Rabu, 04 Februari 2015

Surat Untuk Oppa

Annyeong, Oppa! <Halo, Oppa!>
Jaljjinaesseoyo? Jinjja oremaniyo... <Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali, ya...>
Neomu bogoshipoyo, Oppa~ <Aku kangen sekali padamu, Oppa~> Oppa kangen padaku juga, tidak?

Sudah lama sekali kita tidak berkomunikasi, eoh? Mmm... Barangkali sejak kau mulai serius dengan Unni itu, dan aku juga fokus dengan namjachingu-ku. Tapi berbeda denganku, Oppa sepertinya benar-benar tidak bisa meluangkan waktu meski sedikit saja untuk sekadar menyapaku. Gwaenchana, memang sudah seharusnya kau lebih mementingkan yeojachingu-mu daripada aku yang cuma seorang dongsaeng 'angkat' bagimu. ^^ Hehehehe...

Benar-benar sudah lama sekali, sejak pertama kali aku memberanikan diri menyapamu via message Facebook. Ingat tidak? Oppa dulu adalah seorang admin di fanpage Ryeowook Super Junior Lover –Ryeosomnia. Satu-satunya dan pelopor admin cowok! *tepuk tangan*

Kala itu aku begitu takjub, kagum, sekaligus penasaran. Jarang sekali aku menemukan namja yang mengakui dirinya seorang K-Popers. Apalagi Elf. Apalagi Ryeosomnia. Dan menjadi admin di fanpage pula! Jinjja daebak! Uri oppa jjang!! >w<

Di antara sekian banyak admin yang selalu online bergantian selama 24 jam 7 hari seminggu, lambat laun aku mulai memperhatikanmu. Mengingat karakter dan pembawaanmu ketika bertugas menjadi admin. Aku merasa bisa langsung tahu itu dirimu sekalipun kalian semua menggunakan ID pengganti. Kau menggunakan 'Ryeogant' sebagai identitasmu.

Kau tahu tidak, kalau dulu kau sangat susah distalking, Oppa? Dasar sok misterius! Beruntung ketika ada sesi #AskAdmin aku berhasil mendapatkan akun Facebook pribadimu. (≧∇≦)っ

29 Januari 2013. Chat pertama kita bahkan masih tersimpan. Mengendap di antara banyaknya chat-chat iseng yang terlalu malas untuk kuhapusi manual satu per satu.

Berawal dari sana, hubungan kita 'naik kelas' menjadi teman curhat via sms dan Whatsapp. Aku sudah seperti tempat sampah bagimu, sebagaimana kau sudah kuanggap sebagai kotak harta karun yang menyimpan berbagai perasaan yang tidak mudah kubagi dengan sembarang orang.

Berdua kita saling menggosipkan artis-artis Korea, bertukar info tentang single terbaru Suju, juga berkeluh kesah tentang kejombloan kita, dulu. Obrolan yang membuatku tertawa-tawa sendiri tengah malam.

Minimal seminggu sekali Oppa menelepon. Seringkali saat tak bisa tidur, atau ketika mendapat bonusan sehabis mengisi pulsa. Jika sudah begitu kita berdua pasti akan mengobrol sangat panjang, melintasi malam, sampai salah satu di antara kita jatuh tertidur.

Ahh, itu cerita lama. Kini Oppa ada di mana aku tak tahu. BBM-mu centang tak berkesudahan. Sudah ganti ponsel, atau Oppa sengaja menghapus pinku? Sekalipun keadaan kita yang seperti ini sama sekali tidak membuatku senang, tapi jika kau menghendaki begini, tidak apa-apa.

Baik-baik dengan unni yang sekarang, ya. Semoga dia tidak seperti ex yeojachingu-mu yang lalu-lalu. Jika Oppa membaca ini, boleh lah kita saling berkontak lagi.

Tetap jadi Gantppa-ku, eoh?



Sapphire Blue Ocean, 4 Februari 2015,


Ryeongllya –Ryeosomnia, neo yeongsaeng
Surat Ke-6 #30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 03 Februari 2015

So Long and Good Night

Dear, Finisha, gadis chubby nan manis berambut hitam lurus dengan poni nyaris menutupi sepasang mata yang sipit.

Masihkah kau sama seperti yang terekam dalam memoriku? Bilangan tahun berlalu tanpa kita saling bertemu. Dan sebatas sapaan via dunia maya menjadi gantinya. Kuharap di mana pun kau berada sekarang, itu adalah sebaik-baiknya lingkungan dan kehidupan bagimu, meski mungkin yang demikian berarti kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi.

Finisha yang kukenal adalah anak perempuan teman sekelas di 1E yang pemalu namun begitu polos dan baik hati. Sama sepertiku, kau pun gemar menonton film kartun dan anime. Senang mengumpulkan bermacam-macam komik juga Serial Cantik. Di jam-jam kosong dan waktu istirahat seringkali kita heboh bertukar cerita dan mengomentari episode Minky Momo atau Hunter X Hunter yang tayang malam sebelumnya. Pikirku itulah yang membuat kita berdua bisa nyambung mengobrol lama, meski sebenarnya banyak teman-teman lain yang lebih dekat denganmu daripada aku.

'Finish' dari Finisha. Kami sekelas curiga bahwa kau seorang bungsu. Itu menjelaskan bagaimana tingkah lakumu bisa sangat cute dengan kemanjaan yang wajar. Aku ingat kami pernah mengolokmu, "Dinamakan Finish(a) karena kamu anak terakhir. Tapi gimana kalau suatu saat mamamu melahirkan bayi lagi? Nggak jadi finish, dooong... " dan tawa kami makin menjadi ketika melihat wajah bulatmu berubah merah padam, menahan kesal. Kami tahu kau adalah gadis kecil kesayangan mama.

Ohh, apa kabarnya beliau? Sudah lama sekali tidak bersilaturrahmi. Saking lamanya tidak pernah lagi mengunjungi rumahmu, aku bisa saja nyasar bila entah kapan bermaksud main-main ke sana. Hmmm... Mungkin dalam waktu dekat ini. Akan kusempatkan waktu. Makanya, kau cepat pulang.

Aku tidak bisa membayangkan jika ibuku harus berjauh-jauhan denganku, seperti yang kau dan mamamu jalani sekarang. Kuharap beliau bisa segera terbiasa hidup terpisah dengan anak gadis kesayangannya.
Fin, saat aku menulis ini, senja Mojokerto sedang bertemankan deru hujan. Seperti mengerti bahwa kepulanganmu kini adalah yang kali terakhir. Airmata yang saling lebur antara langit mendung dan hati mereka yang bercucuran di bawah atap rumah duka.

Aku, mungkin salah seorang yang ikut menangisi kepergianmu.

Selamat jalan, kawan. Menuju tempat peristirahatan yang terakhir mungkin tidak mudah. Maka sedikit doa dariku semoga bisa melapangkan jalanmu menuju sisi-Nya.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Allahummaghfir laha warhamha wa'aafiha wa'fu 'anha wa aj'alil jannata maswaha...

RIP. Finisha Putri Rizky (1991-2015) @finishaaaaa



Airmata langit Mojokerto, 3 Februari 2015,



Riza Chanifa Auliya S. –teman 1E, Spenda
Surat Ke-5 #30HariMenulisSuratCinta

Senin, 02 Februari 2015

Kepada Malang(2)

Sampai di mana kita kemarin? Ahh, bersenang-senang denganmu selalu saja berhasil membuatku lupa waktu.

Selamat hari senin, Malang!

Aku sudah pulang ke kotaku dengan selamat, dan kembali beraktifitas di kantor hari ini. Perjalanan kemarin membuat tubuhku amat sangat lelah, tapi kau berhasil membuat hati dan jiwaku seolah tersegarkan kembali, penuh sesak oleh bunga-bunga bahagia.

Sebagaimana kau tahu hujan kian menderas sejak kami menyusuri Jalan Gajayana menuju Soekarno-Hatta. Beriringan memacu dua motor yang membawa kami berempat yang menggigil dari balik jas hujan masing-masing. Ingin sekali menyempatkan mampir. Sekadar mengeringkan diri dan mencicipi beberapa kuliner di sepanjang jalanan yang membawa kami keluar dari Malang kota. Namun sempat tak kunjung didapat. Bagaimanapun kami harus meninggalkanmu. Selekasnya bertolak menuju Mojokerto.

Ahh, andai saja jarak antara kau dan kotaku hanya sebatas lebar Kali Brantas.

Kau tahu, pada malam sebelumnya, ya, Sabtu malam sebelum hari keberangkatan. Aku merasa begitu cemas. Tidak hanya bersama Ibu dan Aya, kali ini Kak Anto juga ikut bersama kami. Tidakkah formasi kami mengingatkanmu pada kejadian dua tahun lalu?

2 Juni 2013. Hari Minggu.

Otakku tak sudi lupa. Perjalanan perdanaku bersama keluarga dan kekasih ke Malang. Tentu saja Ibu yang meminta Kak Anto untuk memboncengiku, karena tidak tega membiarkanku menyetir sendiri pergi-pulang Mojokerto-Malang.

Yang aku menolak ingat, bagaimana egois dan serakahnya diriku yang sudah menyeret lelaki itu dalam keruwetan masalah intern keluarga kami. Kak Anto boleh jadi kekasihku, tapi isi kepalanya tetap miliknya.

Pikirku perjalanan sehari penuh tersebut adalah sebaik-baiknya kebersamaan kami melintasi waktu. Tapi kala itu, rupanya Kak Anto tidak berpikiran sama. Kau tidak tahu kan, kalau setelah itu kami sempat bertengkar hebat?

Sejak itu hubunganku dan Kak Anto memburuk, lost contact selama beberapa hari, dan saat aku bermaksud memperbaiki hubungan kami dengan mendatanginya di akhir pekan, semua sudah terlambat. 

Ia bilang tidak butuh seorang kekasih yang tidak membutuhkan dirinya. Tidak butuh seorang kekasih yang egois dan minim perhatian. Yang tidak peduli pada kondisi kesehatannya. Seorang gadis hanya mau keinginannya didengar, tapi enggan mendengar keinginan pasangannya. 

Ia (bilang) tidak membutuhkan aku. 

Lalu dari ibunya aku tahu, Kak Anto jatuh sakit sepulang dari Malang. Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Apa beliau pun mengira aku pelakunya? Hatiku sakit. Apa Kak Anto juga menyimpan kesakitan yang sama? Ingin sekali aku berlagak lupa bahwa sepanjang malam minggu itu ia bersamaku, dan tidak tidur sedikitpun hingga waktu janjian karena shift malamnya.

Ya Tuhan... Andai aku tahu ia sedang tidak enak badan dan benar-benar sakit. Andai aku tidak bersikeras menghadiri pesta pernikahan teman, dan memilih tinggal bersamanya. Andai aku lebih peka dan peduli. Andai aku bisa membujuk Ibu agar tidak memaksanya menemani kami ke Malang. Andai aku tidak perlu mengunjungimu lagi, Malang! 

Aihh, sungguh malang, namamu Malang.

Benar. aku pernah menyesali perjalanan kami yang rupanya berujung pada sakit hati. Aku menyalahkanmu. Hampir-hampir benci untuk kembali. Tapi bagaimanapun aku tetap merindukanmu, dan di sisi lain takut seandainya keping-keping hatiku yang sudah susah payah kukumpulkan akan terserak lagi begitu aku mengingat kejadian itu.

Ya, akulah si pengecut yang melimpahkan sebab kesedihannya padamu. Mungkinkah aku masih berhak untuk meminta sedikit maaf? Kau tahu kita terlalu akrab untuk saling mengabaikan. Jadi, mohon maafkan dan selalu terima diriku tiap berkunjung ke kotamu. Terima kasih.

Maka biar kuberitahukan padamu, Malang. Meski tidak selalu, tapi bagi kami waktu sangat berperan dalam menyembuhkan. Walau tidak sebentar. Sekalipun harus tersesat kesana-kemari lebih dulu, tapi sekali lagi, kami bisa saling menemukan.

Dengan perjalanan seharian kemarin, luka-luka kami pun akhirnya sembuh sama sekali. Dan kami, akan selalu punya alasan untuk kembali. Demi menjumpaimu. Untuk berbagi tawa bahagia di bawah langit Malang yang gemintang usai hujan. Lagi dan lagi.



Mojokerto –sepulang dari Malang, 2 Februari 2015,


Liya –yang ingin kembali ke kotamu
Surat Ke-4 #30HariMenulisSuratCinta

Minggu, 01 Februari 2015

Kepada Malang

Halo, Malang!

Sudah lama tidak bersua, bagaimana kabarmu? Masih berhawa dingin, kah? Masih asri dengan aneka penganan unik yang mengundang seleraku, kah?

Hari ini aku kembali. Hendak menapak tilas ruas-ruas jalan sarat kenangan antara kau, aku, dia, dan mereka. Secuil ingatan yang mengekalkan diri pada sudut hati. Yang betapapun tak ingin kuratapi, namun tiap kali kuinjakkan kaki ke tanah ini, hal-hal yang berkaitan dengan ingatan tadilah yang akan selalu muncul.

Sebuah ingatan yang sekalipun pahit tapi Tuhan sudah memberiku penawarnya aku bersedia.

Sebentar lagi. Aku masih dalam perjalanan. Tunggulah.



Melawan hujan, 1 Februari 2015,


Liya –yang ingin lebih lama berada di kotamu
Surat Ke-3 #30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 31 Januari 2015

Sayonara

Kepada Januari,

Tahun ini pun, terima kasih sudah datang. Meski bukan dirimu yang sebenarnya ingin kutemui, aku tidak pernah menyesal. Tiga puluh hari yang kita lalui, sudah memberiku lebih dari cukup. Well, bohong jika kubilang setiap hari merasa senang. Tapi sungguh, banyak hal berharga sekalipun berasal dari luka yang kuterima dari hampir sebulan kebersamaan kita.

Ingatkah saat kita akhirnya bertemu kembali? Ya, seseorang yang waktu itu bersamaku adalah kekasihku. Ikut menunggu demi terus menemaniku yang sudah tidak sabar untuk segera mengenalkannya padamu. Kala itu kukatakan padanya, bahwa kehadiranmu akan sangat penting dan berpengaruh pada hari-hari kami selanjutnya. Atas keputusan-keputusan yang kiranya akan kami ambil tatkala kau sudah akan pergi lagi dan kami akan bertemu penerusmu sebagai gantinya. 

Tak kutemukan ia ragu pada kepercayaanku padamu. Kusadari ada haru menyusup dalam hati begitu tangan kalian saling menjabat lalu bertukar sapa. Ia sama senangnya denganku, yang diam-diam menaruh harap dan membisik doa, "semoga Januari akan bisa mengantarkan kami pada kebahagiaan yang kami cari."

Dan itulah kenapa aku ingin meminta maaf. Maaf karena sudah seenaknya menggantungkan harapan-harapan besar kami padamu, tanpa peduli hal itu mungkin memberatkan. Harusnya aku tahu, kami bukan satu-satunya pasangan di dunia ini yang menginginkan kebaikan darimu. Jadi apabila kami masih belum menemukan kebahagiaan yang kami sangka berada dekat denganmu, adalah tanggung jawab sekaligus kewajiban kami untuk tidak merasa kecewa, pun menolak menyalahkanmu.

Jika bukan karena kau yang terus menyemangati kami hingga tiga puluh hari kami berlalu bagai mimpi bisakah kau bayangkan semenyedihkan apa kami yang mengira telah kehilangan harapan? 

Kau pasti akan pergi dalam beberapa jam lagi. Maka bersamaan dengan surat ini, biarlah kukubur sedihku di penghujungmu. Agar kelak tidak ada penyesalan dalam kegagalan. Agar tidak pernah muncul sebersit prasangka dalam buket tawa bahagia yang barangkali belum kudapat darimu yang mampu disuguhkan oleh bulan-bulan lain setelahmu. 

Bila kita memang diizinkan bersua kembali tahun depan, kuharap itu adalah giliranku membawakanmu setangkai senyuman. 
Di bawah naungan hujan, akhir Januari 2015, 


Liya anak Maret
Surat Ke-2 #30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 30 Januari 2015

Selamat Ber-#30HariMenulisSuratCinta!

Dear para Abang ketjeh, @catatansiDoy dan @zarryhendrik,

Selamat sore! *salaman*
Salam kenal dariku, seorang newbie di proyek #30HariMenulisSuratCinta. Sudah dua tahun belakangan aku tahu tentang hajatan ini, dan pada 2014 lalu sudah sangat ingin berpartisipasi tapi sayangnya terlanjur ketinggalan start, jadi aku baru bisa mewujudkannya sekarang.
Hajimemashite, yoroshiku onegaishimasu! *bungkuk badan*

Aku cukup senang menulis, dan tentu saja (yang mungkin sedang kalian baca) ini adalah surat perdanaku, yang dengan senang hati kutujukan pada kalian berdua. Jika tersampaikan ya syukur alhamdulillah, tidakpun, hehehe... Anggap saja aku ikhlas bertepuk sebelah follow(?).

Bang @catatansiDoy dan Bang @zarryhendrik, aku memang tidak mengenal kalian berdua secara personal. Bahkan baru saja mem-follow akun twitter Bang @catatansiDoy hari ini, begitu tahu bahwa Abang @catatansiDoy-lah yang menjadi tukang posku. xP Doakan agar aku tetap istiqomah menulis surat setiap hari ya, jadi Abang akan sering-sering melihat (akun)ku yang kian aktif dan produktif. Jangan lupa di-RT juga, ya. *dilempar keyboard*

Tapi aku memang followermu, Bang @zarryhendrik, meski sampai sekarang aku belum paham benar, Abang ini 'cuma' selebtwit atau memang selebriti layar kaca juga, sih? Sepertinya tenar sekali. Huahahaha... xD *follower durhaka* But since we are in the same red Merseyside, I'll always walk with you. \m/ #YNWA

Bang Z tadi sempat mention @PosCinta minta dikirimi surat, kan? Nih, sudah dapat. ;)

Sejujurnya, proyek #30HariMenulisSuratCinta ini baru kutahu saat scrolling timeline-nya Bang Z, dengan sedikit mencuri waktu luang di sela-sela jam kerja yang untungnya bisa diajak kompromi di Hari Jumat. Tak ingin membuang kesempatan dan terlambat seperti tahun lalu, segera kuyakinkan diri untuk ambil bagian tahun ini, cepat-cepat menulis surat sebelum batas waktu ditutup. Jadi mohon maklum ya, jika menurut kalian isi suratku demikian randomnya. Semoga besok aku bisa menulis surat yang lebih baik lagi. >_<

Akhir kata, senang bisa menulis sebuah surat untuk kalian. Jyaaa ne! *bungkuk* *tabur kissbye*



Mojokerto, 30 Januari 2015
Surat Ke-1,


Liya dari @ercehauliyasari

Rabu, 21 Januari 2015

8elonging Each Other

21 Januari! *tepuk tangan*

Rasanya baru kemarin bertahun baru, dan semingguan lagi sudah akan berjumpa Februari. Time flies surely fast!

2015 kami dimulai dengan segala yang baik. Berharap ke depannya pun, kami akan tetap seirama dengan kebaikan-kebaikan yang membaikkan diri dan masa depan kami. Perlahan tapi pasti, kami sudah memiliki peta masa depan kami sendiri. Diam-diam tapi pasti, sedikit demi sedikit kami pasti akan bisa mewujudkannya. Inshaa Allah, aamiiin...

Aku tahu aku sudah mengacaukan malam ini. Entah kapan tertidur, begitu kubuka mata, Chagiya sudah berkacak pinggang tepat di depan pintu kamarku yang terbuka lebar. Ia nyengir, memamerkan deretan gigi-giginya yang asimetris tapi super-manis.
"Baru bangun? Cuci muka dulu sana, Yank," ia beranjak ke ruang tamu, dengan masih memperdengarkan suara tawanya yang khas. 
Aku mencelat ke kamar mandi, mencuci muka dan bersiap seadanya. Tidak ada orang yang senang menunggu terlalu lama, kan. Aisshh... Bisa-bisanya aku tertidur menjelang jam janjian! *mianhae Chagi* T__T

Lapak crepes yang dimaksud Chagiya terletak di perempatan jalan raya Ijen-Semeru, semerk dengan crepes yang pernah kubeli di daerah perumahan Gatul. Varian rasanya banyak! xD Kami membeli 5 rasa berbeda: chocoberry, chocochips-cheese, chococheese, keju-mesis, dan sosis-keju-pedas. *nomnom*

Gerimis mulai turun saat kami memesan terangbulan rasa chocoberrycheese dan ketan hitam recomended by Chagiya. Saat akan pulang, langit tahu-tahu cerah kembali, sehingga alih-alih pulang, kami bertolak ke arah kota.

There are some stuffs in our checklist that haven't completed yet, like: baju manset (putih dan hitam), jilbab (putih dan merah), towel, and underwear. I had no idea of the white manset and the veils. We didn't find anything at the first shop, but alhamdulillah we got the black manset and a set of cutie underwear in our second stop.  Sebenarnya Chagiya ingin membelikanku handuk model baju, tapi urung karena kubilang aku sudah punya yang model biasa tapi bermotif lucu, so we don't need to buy it again. :3

Chagiya teringat wacana kami soal membuat kemeja untuknya sebagai couple dari dress milikku. Lantas kami masuk ke sebuah toko kain dan membeli 2 meteran kain berwarna biru dan marun dengan efek glitter, sesuai keinginannya. Done! Tinggal dijahitkan saja. :)

Keluar-masuk tempat perbelanjaan membuat Chagiya-ku lelah dan haus (karena terus mengekoriku memindai rak-rak baju, hehe), maka aku setuju untuk mampir ke kedai es putar di daerah Benpas sebelum pulang.

Begitu melihat menu es krim aku langsung bersemangat. Memesan paket es krim dengan 3 scoop varian rasa. Komposisi stroberi-vanila-greentea menarik minatku, sedangkan Chagiya mencoba perpaduan rasa stroberi-cokelat-nangka untuk es krimnya, plus memesan 2 apem-londo dibawa pulang. Belum habis es krim, Chagiya dan aku sepakat akan porsi es krim yang di luar perkiraan.
"Kelihatannya aja scoop-nya kecil ya Yank, tapi pas dimakan kok kayaknya nggak habis-habis?" selorohnya lugu yang segera kuiyakan. Kalau saja sudah makan malam, aku pasti tidak akan bisa menghabiskannya.
Dalam hati aku sangat bersyukur sudah berhasil membujuknya agar tidak membeli kue putu, 'cause as you know, makanan yang kami beli tadi sudah cukup banyak tanpa harus membeli lagi, kue putu yang bahkan kami tidak tahu harus beli di mana.

Sesampainya di rumah kami sama-sama terkapar. Chagiya sempat makan malam sebentar sebelum pulang. Kami mengevaluasi perjalanan kami malam ini. Chagiya tampak sangat puas dengan hasil wisata kuliner dan keluar-masuk kami ke toko pakaian. xD

What a wonderful night! *hug*

Well, selamat tanggal 21 kita yang kedelapan, Sayang...
Tetap jadi dirimu yang selalu kusayangi, ya... :*

Minggu, 11 Januari 2015

January no SadTjur-day

Saat memosting ini, aku tengah galau lantaran sudah hampir semalaman koneksi internet Akaharu ngehek. Padahal banyak yang ingin ku-share, but, yaah... I can't help buy keep patient. :(

Sabtu pagiku terlanjur berantakan ketika semua jadwal molor karena harus mengantar Si Tengah kuliah. Dalam perjalanan pulang melewati Bypass, aku sempat terhempas kendaraan besar roda empat yang dengan ngawurnya melanggar marka jalan dari arah berlawanan. Aku 'terlempar' ke jalan tanah dengan Hojo masih pada kecepatan statis.

Hojo melonjak-lonjak pada permukaan tanah yang lebih mengerikan dari sekadar 'buruk'. Bebatuan, pasir, hingga lubang-lubang menganga terpaksa diterjang, dengan aku yang setengah mati berusaha tetap pada kesadaran dan kendali kemudi, merapal doa-doa keselamatan.

I had no ide about what was happening to me, but it was an ekstrem experience for real. Taruhannya nyawa! Seharusnya aku menghentikan laju Hojo daripada terus menerjang 'track' setan tadi. But I just couldn't do what I was supposed to do. Masih diberi kesempatan untuk tetap selamat saja, itu sudah lebih dari cukup. >_<

Ini memberiku pelajaran: manusia seringkali merasa sombong terhadap apa yang sudah berhasil didapat tanpa memahami sesungguhnya kemampuan yang dibanggakan itu bukan miliknya, melainkan pemberian Tuhan yang tidak mustahil akan Diambil kembali sewaktu-waktu.
"Aku kan pembalap!"
See? Pembalap arena profesional saja sangat mungkin mengalami kecelakaan bahkan kematian dalam melakukan aksinya, apalagi aku yang amatiir~~ *mewek*

Ke-tidak-terlalu-beruntung-anku berlanjut hingga di kantor. Ada saja kendala terjadi –yang sekalipun sepele tetap bikin pusing. Evaluasi akhir tahun yang diagendakan juga batal, diganti dengan meeting di kantor berhadiah makan siang. Hehe... :P

Urung merasakan bersantai sambil menikmati pemandangan dan masakan khas rumah makan dataran tinggi, aku justru senang karena tidak perlu galau akan pulang terlambat sekaligus menghapus kemungkinan mangkir dari jadwal nobar. Barakallah! xD *sujud syukur*

Sebelum pulang Ibuk menelepon, memintaku mengantarkan oleh-oleh untuk Memes (calon ibu mertua xP) ke 'rumah timur'. Aku merasa salah dengar. Namun ketika di rumah sudah disiapkan beberapa macam kue dan penganan dalam kardus dengan tas pembungkus cantik, aku nerveous seketika. Kapan kali terakhir aku menampakkan diri di rumah Oppa? 

Sesuai perkiraan, belum separuh perjalanan aku sudah mulas. Gugup. Tiba-tiba merasa tidak percaya diri. *iya lebeh, biarkan* Sengaja kupilih rute luar, berharap bisa sedikit mengurangi ketegangan. Andai aku lupa lokasi pasti rumah Oppa, tapi ternyata otakku memang cerdas di saat-saat yang aneh. 

Buk Mudah tampak baru selesai menyapu halaman saat Hojo tiba di depan rumah yang bagiku begitu familiar dibandingkan rumah lain di daerah itu. Usai menyilakanku di teras seperti biasanya, wanita itu masuk, katanya akan memanggilkan Memes. Aigooo~ makin lama perutku makin mulas! 

Memes (maaf jika kurang sopan, karena Oppa menggunakan kata ganti tsb saat membicarakan beliau denganku dan untuk menghindari rancu dengan panggilan untuk ibuku sendiri. Prakteknya aku, tetap menyebut beliau dengan 'Ibu') muncul beberapa saat kemudian. Syukurlah beliau sudah ada di rumah. 

Aku sama sekali tidak punya persiapan akan mengobrolkan apa. But since Memes and Buk Mudah are so kind, alhamdulilah... pembicaraan kami lancar, terkesan cukup akrab, dan menyenangkan. Sampai-sampai adzan maghrib sudah terdengar dan kami harus pulang meski Memes menyarankanku dan Iis untuk ikut sholat di sana saja. *kan malu, Meeeess... xD

Begitu urusan dengan keluarga Oppa beres, aku amat sangat lega dan bahagia. Ehehehe... Hanya bisa mengucap syukur alhamdulillah, semoga setelah ini pun tetap dimudahkan dan dilancarkan. Aamiiin...

Next: konsentrasi untuk siap-siap nobar! Sunderland vs Liverpool!! Wohhooo~~

Kali kedua nobar di K-ng Ucup pasca cafe tersebut direnovasi. Sayangnya, tidak seperti pada nobar awal tahun lalu, it was messed! :( I hate to say but suasana nobar kali ini jauh dari kata 'hore'. Pasalnya selain peniadaan HTM membuat venue tidak eksklusif, K-ng Ucup serasa bukan markas anak KM lagi, saking banyaknya komunitas gaje yang ikut-ikutan nongkrong. :'( Mana bisa nobar dan ngechant dengan kusyu', kan? >_<
We are Kopites Mojokerto!
Gol tunggal Markovic sukses memenangkan Liverpool atas tuan rumah. Sekalipun permainan The Reds terlihat membaik, tidak ada lagi gol tambahan hingga peluit panjang berbunyi, padahal Sunderland hanya bermain dengan sepuluh orang saja, usai seorang pemain terpaksa diberi kartu merah sebagai kompensasi pelanggaran terhadap tim tamu.
Selebrasi kemenangan kami lakukan dengan berfoto-foto. :D Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali kami guyub seperti ini (biasanya sih, akunya yang ketinggalan karena tidak bisa nobar malam). Alhamdulillah, alhamdulillah~~ :))

Kesimpulan weekend kali ini : "Stay calm and keep (try to always) in positive thinking about everything, though you don't deserve to."

Aku meyakini karena ini memang benar terjadi padaku; jika kita berpikir bahwa hari yang dimulai dengan ketidakberuntungan tidak akan ada kebaikan di dalamnya (sama sekali), memercayainya –yang mana secara tidak langsung akan menjadi doa–, maka kebaikan yang seharusnya bisa datang pada kita pun meski kecil/sesekali– benar-benar tidak akan menghampiri. 
Percayalah terhadap yang baik, maka kamu akan mendapatkannya. Begitupun berlaku sebaliknya. 
Manusia selalu hidup dalam pemikiran dan prasangka. Jadi bahagiamu akan sangat mudah ketika kamu mensyukuri apa yang hidup telah beri padamu dan berbaik sangka bahwa kamu beruntung dengan keadaanmu saat ini, bagaimanapun itu. Maka tidak akan ada istilah 'kurang', melainkan 'lebih baik lagi'. :))

Anw, ini postingan orang ngelantur. Happy weekend, Lads! #YNWA

Rabu, 07 Januari 2015

B(e)tter-Sweet You

Sudah bukan mungkin lagi jika bertemu dan melewatkan waktu bersamamu adalah satu dari beberapa hal yang mustahil membuatku bosan.

Seperti halnya rutinitas pasangan kekasih lain: mengobrol seru via chat, tertawa, berbeda pendapat, berselisih, saling diam dan merajuk, merindukan satu sama lain, lalu berbaikan, dan makin bersahabat erat dari sebelumnya.

Kamu dan aku juga mengalaminya. Hari-hari dengan kegiatan masing-masing yang tidak mudah, tema obrolan yang kadang tidak nyambung, tidak jarang menyulut ketegangan di antara kita. Namun sebagaimana aku memercayaimu, seyakin itulah aku bahwa kita berdua akan selalu baik-baik saja.
"Kamu rese' kalau lagi kangen!"
Maka aku mengajakmu bertemu. Sudah tidak kaget lagi dengan kelakuanmu yang merindukanku tapi tidak mudah bagimu untuk segera menemuiku, lalu merajuk sebagai gantinya. ;) Besok hingga weekend kamu mungkin belum berkesempatan menemuiku, jadi malam ini aku sangat bersyukur berhasil 'memaksa'mu berkeliling kota bersama, hingga pulang larut karena keasyikan ngopi dan mengobrol dengan kawan-kawan kita. ^_^

Untung ibuk tidak (terlalu) marah, ya. Hehehe...

Semoga kamu sesenang aku sekarang. :))

Ummm... have been missing you already. See you soon, Darl. :*

Kamis, 01 Januari 2015

Hey, Future!

2014 terlalu membahagiakan untuk buru-buru dibukukan. Begitu berarti untuk lekas diakhiri. Tersimpan 365 hari sarat kesan di dalamnya. Menyaksikanku bertahan dan berharap. Menumbuhkan kedewasaan, pun mimpi-mimpiku.

Tidak bisa kukatakan bahwa dalam setahun ini aku berkembang dengan sempurna tanpa cela, tapi bisa kupastikan aku sudah tumbuh mendewasa sebaik yang aku bisa. ;) Sungguh, pembelajaran oleh hari-hari di 2014 penuh berkat mana yang tidak penting hingga layak untuk kuabaikan?

Bicara tentang akhir tahun, bicara tentang napak tilas peristiwa 'ter' dalam setahun. Ummm... kaleidoskop?

Terlalu banyak cerita di setiap harinya, dan hampir semuanya bermakna. Jika aku boleh membilang beberapa tanggal, yang paling tidak (akan) bisa kulupakan; 21 Mei, 3 Agustus, 28 November, 6 Desember, lalu 31 Desember adalah beberapa yang kusebut tanpa ragu. :*

31 Desember adalah hitungan terakhir di 2014 ini. Ia bahkan selalu ada di sudut bawah kalender di tiap tahunnya. Tapi yang membuat 31 Desember 2014 berbeda dengan 31 Desember lain sepanjang hidupku adalah seseorang kecintaan tengah bersamaku. Bersama kami menyaksikan detik-detik penghabisan tahun yang kemudian disusul dengan pembukaan tahun baru. Penuh syukur atas segala yang telah kami lalui dan dapatkan di 2014, serta tak lupa menyematkan barisan doa agar apa-apa yang kami rencanakan di 2015 ini berjalan sesuai keinginan dan harapan kami. Aamiiin... :'))

Meski roti bakar dan gelas-gelas teh kami sudah lama mendingin, adik dan para sepupu mudaku masih betah begadang, bermain monopoli, sementara aku dan Chagiya menghabiskan banyak pembicaraan di teras depan sambil sesekali mengawasi mereka yang ribut tentang aturan game. What a joyful midnight! :*

Chagiya pamit pulang menjelang pukul dua dini hari. Usai melihat kembang api yang menyala begitu masuk 1 Januari 2015, 00:00 WIB, kami masih belum puas mengobrolkan apa saja, seolah mengganti waktu selama kami tidak bertemu pada beberapa hari sebelumnya. Hehehe...

Dan sesuai dugaan, karena tidur sangat larut, kami akhirnya melewatkan agenda jalan-jalan dan memilih bergelung di ruang tv sambil menonton. Sebagai gantinya aku mengajak saudara-saudaraku itu membuat es krim bersama dan ikut bermain monopoli.

Hampir lupa kalau malam ini Liverpool akan bertanding kontra Leicester. Kick off jam setengah 9 malam, kira-kira akan berakhir tidak kurang dari jam 11. Pikirku mustahil aku bisa ikut nobar match tersebut.

Kemudian aku baru ingat saat menemukan Rizky bergelung dalam selimut memainkan hp. Hari minggu lalu aku sempat mengajaknya datang ke acara futsal-nya dulur abang, dan dia tampak  cukup tertarik. Kenapa tidak minta ditemani nobar dia saja? :P

Kami menang saat Hojo meluncur di jalanan menuju venue nobar. Alhamdulillah, meski mengomel ini-itu ibuk akhirnya mengizinkan kami pergi. Yang membuatku lebih exited, ini perdana bagiku untuk nobar midnight, dan Chagiya yang sudah bilang akan terlambat nobar, tidak tahu kalau sudah duduk manis di K-ng Ucup lebih dulu.

Dia cuma tertawa sambil mencibir ringan, "Yo ngunu, wes nd TKP nobar nggak bilang-bilang!" dengan aksen bawaannya yang khas. "Penasaran, bilang apa ke ibuk kok boleh keluar malam?" Hahaha... Dasar kurang ajaaarr... xP

Sempat unggul 2-0 lewat tendangan penalti oleh kapten, dan game berlangsung seru, hasil akhir imbang membuat kami sedikit kecewa. Sekalipun tidak melunturkan cinta kami pada Liverpool dan tim, tapi ketidakbisamenangan di kandang menghadapi tim medioker sekelas Leicester juga tidak mudah bagi kami yang selalu menganggap The Reds adalah satu dari tidak banyak tim papan atas Liga Inggris.

Tapi bisa pulang bersama Chagiya cukup untuk meredakan galau sesaatku. ;)

Bagaimana tidak senang, bisa membuka dan menutup hari baru bersama Sang Kecintaan?

Happy 2015! :*