Kamis, 23 Juli 2015

Syawal 1436H

Taqabbalallahu minna wa minkum... Taqabbal yaa kariim...
with hubby
Selamat Hari Raya Idul Fitri!
Ricchan Auliya a.k.a Riza Chanifa Auliya Sari beserta segenap keluarga besar memohon maaf lahir batin atas segala kesilapan baik yang tersengaja maupun yang tanpa rencana(?). *sungkem* *telat* Semoga sekurang-kurangnya diri kita Allah senantiasa berbelas kasih menganugerahkan kita kesempatan untuk kian memperbaiki diri pun akhir yang baik. Aamiiin...

H+6. Sudah mulai masuk kerja (harusnya), tapi...hei, bukannya aku masih punya stok libur 2 hari termasuk hari ini? :P Karena ini-itu I got 2 more off-days, and I write this post while laying on bed. Got kind of insomnia since last nite and turn into headache this morning. Mau move-on dari kasur saja susah betul. Yasudah, lanjut gegoleran hore saja. Alhamdulillah... ( ´∀`)

So how was your holiday, Pals? Must be a quality-family time huh? Banyak yang mudik ke kampung halaman, bertemu dengan orang-orang terkasih yang jarang bisa ditemui. Uri namsaeng -Rizky- had also touchdown in Mojokerto H-1 dan baru balik Malang lagi kemarin sore. Waktu terlalu cepat habis jika dilalui dengan perasaan gembira bareng keluarga. Tahu-tahu Syawal sudah lewat cukup jauh.
Bagaimana rencana membayar 'hutang' puasa Ramadhan lalu?
Ada segolongan yang cenderung 'nanti-nanti' untuk melunasi jumlah harian puasa Ramadhan yang kurang, nggak penuh. "Ahh, baru juga selesai. Masih banyak makanan di rumah kok sudah disuruh puasa lagi," tapi nggak sedikit juga yang memanfaatkan momen Syawal untuk 'sekalian' melunasi hutang puasa Ramadhan dan bersunah puasa Syawal. ;)

Tahun lalu seluruh hutang puasaku tandas dalam sekejap di bulan Syawal. Pikirku untuk apa ditunda-tunda? Mumpung semangat puasa pasca Ramadhan masih meluap. Beberapa tahun sebelumnya saat masih ogah-ogahan puasa Syawal, aku biasa menghabiskan hutang puasaku dengan (lagi-lagi) sekalian puasa Senin-Kamis. Seminggu dua kali. Dalam setahun masa ya nggak lunas juga? :P

Karena puasa Ramadhan hukumnya wajib, apabila nggak bisa penuh (perempuan haid/nifas/menyusui, musafir, orang sakit, dll) maka harus mengganti di hari lain di bulan lain. Ada tenggang hampir setahun untuk 'mencicil', apa jadinya kalau hutang yang tahun lalu belum selesai, dan Ramadhan berikutnya sudah tiba di depan mata? Naudzubillah... Terserah mau kapannya, paling nggak sudah ada jadwal untuk 'masa pelunasan' itu.

with 'The Haris' 
Tahun ini... Lebaran pertama statusku bersuami. Dengan kampung halaman dan tradisi lebaran yang sama sekali baru, berbeda. Harus cermat bagi-bagi waktu untuk silaturrahmi ke sana-sini biar semuanya terkunjungi. Capeknya dobel sih, tapi senangnya juga dobel. Apalagi pengalaman bersosialisasi dengan keluarga mertua. Such an honor to having them. ^///^

Libur lebaran nggak pernah ada kata 'cukup'. Waktunya kurang, kesempatannya kurang, sementara cita-cita silaturrahmi, halal bi halal, hangout/piknik/jalan-jalan bareng teman, sepupu, keluarga, juga kerabat terlalu padat. Banyak sekali interested places yang belum sempat dikunjungi ramai-ramai.

Tapi ya itulah esensinya. Momen lebaran begitu dinanti karena kesebentaran-hadirnya di tengah-tengah kita. Dengan banyaknya checklist yang belum terpenuhi pada lebaran tahun ini, kita semua pasti akan sangat tidak sabar dan bersemangat sekali menyambut bulan suci Ramadhan dan lebaran yang menyertainya tahun depan. *^_^*

The last, how much has your weight been increasing? ;)

#TimAstorCokelat
#TimSempritCokelat
#TimKastengel
#TimPutriSalju

Kamis, 02 Juli 2015

Assalamu'alaikum, Bapak...

Ayahanda dari pria kecintaan saya.

Sebelumnya, ijinkan saya berterima kasih atas restu dan doa Bapak. Pertengahan Mei lalu pernikahan saya dengan putra kedua Bapak -Kak Anto- berjalan lancar sesuai rencana tanpa ada kendala. Meski tak dipungkiri kami sangat mengharapkan Bapak bisa hadir dan menyaksikan langsung janji suci kami.

Saya tahu Bapak ingin sekali menghadiri hari bahagia kami, namun apa daya, terbentangnya jarak antar-pulau dan kondisi kesehatan Bapak kala itu sama sekali tidak memungkinkan. Sebagai gantinya kami sudah menerima berkat dan doa-restu dari Bapak yang diwakilkan oleh Kak Rudi. Insya Allah itu sudah cukup, Pak.

His beloved siblings; your children
Yang tak akan pernah bisa saya lupa, malam, beberapa hari pasca kesibukan pernikahan, Kak Anto mengajak saya untuk menyapa Bapak via telepon. Bertukar kabar, sekadar memberitahukan situasi kami terkini. Dia ingin mengenalkan istrinya ini kepada ayahandanya. Dia ingin suatu saat istrinya ini bisa bertemu dengan bapaknya.

Cita-cita Kak Anto menjadi cita-cita saya juga.

Dia banyak bercerita tentang Bapak. Tentang ibu dan adik-adik. Tentang keluarga di Senipah. Saya hanya bisa tersenyum tatkala memperhatikannya bercerita. Kak Anto tampak begitu senang dan bersemangat ketika menceritakan hari-harinya di sana. Tempat-tempat menarik dan budaya setempat yang belum pernah saya tahu. Namun saya seperti bisa membayangkan. Saya seperti sudah dekat dengan keluarga Bapak sekalian.
Ahh... Mungkin dia rindu Bapak. Barangkali dia ingin pulang ke tanah Kalimantannya. Bisa jadi sayalah alasannya untuk pergi, dan kini dia ingin kembali.

Kak Anto menyuruh saya menyapa Bapak, membicarakan satu-dua hal untuk kali pertama. Apa yang harus saya katakan? Ada rasa malu dan canggung. Sudah lama saya tidak membicarakan hal-hal pribadi dengan orangtua laki-laki. Orangtua suami secara otomatis akan menjadi orangtua istri juga, kan? Maka beruntunglah saya, karena sekali lagi diijinkan memiliki sesosok orangtua laki-laki. Saya senang karena berpikir akhirnya saya bisa punya seorang bapak.

Apakah pemikiran saya tersebut terlalu lancang, Pak?

Saya kehilangan ayah saya hampir sebelas tahun lalu, saat saya berusia tigabelas dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Bisa dibilang masa kanak-kanak saya harus terhenti di situ. Saya harus bisa fight sebagaimana ibu saya yang berjuang sendirian sebagai single-parent.

Saya berusaha mandiri, tapi bohong jika saya bilang tak pernah merindukan ayah. Saya amat sangat rindu beliau, tapi cukup hati saya dan Tuhan (dan sekarang ditambah Bapak) saja yang tahu, nanti ibu dan adik-adik saya ikut teringat dan jadi sedih. Saya tidak ingin itu. :')

Saat diperdengarkan suara Bapak oleh Kak Anto via sambungan telepon malam itu, saya benar-benar dibuat kagum sekaligus heran, saya merasa tidak asing dengan suara Bapak.

Ahh... Itu...

Pernah Kak Anto memperlihatkan foto Bapak pada saya, waktu itu mungkin saya sembari mengira-ngira -Bapak yang tersenyum hangat dan ramah dalam foto- bagaimana cara Bapak berbicara? Bapak kan tahu bahwa Kak Anto memiliki aksen bicara yang khas, belakangan saya dapati cara bicara Kak Rudi juga tidak jauh berbeda. Mungkinkah Bapak memiliki nada suara dan cara bicara seperti yang saya pikirkan?

Ternyata sama.

Suara Bapak sama persis dengan yang pernah saya bayangkan. :D Saya benar-benar senang bisa berkesempatan mengobrol dengan Bapak. Meski sebagian besar saya hanya mendengarkan nasehat Bapak demi hubungan rumah tangga saya dengan Kak Anto. Terima kasih, Pak. Saya akan selalu mengingat dan berusaha melakukan apa yang Bapak sarankan. :')

Oh iya, Pak. Foto-foto pernikahan kami sudah selesai cetak. Kak Anto berniat mengirimkan sebuah album foto -yang ada kami sebagai pasangan mempelai bersama keluarga besar- pada Bapak. Dia bilang akan segera memaketkannya ke Senipah...

Tapi Pak, belum sempat suami saya pergi ke kantorpos guna memaketkan album foto pernikahan kami untuk Bapak -seperti tak sabar- sore tadi dia sudah terbang dari Bandara Juanda menuju Bandara Sepinggan, Kalimatan. Kak Anto terbang pulang menemui Bapak.

Kak Anto bergegas pulang ke Senipah begitu mendapat kabar kesehatan Bapak makin memburuk. Anak mana yang kuasa hatinya mengetahui kemungkinan terburuk; tidak akan bisa bertemu dengan orangtuanya lagi?

Kak Anto sangat menyangi Bapak. Dia sangat mencintai bapaknya.

Kenapa Bapak tidak bisa menunggunya sebentar saja? Sebentar lagi saja...

Dia belum sempat menyampaikan perasaannya pada Bapak. Dia belum sempat memberi dan memperlihatkan pada Bapak album foto pernikahan kami. Dia belum sempat memamerkan betapa tampan dirinya saat mengenakan busana pengantin...

Dia belum sempat berkata, "Pak, ini Riza, istriku. Bagaimana menurut Bapak?"

Terlambat satu jam. Terlewat satu jam dan tak seorang pun dari dia atau saya bisa bertemu muka dengan Bapak untuk selama-lamanya.

Barangkali Tuhan mencukupkan rasa sakit Bapak di hari ini. Agar Bapak tidak perlu banyak menderita lagi. Semoga kesakitan terakhir Bapak hanya ada di sini, semua tertinggal di sini, dan Bapak cukup berbahagia saja di surga. :')
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu...
Marhaban yaa ramadhan... Insya Allah segala amalan badah Bapak diterima oleh-Nya. Aamiiin ya robbal 'alamin...

Wassalamu'alaikum, Bapak...
Semoga suatu saat Tuhan berkenan mempertemukan kita ya, Pak. *^_^*



Kota kecil Mojokerto, 1 Juli 2015
Menantu Bapak nomor dua


Panggil saja Riza

Jumat, 26 Juni 2015

google.com/+RicchanAuliya

Hai haiii~~ 
Welcome to my Rumah Singgah Kucing Hitam with its newest email ever: ercehauliyasari@gmail.com *plokplokplok* Berkenaan dengan itu, akun Google+ ku juga ikut berubah. Sesuai keinginanku sih, tapi jadi sepi... :'( Hikshiks (Why? Read here)

Sudah cukup lama berlalu sejak blog ini turut berganti author, tapi baru akhir-akhir ini saja aku sempat men-sync-kannya dengan Google+ bahkan still can't believe I could get my former ID+RicchanAuliya yeii! :)) 
akhirnyaaa~~
Honestly, dari sejak awal bikin akun Google+ pasca pindah alamat email dengan terdaftarkannya alamat email baruku, sudah terpikir akan mengganti ID-nya sekalian. Soalnya pas di ryeongllya@gmail.com dulu langsung bisa, langsung dapat otomatis (kayaknya). Tapi yang ini enggak. Sudah sering coba utak-atik setting-annya, belum berhasil juga.

Karena sesuatu sudah ada masanya sendiri-sendiri, hingga kemudian pikiranku teralihkan dan lupa, tahu-tahu dapat notifikasi dari Google, it wanted me to agreed and take the +RicchanAuliya ID. Sangar, kan?  xD 

Sempat ragu dan penginnya pakai ID 'ercehauliyasari' saja, etapi itunya(?) nggak mau di-rename. :/ Akhirnya daripada nggak di-accept, lalu suatu saat 'RicchanAuliya'-nya terlanjur dipakai orang lain, kan syedih sekali. And yah, it's always great of being myself however, and could get back my old ID like it did made for only me. ^^

Semacam de javu, namun barangkali nggak akan sama dengan yang sebelumnya. Anw, I can say it was a one kind of accomplishment of mine. Hehehe... Biar sajalah diriku sedikit bersenang-senang atasnya. *norak* :Dv

Selamat ber-Jumat mubarok! Selamat berbahagia... Kiss~kiss~ :*

Kamis, 25 Juni 2015

Another Thursday

Sore Mojokerto terik sekali. Apa kabar puasa hari ini? Hari kedelapan Ramadhan, semoga tetap dilancarkan dan dimudahkan hingga akhir. Aamiiin...

Bulan puasa pertama nggak lagi single. Tahun ini seluruh aktifitas Ramadhan dilakukan bareng suami. Mulai dari sholat tarawih di masjid, makan sahur, mengaji, tidur lagi usai subuhan *hehehe*, hingga menanti adzan maghrib untuk berbuka. Yang demikian itu sungguh Masya Allah sekali rasanya... ^^ Hihihihi

Alhamdulillah, nggak sedikit kemajuan kami alami, di antaranya: kami mulai membiasakan pergi-pulang tarawih rumah ke Masjid Al-Akhiyar yang berada di ujung perumahan dengan berjalan kaki. On-time pula! Jadi bisa istiqomah sholat sunah juga. Hebat, kan? *maaf, bukan dengan nada sombong*

Padahal sebelum-sebelumnya jangankan jalan kaki dan menyempatkan sholat sunah, naik motor pun, kami serumah (tahun lalu bareng Tantit) kerap nututi, ketinggalan 1-2 rakaat sholat Isya'. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, kok bisa, ya?? Parah. :(

Selama 8x sahur, Alhamdulillah nggak ada satupun yang terlewat. Kami bisa bangun tepat waktu (antara jam 03.00 - jam 03:30, sementara imsak jam 04:10 dan subuh jam 04:20), saling membangunkan lalu makan sahur sama-sama.

Usai subuh, jika semua pekerjaan rumah sudah beres dan nggak ada agenda lain lagi, kembali merajut mimpi merupakan alternatif yang sangat kondusif(?). Eto~~ sayangnya aku sama sekali bukan tipikal yang senang bangun pagi lalu ber-tadarus pagi-pagi. :'( Punya kebiasaan buruk serupa? Baiknya mengalokasikan tadarus setelah sholat maghrib atau sepulang tarawih sampai sengantuknya. Hehe... Semoga suatu saat aku bisa ada perbaikan di titik ini. :(

Semenjak diantar-jemput suami, terlambat ngantor adalah makhluk langka bagiku. Hehehe... Ya itulah salah satu manfaat hidup berpasangan. Saling mengingatkan, saling bantu mengurangi potensi kejelekan pasangannya. Insyaa Allah aku dan suami tengah belajar untuk itu. *^_^*

Jika dihitung, barangkali ini adalah kamis ketujuh pasca ijab-qobul kami. Puji syukur Alhamdulillah... Rahmat Allah senantiasa menyertai kami sekeluarga. Meski ada satu-dua permasalahan atau konflik terjadi, beruntung bantuan-Nya selalu datang dan memberikan jalan keluar terbaik untuk semua. :)) Berkah Ramadhan, eh?

Menunggu ashar. Menunggu jemputan. Menunggu bedug maghrib. Semoga apa yang kita kerjakan seharian ini bermanfaat. Mudah-mudahan kebaikan selalu bersama kita semua, ya. Kiss kiss :*

Jumat, 12 Juni 2015

Excuse My Moody-Self

Pokoknya harus ndang diposting. Haruuusss!! (ノ゚0゚)ノ~ hehehehe... *keplak*

Anggaplah saya sedang galau, dan ini barangkali hampir mendekati klimaksnya. :( Ahh, apa, ya? It's like the weather is so terrible but I don't have any clue what to do. Geje, kan?

Alternatif curcol via media sosial sudah sering kulakukan, but still there's a deep hole I can't full-fill no matter hard I tried. It's such an emptiness, I can tell. Sesuatu yang pikirku akan bisa (segera) hilang seiring dengan waktu dan pertumbuhanku, but hell no. It is existing.

Dan jika jalan keluar ini nggak segera kutemukan, satu hal yang pasti, jumlah draft mangkrak dalam blog ini akan semakin banyak saja. Hahahaha... Sudah nggak lagi bernafsu melanjutkan bahasannya, tapi terlalu sayang untuk membuang.

Jadi bahasan ini memang hanyalah sampah semata yang entah baiknya kulampiaskan ke mana. It's end up here at least. Tapi paling nggak 'sampah' ini masih tertampung, nggak hilang berserakan, meski berpotensi mencemari.

Setidaknya aku (sedikit) puas. Atau mungkin aku mengira sudah bisa puas.

Minggu, 31 Mei 2015

Wonderful May

Hai haii~
Belakangan penyakit randomku kumat lagi, and that's why I just can start writing (and posting) again today. Maklumiin~~

So how's life?
Alhamdulillah, I'm pretty well. You know I have a quite good imun, this far I guess I'm okay, the only problem of me is my random-mood, actually. Hehehehe...

Penyesuaian, kiranya yang tengah kuhadapi sekarang ini. Pasca menikah, bersuami -sekaligus berstatus istri orang- tentu sedikit banyak mengubah hidupku. Fisik dan psikisku nggak lagi sama, demikian juga sikap dan pemikiranku. Meski kata Oppa sifat ceroboh dan mbulet-ku belum bisa hilang. :(

Honestly, menikah menjadikan pribadiku seperti 'terbagi' tiga; aku sebagai diriku, aku sebagai anak sulung ibuk, dan aku sebagai istri Oppa, lengkap dengan tanggung jawab pada 'mode' masing-masing. Yang ingin kukatakan adalah berbagai situasi bisa sering muncul dan memposisikanku di sudut padang yang nggak gampang. Orangtua atau suami? Seleranya atau seleraku? Bisakah aku menyelesaikan 'ini' selagi mengerjakan 'itu'?

Susah? Jelaaas... Berada di 'tengah' membuatku selalu berpikir berkali-kali sebelum memutuskan sesuatu, agar sebisa mungkin jangan sampai ada salah satu pihak yang terluka. Karena sejatinya sebagai istri, aku harus menomorsatukan suami; sebaliknya ada kalanya kemauan orangtua (yang kebetulan bertentangan) nggak sepenuhnya salah. Orangtua seumur hidup pasti lebih mengenali anaknya daripada pasangan yang 'baru-baru ini' kan?

Eh, malah tjurhat... xD

Begitulah... Tapi alhamdulillah semuanya masih aman terkendali dan semoga ke depannya selalu tetap begitu. :))

Mei berakhir hari ini. Jika bisa di-kaleidoskop untuk sebulan ini saja, pasti banyak peristiwa unik penting yang patut dicatat, baik itu mengenai jurnal pribadiku pun berbagai aktifitas lain di sekitarku. Beberapa (sangat) membahagiakan, melegakan, penuh haru, feel blessed, wonderful, so amazed. Ada pula yang menimbulkan rasa cemas, ketegangan, sedih, feeling guilty, hingga yang mencengangkan, unexpected, unbelievable moment.

May has been really awesome for me and it did give so many experiences and knowledge of life. I grow up. Wiser. Thanks a lot. Thanks to you. :*

Senin, 04 Mei 2015

Save The Date!

Our Wedding Invitation has done... (●♡∀♡)

Alhamdulillah, wa syukurillah... Nggak henti-hentinya aku berterimakasih sama Allah. Perlahan tapi pasti dan terkendali, persiapan-persiapan kami satu per satu mulai membuahkan hasil yang baik. I'm a perfectionist, jadi kebayang bagaimana pusingnya menentukan semua hal hingga ke detil terkecil, demi kelancaran pernikahan kami kelak. 

Dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga, kami mempercayakan bagian-bagian krusial kepada ahlinya, dalam hal ini Wedding Organizer dan pihak percetakan. Intinya menganut prinsip ekonomi: dengan bujet seminim mungkin semoga kami bisa mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Huahahahahaa... *keplak*

Minimalis Nasionalis, demikian menurutku konsep yang kami usung. Sederhana dengan sentuhan kekeluargaan, karena tentunya kami akan banyak melibatkan orang-orang terdekat. Sama-sama berasal dari keluarga besar, kelak pasti akan muncul keberagaman selera dan budaya. Maka kami putuskan untuk menyeragamkan semua aspek sesuai Bhineka Tunggal Ika. Mulai dari ijab-kabul, prosesi Temu Manten (eh, yang ini nuansa Jawa-Muslim ding), kostum, menu makanan, hingga dekorasi semuanya akan serba 'Indonesia' tanpa mengutamakan yang satu dan mengabaikan yang lain. *tepuk tangan*

Oom Fir sangat berjasa mengenalkan kami pada Pak Eli Yuwono selaku Wedding Organizer, sedangkan desain dan cetak undangan kami pasrahkan kepada percetakan belakang rumah yang sangat sabar dalam melayani kecerewetan kami pun ekonomis sekali biayanya. x)) 

Sadar nggak punya banyak waktu, kala itu aku dan Oppa bergegas menindak persiapan serba-mepet kami. Actually we both didn't have any special request -kartu undangan misalnya- dibantu ibuk yang membawakan berkardus-kardus contoh undangan dari Pak Parlan -sang empunya percetakan belakang rumah- kami segera menemukan yang sekiranya sreg di hati.

Selembar kartu undangan berseri Adam125 warna cokelat keemasan ini menjadi pilihan kami. Selain bernuansa natural dengan ornamen unik tapi tidak berlebihan, bentuknya yang sesimpel tiga lipatan saja (Oppa benci dengan packaging kartu undangan yang terlalu ribet dan membingungkan untuk dibuka/dibaca) tampak sederhana dan praktis. Semua space pada undangan ini Inshaa Allah nggak ada yang sia-sia. Semuanya berguna: terdapat perincian mengenai penyelenggaraan akad dan resepsi, penggalan QS. Ar-rum, juga kutipan doa Nabi Muhammad SAW untuk pernikahan putrinya. Apalagi di bagian belakang kartu sudah tersedia space yang lega, yang memang akan kami gunakan untuk peta lokasi. Padat, sarat manfaat, kan? ;)

April 2015 bisa jadi bulan paling capek dalam sejarah hidupku. Demi keberhasilan Mei ini, aku, Oppa, ibuk, dan banyak pihak lain harus rela waktu istirahatnya tergadai, menggunakannya untuk merampungkan ketidaksempurnaan persiapan di sana-sini:
The map. Venue-nya gampil, kok.
1. Booking venue
2. Fix katering dan dekorasi
3. Kartu undangan
4. Souvenir dan stiker
5. Suguhan/konsumsi
6. Kru
7. Kebersihan
8. Teknis
9. Lain-lain

Phew~~ ( p_q)

Aku tahu serewel apa diriku, jadi setiap sebelum/sesudah mengutarakan request selalu kutambahkan, "...ini jadinya dibeginikan bisa kan, Pak? Maaf ya, Pak. Jenengan yang sabar punya klien yang cerewet kayak saya." Hahaha...

Tapi kata (sejumlah) orang, aku ini termasuk yang nggak rewel-rewel amat, masih banyak oknum yang jauh lebih ngeselin daripada aku dalam hal pilih-pilih. Hehhe... Sebut saja soal menu katering, detil dekorasi, bahkan custom undangan. Pak Eli dan Pak Parlan mengiyakan.
"Sampean niki tasih mending, Mbak. Sing luwih cerewet lan ngribeti daripada sampean wonten. Kulo sampe ampun-ampun." LOL
Perihal tamu undangan juga nggak kalah memusingkan. Secara baik aku maupun Kak Anto sama-sama berkeluarga besar, belum lagi sanak kerabat dari keluarga ayah-ibuk, Mbak Bapak-Mbah Buk, juga Mbah Nawawi dkk. Double combo! x_X

Sempat terjadi perselisihan antaraku dan ibuk. Selain keluarga besar, saudara, kerabat, dan tetangga, ibuk juga ingin mengundang rekan kerja, serta teman-teman bersosialisasinya. Bukannya aku nggak punya teman-temanku sendiri untuk diundang, kan... :/ Teman sekolah, teman main, teman komunitas, rekan kerja, dll. Belum teman-temannya Oppa juga. *ketip-ketip*

Tapi mungkin salah satu keuntungan berjodoh dengan teman sendiri adalah teman-teman kami yang mayoritas sama. xP Teman dia adalah temanku, temanku juga temannya dia. Hemat, deh!

Maksud hati ingin berbagi kebahagiaan dengan semua orang yang kami kenal, apa daya keterbatasan tidak mengijinkan. :( Atas nama Riza Chanifa Auliya Sari dan Chairul Dwi Cahyanto yang akan segera melangsungkan hajat, kami mohon doa restu. Saling sambung harapan baik selalu. :* :*

Rabu, 22 April 2015

Been Engaged

Alhamdulillah, 30 hari pasca lamaran, sekitar tiga mingguan lagi acara besar kami akan dihelat. Umm... Since it's a right time, I'm going to share about our engagement on 22nd of March 2015.

It was Sunday. We'd meet on 10:00 AM. Mulanya Kak Anto bilang kemungkinan siap sampai rumah jam sebelasan, tapi saking gugupnya mereka malah kepagian! Dia dan keluarganya sudah rapi sejak jam sembilan pagi. Malahan keluargaku yang belum beres. -___-"

Disaranai dua buah mobil yang salah satunya lebih mirip bus mini, Kak Anto sekeluarga (besar) tiba di Jalan Dieng III No.14, kediamanku. Beriringan membawa bermacam-macam peningset/seserahan yang memang dibawakan oleh pihak laki-laki untuk pihak perempuan sebagai syarat lamaran.

Peningset/seserahan versi kami antara lain:
1. Seperangkat alat sholat lengkap. Terdiri dari Al-Qur'an, mukenah, sajadah, dan tasbih.
2. Set kebaya dan high-heels, untuk dikenakan saat akad nikah.
3. Set busana semi-formal. Terdiri dari night-dress, celana panjang, dan sepatu. That white-thing is actually a wedding obi of my kebaya (tapi 'nyemplung' di basket ini). LOL
4. Girl's needs such as: make up set, hair-treatment set, sikat-pasta gigi (kayaknya 'tercemplung' juga, hehe), tas, and a box of watch as my special request. *^_^*
5. Peralatan mandi, sleepwear, dan parfum.
6. Lain-lain, seperti buah-buahan, kue-kue, aneka jajanan pasar, bahkan sembako! :Dv


Barangkali nggak semua sepakat dengan keseluruhan peningset/seserahan versi kami. Nggak ada pakem pasti mengenai rincian item yang harus disertakan dalam peningset sebagaimana banyaknya paham di masyarakat kita yang berbudaya. Namun kami meyakini, seperangkat seserahan tersebut haruslah yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak berlandaskan tulus ikhlas. *tsaaah* Jadi pihak laki-laki nggak akan merasa keberatan, pun pihak wanita akan puas dengan 'pemberian' pasangan.

Kabar baiknya, sebagian besar isi dari keranjang-keranjang peningset tersebut memang didasarkan atas seleraku. Beberapa dibeli sendiri olehku dan Kak Anto, ada juga yang merupakan sumbangsih dari (calon) mamah mertua dan saudara-saudara. Hehehe... ;)
My mom, his mom, and him -my beloved one
Mengenai prosesi lamaran kami sendiri, agaknya sedikit berbeda dan nyleneh dari yang lain. Nggak seperti prosesi lamaran kebanyakan, kami nggak melalui tahapan 'saling mengunjungi keluarga calon pasangan' sebelum lamaran resmi, pun tanpa kegiatan 'membalas lamaran' ke pihak laki-laki. Penyerahan pengingsetnya juga sengaja disertakan sekalian, jadi pas akad nikah nanti sudah 'bersih'. Kami hanya akan melakukan ijab-kabul dan penyerahan mahar/mas kawin saja.

Singkat, sederhana, dan sesuai dengan keinginan kami. :))

Selasa, 21 April 2015

Anniversary Kita, Kapan?

Sekalipun nggak dicatat di agenda atau reminder, aku nggak akan mungkin lupa kalau setiap tanggal 21, aku dan Kak Anto terbiasa saling bertukar "Happy [...] month anniversary" dan sudah berjalan selama sebelas bulan belakangan. Yups, 21 April 2015 bertepatan dengan Hari Kartini ini, kami resmi terhitung sebelas bulan menjalin hubungan.

Hahaha "ditunda", katanya.
22 Maret 2015 lalu, sehari setelah 10th month anniversary kami, aku dan Kak Anto melangsungkan lamaran, yang memang sengaja dibarengkan dengan momen ulang tahun ke-24-ku. Jadi, apakah anniversary kami pada April ini berada di tanggal 21 atau tanggal 22-nya? Hehehe... Both of those days are our anniversaries. Tanggal 21 untuk 11 bulan menjadi kekasih, dan tanggal 22 untuk 1 bulan sebagai calon istri. :*

But never mind, tolok-ukur cinta bukan dari rutin-nggaknya suatu pasangan ber-anniversary, kok. Yang penting cintanya, sayangnya, hangat perhatian dan kesetiaannya. *tsaaah* Apalagi bulan depan, dipastikan kami akan punya satu anniversary yang berbeda tanggal lagi. Hihihihi...
(♡˙︶˙♡)

Nggak sampai sebulan menjelang pernikahan, di detik ini akunya masih relatif woles. Ya bagus kalau bisa begini terus hingga hari-H, daripada tahu-tahu jadi nerveous dan malah bikin kacau pas acara? Naudzubillah...

Dan... Ini ya, terkait persiapan batin dan mental, aku sungguh-sungguh (jadi) percaya bahwa semakin dekat dengan suatu hajat (pernikahan, misalnya), akan adaa~ saja permasalahan dan perselisihan terjadi, terutama bagi kedua calon mempelai dan keluarga. Entah itu hal yang remeh-temeh bahkan sampai bawa-bawa prinsip pribadi. Serius!(>д<)

Aku pun mengalaminya. Rangkaian proses tersebut. Kak Anto yang tiba-tiba (menurutku) jadi menyebalkan; situasi kantor yang sedang tegang-tegangnya; bertengkar dengan Sissy; cekcok dengan Ibuk; dan banyaaak~ hal kecil-kecil tapi supeeerr bikin badmood. Kurasakan aku pribadi cenderung jadi lebih sensitif dan pemarah. Mulanya nggak begitu kentara, tapi kalau dipikir-pikir lagi (dengan kepala dan hati yang dingin, tentu) bukan nggak mungkin sejumlah 'kerikil' hingga 'batu kali' -yang 'Dilemparkan' bertubi-rubi tepat ke wajah- itu merupakan bentuk ujian dari Tuhan terhadap kesiapan emosiku.


Menikah (seharusnya) sekali untuk seumur hidup. Pasangan kita mulanya adalah orang asing, bukan? Dalam kurun waktu yang seringkali nggak sampai separuh bahkan seperempat usia kita, sudah yakinkah ingin menghabiskan sisa hidup dengan seseorang yang sama nan 'itu-itu saja'?

Efek ajaibnya, kita akan dengan mudah menemukan ketidaksesuaian/ketidakcocokan terhadap pasangan, berikut segala tetek-bengek kekurangan dan kelemahan yang kian mengurangi pesonanya di mata kita.
"Yakin nih, mau nikahin yang kayak gini?"
Kita cuma akan fokus dengan sisi negatif pasangan dan lupa untuk memantaskan diri juga. Pede sekali bilang situ yang terbaik bagi dia? Yakin, di luar sana nggak ada lawan jenis yang lebih baik, tapi bagaimanapun dia tetap memilihmu sebagai teman hidupnya? ;)

Mungkin itulah sebabnya di era lama, ada suatu ketika kedua calon mempelai harus 'dipingit' atau melakukan 'pingitan', dilarang bertemu dalam kurun waktu tertentu hingga hari pernikahan tiba. Bisa jadi tujuannya memang untuk meminimalisir 'goncangan' jiwa yang berpotensi menyesatkan tersebut. Pernah menghitung banyaknya kasus hubungan berantakan di detik-detik terakhir jelang momen penting? That's too bad even to imagined. :(

Jaga hubungan. Tetap saling cinta. Percaya, menghormati, setia, dan berusaha menjadi yang terbaik. Fighting! ^0^)9

Tapi semakin diragu-ragukan, aku justru semakin yakin kalau aku ini takdirmu, Chagi. :*

Jumat, 10 April 2015

I'm In Fourties

Ada yang sempat gagal move-on gara-gara syok setelah mantengin hasil timbangan badan yang angkanya melonjak naik? Aku juga. *toss* Beberapa hari lalu, pas jemput ibuk ke rumah mbah-budhe di daerah Mangelo-Sooko, kebetulan beliau punya timbangan badan, lalu iseng-iseng aku cek. Seberapa berat sih, aku sekarang?

Dari awal sudah nggak pede karena akhir-akhir ini aku jadi doyan banget makan, apalagi ngemil, plus nyoklat. Dan benar saja, jarum navigasi(?) pada timbangan tetap meluncur meski sudah melewati angka 40kg. For real? 

Akhirnya berhenti di angka 43. Yes. I am 43kg right now. :'( Nggak heran ini badan kayaknya makin berat dan nggak hore dipakai gerak. Bawaannya jadi banyak males. Ternyataa~~ aku positif gendutan! Huhuhuhuu... Doanya si Oppa makbul sangat deh ini. Dia kan suka banget nyuruh aku makan, bahkan berniat akan menggemukkan(?) aku. Dan luar biasanya malah terkabul. Hiks. >_<
Berarti semasyarakat Path, aku masih yg paling ringan, ya? 

Untuk mengurangi depresi, aku pun berbagi status Path mengenai kenaikan berat badanku. Eh, kok banyak yang komen. Hahahahaa...

Ternyata untuk ukuran muda-mudi seusiaku, juga menurut teman-teman, aku masih tergolong kurus. Banyak di antara mereka yang bahkan terlihat 'seukuran' namun rupanya memiliki berat badan yang lebih daripadaku. Wow... 〈(゜。゜)

Tanpa bermaksud sombong atau apa, menurutku pribadi dengan berat baruku ini, sungguhan badanku rasanya makin berat dan cenderung jadi susah diajak bergerak dibandingkan ketika aku masih 'under 40'. Tiga puluh sembilan kilogram adalah angka mati untuk beberapa tahun belakangan. Paling banter 41kg, itupun kala BAB-ku nggak lancar. (´・_・`) *uuups*

Bukannya nggak bersyukur, ya. Alhamdulillah, bagaimanapun aku selalu ingat untuk tetap bersyukur sama Allah, kok. ( ・ω・) Lagipula banyak yang memberi respon positif terhadap appearance baruku. Menurut mereka aku terlihat lebih sehat, lebih berisi tapi pas, nggak terlalu pucat lagi, pun nggak tirus-tirus amat kayak sebelumnya. Intinya banyak yang bilang aku lebih pantas dengan ukuranku yang sekarang. Yeiii~~ (´∇ノ`*)ノ

Tapi yaa~ andai mereka tahu sehoror apa kenyataan yang dialami tubuhku. ( /,\ ) Oke, sebutlah aku punya beberapa alergi yang 'manja', nggak bisa sembuh, cuma bisa diantisipasi dan dikurangi efeknya. Selain alergi makanan laut, aku juga sensitif sekali dengan minyak jenuh. Banyak memakan makanan yang mengandung minyak jenuh -seperti ayam, telur, dan mie instan, apalagi digoreng- akan gampang sekali membuat tubuhku terluka 'luar-dalam'. Gatal-gatal hingga ruam dan memicu jerawat di luar, serta mudah 'bengkak'nya perut-lengan-paha karena mengendapnya lemak dari dalam. *mewek*

Galau, kan?

Biar bagaimanapun, kejadian men-chubby-nya diriku ini mau nggak mau mendobrak kebebalanku masalah kesehatan. Aku kembali mencoba untuk makan secara teratur, bukannya 'balas-dendam' (yang sekalinya lapar langsung khilaf makan berporsi-porsi). Memperbanyak minum air putih, dan menjadwalkan olahraga. ;)

Ogah mem-PHP diri sendiri dengan langsung sok-sokan rajin olahraga. Dimulai dari yang kecil-kecil dulu, yang gampang dilakukan. Jogging pagi, skipping, atau sekadar latihan pemanasan di rumah. Banyak juga kok, tips-tips olahraga dan kesehatan di internet yang bisa dipelajari sendiri.

Yang kiranya senasib denganku, bolehlah kita move-on bareng mulai dari sekarang. *kiss kiss*