Senin, 10 Agustus 2015

Sunday Couple

prosesi lamaran
Agustus selalu jadi bulan yang sibuk. Sebagai bulan peringatan kemerdekaan tanah air yang dinanti seantero negeri, Agustus identik dengan perlombaan, pawai/karnaval, jalan santai, sepeda hias, kerja bakti, hingga tasyukuran kampung dalam rangka 17 Agustus. Kegiatan full. Terlebih hari-hari Minggu kami yang sudah booked dengan rangkaian jadwal yang harus kami lakukan.

Jika minggu lalu kami bertolak ke Surabaya dalam rangka menghadiri arisan keluarga dari keluarga Mbah Buk, minggu kemarin kami menyambangi Kota Pahlawan itu lagi sebagai pengiring calon mempelai pria. Yup. Akhirnya Mas Dizar resmi melamar Mbak Ria.

Alhamdulillah acara berlangsung lancar dan sempat ada momen yang begitu mengharu-biru: saat Mas Dizar tiba-tiba diminta melakukan direct propose kepada Mbak Ria yang juga langsung menjawab dengan hasil yang sesuai harapan. Jadi ingat prosesi lamaran sendiri, meski nggak semendramatisir ini juga, sih. :')

Item of the day was: our couple-suit yang rampung dalam sekali cling! Gimana enggak? Sabtu pagi sebelum ngantor aku baru bertemu Bu Ony, menyerahkan kain dan mem-fix-kan rancangan baju kami, dan keesokan paginya kemeja, rok, dan bolero batik orderan kami ternyata sudah siap pakai! Subarashii~~ *plokplokplok*

Sebenarnya agak nggak enak hati dengan beliau karena kesannya kami (aku dan ibuk) maksa banget sudah mengorder seenak udel, tapi tentu saja kami sudah menyesuaikan ongkos kilatnya.

Berita buruknya, oppa macak baru tahu kalau kain batik kami berwarna dasar kuning. Dia lantas protes dan mengancam nggak akan bersedia mengenakan setelan 'seragam rumah' itu sering-sering karena dia benci warna kuningnya yang menurutnya sangat ngejreng, meski sudah di-mix dengan bahan lain warna gelap sekalipun. Hahaha... Jadi ingat ada cerita tersendiri di balik couple-suit ini yang membuatku kurang 'into it'. Hell shit! Not a good experience with one of tailor. :(

Tapi syukurlah meski sambil ngomel, oppa tetap mengenakannya dan jadilah kami serumah berseragam kuning-cokelat. I said many times that it looked so great on him. Hasil rancangan guweh sendiri gitu! Hehehe xD This is the third project after the engagement-blue-suit and the glittery-red-batik-suit.
Kostum khusus acara lamaran kami 22 Maret 2015 lalu. So stunning!
Ala-ala Cheongsam. Warna kita banget! xD
Nggak buruk-buruk amat, kan? Oppaku sayang juga nggak pernah nggak setuju dengan model yang kupilihkan untuknya. Kecuali perkara warna yang tadi. *^_^*

Meski buta kain dan jahit-menjahit, aku cukup senang mengerjakan desain pakaianku sendiri setiap kali ada project 'njahitno kain'. :D Biasanya di tempat penjahit memang disediakan beraneka macam contoh busana untuk menentukan model pakaian yang akan dipesan, tapi sudah lama sekali sejak aku menggambar sendiri sketsa calon baju yang kuinginkan. Jadi sang penjahit tinggal langsung mengerjakannya sesuai contoh gambarku. ;)
Nggak cuma 'couple' tapi kembar serumah lima orang.
Termasuk klien yang rewel dan cerewet, tapi aku bukan jenis klien yang ingin menyusahkan penjahit dengan segala keribetanku. Sewaktu menyodorkan sketsa gambar, aku akan menanyai beliau apakah sanggup untuk mengerjakan sesuai contoh gambarku atau tidak. And believe it or not, the tailor is free to refuse my design if she thinks can't make it. Bu Ony adalah satu dari nggak banyak penjahit yang kupercaya untuk menangani sketsa-sketsa gambarku... *terharu*

Ibuk dan Iis juga acap kali meminta saran dan masukan mengenai model untuk baju-baju mereka yang dengan senang hati akan kutanggapi dengan jujur. Yes, I am a mode and design constultant of Ume-chan. *pede* >_<
Senang melihat orang lain senang dan terlihat bagus dengan apa yang telah kita sarankan untuk mereka. 
Semoga oppaku juga akan mulai menyukai kemeja batik kuning-cokelatnya dan mau mengenakannya setiap kali aku ingin dia mengenakannya bersamaku.

Kisumi :*

Jumat, 07 Agustus 2015

Road to #KampusFiksi13 : Tiket Kereta Api Tut-tut-tut

Erceha go to Yogyakarta!! ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆

Berdasarkan file "ALAMAT DAN PENJEMPUTAN" yang di-email-kan redaksi Diva Press pada calon peserta #KampusFiksi, destinasi penjemputan yang ditentukan antara lain:
1. Bandara Adisucipto
2. Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Yogyakarta (Tugu)
3. Terminal Jombor dan Terminal Giwangan

Penjemputan FREE termasuk makan, penginapan, dan segala macam tetek-bengek selama karantina di Yogya. Jadi minus transport dari rumah saja yang tetap ditanggung peserta.

Namanya salaaah~~ :'<
Lalu aku? Perihal event ini sudah kuberitahukan pada oppa sebelum kami menikah dan sejak saat itu dia sudah berniat untuk ikut menemani. Syukur alhamdulillah terealisasi saat kami sudah sah menjadi suami-istri. Sudah nggak ragu-ragu lagi, deh. :Dv

Kami memutuskan untuk naik kereta api. Naik pesawat? Hell no! Naik bus? Kapan sampainya? I'm not in the mood to take any bus. Just not my favorite. :/ Sempat tanya ke teman-teman yang biasa jalan ke Yogya, baiknya ambil kereta apa yang tarifnya paling hemat. Ada yang menyarankan kami memilih KA Sancaka yang berdestinasi St. Tugu, beberapa yang lain cenderung mem-vote opsi KA yang turun di St. Lempuyangan dari segi ekonominya.

Jadi semua KA yang melewati jalur St. Lempuyangan adalah KA ekonomi, sedangkan KA bisnis dan eksekutif melalui rute St. Tugu. Tapiii~~ perbedaan tarifnya ituu lhooo~~ Σ(゜ロ゜;)

No doubt, kami segera memesan dua tiket KA Logawa dengan jadwal keberangkatan Hari Jumat tanggal 28 Agustus 2015 pukul 09:56am dari St. Mojokerto yang diperkirakan tiba di St. Lempuyangan pukul 02:41pm. Karena menurut rule, kami harus sudah sampai di Yogyakarta maksimal pukul 11pm. Ogah ambil resiko telat, dan memang cuma KA ini saja yang sangat sesuai dengan berbagai macam kondisi kamii~~ *dunanges deh*

Hari ini sudah selesai ngeprint Surat Pernyataan dan bikin daftar pertanyaan seputar permasalahan dalam menulis. Tapi scanner di kantor rusak. Entah ini mau scan Surat Pernyataan dan KTP-nya di mana... Masa' ya mau maksa difoto? Disuruh men-scan malah difoto doangan? Eh, tapi boleh juga idenya. *dikeplak* :(

Anw, Happy Jumat Mubarok, minna~~ Kisumi~ :*

Selasa, 04 Agustus 2015

Road to #KampusFiksi13 : Newborn August

Hello, August!

Hari keempat bulan delapan hadir. Begitu kalender baru dibuka, rangkaian acara dan kegiatan seolah berebut untuk direalisasikan. Apa saja rencana di bulan baru ini?

1 Agustus 2015, senja weekend kulewatkan bersama oppa, ibuk, dan keluarga oppa di rumah Krian. Tanpa banyak rencana, tahu-tahu ibuk menyampaikan keinginannya mengunjungi keluarga besan. And yah, it was a beautiful sunset, meski ada tragedi si ibuk kesasar.

pas acara keluarga
Buk Mudah dan Buk Iit menjamu kami dengan baik. Sambil mengobrol macam-macam, kami bertiga disuguhi pangsit mie ayam dengan porsi yang bagiku tetap super banyak meski selalu enyak. Selepas sholat maghrib ibuk akhirnya minta diri (karena ada jadwal show lagi), aku dan oppa juga pamit nggak lama kemudian karena kami berencana mampir ke stasiun dulu sebelum pulang. Tapi sayang, loket pemesanan tiket sudah tutup, cuma dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore saja. :(

Esok paginya minus Iis ditambah Tantit, dengan nebeng mobil Oom Rozi, kami menghadiri arisan keluarga di kediaman Mbah Yah dan Pakde Yono dkk di daerah Embong Malang, Surabaya. Kali pertama oppa ikut kumpul-kumpul family-branch ini. Garis keturunan dari orangtua kandung Mbah Buk, means buyut kami.

To be honest, I didn't get interest with the people. Dunno, just not one of my kind. Never feel that I'm one of them, except my direct fams of Mbah Buk-Mbak Bapak. Harusnya nggak boleh pilih kasih gitu, ya? Demo shikatanai ne~

Pulangnya kami mampir ke Masjid Agung Al-Akbar karena ibuk dan Bulek Wiwin belum sholat dzuhur. Sembari menunggu aku, oppa, dan Tantit mencoba naik ke menara masjid untuk kali pertama. Bertamasya mata menikmati elok pemandangan dari ketinggian. Masyaa Allah... What a wonderful experience it was! xD
Aku mendapat pencerahan(?) bahwa setelah kegiatan minggu pertama di Surabaya ini, besar kemungkinan minggu depan kami akan kemari lagi dengan tujuan berbeda; Minggu, 9 Agustus mendatang jadwalnya iring-iring lamaran Mas Dizar dan Mbak Ria, setelah Sabtu tanggal 8-nya memenuhi undangan resepsi pernikahan Widhi dan Kiki di Lamongan. Sugoi desu ne? Sedangkan minggu ketiga adalah giliranku piket kantor setelah paginya berpartisipasi jalan santai RW, dan saat minggu kelima aku sudah akan berada di Jogja. Hahaha~~ semoga nggak terjadi apa-apa di minggu keempat yang memang jatahnya goler-goler.
。・゚゚・(>д<;)・゚゚・。

Senin, 3 Agustus. Rutinitas kantor berjalan seperti biasa. Minggu ketiga pasca libur lebaran, hawa malas masih belum juga hilang, tapi pekerjaan sudah kembali semengalir semula. *mulet* Optik mengabari bahwa kacamata pesananku sudah jadi dan bisa diambil. Diantar oppa aku putar-putar Optik Modern,  Stasiun Mojokerto untuk pesan tiket kereta (meski gagal karena KTP oppa ketinggalan), dan TOP Steak&Milk sebagai venue makan siang kami.

pantes, nggak?
Ngomong-ngomong, kacamata Gino Armani tersebut selain dalam rangka ujicoba klaim BPJS, juga sebagai persiapan keberangkatanku ke Yogyakarta, memenuhi undangan Kampus Fiksi angkatan ketigabelas. Kami ke stasiun juga demi alasan serupa. Jangan sampai kehabisan tiket KA Logawa Mojokerto-Lempuyangan, yang akan membawa kami ke tujuan. Just can't wait 'till August 28th to take off. /,\

Kabar diterimanya aku sebagai calon bimbingan Kampus Fiksi memang sudah cukup lama. Eto~ sejak awal tahun? Jadwal keberangkatan semula Bulan Maret, lalu diundur Mei, dan baru benar-benar fix akhir Agustus ini. Alhamdulillah banget, dong! Jadi bisa pergi bareng suami sembari honeymoon. *ehh* *maunya* Apa kabar kalau berangkatnya sebelum itu? Bisa-bisa nggak dapat ijin pergi, kan. >_<

Senja Selasa ini mendung. Dan belum juga dapat kabar lanjutan dari event #30HariKotakuBercerita. Kinda dissappointed 'cause I've been so excited to participacing. :(

See you another day still in August! 

Kamis, 23 Juli 2015

Syawal 1436H

Taqabbalallahu minna wa minkum... Taqabbal yaa kariim...
with hubby
Selamat Hari Raya Idul Fitri!
Ricchan Auliya a.k.a Riza Chanifa Auliya Sari beserta segenap keluarga besar memohon maaf lahir batin atas segala kesilapan baik yang tersengaja maupun yang tanpa rencana(?). *sungkem* *telat* Semoga sekurang-kurangnya diri kita Allah senantiasa berbelas kasih menganugerahkan kita kesempatan untuk kian memperbaiki diri pun akhir yang baik. Aamiiin...

H+6. Sudah mulai masuk kerja (harusnya), tapi...hei, bukannya aku masih punya stok libur 2 hari termasuk hari ini? :P Karena ini-itu I got 2 more off-days, and I write this post while laying on bed. Got kind of insomnia since last nite and turn into headache this morning. Mau move-on dari kasur saja susah betul. Yasudah, lanjut gegoleran hore saja. Alhamdulillah... ( ´∀`)

So how was your holiday, Pals? Must be a quality-family time huh? Banyak yang mudik ke kampung halaman, bertemu dengan orang-orang terkasih yang jarang bisa ditemui. Uri namsaeng -Rizky- had also touchdown in Mojokerto H-1 dan baru balik Malang lagi kemarin sore. Waktu terlalu cepat habis jika dilalui dengan perasaan gembira bareng keluarga. Tahu-tahu Syawal sudah lewat cukup jauh.
Bagaimana rencana membayar 'hutang' puasa Ramadhan lalu?
Ada segolongan yang cenderung 'nanti-nanti' untuk melunasi jumlah harian puasa Ramadhan yang kurang, nggak penuh. "Ahh, baru juga selesai. Masih banyak makanan di rumah kok sudah disuruh puasa lagi," tapi nggak sedikit juga yang memanfaatkan momen Syawal untuk 'sekalian' melunasi hutang puasa Ramadhan dan bersunah puasa Syawal. ;)

Tahun lalu seluruh hutang puasaku tandas dalam sekejap di bulan Syawal. Pikirku untuk apa ditunda-tunda? Mumpung semangat puasa pasca Ramadhan masih meluap. Beberapa tahun sebelumnya saat masih ogah-ogahan puasa Syawal, aku biasa menghabiskan hutang puasaku dengan (lagi-lagi) sekalian puasa Senin-Kamis. Seminggu dua kali. Dalam setahun masa ya nggak lunas juga? :P

Karena puasa Ramadhan hukumnya wajib, apabila nggak bisa penuh (perempuan haid/nifas/menyusui, musafir, orang sakit, dll) maka harus mengganti di hari lain di bulan lain. Ada tenggang hampir setahun untuk 'mencicil', apa jadinya kalau hutang yang tahun lalu belum selesai, dan Ramadhan berikutnya sudah tiba di depan mata? Naudzubillah... Terserah mau kapannya, paling nggak sudah ada jadwal untuk 'masa pelunasan' itu.

with 'The Haris' 
Tahun ini... Lebaran pertama statusku bersuami. Dengan kampung halaman dan tradisi lebaran yang sama sekali baru, berbeda. Harus cermat bagi-bagi waktu untuk silaturrahmi ke sana-sini biar semuanya terkunjungi. Capeknya dobel sih, tapi senangnya juga dobel. Apalagi pengalaman bersosialisasi dengan keluarga mertua. Such an honor to having them. ^///^

Libur lebaran nggak pernah ada kata 'cukup'. Waktunya kurang, kesempatannya kurang, sementara cita-cita silaturrahmi, halal bi halal, hangout/piknik/jalan-jalan bareng teman, sepupu, keluarga, juga kerabat terlalu padat. Banyak sekali interested places yang belum sempat dikunjungi ramai-ramai.

Tapi ya itulah esensinya. Momen lebaran begitu dinanti karena kesebentaran-hadirnya di tengah-tengah kita. Dengan banyaknya checklist yang belum terpenuhi pada lebaran tahun ini, kita semua pasti akan sangat tidak sabar dan bersemangat sekali menyambut bulan suci Ramadhan dan lebaran yang menyertainya tahun depan. *^_^*

The last, how much has your weight been increasing? ;)

#TimAstorCokelat
#TimSempritCokelat
#TimKastengel
#TimPutriSalju

Kamis, 02 Juli 2015

Assalamu'alaikum, Bapak...

Ayahanda dari pria kecintaan saya.

Sebelumnya, ijinkan saya berterima kasih atas restu dan doa Bapak. Pertengahan Mei lalu pernikahan saya dengan putra kedua Bapak -Kak Anto- berjalan lancar sesuai rencana tanpa ada kendala. Meski tak dipungkiri kami sangat mengharapkan Bapak bisa hadir dan menyaksikan langsung janji suci kami.

Saya tahu Bapak ingin sekali menghadiri hari bahagia kami, namun apa daya, terbentangnya jarak antar-pulau dan kondisi kesehatan Bapak kala itu sama sekali tidak memungkinkan. Sebagai gantinya kami sudah menerima berkat dan doa-restu dari Bapak yang diwakilkan oleh Kak Rudi. Insya Allah itu sudah cukup, Pak.

His beloved siblings; your children
Yang tak akan pernah bisa saya lupa, malam, beberapa hari pasca kesibukan pernikahan, Kak Anto mengajak saya untuk menyapa Bapak via telepon. Bertukar kabar, sekadar memberitahukan situasi kami terkini. Dia ingin mengenalkan istrinya ini kepada ayahandanya. Dia ingin suatu saat istrinya ini bisa bertemu dengan bapaknya.

Cita-cita Kak Anto menjadi cita-cita saya juga.

Dia banyak bercerita tentang Bapak. Tentang ibu dan adik-adik. Tentang keluarga di Senipah. Saya hanya bisa tersenyum tatkala memperhatikannya bercerita. Kak Anto tampak begitu senang dan bersemangat ketika menceritakan hari-harinya di sana. Tempat-tempat menarik dan budaya setempat yang belum pernah saya tahu. Namun saya seperti bisa membayangkan. Saya seperti sudah dekat dengan keluarga Bapak sekalian.
Ahh... Mungkin dia rindu Bapak. Barangkali dia ingin pulang ke tanah Kalimantannya. Bisa jadi sayalah alasannya untuk pergi, dan kini dia ingin kembali.

Kak Anto menyuruh saya menyapa Bapak, membicarakan satu-dua hal untuk kali pertama. Apa yang harus saya katakan? Ada rasa malu dan canggung. Sudah lama saya tidak membicarakan hal-hal pribadi dengan orangtua laki-laki. Orangtua suami secara otomatis akan menjadi orangtua istri juga, kan? Maka beruntunglah saya, karena sekali lagi diijinkan memiliki sesosok orangtua laki-laki. Saya senang karena berpikir akhirnya saya bisa punya seorang bapak.

Apakah pemikiran saya tersebut terlalu lancang, Pak?

Saya kehilangan ayah saya hampir sebelas tahun lalu, saat saya berusia tigabelas dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Bisa dibilang masa kanak-kanak saya harus terhenti di situ. Saya harus bisa fight sebagaimana ibu saya yang berjuang sendirian sebagai single-parent.

Saya berusaha mandiri, tapi bohong jika saya bilang tak pernah merindukan ayah. Saya amat sangat rindu beliau, tapi cukup hati saya dan Tuhan (dan sekarang ditambah Bapak) saja yang tahu, nanti ibu dan adik-adik saya ikut teringat dan jadi sedih. Saya tidak ingin itu. :')

Saat diperdengarkan suara Bapak oleh Kak Anto via sambungan telepon malam itu, saya benar-benar dibuat kagum sekaligus heran, saya merasa tidak asing dengan suara Bapak.

Ahh... Itu...

Pernah Kak Anto memperlihatkan foto Bapak pada saya, waktu itu mungkin saya sembari mengira-ngira -Bapak yang tersenyum hangat dan ramah dalam foto- bagaimana cara Bapak berbicara? Bapak kan tahu bahwa Kak Anto memiliki aksen bicara yang khas, belakangan saya dapati cara bicara Kak Rudi juga tidak jauh berbeda. Mungkinkah Bapak memiliki nada suara dan cara bicara seperti yang saya pikirkan?

Ternyata sama.

Suara Bapak sama persis dengan yang pernah saya bayangkan. :D Saya benar-benar senang bisa berkesempatan mengobrol dengan Bapak. Meski sebagian besar saya hanya mendengarkan nasehat Bapak demi hubungan rumah tangga saya dengan Kak Anto. Terima kasih, Pak. Saya akan selalu mengingat dan berusaha melakukan apa yang Bapak sarankan. :')

Oh iya, Pak. Foto-foto pernikahan kami sudah selesai cetak. Kak Anto berniat mengirimkan sebuah album foto -yang ada kami sebagai pasangan mempelai bersama keluarga besar- pada Bapak. Dia bilang akan segera memaketkannya ke Senipah...

Tapi Pak, belum sempat suami saya pergi ke kantorpos guna memaketkan album foto pernikahan kami untuk Bapak -seperti tak sabar- sore tadi dia sudah terbang dari Bandara Juanda menuju Bandara Sepinggan, Kalimatan. Kak Anto terbang pulang menemui Bapak.

Kak Anto bergegas pulang ke Senipah begitu mendapat kabar kesehatan Bapak makin memburuk. Anak mana yang kuasa hatinya mengetahui kemungkinan terburuk; tidak akan bisa bertemu dengan orangtuanya lagi?

Kak Anto sangat menyangi Bapak. Dia sangat mencintai bapaknya.

Kenapa Bapak tidak bisa menunggunya sebentar saja? Sebentar lagi saja...

Dia belum sempat menyampaikan perasaannya pada Bapak. Dia belum sempat memberi dan memperlihatkan pada Bapak album foto pernikahan kami. Dia belum sempat memamerkan betapa tampan dirinya saat mengenakan busana pengantin...

Dia belum sempat berkata, "Pak, ini Riza, istriku. Bagaimana menurut Bapak?"

Terlambat satu jam. Terlewat satu jam dan tak seorang pun dari dia atau saya bisa bertemu muka dengan Bapak untuk selama-lamanya.

Barangkali Tuhan mencukupkan rasa sakit Bapak di hari ini. Agar Bapak tidak perlu banyak menderita lagi. Semoga kesakitan terakhir Bapak hanya ada di sini, semua tertinggal di sini, dan Bapak cukup berbahagia saja di surga. :')
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu...
Marhaban yaa ramadhan... Insya Allah segala amalan badah Bapak diterima oleh-Nya. Aamiiin ya robbal 'alamin...

Wassalamu'alaikum, Bapak...
Semoga suatu saat Tuhan berkenan mempertemukan kita ya, Pak. *^_^*



Kota kecil Mojokerto, 1 Juli 2015
Menantu Bapak nomor dua


Panggil saja Riza

Jumat, 26 Juni 2015

google.com/+RicchanAuliya

Hai haiii~~ 
Welcome to my Rumah Singgah Kucing Hitam with its newest email ever: ercehauliyasari@gmail.com *plokplokplok* Berkenaan dengan itu, akun Google+ ku juga ikut berubah. Sesuai keinginanku sih, tapi jadi sepi... :'( Hikshiks (Why? Read here)

Sudah cukup lama berlalu sejak blog ini turut berganti author, tapi baru akhir-akhir ini saja aku sempat men-sync-kannya dengan Google+ bahkan still can't believe I could get my former ID+RicchanAuliya yeii! :)) 
akhirnyaaa~~
Honestly, dari sejak awal bikin akun Google+ pasca pindah alamat email dengan terdaftarkannya alamat email baruku, sudah terpikir akan mengganti ID-nya sekalian. Soalnya pas di ryeongllya@gmail.com dulu langsung bisa, langsung dapat otomatis (kayaknya). Tapi yang ini enggak. Sudah sering coba utak-atik setting-annya, belum berhasil juga.

Karena sesuatu sudah ada masanya sendiri-sendiri, hingga kemudian pikiranku teralihkan dan lupa, tahu-tahu dapat notifikasi dari Google, it wanted me to agreed and take the +RicchanAuliya ID. Sangar, kan?  xD 

Sempat ragu dan penginnya pakai ID 'ercehauliyasari' saja, etapi itunya(?) nggak mau di-rename. :/ Akhirnya daripada nggak di-accept, lalu suatu saat 'RicchanAuliya'-nya terlanjur dipakai orang lain, kan syedih sekali. And yah, it's always great of being myself however, and could get back my old ID like it did made for only me. ^^

Semacam de javu, namun barangkali nggak akan sama dengan yang sebelumnya. Anw, I can say it was a one kind of accomplishment of mine. Hehehe... Biar sajalah diriku sedikit bersenang-senang atasnya. *norak* :Dv

Selamat ber-Jumat mubarok! Selamat berbahagia... Kiss~kiss~ :*

Kamis, 25 Juni 2015

Another Thursday

Sore Mojokerto terik sekali. Apa kabar puasa hari ini? Hari kedelapan Ramadhan, semoga tetap dilancarkan dan dimudahkan hingga akhir. Aamiiin...

Bulan puasa pertama nggak lagi single. Tahun ini seluruh aktifitas Ramadhan dilakukan bareng suami. Mulai dari sholat tarawih di masjid, makan sahur, mengaji, tidur lagi usai subuhan *hehehe*, hingga menanti adzan maghrib untuk berbuka. Yang demikian itu sungguh Masya Allah sekali rasanya... ^^ Hihihihi

Alhamdulillah, nggak sedikit kemajuan kami alami, di antaranya: kami mulai membiasakan pergi-pulang tarawih rumah ke Masjid Al-Akhiyar yang berada di ujung perumahan dengan berjalan kaki. On-time pula! Jadi bisa istiqomah sholat sunah juga. Hebat, kan? *maaf, bukan dengan nada sombong*

Padahal sebelum-sebelumnya jangankan jalan kaki dan menyempatkan sholat sunah, naik motor pun, kami serumah (tahun lalu bareng Tantit) kerap nututi, ketinggalan 1-2 rakaat sholat Isya'. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, kok bisa, ya?? Parah. :(

Selama 8x sahur, Alhamdulillah nggak ada satupun yang terlewat. Kami bisa bangun tepat waktu (antara jam 03.00 - jam 03:30, sementara imsak jam 04:10 dan subuh jam 04:20), saling membangunkan lalu makan sahur sama-sama.

Usai subuh, jika semua pekerjaan rumah sudah beres dan nggak ada agenda lain lagi, kembali merajut mimpi merupakan alternatif yang sangat kondusif(?). Eto~~ sayangnya aku sama sekali bukan tipikal yang senang bangun pagi lalu ber-tadarus pagi-pagi. :'( Punya kebiasaan buruk serupa? Baiknya mengalokasikan tadarus setelah sholat maghrib atau sepulang tarawih sampai sengantuknya. Hehe... Semoga suatu saat aku bisa ada perbaikan di titik ini. :(

Semenjak diantar-jemput suami, terlambat ngantor adalah makhluk langka bagiku. Hehehe... Ya itulah salah satu manfaat hidup berpasangan. Saling mengingatkan, saling bantu mengurangi potensi kejelekan pasangannya. Insyaa Allah aku dan suami tengah belajar untuk itu. *^_^*

Jika dihitung, barangkali ini adalah kamis ketujuh pasca ijab-qobul kami. Puji syukur Alhamdulillah... Rahmat Allah senantiasa menyertai kami sekeluarga. Meski ada satu-dua permasalahan atau konflik terjadi, beruntung bantuan-Nya selalu datang dan memberikan jalan keluar terbaik untuk semua. :)) Berkah Ramadhan, eh?

Menunggu ashar. Menunggu jemputan. Menunggu bedug maghrib. Semoga apa yang kita kerjakan seharian ini bermanfaat. Mudah-mudahan kebaikan selalu bersama kita semua, ya. Kiss kiss :*

Jumat, 12 Juni 2015

Excuse My Moody-Self

Pokoknya harus ndang diposting. Haruuusss!! (ノ゚0゚)ノ~ hehehehe... *keplak*

Anggaplah saya sedang galau, dan ini barangkali hampir mendekati klimaksnya. :( Ahh, apa, ya? It's like the weather is so terrible but I don't have any clue what to do. Geje, kan?

Alternatif curcol via media sosial sudah sering kulakukan, but still there's a deep hole I can't full-fill no matter hard I tried. It's such an emptiness, I can tell. Sesuatu yang pikirku akan bisa (segera) hilang seiring dengan waktu dan pertumbuhanku, but hell no. It is existing.

Dan jika jalan keluar ini nggak segera kutemukan, satu hal yang pasti, jumlah draft mangkrak dalam blog ini akan semakin banyak saja. Hahahaha... Sudah nggak lagi bernafsu melanjutkan bahasannya, tapi terlalu sayang untuk membuang.

Jadi bahasan ini memang hanyalah sampah semata yang entah baiknya kulampiaskan ke mana. It's end up here at least. Tapi paling nggak 'sampah' ini masih tertampung, nggak hilang berserakan, meski berpotensi mencemari.

Setidaknya aku (sedikit) puas. Atau mungkin aku mengira sudah bisa puas.

Minggu, 31 Mei 2015

Wonderful May

Hai haii~
Belakangan penyakit randomku kumat lagi, and that's why I just can start writing (and posting) again today. Maklumiin~~

So how's life?
Alhamdulillah, I'm pretty well. You know I have a quite good imun, this far I guess I'm okay, the only problem of me is my random-mood, actually. Hehehehe...

Penyesuaian, kiranya yang tengah kuhadapi sekarang ini. Pasca menikah, bersuami -sekaligus berstatus istri orang- tentu sedikit banyak mengubah hidupku. Fisik dan psikisku nggak lagi sama, demikian juga sikap dan pemikiranku. Meski kata Oppa sifat ceroboh dan mbulet-ku belum bisa hilang. :(

Honestly, menikah menjadikan pribadiku seperti 'terbagi' tiga; aku sebagai diriku, aku sebagai anak sulung ibuk, dan aku sebagai istri Oppa, lengkap dengan tanggung jawab pada 'mode' masing-masing. Yang ingin kukatakan adalah berbagai situasi bisa sering muncul dan memposisikanku di sudut padang yang nggak gampang. Orangtua atau suami? Seleranya atau seleraku? Bisakah aku menyelesaikan 'ini' selagi mengerjakan 'itu'?

Susah? Jelaaas... Berada di 'tengah' membuatku selalu berpikir berkali-kali sebelum memutuskan sesuatu, agar sebisa mungkin jangan sampai ada salah satu pihak yang terluka. Karena sejatinya sebagai istri, aku harus menomorsatukan suami; sebaliknya ada kalanya kemauan orangtua (yang kebetulan bertentangan) nggak sepenuhnya salah. Orangtua seumur hidup pasti lebih mengenali anaknya daripada pasangan yang 'baru-baru ini' kan?

Eh, malah tjurhat... xD

Begitulah... Tapi alhamdulillah semuanya masih aman terkendali dan semoga ke depannya selalu tetap begitu. :))

Mei berakhir hari ini. Jika bisa di-kaleidoskop untuk sebulan ini saja, pasti banyak peristiwa unik penting yang patut dicatat, baik itu mengenai jurnal pribadiku pun berbagai aktifitas lain di sekitarku. Beberapa (sangat) membahagiakan, melegakan, penuh haru, feel blessed, wonderful, so amazed. Ada pula yang menimbulkan rasa cemas, ketegangan, sedih, feeling guilty, hingga yang mencengangkan, unexpected, unbelievable moment.

May has been really awesome for me and it did give so many experiences and knowledge of life. I grow up. Wiser. Thanks a lot. Thanks to you. :*

Senin, 04 Mei 2015

Save The Date!

Our Wedding Invitation has done... (●♡∀♡)

Alhamdulillah, wa syukurillah... Nggak henti-hentinya aku berterimakasih sama Allah. Perlahan tapi pasti dan terkendali, persiapan-persiapan kami satu per satu mulai membuahkan hasil yang baik. I'm a perfectionist, jadi kebayang bagaimana pusingnya menentukan semua hal hingga ke detil terkecil, demi kelancaran pernikahan kami kelak. 

Dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga, kami mempercayakan bagian-bagian krusial kepada ahlinya, dalam hal ini Wedding Organizer dan pihak percetakan. Intinya menganut prinsip ekonomi: dengan bujet seminim mungkin semoga kami bisa mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Huahahahahaa... *keplak*

Minimalis Nasionalis, demikian menurutku konsep yang kami usung. Sederhana dengan sentuhan kekeluargaan, karena tentunya kami akan banyak melibatkan orang-orang terdekat. Sama-sama berasal dari keluarga besar, kelak pasti akan muncul keberagaman selera dan budaya. Maka kami putuskan untuk menyeragamkan semua aspek sesuai Bhineka Tunggal Ika. Mulai dari ijab-kabul, prosesi Temu Manten (eh, yang ini nuansa Jawa-Muslim ding), kostum, menu makanan, hingga dekorasi semuanya akan serba 'Indonesia' tanpa mengutamakan yang satu dan mengabaikan yang lain. *tepuk tangan*

Oom Fir sangat berjasa mengenalkan kami pada Pak Eli Yuwono selaku Wedding Organizer, sedangkan desain dan cetak undangan kami pasrahkan kepada percetakan belakang rumah yang sangat sabar dalam melayani kecerewetan kami pun ekonomis sekali biayanya. x)) 

Sadar nggak punya banyak waktu, kala itu aku dan Oppa bergegas menindak persiapan serba-mepet kami. Actually we both didn't have any special request -kartu undangan misalnya- dibantu ibuk yang membawakan berkardus-kardus contoh undangan dari Pak Parlan -sang empunya percetakan belakang rumah- kami segera menemukan yang sekiranya sreg di hati.

Selembar kartu undangan berseri Adam125 warna cokelat keemasan ini menjadi pilihan kami. Selain bernuansa natural dengan ornamen unik tapi tidak berlebihan, bentuknya yang sesimpel tiga lipatan saja (Oppa benci dengan packaging kartu undangan yang terlalu ribet dan membingungkan untuk dibuka/dibaca) tampak sederhana dan praktis. Semua space pada undangan ini Inshaa Allah nggak ada yang sia-sia. Semuanya berguna: terdapat perincian mengenai penyelenggaraan akad dan resepsi, penggalan QS. Ar-rum, juga kutipan doa Nabi Muhammad SAW untuk pernikahan putrinya. Apalagi di bagian belakang kartu sudah tersedia space yang lega, yang memang akan kami gunakan untuk peta lokasi. Padat, sarat manfaat, kan? ;)

April 2015 bisa jadi bulan paling capek dalam sejarah hidupku. Demi keberhasilan Mei ini, aku, Oppa, ibuk, dan banyak pihak lain harus rela waktu istirahatnya tergadai, menggunakannya untuk merampungkan ketidaksempurnaan persiapan di sana-sini:
The map. Venue-nya gampil, kok.
1. Booking venue
2. Fix katering dan dekorasi
3. Kartu undangan
4. Souvenir dan stiker
5. Suguhan/konsumsi
6. Kru
7. Kebersihan
8. Teknis
9. Lain-lain

Phew~~ ( p_q)

Aku tahu serewel apa diriku, jadi setiap sebelum/sesudah mengutarakan request selalu kutambahkan, "...ini jadinya dibeginikan bisa kan, Pak? Maaf ya, Pak. Jenengan yang sabar punya klien yang cerewet kayak saya." Hahaha...

Tapi kata (sejumlah) orang, aku ini termasuk yang nggak rewel-rewel amat, masih banyak oknum yang jauh lebih ngeselin daripada aku dalam hal pilih-pilih. Hehhe... Sebut saja soal menu katering, detil dekorasi, bahkan custom undangan. Pak Eli dan Pak Parlan mengiyakan.
"Sampean niki tasih mending, Mbak. Sing luwih cerewet lan ngribeti daripada sampean wonten. Kulo sampe ampun-ampun." LOL
Perihal tamu undangan juga nggak kalah memusingkan. Secara baik aku maupun Kak Anto sama-sama berkeluarga besar, belum lagi sanak kerabat dari keluarga ayah-ibuk, Mbak Bapak-Mbah Buk, juga Mbah Nawawi dkk. Double combo! x_X

Sempat terjadi perselisihan antaraku dan ibuk. Selain keluarga besar, saudara, kerabat, dan tetangga, ibuk juga ingin mengundang rekan kerja, serta teman-teman bersosialisasinya. Bukannya aku nggak punya teman-temanku sendiri untuk diundang, kan... :/ Teman sekolah, teman main, teman komunitas, rekan kerja, dll. Belum teman-temannya Oppa juga. *ketip-ketip*

Tapi mungkin salah satu keuntungan berjodoh dengan teman sendiri adalah teman-teman kami yang mayoritas sama. xP Teman dia adalah temanku, temanku juga temannya dia. Hemat, deh!

Maksud hati ingin berbagi kebahagiaan dengan semua orang yang kami kenal, apa daya keterbatasan tidak mengijinkan. :( Atas nama Riza Chanifa Auliya Sari dan Chairul Dwi Cahyanto yang akan segera melangsungkan hajat, kami mohon doa restu. Saling sambung harapan baik selalu. :* :*