Malam minggu terakhir sebagai seorang single. :P Muehehehe...
Weekend ini akan jadi salah satu weekend bersejarah dalam hidupku, karena yah, tomorrow I will be engaged with my lover. ^///^
22 Maret, bertepatan dengan ulang tahunku ke-24 (ouch, I've been that mature already, LOL) aku dan Kak Anto Inshaa Allah akan melangsungkan prosesi lamaran kami. Memang sudah direncanakan sejak tahun lalu, sempat begitu dinanti (dan masih), sekarang tahu-tahu sudah H-1 saja. Nggak terasa gitu, ujug-ujug sudah besok. Keluarga kami akan bertemu, sekaligus melanjutkan pembicaraan tentang pernikahan kami pada bulan lima mendatang. *degdeg*
Iya, deg-degan. Kalau kemarin-kemarin aku masih cenderung nyantai, tapi nggak kupungkiri semakin ke sini sudah mulai makin terasa mulas dan deg-degannya. Still can't help but just let it go with the flow, nggak inginlah terlalu diburu cemas tentang bagaimana besok. Daripada terburu-buru dan jadi nggak fokus pada persiapan sekarang, ya mending menenangkan diri sendiri dengan berdoa and keep positive thinking. :))
Postingan ini pun dalam rangka menerapi hatiku agar kian siap. Selain persiapan lain-lain yang 'terlihat', persiapan batinku juga tetap harus diperhatikan. xP Bala bantuan datang dari sepupu tersayang, Noi, yang sudah tiba di rumah sejak dzuhur dengan membawa macam-macam buah tangan yang pastinya sangat berguna. Om Iin beserta Tante Nik dan Dek Iman menyusul nggak lama kemudian, sekitar ashar. Untung rumah sudah mulai terlihat rapi meski masih sedikit terlihat chaos di sana-sini. However, acara beres-beres juga masih terus berlanjut.
Menjelang pukul delapan, sepulang dari Tante Wati, tahu-tahu banyak orang berkumpul di rumah. Saudara-saudara mampir, melihat-lihat proses renovasi rumah yang termasuk salah satu bagian dari persiapan kami. Senang sih, dan agak-agak surprised. Ini baru malamnya sudah ramai begini, gimana besok pas hari-H? /,\
Sebenarnya pengin banget bertemu Kak Anto, sekadar membagi gugup *halah sayangnya dia sudah ke rumah duluan sebelum aku sampai. Keselisipan jalan. :( Ya nggak apa-apa sih, kan besok pagi juga ketemu. Huahahahaha... Dia memang cuma mampir sebentar dari perjalanannya hunting sepatu, untuk besok katanya. ;)
Happy (last) 10th month annivesary, Darl. See you tomorrow on our engagement day. :*
Di luar hujan? Mari kuseduhkan secangkir kopi panas untukmu. Tentu kita bisa saling bertukar cerita sembari menikmati pelangi dan senja, kan? *^_^*
Sabtu, 21 Maret 2015
Selasa, 17 Maret 2015
#Countdown 17 to 22
Selasa, 17 Maret 2015
Lima hari lagi sebelum tanggal dua puluh dua. Hari ulang tahunku dan -Inshaa Allah- bertepatan Kak Anto sekeluarga akan bertemu keluargaku untuk melamar. ^///^
Dari awal aku selalu berniat serius. Karena cinta dan perasaan tidak pernah selucu itu untuk dimainkan. *apasih* Pertengahan tahun lalu, setelah melewati banyak hal, aku sangat bersyukur saat Kak Anto berkata bahwa dia menginginkan kami bersama. Tapi bukan lagi sebagai pasangan kekasih dengan sebutan 'pacar', lebih dari itu, dia ingin menjadi imamku. Nilai plus untuk pertimbangan, dia secara to-the-point melamarku (meski terkesan implisit :P) dan bukannya sekadar ingin mengencaniku saja.
I'll never forget his very first proposal. In our light conversation of dialy-friendzone-chat. Hehehh...
Sementara babak baru kami akan segera dimulai, ada kalanya aku tidak merasa ada progres berarti pada diriku. Aku tetap seperti inilah aku, begitupun dia, dan kami.
It's just like a dream. Such a wonderful dream I've ever had, while too good to be true. Hahaha... Saking bagusnya sampai aku sadar yang sedang kualami hanya mimpi -yang pasti akan menguap begitu aku bangun dari tidur. :/
Jadi berkali-kali kuyakinkan diri bahwa yang kali ini tengah kami jalani (bersama) benar-benar sungguhan, kenyataan. Buah kepercayaan yang selalu kami ikhtiarkan. Kami percaya, usaha keras tidak akan pernah menghianati. Pelangi selalu indah dilihat seusai hujan lebat. :))
Lima hari lagi sebelum tanggal dua puluh dua. Hari ulang tahunku dan -Inshaa Allah- bertepatan Kak Anto sekeluarga akan bertemu keluargaku untuk melamar. ^///^
Dari awal aku selalu berniat serius. Karena cinta dan perasaan tidak pernah selucu itu untuk dimainkan. *apasih* Pertengahan tahun lalu, setelah melewati banyak hal, aku sangat bersyukur saat Kak Anto berkata bahwa dia menginginkan kami bersama. Tapi bukan lagi sebagai pasangan kekasih dengan sebutan 'pacar', lebih dari itu, dia ingin menjadi imamku. Nilai plus untuk pertimbangan, dia secara to-the-point melamarku (meski terkesan implisit :P) dan bukannya sekadar ingin mengencaniku saja.
I'll never forget his very first proposal. In our light conversation of dialy-friendzone-chat. Hehehh...
"So, have you found any man to be your future husband?"
"Nope," I answered. "Not yet,"
"Why?"
"Nothing, because someone in the past still so precious and unreplaceable?" I made laugh.
"Really? So, may I get your stuffs and become 'that precious someone' for you"?There were we... And here we are now, and so on... :')
Sementara babak baru kami akan segera dimulai, ada kalanya aku tidak merasa ada progres berarti pada diriku. Aku tetap seperti inilah aku, begitupun dia, dan kami.
It's just like a dream. Such a wonderful dream I've ever had, while too good to be true. Hahaha... Saking bagusnya sampai aku sadar yang sedang kualami hanya mimpi -yang pasti akan menguap begitu aku bangun dari tidur. :/
Jadi berkali-kali kuyakinkan diri bahwa yang kali ini tengah kami jalani (bersama) benar-benar sungguhan, kenyataan. Buah kepercayaan yang selalu kami ikhtiarkan. Kami percaya, usaha keras tidak akan pernah menghianati. Pelangi selalu indah dilihat seusai hujan lebat. :))
Rabu, 11 Maret 2015
Marching March
First post in March~~ :D
Last post was in the end of February. Hari terakhir kewajiban mem-post surat dalam event #30HariMenulisSuratCinta yang berakhir dengan kekalahanku... :( Ya, kalah. Seharusnya ada 30 buah surat yang kutulis, tapi barangkali aku baru membuat setengahnya saja. (´・_・`) Tapi tahun depan aku pasti akan berpartipasi lagi dan lebih giat menulis surat. Yosh! ヽ(*≧ω≦)ノ
Maret 2015 diawali dengan kejutan-kejutan hebat. Memang baru awal. Semoga hingga ia berakhir pun, akan terus berdatangan kesenangan dan kebahagiaan yang kunantikan.
Tanpa terasa sekarang sudah tanggal sebelas. Kurang sebelas hari lagi untuk sampai pada hari kesepakatan. Kurang dari dua minggu ke depan, batas usiaku akan diperbarui. Berganti. Bertambah. Ahh~ I am a young lady already. /,\ Sesegera itu pula, hubunganku dan Oppa juga akan diperbarui. Berganti. Bertambah serius. Bantu doa agar semua rencana kami terlaksana dengan lancar, ya. Aamiiin... Terima kasih. *hug*
Lagi-lagi memang tidak ada 100% bahagia pun 100% duka. Semuanya -bagaimanapun- saling melengkapi satu sama lain. Kata mereka, "semakin mendekati hari-H tak ayal serasa 'cobaan' kian menjadi. Ujian-ujian dari-Nya seperti tak ada habis".
Seperti yang terjadi minggu lalu, misalnya. Siapa sangka kejadian naas -yang paling kuhindari- seperti itu akan terjadi lagi? Meski bukan kesengajaan, meski tak satupun dari kami menginginkan. Tapi yah, toh tetap terjadi.
Tapi tapi tapi... Sungguh tak terhitung rasa syukurku pada-Nya, atas segala yang telah Ia beri padaku. Di mana selalu ada obat bagi setiap luka. Sebagaimana jalan keluar tidak pernah dijauhkan dari akar masalah. Allah memberiku tes terlebih dahulu, sebelum aku memperoleh 'hasil ujian' yang -alhamdulillah- tidak pernah jauh dari apa yang kuharapkan. Persoalan demi persoalan kami selalu selesai dengan baik, bahkan sebelum aku selesai mendoakan akhir yang baik baginya. Subhanallah, bukan?
Tak perlu mencari di mana nikmat itu. Karena waktu yang mengantar kita sampai ke detik ini pun adalah keajaiban dari-Nya. Masa lalu, masa kini, dan masa depan, meski keberadaannya tidak boleh dicampur-adukkan, tapi tetap akan saling berhubungan.
Tidak mungkin ada kita yang sekarang, jika kita tidak melalui hari-hari kemarin. Entah itu jalan yang mulus-mulus saja tapi terasa sepi di hati, atau setapak berduri menyusur bebatuan terjal yang penuh petualangan. Sedih, senang, kecewa, haru, sakit, berjuang, bangkit, berkorban... Tidak ada yang salah dengan itu. Kita semua tiba di detik ini berkat semua esensi dari tiap-tiap perasaan itu. Kenapa harus disesali?
Masa depan masih cukup panjang untuk terlalu dirisaukan sekarang. Apakah kamu sepenggal kisahku di masa lalu, teman seperjuangan di masa sekarang, atau bakal sahabat masa depanku, terus semangat ya!
Semoga Maret-mu secerah Maret-ku. ;)
Last post was in the end of February. Hari terakhir kewajiban mem-post surat dalam event #30HariMenulisSuratCinta yang berakhir dengan kekalahanku... :( Ya, kalah. Seharusnya ada 30 buah surat yang kutulis, tapi barangkali aku baru membuat setengahnya saja. (´・_・`) Tapi tahun depan aku pasti akan berpartipasi lagi dan lebih giat menulis surat. Yosh! ヽ(*≧ω≦)ノ
Maret 2015 diawali dengan kejutan-kejutan hebat. Memang baru awal. Semoga hingga ia berakhir pun, akan terus berdatangan kesenangan dan kebahagiaan yang kunantikan.
Tanpa terasa sekarang sudah tanggal sebelas. Kurang sebelas hari lagi untuk sampai pada hari kesepakatan. Kurang dari dua minggu ke depan, batas usiaku akan diperbarui. Berganti. Bertambah. Ahh~ I am a young lady already. /,\ Sesegera itu pula, hubunganku dan Oppa juga akan diperbarui. Berganti. Bertambah serius. Bantu doa agar semua rencana kami terlaksana dengan lancar, ya. Aamiiin... Terima kasih. *hug*
Lagi-lagi memang tidak ada 100% bahagia pun 100% duka. Semuanya -bagaimanapun- saling melengkapi satu sama lain. Kata mereka, "semakin mendekati hari-H tak ayal serasa 'cobaan' kian menjadi. Ujian-ujian dari-Nya seperti tak ada habis".
Seperti yang terjadi minggu lalu, misalnya. Siapa sangka kejadian naas -yang paling kuhindari- seperti itu akan terjadi lagi? Meski bukan kesengajaan, meski tak satupun dari kami menginginkan. Tapi yah, toh tetap terjadi.
Tapi tapi tapi... Sungguh tak terhitung rasa syukurku pada-Nya, atas segala yang telah Ia beri padaku. Di mana selalu ada obat bagi setiap luka. Sebagaimana jalan keluar tidak pernah dijauhkan dari akar masalah. Allah memberiku tes terlebih dahulu, sebelum aku memperoleh 'hasil ujian' yang -alhamdulillah- tidak pernah jauh dari apa yang kuharapkan. Persoalan demi persoalan kami selalu selesai dengan baik, bahkan sebelum aku selesai mendoakan akhir yang baik baginya. Subhanallah, bukan?
Rahman-rahiim Allah mana yang berani kudustakan?Tak satupun.
Tak perlu mencari di mana nikmat itu. Karena waktu yang mengantar kita sampai ke detik ini pun adalah keajaiban dari-Nya. Masa lalu, masa kini, dan masa depan, meski keberadaannya tidak boleh dicampur-adukkan, tapi tetap akan saling berhubungan.
Tidak mungkin ada kita yang sekarang, jika kita tidak melalui hari-hari kemarin. Entah itu jalan yang mulus-mulus saja tapi terasa sepi di hati, atau setapak berduri menyusur bebatuan terjal yang penuh petualangan. Sedih, senang, kecewa, haru, sakit, berjuang, bangkit, berkorban... Tidak ada yang salah dengan itu. Kita semua tiba di detik ini berkat semua esensi dari tiap-tiap perasaan itu. Kenapa harus disesali?
Masa depan masih cukup panjang untuk terlalu dirisaukan sekarang. Apakah kamu sepenggal kisahku di masa lalu, teman seperjuangan di masa sekarang, atau bakal sahabat masa depanku, terus semangat ya!
Semoga Maret-mu secerah Maret-ku. ;)
Sabtu, 28 Februari 2015
Gadis 10 Tahun Lalu
Kepada gadis sepuluh tahun lalu,
tahun 2005, dua puluh dua hari jelang ulang tahunmu yang ke-14. Bagaimana kabarmu? Sudahkah lebih baik? Bulan Maret ini adalah kali pertamamu merayakan ulang tahun tanpa ayah. November 2004 lalu merupakan perjumpaan terakhir kalian. Selanjutnya tidak akan ada lagi anak perempuan ayah yang manja. Kelak kau harus benar-benar jadi kuat demi melindungi dan mempertahankan keluarga kecil kalian. Ibu dan dua orang adikmu akan sangat bergantung padamu. Kau adalah harapan besar ayah.
Meski begitu, Eru, biar kuberitahukan padamu. Tak perlu terlalu mencemaskan masa depan. Jalani saja. Semampumu. Perlahan-lahan, sesuai porsimu, aku percaya kau pasti bisa. Dan syukurlah kau memang bisa.
Tertatih, kau naik kelas 3, sekelas dengan orang-orang yang akan menjadi sahabat baikmu kelak. Berhasil lulus SMP dengan nilai baik dan masuk ke SMA pilihanmu. Di sana kau akan bertemu orang-orang baru dan belajar lebih banyak hal. Berteman, berorganisasi, melakukan kegiatan-kegiatan yang kau inginkan, juga jatuh cinta.
Cinta pertamamu muncul di tahun pertamamu berseragam putih abu-abu. Seorang pemuda dengan hati hangat bersahabat. Anak laki-laki jangkung berkulit sawo matang dengan senyum lebar yang memamerkan gigi-gigi gingsul nan manis. Kepadanyalah, kau labuhkan hati mudamu, meski dia bukan orang pertama yang menjadikanmu kekasihnya.
Setelah lulus SMA kau mengikuti tes penerimaan universitas, namun gagal. Mungkin kau harus belajar lebih giat lagi. Sayangnya, kau yang terlanjur putus asa memilih langsung bekerja. Tapi menurutku itu bukan sembarang keputusan. Berkat kerja kerasmu jugalah, sedikit demi sedikit beban keluarga bisa terangkat.
4 tahun berpacaran, hubunganmu dengan kekasihmu terpaksa kandas. Cinta pertamamu kembali hadir, dan kau segera tahu bahwa lelaki itulah yang memang kau inginkan. Berbagai prahara menerpa, tapi kalian berhasil mengatasinya bersama.
Tahukah kau bagian terbaiknya, Eru? Pada bulan ke 10 hubungan kalian, lelakimu berencana melamar, dan pernikahan kalian akan dihelat dua bulan setelahnya. Kuperkirakan tepat setahun anniversary jadianmu dengannya, statusmu sudah berubah. Dari seorang kekasih, menjadi seorang istri.
Selamat ya, Eru. Mari kita buktikan bahwa upik abu pun berhak bahagia serupa Cinderella.
Cepatlah tumbuh dewasa.
Sekarang, 28 Februari 2015,
Dirimu 10 tahun lagi
Surat Ke-30 #30HariMenulisSuratCinta
tahun 2005, dua puluh dua hari jelang ulang tahunmu yang ke-14. Bagaimana kabarmu? Sudahkah lebih baik? Bulan Maret ini adalah kali pertamamu merayakan ulang tahun tanpa ayah. November 2004 lalu merupakan perjumpaan terakhir kalian. Selanjutnya tidak akan ada lagi anak perempuan ayah yang manja. Kelak kau harus benar-benar jadi kuat demi melindungi dan mempertahankan keluarga kecil kalian. Ibu dan dua orang adikmu akan sangat bergantung padamu. Kau adalah harapan besar ayah.
Meski begitu, Eru, biar kuberitahukan padamu. Tak perlu terlalu mencemaskan masa depan. Jalani saja. Semampumu. Perlahan-lahan, sesuai porsimu, aku percaya kau pasti bisa. Dan syukurlah kau memang bisa.
Tertatih, kau naik kelas 3, sekelas dengan orang-orang yang akan menjadi sahabat baikmu kelak. Berhasil lulus SMP dengan nilai baik dan masuk ke SMA pilihanmu. Di sana kau akan bertemu orang-orang baru dan belajar lebih banyak hal. Berteman, berorganisasi, melakukan kegiatan-kegiatan yang kau inginkan, juga jatuh cinta.
Cinta pertamamu muncul di tahun pertamamu berseragam putih abu-abu. Seorang pemuda dengan hati hangat bersahabat. Anak laki-laki jangkung berkulit sawo matang dengan senyum lebar yang memamerkan gigi-gigi gingsul nan manis. Kepadanyalah, kau labuhkan hati mudamu, meski dia bukan orang pertama yang menjadikanmu kekasihnya.
Setelah lulus SMA kau mengikuti tes penerimaan universitas, namun gagal. Mungkin kau harus belajar lebih giat lagi. Sayangnya, kau yang terlanjur putus asa memilih langsung bekerja. Tapi menurutku itu bukan sembarang keputusan. Berkat kerja kerasmu jugalah, sedikit demi sedikit beban keluarga bisa terangkat.
4 tahun berpacaran, hubunganmu dengan kekasihmu terpaksa kandas. Cinta pertamamu kembali hadir, dan kau segera tahu bahwa lelaki itulah yang memang kau inginkan. Berbagai prahara menerpa, tapi kalian berhasil mengatasinya bersama.
Tahukah kau bagian terbaiknya, Eru? Pada bulan ke 10 hubungan kalian, lelakimu berencana melamar, dan pernikahan kalian akan dihelat dua bulan setelahnya. Kuperkirakan tepat setahun anniversary jadianmu dengannya, statusmu sudah berubah. Dari seorang kekasih, menjadi seorang istri.
Selamat ya, Eru. Mari kita buktikan bahwa upik abu pun berhak bahagia serupa Cinderella.
Cepatlah tumbuh dewasa.
Sekarang, 28 Februari 2015,
Dirimu 10 tahun lagi
Surat Ke-30 #30HariMenulisSuratCinta
Sabtu, 21 Februari 2015
Aku yang Mencinta
Lagi-lagi kamu mengabaikan panggilan telepon dariku. Hari ini saja, sudah berapa banyak missed call-ku terkumpul?
Sudah tidak ada waktu lagi. Sama sekali tidak bisa. Lebih baik aku menyerah saja.
Memang cuma kamu yang bisa.
Mendiamkanku melalui berbagai hari. Cuma kamu saja. Aku tidak.
Kamu bisa merentangkan jarak selebar ini, tapi aku tidak.
Kamu bisa terus mendiamkan kita, tapi aku tidak.
Kamu bisa menganggap tak ada yang terjadi selagi kamu pergi, tapi aku tidak.
Kamu mungkin menyangka aku bisa tanpamu, nyatanya aku tidak.
Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, sebaliknya kamu bisa.
Aku tidak bisa sehari saja tidak bicara denganmu, ternyata kamu bisa.
Aku tidak bisa menenangkan perasaanku yang kacau karena kita, dan ya, kamu selalu bisa.
Kamu bisa melakukan apa saja tanpaku, dan sayangnya aku tak bisa begitu.
Aku ingin mencintaimu sebatas kini, tapi tak bisa.
Aku ingin menghentikan laju airmata yang terlanjur ada, tapi tak bisa.
Aku ingin mengenyahkan rindu, tetap tak bisa.
Aku ingin membuatmu menatapku meski sekejap, menjadikan diriku satu-satunya yang terbaik bagimu, tapi memang tidak bisa.
Kalaupun aku bisa, itu pasti saat aku belum jatuh cinta padamu.
Penghujung rindu, 21 Februari 2015,
Yang ingin mengulang tanggal 21 bersamamu
Surat Ke-23 #30HariMenulisSuratCinta
Sudah tidak ada waktu lagi. Sama sekali tidak bisa. Lebih baik aku menyerah saja.
Memang cuma kamu yang bisa.
Mendiamkanku melalui berbagai hari. Cuma kamu saja. Aku tidak.
Kamu bisa merentangkan jarak selebar ini, tapi aku tidak.
Kamu bisa terus mendiamkan kita, tapi aku tidak.
Kamu bisa menganggap tak ada yang terjadi selagi kamu pergi, tapi aku tidak.
Kamu mungkin menyangka aku bisa tanpamu, nyatanya aku tidak.
Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, sebaliknya kamu bisa.
Aku tidak bisa sehari saja tidak bicara denganmu, ternyata kamu bisa.
Aku tidak bisa menenangkan perasaanku yang kacau karena kita, dan ya, kamu selalu bisa.
Kamu bisa melakukan apa saja tanpaku, dan sayangnya aku tak bisa begitu.
Aku ingin mencintaimu sebatas kini, tapi tak bisa.
Aku ingin menghentikan laju airmata yang terlanjur ada, tapi tak bisa.
Aku ingin mengenyahkan rindu, tetap tak bisa.
Aku ingin membuatmu menatapku meski sekejap, menjadikan diriku satu-satunya yang terbaik bagimu, tapi memang tidak bisa.
Kalaupun aku bisa, itu pasti saat aku belum jatuh cinta padamu.
Penghujung rindu, 21 Februari 2015,
Yang ingin mengulang tanggal 21 bersamamu
Surat Ke-23 #30HariMenulisSuratCinta
Jumat, 20 Februari 2015
Hari Libur Kekasih
Kamu yang beberapa hari ini tak bisa kutemui,
tidakkah ada alasan bagimu untuk sengaja menemuiku? Oleh sebabmu sendiri, bukan karena aku yang terlalu merindukan hadirmu.
Kamu yang sedikit sekali memberi kabar,
tidakkah ingin tahu kabar hari-hariku? Kabar hatiku selama tak bisa bersamamu?
Seperti cinta ini hanya milikku seorang. Seperti rindu ini tak pernah sekalipun singgah di hatimu, apalagi tinggal dan bersarang.
Ada apa dengan panggilan teleponku yang kamu bilang selalu salah waktu? Aku bahkan berusaha tidak peduli saat menyadari bahwa yang kamu teriaki dari seberang sana ternyata diriku.
Ya, aku.
Aku yang berusaha mendiamkan gelisahku karena rindu. Hanya karena aku sudah terlampau rindu serindunya dan ingin sekali bertemu denganmu. Setidaknya di libur akhir pekan ini.
Tapi, sudahlah. Aku bisa melakukan sesuatu terhadap hatiku, meski tanpa pedulimu. Kukatakan semua baik-baik saja. Akan kuatasi rindu ini sendiri. Kamu urusi saja hatimu yang sedang menolak kuurus.
Itulah kamu. Muncul dengan seraut wajah masam. Kali ini tanpa senyuman. Tanpa candaan. Tanpa pelukan. Tanpa kecup yang kurindukan.
Maka kini biarlah hanya aku yang tersenyum padamu. Tertawa pada usahamu mencipta canda yang meski tidak lucu, adalah yang terbaik yang bisa kamu beri saat ini. Biar aku saja yang memelukmu. Berbagi hangat sembari menjejakkan bibirku pada bibir keringmu yang beraroma mint berpadu wangi tembakau.
Coba diam saja, dan aku akan tetap di situ selamanya.
Terima kasih sudah datang, Sayang...
Rumahku, 20 Februari 2015,
Pecandumu
Surat Ke-22 #30HariMenulisSuratCinta
tidakkah ada alasan bagimu untuk sengaja menemuiku? Oleh sebabmu sendiri, bukan karena aku yang terlalu merindukan hadirmu.
Kamu yang sedikit sekali memberi kabar,
tidakkah ingin tahu kabar hari-hariku? Kabar hatiku selama tak bisa bersamamu?
Seperti cinta ini hanya milikku seorang. Seperti rindu ini tak pernah sekalipun singgah di hatimu, apalagi tinggal dan bersarang.
Ada apa dengan panggilan teleponku yang kamu bilang selalu salah waktu? Aku bahkan berusaha tidak peduli saat menyadari bahwa yang kamu teriaki dari seberang sana ternyata diriku.
Ya, aku.
Aku yang berusaha mendiamkan gelisahku karena rindu. Hanya karena aku sudah terlampau rindu serindunya dan ingin sekali bertemu denganmu. Setidaknya di libur akhir pekan ini.
Tapi, sudahlah. Aku bisa melakukan sesuatu terhadap hatiku, meski tanpa pedulimu. Kukatakan semua baik-baik saja. Akan kuatasi rindu ini sendiri. Kamu urusi saja hatimu yang sedang menolak kuurus.
Itulah kamu. Muncul dengan seraut wajah masam. Kali ini tanpa senyuman. Tanpa candaan. Tanpa pelukan. Tanpa kecup yang kurindukan.
Maka kini biarlah hanya aku yang tersenyum padamu. Tertawa pada usahamu mencipta canda yang meski tidak lucu, adalah yang terbaik yang bisa kamu beri saat ini. Biar aku saja yang memelukmu. Berbagi hangat sembari menjejakkan bibirku pada bibir keringmu yang beraroma mint berpadu wangi tembakau.
Coba diam saja, dan aku akan tetap di situ selamanya.
Terima kasih sudah datang, Sayang...
Rumahku, 20 Februari 2015,
Pecandumu
Surat Ke-22 #30HariMenulisSuratCinta
Rabu, 18 Februari 2015
Kisah Padang Ilalang
Tak kusangka, akan tiba masanya aku harus bicara pada seseorang. Tentang perasaanku. Meski hanya melalui surat, karena aku terlalu malu untuk mendiskusikan langsung hal ini denganmu.
Matahari, kau yang paling tahu bukan, apa yang terjadi padaku belakangan ini?
Aku tahu beberapa waktu lalu, aku memang sudah memutuskan untuk pergi. Melupakan padang ilalang dan kehidupanku disini. Berharap pada sebuah taman lain di luar sana, akan ada setitik kebahagiaan yang selalu kudamba.
Ya, kau saksinya kutinggalkan semua. Melupakan segala yang ada di padang ilalang ini. Mengenyahkan persahabatanku dengan Bunga Kristal. Membunuh perasaanku terhadapnya.
Terus-menerus kucari bahagia yang aku pun tak tahu bagaimana wujudnya. Berjuang sekuat tenaga namun tak kunjung kujumpai akhir dahaga. Lalu, apa artinya dulu aku bersikeras pergi? Untuk apa aku membuang segala yang kupunya di padang ilalang, demi secuil ego yang sia-sia belaka?
Dan di antara airmata lelahku, aku teringat padanya. Sebuah kejutan tersendiri ternyata aku begitu merindukannya. Apa kabarnya Bunga Kristal di padang ilalang? Apakah ia bertambah cantik sejak terakhir kali kami bertemu? Sudikah ia kembali bersahabat denganku?
Takkan bisa kubohongimu, Matahari. Kau sudah melihat semua. Betapa lucu angin bulan Agustus menerbangkanku kembali kemari. Tak peduli betapapun aku enggan mengakui, aku senang kembali pulang.
Padang ilalang kering dengan langit biru cemerlangnya. Pada satu titik, sekuntum bunga berwangi abadi tengah merekahkan diri. Bunga Kristal yang rupanya masih menungguku.
Demi musim panas yang membakar sayapku. Matahari, menurutmu, apa yang sesungguhnya ia lihat dariku? Aku tidak cantik. Pun tak semenarik kupu-kupu lain dengan warna-warni elok sayap mereka yang tak pernah kupunya.
Lihatlah! Apa bagusnya hitam legam ini? Tak pernah kumengerti kenapa sebelumnya Bunga Kristal begitu menaruh perhatian padaku yang tak ada apa-apanya ini. Perhatian yang demikian hangat dan -entah sejak kapan- lambat laun memikat, yang selalu mampu menguatkan sayap-sayap ringkihku yang suatu ketika lelah terbang. Tidak lagi sanggup membawaku pergi jauh.
Seperti katamu, Matahari, aku terlalu pengecut untuk tinggal, namun enggan terbang sendirian. Jika saja, hanya jika saja Bunga Kristal mengizinkanku untuk pulang ke sisinya...
Begitu saja sudah cukup. Aku tidak ingin lagi pergi ke manapun jika harus sendiri, padahal jelas-jelas yang kurindukan ada sedekat ini. Ia yang kubutuhkan selalu berada di sini. Di padang ilalang ini.
Mungkin sesungguhnya itulah bahagiaku. Ya, sebatas itu. Sesederhana itu.
Rumah ilalang, 18 Februari 2015,
Kupu-Kupu (Hitam)
Surat Ke-20 #30HariMenulisSuratCinta
Matahari, kau yang paling tahu bukan, apa yang terjadi padaku belakangan ini?
Aku tahu beberapa waktu lalu, aku memang sudah memutuskan untuk pergi. Melupakan padang ilalang dan kehidupanku disini. Berharap pada sebuah taman lain di luar sana, akan ada setitik kebahagiaan yang selalu kudamba.
Ya, kau saksinya kutinggalkan semua. Melupakan segala yang ada di padang ilalang ini. Mengenyahkan persahabatanku dengan Bunga Kristal. Membunuh perasaanku terhadapnya.
Terus-menerus kucari bahagia yang aku pun tak tahu bagaimana wujudnya. Berjuang sekuat tenaga namun tak kunjung kujumpai akhir dahaga. Lalu, apa artinya dulu aku bersikeras pergi? Untuk apa aku membuang segala yang kupunya di padang ilalang, demi secuil ego yang sia-sia belaka?
Dan di antara airmata lelahku, aku teringat padanya. Sebuah kejutan tersendiri ternyata aku begitu merindukannya. Apa kabarnya Bunga Kristal di padang ilalang? Apakah ia bertambah cantik sejak terakhir kali kami bertemu? Sudikah ia kembali bersahabat denganku?
Takkan bisa kubohongimu, Matahari. Kau sudah melihat semua. Betapa lucu angin bulan Agustus menerbangkanku kembali kemari. Tak peduli betapapun aku enggan mengakui, aku senang kembali pulang.
Padang ilalang kering dengan langit biru cemerlangnya. Pada satu titik, sekuntum bunga berwangi abadi tengah merekahkan diri. Bunga Kristal yang rupanya masih menungguku.
Demi musim panas yang membakar sayapku. Matahari, menurutmu, apa yang sesungguhnya ia lihat dariku? Aku tidak cantik. Pun tak semenarik kupu-kupu lain dengan warna-warni elok sayap mereka yang tak pernah kupunya.
Lihatlah! Apa bagusnya hitam legam ini? Tak pernah kumengerti kenapa sebelumnya Bunga Kristal begitu menaruh perhatian padaku yang tak ada apa-apanya ini. Perhatian yang demikian hangat dan -entah sejak kapan- lambat laun memikat, yang selalu mampu menguatkan sayap-sayap ringkihku yang suatu ketika lelah terbang. Tidak lagi sanggup membawaku pergi jauh.
Seperti katamu, Matahari, aku terlalu pengecut untuk tinggal, namun enggan terbang sendirian. Jika saja, hanya jika saja Bunga Kristal mengizinkanku untuk pulang ke sisinya...
Begitu saja sudah cukup. Aku tidak ingin lagi pergi ke manapun jika harus sendiri, padahal jelas-jelas yang kurindukan ada sedekat ini. Ia yang kubutuhkan selalu berada di sini. Di padang ilalang ini.
Mungkin sesungguhnya itulah bahagiaku. Ya, sebatas itu. Sesederhana itu.
Rumah ilalang, 18 Februari 2015,
Kupu-Kupu (Hitam)
Surat Ke-20 #30HariMenulisSuratCinta
Selasa, 17 Februari 2015
Untuk Apa Mengkambinghitamkan Kambing Hitam
Kucing Hitam yang baik,
aku bahkan tidak tahu haruskah aku membuatmu sakit mata demi membaca tuntas isi surat ini. Tapi karena kau sangat baik hati dan sudah repot-repot memikirkan kebaikanku, semoga matamu selalu sehat, Kucing Hitam.
Sepulang dari pertemuan kita senja lalu, aku terus memikirkan perkataanmu, juga pertanyaanmu, yang jujur saja tak pernah terlintas dalam benakku sebelumnya.
Apa pendapat mereka tentangku, bagaimana cara pandang mereka terhadapku, sekalipun memang tidak jarang namaku disebut-sebut atas sesuatu yang aku tidak tahu.
Aku tidak peduli.
Makhluk Tuhan yang manapun adalah yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Begitu pula dengan jiwa dan hatinya masing-masing. Aku tidak pernah berpikir bahwa mereka lebih buruk dariku, sama halnya aku yang tidak lebih baik dari siapapun dalam hal apapun. Semua pribadi memiliki porsinya sendiri-sendiri. Begitulah aku ada. Begitulah kau ada.
Yang terjadi kemudian, beberapa pribadi lebih senang mengeksplor kemampuannya sendiri. Beberapa pasrah saja pada yang sudah ada. Dan sisanya, karena -mungkin- terlalu bosan dengan dua hal sebelumnya, ya, adalah mereka yang senang mengurusi urusan orang lain.
Tidak, Kucing Hitam. Kau bukanlah satu dari yang terakhir. Karena kau sungguh-sungguh mempedulikanku. Terlepas dari kesamaan warna tubuh kita -hitam- aku sangat berterimakasih dan bersyukur atas dirimu. Karena Tuhan telah dengan sangat baik menempatkan kita di sisi yang sama.
Hanya saja, berbeda denganmu yang hidup dengan kebanggaan atas dirimu sendiri, atas warna hitammu, aku lebih senang menjadikan hitamku sebagai selimut hangat alih-alih tameng kokoh seperti milikmu.
Berbeda denganmu yang gagah berani menolak pemikiran yang bertentangan dengan kebenaran hatimu, aku lebih cenderung mengabaikannya. Berpikir cukup aku dan Pemilikku yang tahu keadaan sesungguhnya. Karena hanya orang bodohlah yang tidak tahu apa-apa tapi merasa tahu segalanya. Cukup diriku tahu, bahwa aku tidak sebodoh orang-orang itu.
Jadi Kucing Hitam, tetaplah seperti apa adanya dirimu seharusnya. Pun aku yang agaknya akan tetap apa adanya diriku seharusnya. Cukup aku tahu kau ada di pihakku. Cukup aku tahu kau tahu bagaimana sebenarnya aku.
Jangan lagi menangis atas terkambing-hitamkannya aku, karena aku memanglah seekor kambing hitam dungu, yang hanya tahu tentang mencintai hitammu.
17 Februari 2015,
Kambing Hitam
Surat Ke-19 #30HariMenulisSuratCinta
aku bahkan tidak tahu haruskah aku membuatmu sakit mata demi membaca tuntas isi surat ini. Tapi karena kau sangat baik hati dan sudah repot-repot memikirkan kebaikanku, semoga matamu selalu sehat, Kucing Hitam.
Sepulang dari pertemuan kita senja lalu, aku terus memikirkan perkataanmu, juga pertanyaanmu, yang jujur saja tak pernah terlintas dalam benakku sebelumnya.
"Kambing Hitam, sungguh, sampai di mana batas kesabaranmu? Banyak sekali di luar sana yang senang bersalahpaham atasmu, dan kau cuma membiarkannya saja!"Kau bahkan mengucapkannya sambil sesenggukan menahan airmata. Aku mengerti maksudmu, hanya saja yang tidak kupahami adalah... Entahlah, aku hanya tidak terbiasa mencampuri pemikiran orang lain terhadapku. Itu saja.
Apa pendapat mereka tentangku, bagaimana cara pandang mereka terhadapku, sekalipun memang tidak jarang namaku disebut-sebut atas sesuatu yang aku tidak tahu.
Aku tidak peduli.
Makhluk Tuhan yang manapun adalah yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Begitu pula dengan jiwa dan hatinya masing-masing. Aku tidak pernah berpikir bahwa mereka lebih buruk dariku, sama halnya aku yang tidak lebih baik dari siapapun dalam hal apapun. Semua pribadi memiliki porsinya sendiri-sendiri. Begitulah aku ada. Begitulah kau ada.
Yang terjadi kemudian, beberapa pribadi lebih senang mengeksplor kemampuannya sendiri. Beberapa pasrah saja pada yang sudah ada. Dan sisanya, karena -mungkin- terlalu bosan dengan dua hal sebelumnya, ya, adalah mereka yang senang mengurusi urusan orang lain.
Tidak, Kucing Hitam. Kau bukanlah satu dari yang terakhir. Karena kau sungguh-sungguh mempedulikanku. Terlepas dari kesamaan warna tubuh kita -hitam- aku sangat berterimakasih dan bersyukur atas dirimu. Karena Tuhan telah dengan sangat baik menempatkan kita di sisi yang sama.
Hanya saja, berbeda denganmu yang hidup dengan kebanggaan atas dirimu sendiri, atas warna hitammu, aku lebih senang menjadikan hitamku sebagai selimut hangat alih-alih tameng kokoh seperti milikmu.
Berbeda denganmu yang gagah berani menolak pemikiran yang bertentangan dengan kebenaran hatimu, aku lebih cenderung mengabaikannya. Berpikir cukup aku dan Pemilikku yang tahu keadaan sesungguhnya. Karena hanya orang bodohlah yang tidak tahu apa-apa tapi merasa tahu segalanya. Cukup diriku tahu, bahwa aku tidak sebodoh orang-orang itu.
Untuk apa mengkambinghitamkan Kambing Hitam?Tidak akan ada untungnya. Kau tahu itu.
Jadi Kucing Hitam, tetaplah seperti apa adanya dirimu seharusnya. Pun aku yang agaknya akan tetap apa adanya diriku seharusnya. Cukup aku tahu kau ada di pihakku. Cukup aku tahu kau tahu bagaimana sebenarnya aku.
Jangan lagi menangis atas terkambing-hitamkannya aku, karena aku memanglah seekor kambing hitam dungu, yang hanya tahu tentang mencintai hitammu.
17 Februari 2015,
Kambing Hitam
Surat Ke-19 #30HariMenulisSuratCinta
Senin, 16 Februari 2015
Sebelum Surat Ke-18
Hai, kalian, kesepuluh surat yang tertinggal...
Kalau aku tidak salah, harusnya ini surat kedelapanbelas dan memang demikian jika dihitung sejak surat pertama di hari pertama #30HariMenulisSuratCinta dimulai. Kalian harus tahu bahwa aku pun sangat menyayangkan keberadaan surat sebelum kalian yang hanya sejumlah delapan, lalu ketika giliran kalian tiba –surat kesembilan hingga ketujuhbelas– hitungan surat-surat tersebut akhirnya kacau.
Aku tahu kalian pasti sedih. Menyangka kalian bersepuluh tidak cukup baik hingga tidak sempat ditulis. Tapi percayalah –aku jamin– penulis kalian tidak pernah melupakan kalian. Mungkin, dia hanya... Yah, berbagai persoalan terjadi di dunianya yang tidak hanya seputar tulis-menulis pun surat-menyurat. Biar kukatakan pada kalian, dia sedang dalam fase yang oleh manusia-manusia itu sebut: galau.
Apakah aku tahu yang kalian tidak tahu? Jadi begini, aku akan menceritakan sedikit tentang penulis kalian, semoga setelah itu kalian benar-benar mempercayainya dan tidak lagi marah apalagi membencinya.
Tahukah bahwa penulis kalian sedang jatuh cinta? Perempuan muda itu tengah begitu bersemangat memperjuangkan cintanya menuju jenjang yang lebih mulia. Kalian mengerti maksudku? Ya, tentu saja, sang penulis berencana menikah dengan prianya dalam waktu dekat.
Sayangnya menurut mereka, praktek tidaklah semudah berkata-kata. Tahap demi tahap yang harus dilalui menuju pernikahan itu rupanya sama sekali tidak mudah bagi penulis. Bisakah kalian bayangkan?
Ketika dua perasaan telah bermuara, langkah berikutnya adalah menyatukan dua pihak keluarga. Bermusyawarah mencari hari terbaik untuk mengikat janji suci. Dari yang kutahu, pasangan kita ini hidup di zaman segalanya-bisa-dibuat-serba-gampang-dan-repot. Mandiri, berdua, mereka memutuskan untuk mengusahakan kebahagiaan mereka dengan kemampuan sendiri, dan sedikit sumbangsih keluarga.
Namun ada aja permasalahan terjadi. Hari baik yang tidak sesuai perkiraan –hingga akad dimajukan dan jatuh di tanggal merah saat KUA libur, tamu undangan yang belum fix jumlahnya, tentang jenis undangan souvenir yang juga belum ditentukan temanya padahal sudah H-3 bulan.
Sudah begitu, komunikasi di antara keduanya mulai berkurang karena kesibukan masing-masing. Penulis kalian sering cemas lantaran BBM-nya tidak kunjung dibalas. Sedangkan sang pria mengeluhkan sikap penulis yang dianggapnya terlalu posesif.
Belum lagi gangguan-gangguan dari mantan pacar yang susah move on darinya, sementara pacar baru mantan tersebut juga tak henti memburu. Kelewat cemburu.
Konflik kian menjadi saat penulis mengetahui bahwa sang kekasih ternyata masih kontinyu bertukar kabar dengan mantan. Meski tahu percakapan di antara masalalu itu hanya sebatas silaturrahmi, ia merasa gelisah. Pikiran-pikiran buruk berkecamuk. Benarkah hati kekasihnya sedang diuji? Antara tetap fokus hanya pada dirinya, atau harus berbaik santun dengan mantan?
Dan, yang menurutku paling disayangkan, penulis kalian mulai mempertanyakan kualitas dirinya sebagai calon pengantin wanita. Mulai membanding-bandingkan dirinya dengan para mantan sang kekasih. Tanpa sadar, sikapnya berubah skeptis. Menimbulkan pertanyaan bagi sang pria yang bahkan tak tahu menahu masalah psikis penulis.
Lalu dengan kondisi batin yang demikian, jangankan rutin menulis surat, siklus hidup penulis saja sudah tidak teratur lagi, kan? Aku benar-benar merindukan penulis yang mencurahkan perasaannya lewat tulisan. Penulis kan, selalu total dalam membagi perasaannya. Entah saat harinya sedang baik, pun ketika peruntungan terburuk.
Sama seperti kalian. Aku pun menyukai penulis ini. Jadi, berhentilah mendiamkannya.
Ahh, kenapa hati manusia rumit begini?
Haruskah kita membantunya menuliskan surat tentang perasaan mereka?
Senja sepuluh hari kemudian, 16 Februari 2015,
Tinta Hitam
Surat Ke-18 #30HariMenulisSuratCinta
Kalau aku tidak salah, harusnya ini surat kedelapanbelas dan memang demikian jika dihitung sejak surat pertama di hari pertama #30HariMenulisSuratCinta dimulai. Kalian harus tahu bahwa aku pun sangat menyayangkan keberadaan surat sebelum kalian yang hanya sejumlah delapan, lalu ketika giliran kalian tiba –surat kesembilan hingga ketujuhbelas– hitungan surat-surat tersebut akhirnya kacau.
Aku tahu kalian pasti sedih. Menyangka kalian bersepuluh tidak cukup baik hingga tidak sempat ditulis. Tapi percayalah –aku jamin– penulis kalian tidak pernah melupakan kalian. Mungkin, dia hanya... Yah, berbagai persoalan terjadi di dunianya yang tidak hanya seputar tulis-menulis pun surat-menyurat. Biar kukatakan pada kalian, dia sedang dalam fase yang oleh manusia-manusia itu sebut: galau.
Apakah aku tahu yang kalian tidak tahu? Jadi begini, aku akan menceritakan sedikit tentang penulis kalian, semoga setelah itu kalian benar-benar mempercayainya dan tidak lagi marah apalagi membencinya.
Tahukah bahwa penulis kalian sedang jatuh cinta? Perempuan muda itu tengah begitu bersemangat memperjuangkan cintanya menuju jenjang yang lebih mulia. Kalian mengerti maksudku? Ya, tentu saja, sang penulis berencana menikah dengan prianya dalam waktu dekat.
Sayangnya menurut mereka, praktek tidaklah semudah berkata-kata. Tahap demi tahap yang harus dilalui menuju pernikahan itu rupanya sama sekali tidak mudah bagi penulis. Bisakah kalian bayangkan?
Ketika dua perasaan telah bermuara, langkah berikutnya adalah menyatukan dua pihak keluarga. Bermusyawarah mencari hari terbaik untuk mengikat janji suci. Dari yang kutahu, pasangan kita ini hidup di zaman segalanya-bisa-dibuat-serba-gampang-dan-repot. Mandiri, berdua, mereka memutuskan untuk mengusahakan kebahagiaan mereka dengan kemampuan sendiri, dan sedikit sumbangsih keluarga.
Namun ada aja permasalahan terjadi. Hari baik yang tidak sesuai perkiraan –hingga akad dimajukan dan jatuh di tanggal merah saat KUA libur, tamu undangan yang belum fix jumlahnya, tentang jenis undangan souvenir yang juga belum ditentukan temanya padahal sudah H-3 bulan.
Sudah begitu, komunikasi di antara keduanya mulai berkurang karena kesibukan masing-masing. Penulis kalian sering cemas lantaran BBM-nya tidak kunjung dibalas. Sedangkan sang pria mengeluhkan sikap penulis yang dianggapnya terlalu posesif.
Belum lagi gangguan-gangguan dari mantan pacar yang susah move on darinya, sementara pacar baru mantan tersebut juga tak henti memburu. Kelewat cemburu.
Konflik kian menjadi saat penulis mengetahui bahwa sang kekasih ternyata masih kontinyu bertukar kabar dengan mantan. Meski tahu percakapan di antara masalalu itu hanya sebatas silaturrahmi, ia merasa gelisah. Pikiran-pikiran buruk berkecamuk. Benarkah hati kekasihnya sedang diuji? Antara tetap fokus hanya pada dirinya, atau harus berbaik santun dengan mantan?
Dan, yang menurutku paling disayangkan, penulis kalian mulai mempertanyakan kualitas dirinya sebagai calon pengantin wanita. Mulai membanding-bandingkan dirinya dengan para mantan sang kekasih. Tanpa sadar, sikapnya berubah skeptis. Menimbulkan pertanyaan bagi sang pria yang bahkan tak tahu menahu masalah psikis penulis.
Lalu dengan kondisi batin yang demikian, jangankan rutin menulis surat, siklus hidup penulis saja sudah tidak teratur lagi, kan? Aku benar-benar merindukan penulis yang mencurahkan perasaannya lewat tulisan. Penulis kan, selalu total dalam membagi perasaannya. Entah saat harinya sedang baik, pun ketika peruntungan terburuk.
Sama seperti kalian. Aku pun menyukai penulis ini. Jadi, berhentilah mendiamkannya.
Ahh, kenapa hati manusia rumit begini?
Haruskah kita membantunya menuliskan surat tentang perasaan mereka?
Senja sepuluh hari kemudian, 16 Februari 2015,
Tinta Hitam
Surat Ke-18 #30HariMenulisSuratCinta
Jumat, 06 Februari 2015
Yang Membenci Jumat
Kau yang membenci Hari Jumat.
Apa kabar suasana hatimu? Hari ini Jumat. Satu hari yang paling kau hindari. Yang menurutmu lebih baik ditiadakan saja, harusnya di-skip hingga Sabtu. Bagimu Jumat tidak pernah menjadi hari yang baik, ia selalu saja membawa kesialan.
Jadi apa ada yang berbeda dengan Jumat kali ini? Jumat-Jumat yang lalu, linimasaku penuh dengan keluh kesahmu yang menyayangkan kenapa Jumat demikian menyebalkan, tepat sewaktu ada hal-hal yang harus kau urus pada saat bersamaan.
Aku resah. Kenapa? Karena berbeda denganmu, aku menyukai Jumat. Aku lahir di hari itu dan senang menyambutnya. Maka ketika aku melihatmu yang seperti itu, bagaimana aku jadi tidak ingin membagi Jumat-ku?
Maka, jadikan aku Jumat-mu. Siapa tahu keberuntunganmu itu aku.
Sudut lain Mojokerto, 6 Februari 2015,
Yang ingin menjadi Jumat-mu
Surat Ke-8 #30HariMenulisSuratCinta
Apa kabar suasana hatimu? Hari ini Jumat. Satu hari yang paling kau hindari. Yang menurutmu lebih baik ditiadakan saja, harusnya di-skip hingga Sabtu. Bagimu Jumat tidak pernah menjadi hari yang baik, ia selalu saja membawa kesialan.
Jadi apa ada yang berbeda dengan Jumat kali ini? Jumat-Jumat yang lalu, linimasaku penuh dengan keluh kesahmu yang menyayangkan kenapa Jumat demikian menyebalkan, tepat sewaktu ada hal-hal yang harus kau urus pada saat bersamaan.
Aku resah. Kenapa? Karena berbeda denganmu, aku menyukai Jumat. Aku lahir di hari itu dan senang menyambutnya. Maka ketika aku melihatmu yang seperti itu, bagaimana aku jadi tidak ingin membagi Jumat-ku?
Maka, jadikan aku Jumat-mu. Siapa tahu keberuntunganmu itu aku.
Sudut lain Mojokerto, 6 Februari 2015,
Yang ingin menjadi Jumat-mu
Surat Ke-8 #30HariMenulisSuratCinta
Langganan:
Postingan (Atom)