Terima kasih sudah terlahir, dan menjadi apa adanya dirimu.
Kebersamaan kita mungkin tidak lama, tapi yang pasti berbilang tahun tidak bisa dikatakan singkat. Banyak hal telah kita lalui bersama hingga kini. Dalam setiap guratan hariku, niscaya kamu ada di dalamnya.
Tanpa perlu menyatakan perasaan, kamu pasti sudah tahu. Sama halnya diriku yang dengan mudah memilah mana bercandamu dan mana sedih pilu. Berhadapan denganmu membuatku begitu mengagungkan keterbukaan tanpa pura-pura, kamu selalu membiarkanku menjadi diri sendiri apa adanya.
Tapi seberani apa kamu berpikir bahwa inilah yang terbaik? Bahwa kamu cukup menerima apa yang sudah ada tanpa mengharap yang lain. Cukupkah hanya aku dan banyak kekuranganku? Seperti aku yang begitu menginginkanmu menjadi tempat untukku pulang dengan senyuman.
Aku tahu bahwa kau pun berhak untuk dicintai. Meski olehku yang amat sederhana ini.
Maka yakinkan dirimu bahwa akulah yang terakhir. Untuk kali ini dan selamanya.
29 Februari 2016
Hati Terakhir
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-30
Di luar hujan? Mari kuseduhkan secangkir kopi panas untukmu. Tentu kita bisa saling bertukar cerita sembari menikmati pelangi dan senja, kan? *^_^*
Senin, 29 Februari 2016
Minggu, 21 Februari 2016
Surat Abadi
Dear, Rabb...
Aku berusaha bicara padaMu seperti bernapas. Meski sedikitnya bertatap muka lima kali sehari, bagiku kecukupan perbincangan kita tak pernah ada. Ada banyak hal yang ingin kukatakan--aku tahu Kau tahu--namun karena saking serakahnya tentang mana yang lebih dulu kuminta, pertemuan kita kadang sehampa udara. Aku ingin Kau mendengarkanku, tapi tak jarang dirikulah yang tergesa beranjak dariMu.
Tak perlu kukatakanpun Kau sudah tahu. Tentang apa-apa yang menyesakkan dada, badai prahara yang meraja, cita-cita tak sesuai realita, serta harapan dan keinginan yang kian lapuk menumpuk menanti keajaiban. DariMu.
Berlutut. Bersujud. Menyerahkan segala kemungkinan pada tangan-tangan rahmat. Adakah yang bisa kulakukan tanpamu, Tuhan? Ahh, tapi siapalah aku ini yang cuma seorang hamba bersimbah dosa tanpa kuasa apapun di hadapan pencipta.
Terima kasih atas segala nikmat yang Kau limpahkan padaku dan keluarga, termasuk napas ini, hidup kami hari ini, dan apa yang telah Kau izinkan untuk kami miliki. Ampunilah segala salah dan khilafku, Gusti. Ampuni dosa kedua orangtuaku, saudara-saudaraku, keluargaku--dosa orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Lindungilah di manapun kami berada, jauhkan dari marabahaya. Bantu kami untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup kami. Mampukan kami untuk mewujudkan mimpi-mimpi, harapan, cita-cita, dan rencana kami bagi masa depan yang lebih baik lagi. Penuhilah jiwa-jiwa kami dengan rasa syukur, jauhkanlah dari segala bentuk penyakit hati.
Engkau Maha Tahu segala yang kuinginkan, yang kubutuhkan, dan yang terbaik bagiku.
Tuhan, isi doaku memang hanya itu-itu saja. Semoga--meski tidak harus hari ini--sesegeranya hari perwujudan segala harapanku akan segera tiba. Aamiiin...
Atas sajadah, 21 Februari 2016
HambaMu
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-22
Aku berusaha bicara padaMu seperti bernapas. Meski sedikitnya bertatap muka lima kali sehari, bagiku kecukupan perbincangan kita tak pernah ada. Ada banyak hal yang ingin kukatakan--aku tahu Kau tahu--namun karena saking serakahnya tentang mana yang lebih dulu kuminta, pertemuan kita kadang sehampa udara. Aku ingin Kau mendengarkanku, tapi tak jarang dirikulah yang tergesa beranjak dariMu.
Tak perlu kukatakanpun Kau sudah tahu. Tentang apa-apa yang menyesakkan dada, badai prahara yang meraja, cita-cita tak sesuai realita, serta harapan dan keinginan yang kian lapuk menumpuk menanti keajaiban. DariMu.
Berlutut. Bersujud. Menyerahkan segala kemungkinan pada tangan-tangan rahmat. Adakah yang bisa kulakukan tanpamu, Tuhan? Ahh, tapi siapalah aku ini yang cuma seorang hamba bersimbah dosa tanpa kuasa apapun di hadapan pencipta.
Terima kasih atas segala nikmat yang Kau limpahkan padaku dan keluarga, termasuk napas ini, hidup kami hari ini, dan apa yang telah Kau izinkan untuk kami miliki. Ampunilah segala salah dan khilafku, Gusti. Ampuni dosa kedua orangtuaku, saudara-saudaraku, keluargaku--dosa orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Lindungilah di manapun kami berada, jauhkan dari marabahaya. Bantu kami untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup kami. Mampukan kami untuk mewujudkan mimpi-mimpi, harapan, cita-cita, dan rencana kami bagi masa depan yang lebih baik lagi. Penuhilah jiwa-jiwa kami dengan rasa syukur, jauhkanlah dari segala bentuk penyakit hati.
Engkau Maha Tahu segala yang kuinginkan, yang kubutuhkan, dan yang terbaik bagiku.
Tuhan, isi doaku memang hanya itu-itu saja. Semoga--meski tidak harus hari ini--sesegeranya hari perwujudan segala harapanku akan segera tiba. Aamiiin...
Atas sajadah, 21 Februari 2016
HambaMu
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-22
Kamis, 18 Februari 2016
Tragedi Tingkepan
Aka-chan memang belum genap berusia 7 bulan, Senin besok baru 24 weeks, but yes, keluarga besar mamak sukses mengadakan syukuran 7 bulanan/tingkepan kehamilanku ba'da maghrib tadi. Nggak tahu persis detil acaranya gimana, secara--stupidly--aku dan Kak Anto baru muncul di rumah Kanigoro sekitar jam tujuh malam yang sontak disambut celetukan orang-orang, "Lha ki sing duwe gawe kok lagek teko saiki? Dikiro ra sido rene ki mau,"¹ sementara aku dan Kak Anto cuma bisa saling pandang saat Buk Mudah memberitahu bahwa kenduren-nya sudah buyar, baru saja. Allahu akbar!!
Σ(▼□▼メ)
Tapi ya sudahlah, sudah kejadian juga. Nggak ada yang salah dan layak disalahkan, sekalipun--well said that--noone gave us a ring, Kak Anto-nya kepedean mengira acaranya Hari Jumat, aku pun sama sekali nggak kepikiran untuk sms/telepon mamak untuk tanya-tanya lagi, dsb. Eman banget sebetulnya~~ (ㄒoㄒ) tapi que sera sera lah... Pokoknya aku tahu semuanya lancar, it's okay. ;)
Ini memang hajatannya mamak dan keluarga besar. Seperti biasa saudara-saudara banyak turut andil menyukseskan syukuran tadi. Kita mah tinggal terima jadi, termasuk pemilihan tanggal 18 Februari yang bertepatan Kamis Pon ini juga beliau-beliau senior yang lebih paham. Tingkepan/mitoni ini pun konon memang tidak dilaksanakan pas di 7 bulan kehamilan, melainkan justru beberapa saat sebelum memasuki 7 bulan. Latar belakangnya sih, menurut orang jawa, janin usia 7 bulanan sudah bisa lahir (tapi maaf, prematur), jadi demi mencegah kelahiran sebelum waktunya--9 bulan/40 weeks--diadakanlah tingkepan/mitoni sebagai sarana bersyukur pada Allah serta bantu doa agar janin dan ibu tetap selamat hingga masa persalinan. *yakini yang baik-baik saja, ya*
Kami datang pas segala sudah rampung dan semuanya sedang makan. Akhirnya kami malah disuruh gabung makan juga. Mbah putri juga ada (matur suwun pijatan jenengan kapan hari, Mbah). Mamak, Buk Mudah, dan Kak Anto sesekali masih menemui tamu yang hadir belakangan. Well it was weird, awkward, but quite nice. Doumo arigatou ne, minna.❤
Terima kasih doa sekalian. Semoga Aka-chan sehat terus, calonnya anak sholeh/sholehah, sayang keluarga, tambah pinter-cerdas, bantuin bunda, tumbuh sempurna selamat sampai persalinan. Aamiiin... ( . 人 . )
Note:
¹ "Lha ini yang punya hajat kok baru datang sekarang? Dikira nggak jadi ke sini ini tadi,"
² "Lho, bukannya besok?"
³ "Memang dasar Anto ini sudah diberitahu nggak memperhatikan!"
"Lho, bukane sesuk ta?"² tanya Kak Anto polos yang segera dijawab gerutuan oleh Buk Mudah.
"Ancene Anto ki wes dikandani ra nggatekke!"³ Mampuslah...Dalam hati membatin, pantas tadi sore ibuk laporan habis dapat berkatan dari mamak (diantar Mas Udin dan Ardi). Isinya macam-macam mulai dari nasi sampai jajan. Pantas dari kemarin-kemarin aku feeling banget ke mari, tapi nggak jadi-jadi lantaran hujan terus hingga kami terlalu mager. Lupa memastikan jadwal pasti hajatan kami sendiri. Ternyataa~~ duh, anak mantu apalah aku ini.
Σ(▼□▼メ)
Tapi ya sudahlah, sudah kejadian juga. Nggak ada yang salah dan layak disalahkan, sekalipun--well said that--noone gave us a ring, Kak Anto-nya kepedean mengira acaranya Hari Jumat, aku pun sama sekali nggak kepikiran untuk sms/telepon mamak untuk tanya-tanya lagi, dsb. Eman banget sebetulnya~~ (ㄒoㄒ) tapi que sera sera lah... Pokoknya aku tahu semuanya lancar, it's okay. ;)
Ini memang hajatannya mamak dan keluarga besar. Seperti biasa saudara-saudara banyak turut andil menyukseskan syukuran tadi. Kita mah tinggal terima jadi, termasuk pemilihan tanggal 18 Februari yang bertepatan Kamis Pon ini juga beliau-beliau senior yang lebih paham. Tingkepan/mitoni ini pun konon memang tidak dilaksanakan pas di 7 bulan kehamilan, melainkan justru beberapa saat sebelum memasuki 7 bulan. Latar belakangnya sih, menurut orang jawa, janin usia 7 bulanan sudah bisa lahir (tapi maaf, prematur), jadi demi mencegah kelahiran sebelum waktunya--9 bulan/40 weeks--diadakanlah tingkepan/mitoni sebagai sarana bersyukur pada Allah serta bantu doa agar janin dan ibu tetap selamat hingga masa persalinan. *yakini yang baik-baik saja, ya*
Kami datang pas segala sudah rampung dan semuanya sedang makan. Akhirnya kami malah disuruh gabung makan juga. Mbah putri juga ada (matur suwun pijatan jenengan kapan hari, Mbah). Mamak, Buk Mudah, dan Kak Anto sesekali masih menemui tamu yang hadir belakangan. Well it was weird, awkward, but quite nice. Doumo arigatou ne, minna.❤
Terima kasih doa sekalian. Semoga Aka-chan sehat terus, calonnya anak sholeh/sholehah, sayang keluarga, tambah pinter-cerdas, bantuin bunda, tumbuh sempurna selamat sampai persalinan. Aamiiin... ( . 人 . )
Note:
¹ "Lha ini yang punya hajat kok baru datang sekarang? Dikira nggak jadi ke sini ini tadi,"
² "Lho, bukannya besok?"
³ "Memang dasar Anto ini sudah diberitahu nggak memperhatikan!"
Sabtu, 13 Februari 2016
RAT KSJJ Tahun Buku 2015
Otsukaresama deshitaa~~
Today is almost done. Left me exhausted and starved. Before I start about today, I'll tell you about some couple times ago.
I was about the Lady-Boss who wanted us to held RAT a.s.a.p before 2015 ended. Hello?! Was it possible? With tons of mess happened? Then inspired by BMT that will hold RAT on February 2016, uri Boss told us to prepared everything so that we could have RAT in these days.
Finally, because BMT's RAT will be held on February 20th, the only options we had: before or after that date (on Saturday only). And voila! The result is today. The reason was a.s.a.p much better, while we still have some scheadules to do, so it was okay to made it first than BMT.
The preparation was going a bit wrong. Unfortunately it wasn't easy doing all these stuffs without uri leader yet Bigboss was completely incapable to take his place and act like him, I can tell. So the coordination wasn't work too good while me personaly got some crushes with partners. Ohh, dear. It was so complicated. :(
I must took much effort--in the name on loyalty--for this yearly event. I said it was extremely not easy but I did it. We made it. In the very sort time of preparation, awful coordination, crushes, here was our 'early' RAT. Yes, this is the very first time we held RAT on February, not March as before. It said we were the 14th that held RAT in East Java. *plokplokplok* Can't tell it was the best actions of us, but it was the best we could do for now. :')
Well, our gain wasn't a cure for what I had this morning. Yes. Another early mess have came up. The trouble maker be the only one I blamed. She ruined everythings I planned by her dumby-ass act. Ugghhh... I really don't want to have a daughter like her. *naudzubillah*
I was the (un)lucky number one who arrived at the venue of RAT. No one was there. I was alone. Sad. Hungry. Angry. Ever knew the one who said a thing but then just break it by themselves? I knew some names. There were still many things to do, but the men haven't come yet. The women did. I did. Got tired and sleepy while the show was too long to begin. >_<
Ohh, dear. The sleepy is coming again. I get to go. To bed.❤
Today is almost done. Left me exhausted and starved. Before I start about today, I'll tell you about some couple times ago.
I was about the Lady-Boss who wanted us to held RAT a.s.a.p before 2015 ended. Hello?! Was it possible? With tons of mess happened? Then inspired by BMT that will hold RAT on February 2016, uri Boss told us to prepared everything so that we could have RAT in these days.
Finally, because BMT's RAT will be held on February 20th, the only options we had: before or after that date (on Saturday only). And voila! The result is today. The reason was a.s.a.p much better, while we still have some scheadules to do, so it was okay to made it first than BMT.
The preparation was going a bit wrong. Unfortunately it wasn't easy doing all these stuffs without uri leader yet Bigboss was completely incapable to take his place and act like him, I can tell. So the coordination wasn't work too good while me personaly got some crushes with partners. Ohh, dear. It was so complicated. :(
I must took much effort--in the name on loyalty--for this yearly event. I said it was extremely not easy but I did it. We made it. In the very sort time of preparation, awful coordination, crushes, here was our 'early' RAT. Yes, this is the very first time we held RAT on February, not March as before. It said we were the 14th that held RAT in East Java. *plokplokplok* Can't tell it was the best actions of us, but it was the best we could do for now. :')
Well, our gain wasn't a cure for what I had this morning. Yes. Another early mess have came up. The trouble maker be the only one I blamed. She ruined everythings I planned by her dumby-ass act. Ugghhh... I really don't want to have a daughter like her. *naudzubillah*
I was the (un)lucky number one who arrived at the venue of RAT. No one was there. I was alone. Sad. Hungry. Angry. Ever knew the one who said a thing but then just break it by themselves? I knew some names. There were still many things to do, but the men haven't come yet. The women did. I did. Got tired and sleepy while the show was too long to begin. >_<
Ohh, dear. The sleepy is coming again. I get to go. To bed.❤
Kamis, 11 Februari 2016
Lost
Bilamana aku bisa merasa kehilangan, sedangkan kau belum lagi kumiliki? Kenyataannya mungkin demikian, akulah yang sudah terburu-buru menganggapmu bagian dariku.
Selama ini kau selalu membuatku percaya bahwa dirimu ada. Tak peduli kapanpun, di manapun. Setengah warasku tahu jika tak ada jaminan untuk itu, tapi toh kupasrahkan saja hati ini dalam belenggu manis ciptaanmu.
Sayangnya kau tak merasakan apa yang kurasa. Tak juga percaya pada yang kupercaya; kita.
Rindu ini serupa kalam tak terbaca. Tak terjamah. Tak terlihat, bahkan. Lalu apa aku bagimu? Apa kasih ini untukmu? Alasan. Hiburan. Prestis. Bisa-bisamulah jiwa ini kian bertekuk lutut tak terkendali pada sesuatu yang hanya bayangan. Semua yang kita lalui bersama, tak kupercaya itu cuma angan.
Aku milikmu, bukan? Jika belum, maka jadikan. Lalu kupastikan kau takkan hilang (lagi).
11 Februari 2016
Si Pencinta
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-12
Selama ini kau selalu membuatku percaya bahwa dirimu ada. Tak peduli kapanpun, di manapun. Setengah warasku tahu jika tak ada jaminan untuk itu, tapi toh kupasrahkan saja hati ini dalam belenggu manis ciptaanmu.
Sayangnya kau tak merasakan apa yang kurasa. Tak juga percaya pada yang kupercaya; kita.
Rindu ini serupa kalam tak terbaca. Tak terjamah. Tak terlihat, bahkan. Lalu apa aku bagimu? Apa kasih ini untukmu? Alasan. Hiburan. Prestis. Bisa-bisamulah jiwa ini kian bertekuk lutut tak terkendali pada sesuatu yang hanya bayangan. Semua yang kita lalui bersama, tak kupercaya itu cuma angan.
Aku milikmu, bukan? Jika belum, maka jadikan. Lalu kupastikan kau takkan hilang (lagi).
11 Februari 2016
Si Pencinta
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-12
Senin, 08 Februari 2016
Ken
Kenzo! Keponakan bude yang chubby nan ganteng. Ini hari terakhir kamu di rumah eyang. Setelah sejak dua hari lalu--bersama papa dan mama--kalian menginap, menghabiskan libur akhir pekan bersama keluarga Sidoarjo.
Cukup lama juga sejak terakhir kita bertemu--saat itu mungkin usiamu baru beberapa bulan, dan sekarang sudah hampir setahun--jadwal berkunjung kita pun seringkali kres, maka aku mahfum kamu merasa asing saat aku mencoba menggendongmu lagi kemarin. Kamu malah menangis.
Kamu juga tidak terlalu akrab dengan Pakde Anto, suamiku. Dia kelihatan terlalu gahar bagi bayi, ya? Meski sebenarnya pakdemu itu seorang penyayang. Dia mungkin cuma kagok, malu-malu, karena di usianya yang masih suka hura-hura dia sudah punya beberapa keponakan. Bukan hanya menjadi 'oom' tapi juga 'pakde', untukmu misalnya. Tentu status tersebut bisa melekat karena orangtuamu--Mas Agus dan Mbak Lia--meski telah lebih dulu menikah, merupakan anak dan menantu dari adik mamak kami. Bingung? Ya, suatu saat di sekolah pasti akan ada pelajaran tentang pohon keluarga.
Nikmati saat-saat kamu menjadi satu-satunya raja kecil di rumah besar ini, Injo Sayang. Selagi sepupumu yang lain tidak berada di kota ini. Sebut saja kakak-beradik anak Pakde Tono di Jakarta, Kanaya yang belum sekalipun terbang dari Balikpapan, serta calon sepupumu yang kini tengah mendiami perutku--yang akan lahir beberapa bulan lagi. Tapi tenang saja, aku yakin kalian semua akan cepat akrab bila bersama.
Lekas tumbuh besar dan makin ganteng ya, Sayang. Lalu panggil aku "Bude".
Rumah keluarga besar, 8 Februari 2016
Sang bude
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-9
Cukup lama juga sejak terakhir kita bertemu--saat itu mungkin usiamu baru beberapa bulan, dan sekarang sudah hampir setahun--jadwal berkunjung kita pun seringkali kres, maka aku mahfum kamu merasa asing saat aku mencoba menggendongmu lagi kemarin. Kamu malah menangis.
Kamu juga tidak terlalu akrab dengan Pakde Anto, suamiku. Dia kelihatan terlalu gahar bagi bayi, ya? Meski sebenarnya pakdemu itu seorang penyayang. Dia mungkin cuma kagok, malu-malu, karena di usianya yang masih suka hura-hura dia sudah punya beberapa keponakan. Bukan hanya menjadi 'oom' tapi juga 'pakde', untukmu misalnya. Tentu status tersebut bisa melekat karena orangtuamu--Mas Agus dan Mbak Lia--meski telah lebih dulu menikah, merupakan anak dan menantu dari adik mamak kami. Bingung? Ya, suatu saat di sekolah pasti akan ada pelajaran tentang pohon keluarga.
Nikmati saat-saat kamu menjadi satu-satunya raja kecil di rumah besar ini, Injo Sayang. Selagi sepupumu yang lain tidak berada di kota ini. Sebut saja kakak-beradik anak Pakde Tono di Jakarta, Kanaya yang belum sekalipun terbang dari Balikpapan, serta calon sepupumu yang kini tengah mendiami perutku--yang akan lahir beberapa bulan lagi. Tapi tenang saja, aku yakin kalian semua akan cepat akrab bila bersama.
Lekas tumbuh besar dan makin ganteng ya, Sayang. Lalu panggil aku "Bude".
Rumah keluarga besar, 8 Februari 2016
Sang bude
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-9
Minggu, 07 Februari 2016
Hujan Semalam
Halo, Minggu.
Bertemu denganmu kadang seperti misteri tersendiri buatku. Bagaimana tidak? Dari minggu ini ke minggu depan misalnya, ada tujuh hari yang harus ditempuh lebih dulu. Hanya saja tujuh hari itu bisa lama sekali berlalu, tapi sebaliknya secara tak terduga seringkali aku dikejutkan oleh kata-kataku sendiri, "Eh, sekarang sudah Jumat? Cepat sekali, besok sudah Sabtu lalu Minggu." Sungguh relativitas yang ajaib.
Tidak seperti kebanyakan orang yang menantimu dalam semingguan ini, aku biasa saja. Bukan tak ingin bertemu, hanya saja rencana di akhir pekanku tidaklah sebanyak mereka yang sudah bersemangat menyusun liburan sejak Jumat datang. Long weekend memang menyenangkan bagi mereka yang akan melewatkan hari libur bersama orang-orang tersayang.
Aku pun, meski dalam versiku liburan tak harus bepergian ke mana-mana. Tinggal saja di rumah bersama keluarga menikmati hujan semalaman. Menyenangkan. Apalagi ditemani acara TV favorit dan berbagai penganan hangat. Ote-ote, singkong goreng, tahu fantasi, dll, menjadi pengerat kami sementara di luar sana hujan terus mengguyur.
Siaran sepakbola sempat terganggu lantaran antena kami berubah arah tertiup angin. Jangan tanya bagaimana hasilnya. Aku sama sedih dengan warga perumahan yang kawasan rumahnya terendam banjir dari luapan air sungai akibat hujan turun semalaman.
Pagi ini, dua berita tersebut muncul di berita TV nasional: gagalnya Liverpool mempertahankan keunggulan di kandang sendiri serta banjir di daerah Mojoanyar dan sekitarnya yang belum juga surut hingga pagi.
Hujan memang tidak selalu menyenangkan, tapi tidak juga seburuk itu. Tenang, bukan salahmu. Kebetulan saja memang terjadi di Hari Minggu.
Mojokerto, 7 Februari 2016
Penikmat hujan
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-8
Bertemu denganmu kadang seperti misteri tersendiri buatku. Bagaimana tidak? Dari minggu ini ke minggu depan misalnya, ada tujuh hari yang harus ditempuh lebih dulu. Hanya saja tujuh hari itu bisa lama sekali berlalu, tapi sebaliknya secara tak terduga seringkali aku dikejutkan oleh kata-kataku sendiri, "Eh, sekarang sudah Jumat? Cepat sekali, besok sudah Sabtu lalu Minggu." Sungguh relativitas yang ajaib.
Tidak seperti kebanyakan orang yang menantimu dalam semingguan ini, aku biasa saja. Bukan tak ingin bertemu, hanya saja rencana di akhir pekanku tidaklah sebanyak mereka yang sudah bersemangat menyusun liburan sejak Jumat datang. Long weekend memang menyenangkan bagi mereka yang akan melewatkan hari libur bersama orang-orang tersayang.
Aku pun, meski dalam versiku liburan tak harus bepergian ke mana-mana. Tinggal saja di rumah bersama keluarga menikmati hujan semalaman. Menyenangkan. Apalagi ditemani acara TV favorit dan berbagai penganan hangat. Ote-ote, singkong goreng, tahu fantasi, dll, menjadi pengerat kami sementara di luar sana hujan terus mengguyur.
Siaran sepakbola sempat terganggu lantaran antena kami berubah arah tertiup angin. Jangan tanya bagaimana hasilnya. Aku sama sedih dengan warga perumahan yang kawasan rumahnya terendam banjir dari luapan air sungai akibat hujan turun semalaman.
Pagi ini, dua berita tersebut muncul di berita TV nasional: gagalnya Liverpool mempertahankan keunggulan di kandang sendiri serta banjir di daerah Mojoanyar dan sekitarnya yang belum juga surut hingga pagi.
Hujan memang tidak selalu menyenangkan, tapi tidak juga seburuk itu. Tenang, bukan salahmu. Kebetulan saja memang terjadi di Hari Minggu.
Mojokerto, 7 Februari 2016
Penikmat hujan
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-8
Sabtu, 06 Februari 2016
Nobar Kandang
Dear, Televisi Ikan Terbang.
Lama tidak bersua, ya? Kau tahu, aku sempat menjadi salah satu penikmat beratmu. Dulu. Sekitar duapuluhan tahun lalu, sejak masih balita, sampai kira-kira usia SMP. Acara yang kutonton? Tentulah anime. Mulai dari Sailor Moon, Saint Seiya, Dragon Ball, Wedding Peach, Detektif Conan, Inuyasha, dan berderet judul lain yang akan buang-buang waktu jika kusebut satu per satu.
Barangkali era tahun 2000-an adalah masa kejayaan bagimu. Hari-hariku menjadikan channel-mu nomor satu dan paling utama pada remote TV di rumah. Tapi kau pasti tahu hal tersebut tidak bertahan lama. Entah mengapa perlahan-lahan kau kehilangan pesonamu terhadap pemirsa-pemirsa muda generasiku.
Berlangsung sampai sekarang, aku masih belum menemukan cukup alasan untuk kembali menyalakan TV demi menonton siaranmu. Sayang sekali... Padahal kita benar-benar pernah menghabiskan banyak waktu menyenangkan bersama.
Kemarin seorang kawan memberitahuku informasi di atas. Dia tahu bahwa aku adalah pendukung The Reds. Secara kebetulan, venue nobar match nanti malam berubah, yang sebelumnya bermarkas di salah satu kafe bola tak jauh dari kompleks perumahanku menjadi lebih jauh--30 menit jika ditempuh dengan motor. Ditambah jadwal kick off di atas jam malam, sudah pasti aku takkan dapat izin dari ibu untuk keluar rumah dan ikut nobar Liverpool vs Sunderland dengan skuat Kopites Mojokerto.
Apa aku punya pilihan lain? Kau sudah berbaik hari akan menyiarkan laga tersebut. Ini adalah pertandingan kandang yang penting bagi Liverpool setelah beberapa match sebelumnya tidak membuahkan hasil. Mungkin saja sesuatu yang baik terjadi di Anfield malam ini. Alasan indah untuk membuatku menonton tayanganmu kembali. Iya, kali ini nobar bolanya di rumah sama bareng keluarga. Terima kasih.
Depan layar kaca, 6 Februari 2016
Penontonmu
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-7
Lama tidak bersua, ya? Kau tahu, aku sempat menjadi salah satu penikmat beratmu. Dulu. Sekitar duapuluhan tahun lalu, sejak masih balita, sampai kira-kira usia SMP. Acara yang kutonton? Tentulah anime. Mulai dari Sailor Moon, Saint Seiya, Dragon Ball, Wedding Peach, Detektif Conan, Inuyasha, dan berderet judul lain yang akan buang-buang waktu jika kusebut satu per satu.
Barangkali era tahun 2000-an adalah masa kejayaan bagimu. Hari-hariku menjadikan channel-mu nomor satu dan paling utama pada remote TV di rumah. Tapi kau pasti tahu hal tersebut tidak bertahan lama. Entah mengapa perlahan-lahan kau kehilangan pesonamu terhadap pemirsa-pemirsa muda generasiku.
Berlangsung sampai sekarang, aku masih belum menemukan cukup alasan untuk kembali menyalakan TV demi menonton siaranmu. Sayang sekali... Padahal kita benar-benar pernah menghabiskan banyak waktu menyenangkan bersama.
Kemarin seorang kawan memberitahuku informasi di atas. Dia tahu bahwa aku adalah pendukung The Reds. Secara kebetulan, venue nobar match nanti malam berubah, yang sebelumnya bermarkas di salah satu kafe bola tak jauh dari kompleks perumahanku menjadi lebih jauh--30 menit jika ditempuh dengan motor. Ditambah jadwal kick off di atas jam malam, sudah pasti aku takkan dapat izin dari ibu untuk keluar rumah dan ikut nobar Liverpool vs Sunderland dengan skuat Kopites Mojokerto.
Apa aku punya pilihan lain? Kau sudah berbaik hari akan menyiarkan laga tersebut. Ini adalah pertandingan kandang yang penting bagi Liverpool setelah beberapa match sebelumnya tidak membuahkan hasil. Mungkin saja sesuatu yang baik terjadi di Anfield malam ini. Alasan indah untuk membuatku menonton tayanganmu kembali. Iya, kali ini nobar bolanya di rumah sama bareng keluarga. Terima kasih.
Depan layar kaca, 6 Februari 2016
Penontonmu
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-7
Jumat, 05 Februari 2016
Jumat yang Mencinta
Kuharap surat ini tiba di tanganmu pada Hari Jumat. Setelah lolos dari basah hujan seharian. Selepas bergumul dengan banyak surat lain yang minta cepat diantar.
Kau, apa kabar Jumat ini? Semoga Jumat selalu menjadi hari baikmu seperti yang sudah-sudah. Aku? Seperti yang kau tahu, aku tidak pernah menyukai Hari Jumat. Hari yang terlalu pendek dengan berbagai permasalahan yang terlalu rumit, sementara akhir pekan menyenangkan sudah datang membayang. Menyebalkan sekali, bukan? Paling tidak masalah-masalah tersebut sebaiknya memilih hari lain untuk ribut. Apa tidak puas dengan Senin sampai Kamis saja?
Ah, aku tidak menulis surat untuk membagi kesialanku hari ini denganmu. Hanya...tiba-tiba terpikir, jika saja itu dirimu yang ada di posisiku dan mengalami hal-hal tak menyenangkan seperti yang kualami, bagaimana kira-kira reaksimu? Apa yang akan kau lakukan untuk menyelamatkan hatimu?
Tersenyum. Ya, sudah pasti kau akan tersenyum--kemudian menjadi tawa--sambil menggaruk-garuk kepalamu--yang kuyakin tidak gatal--lalu meminta maaf. Benar. Kau adalah seseorang yang akan minta maaf atas apapun pada siapapun demi menenangkan dan menyenangkan mereka. 'Mereka' itu juga termasuk aku.
Andai kau tahu betapa ingin menjadi seperti dirimu. Yang seperti tak pernah repot membenci. Yang selalu terlihat nyaman sebagai diri sendiri.
Sangat kunantikan kapan aku dan Jumat akan bisa berdamai. Sampai saat itu tiba, tolong tetaplah di sini dan menjadi pembaik Jumatku.
Jumat hujan, 5 Februari 2016
Pembenci Jumat
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-6
Kau, apa kabar Jumat ini? Semoga Jumat selalu menjadi hari baikmu seperti yang sudah-sudah. Aku? Seperti yang kau tahu, aku tidak pernah menyukai Hari Jumat. Hari yang terlalu pendek dengan berbagai permasalahan yang terlalu rumit, sementara akhir pekan menyenangkan sudah datang membayang. Menyebalkan sekali, bukan? Paling tidak masalah-masalah tersebut sebaiknya memilih hari lain untuk ribut. Apa tidak puas dengan Senin sampai Kamis saja?
Ah, aku tidak menulis surat untuk membagi kesialanku hari ini denganmu. Hanya...tiba-tiba terpikir, jika saja itu dirimu yang ada di posisiku dan mengalami hal-hal tak menyenangkan seperti yang kualami, bagaimana kira-kira reaksimu? Apa yang akan kau lakukan untuk menyelamatkan hatimu?
Tersenyum. Ya, sudah pasti kau akan tersenyum--kemudian menjadi tawa--sambil menggaruk-garuk kepalamu--yang kuyakin tidak gatal--lalu meminta maaf. Benar. Kau adalah seseorang yang akan minta maaf atas apapun pada siapapun demi menenangkan dan menyenangkan mereka. 'Mereka' itu juga termasuk aku.
Andai kau tahu betapa ingin menjadi seperti dirimu. Yang seperti tak pernah repot membenci. Yang selalu terlihat nyaman sebagai diri sendiri.
Sangat kunantikan kapan aku dan Jumat akan bisa berdamai. Sampai saat itu tiba, tolong tetaplah di sini dan menjadi pembaik Jumatku.
Jumat hujan, 5 Februari 2016
Pembenci Jumat
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-6
Kamis, 04 Februari 2016
Surat yang Tak Pernah Terkirim
Kepada Tuan Kudou sang detektif,
Hari ini aku sedang senggang. Seperti yang sudah-sudah semua kegiatan klub diliburkan sepanjang musim dingin--termasuk klub karate--jadi aku langsung pulang. Kali ini tidak bareng Sonoko. Sebelumnya dia sudah bilang akan dijemput karena harus menghadiri acara resmi perusahaan rekan ayahnya. Benar-benar repot, ya.
Sudah lama tidak melihatmu. Cukup lama juga sejak terakhir kali kau menelepon--entah bagaimana dan dari mana--maka aku terpikir untuk menulis surat. Bukan apa-apa. Hanya ingin bilang bahwa sesekali aku masih mengunjungi rumahmu dan membersihkan beberapa bagian. Bahkan beberapa minggu lalu aku sangat terbantu oleh Kazuha-chan dan Heiji-kun yang menyempatkan diri mampir sepulang dari hatsumode di Tokyo. Setelahnya kami juga bertemu profesor dan dijamu di rumahnya. Menyenangkan sekali. Apalagi jika Shinichi ikut bergabung.
Oh, iya, selagi aku, Kazuha-chan, dan Heiji-kun membereskan rumah, kami bercerita banyak hal tentangmu. Aku baru tahu kalau kau dan Heiji-kun sempat dekat sewaktu SMP dan pernah menangani kasus bersama. Kazuha-chan juga seperti tahu banyak tentang riwayat kasus-kasus yang ditangani oleh Heiji-kun. Iya, ya. Mereka kan memang teman sejak kecil. Ah, bukankah kita juga sama? Hanya saja aku tidak merasa sedekat itu denganmu. Eh? Lupakan. Lupakan. Ini tidak seperti aku iri dengan hubungan persahabatan mereka atau apa. Aku juga bukannya sedang merindukanmu!
Ahh, sudahlah! Pokoknya, jangan lupa. Tepat tiga bulan lagi adalah hari ulang tahunmu. Kuharap kau sudah berhasil menyelesaikan kasus-kasusmu dan segera pulang ke Jepang. Ngomong-ngomong surat ini tidak akan kukirim ke manapun. Sama seperti surat-surat yang pernah kutulis untukmu sebelumnya. Tidak masalah, kan?
Kamarku, 4 Februari 2016
Ran Mouri
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-5
Hari ini aku sedang senggang. Seperti yang sudah-sudah semua kegiatan klub diliburkan sepanjang musim dingin--termasuk klub karate--jadi aku langsung pulang. Kali ini tidak bareng Sonoko. Sebelumnya dia sudah bilang akan dijemput karena harus menghadiri acara resmi perusahaan rekan ayahnya. Benar-benar repot, ya.
Sudah lama tidak melihatmu. Cukup lama juga sejak terakhir kali kau menelepon--entah bagaimana dan dari mana--maka aku terpikir untuk menulis surat. Bukan apa-apa. Hanya ingin bilang bahwa sesekali aku masih mengunjungi rumahmu dan membersihkan beberapa bagian. Bahkan beberapa minggu lalu aku sangat terbantu oleh Kazuha-chan dan Heiji-kun yang menyempatkan diri mampir sepulang dari hatsumode di Tokyo. Setelahnya kami juga bertemu profesor dan dijamu di rumahnya. Menyenangkan sekali. Apalagi jika Shinichi ikut bergabung.
Oh, iya, selagi aku, Kazuha-chan, dan Heiji-kun membereskan rumah, kami bercerita banyak hal tentangmu. Aku baru tahu kalau kau dan Heiji-kun sempat dekat sewaktu SMP dan pernah menangani kasus bersama. Kazuha-chan juga seperti tahu banyak tentang riwayat kasus-kasus yang ditangani oleh Heiji-kun. Iya, ya. Mereka kan memang teman sejak kecil. Ah, bukankah kita juga sama? Hanya saja aku tidak merasa sedekat itu denganmu. Eh? Lupakan. Lupakan. Ini tidak seperti aku iri dengan hubungan persahabatan mereka atau apa. Aku juga bukannya sedang merindukanmu!
Ahh, sudahlah! Pokoknya, jangan lupa. Tepat tiga bulan lagi adalah hari ulang tahunmu. Kuharap kau sudah berhasil menyelesaikan kasus-kasusmu dan segera pulang ke Jepang. Ngomong-ngomong surat ini tidak akan kukirim ke manapun. Sama seperti surat-surat yang pernah kutulis untukmu sebelumnya. Tidak masalah, kan?
Kamarku, 4 Februari 2016
Ran Mouri
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-5
Langganan:
Postingan (Atom)
