do(not) Love Me

If there is anyone else loves me, all i can do is bringing up my corpse to her. Here, inside, there is a soul of me that i won’t share it anymore to anybody else.
Thanks to you for being my morning tears. I wish you wouldn’t say such thing like that. I didn’t get why the hell you could say so, but i hate it. I hate the way you said that hell thing easily. Why? Why you? Why me, the one who you sent that message to?
It definetely reminded me to a sad story which is very similiar with your words.
Aku ingat seseorang yang patah hatinya di pagi hari tepat ketika ia baru saja terbangun dari mimpi indahnya, semalaman bersama sang pangeran pujaan.
Jika seseorang lain mencintaiku, aku hanya bisa membawakan mayatku padanya, di dalam sini ada jiwa, yang tak ingin kubagi-bagi lagi.
Tidakkah itu berarti, “Apapun yang sudah dan akan kau lakukan nanti –demiku– tidak akan kubuka hatiku untukmu –untuk siapapun juga– karena jiwaku sudah kupersembahkan padanya.”? Artinya semua usaha dan doa akan sia-sia saja. Mencintai seseorang yang telah terambil jiwanya adalah suatu kebodohan gila.

Itukah yang sesungguhnya ingin kau katakan? Ingin memperkecil hatiku yang sudah kerdil, eh? 
Arre pikir sudah benar hatinya memilih Tian sebagai calon kawan masa depannya. Tian yang sahabat lamanya, yang ia tahu persis bagaimana bibit, bebet, dan bobotnya. Tian yang sering datang ke rumah Arre, mengantar-jemput gadis itu ke kampus, mengerjakan tugas kuliah bersama-sama, bahkan mencuri pinjam snack dan komik milik Arre. 
Di tengah-tengah persahabatan hangat itu, siapa sangka cinta akan tumbuh? Awalnya Arre sempat gelisah saat mengenali perasaan salah tingkahnya terhadap Tian beberapa bulan terakhir sebagai permulaan rasa sukanya pada pemuda berkepribadian menyenangkan itu. Tapi kemudian seiring berjalannya waktu Arre sudah bisa mengendalikan hatinya yang sering mendadak hiperaktif ketika bertemu Tian. Arre ingin mengutarakan perasaannya pada Tian ketika waktunya tepat.
Arre boleh jadi percaya diri, sebab selama persahabatannya dengan Tian gadis itu sangat yakin Tian belum memiliki kekasih, dan jarang sekali membicarakan masalah perempuan di hadapannya. Sikap Tian juga selalu manis pada Arre, membuat Arre meyakinkan hati bahwa Tian (mungkin) juga menyukainya. 
Benarkah begitu? Mungkinkah Tian akan benar-benar menerima perasaan Arre?

Sayangnya, ini bukan cerita rekaan tentang Cinderella, Ariel si Putri Duyung, bahkan Snow White yang memang sudah dikisahkan akan berakhir bahagia dengan pangeran masing-masing di akhir cerita. Ini bukan dongeng yang sudah tertebak Happy Ending-nya.
Kenyataan bahwa dunia Tian, kehidupan Tian tidak hanya berkutat di Surabaya saja, kota tempatnya menuntut ilmu selama di bangku kuliah. Tentu saja pemuda itu memiliki kehidupannya sendiri, hari-hari di kota kelahirannya, Mojokerto. Ia punya keluarga, saudara, teman masa kecil, mantan pacar saat SMP/SMA, bahkan mungkin seseorang yang masih menjadi kekasihnya. Siapa tahu? Apakah Arre tahu? Haruskah Tian menceritakan segala-galanya pada gadis yang baru dikenalnya tidak lebih lama dari usia statusnya sebagai mahasiswa.

Sakit bukan, bahwa harapan yang mati-matian ingin diwujudkan namun sudah dipastikan tidak akan terkabul bahkan sebelum harapan itu sempat diselipkan dalam doa? Pahit harus ditelan bulat-bulat oleh Arre, si gadis malang yang cintanya terlanjur layu sebelum berkembang.
Miris? Kritis.