Rabu, 28 Desember 2016

Dragonfruit Seblak Kinda Day

Harinya buah naga dan seblak makaroni.

Kemarin ayah dapat oleh-oleh 3 buah naga utuh. Bertanya-tanya, "What would I do with these dragonfruits?" akhirnya siang tadi berkesempatan untuk eksekusi.

Mumpung ada buah segar gratisan ya, bolehlah untuk bahan mpasi Aris. Googling sebentar, dapatlah tips dan resep mudah.

Sayang disayang, aku salah mengira tekstur buah naga seperti semangka yang otomatis lumer berair saat dikulum, nyatanya buah naga sedikit lebih kokoh. Buah naga yang hanya kupotong kecil-kecil dan dihaluskan manual dengan sendok agaknya cukup pelik dikecap. Baru beberapa sendok suap, Aris sudah menunjukkan ekspresi nggak minat dan mulet-muletlah dia tanda bosan.

Nggak ingin memaksa, kusudahi sesi makan kilat pagi setengah siang itu. Buah naga yang tersisa di mangkuk (daripada dibuang sayang) akhirnya cemplungin saja ke dalam blender. Mau dibikin jus, lah. Lalu dapat ide untuk memblendernya, dengan tekstur cair siapa tahu Aris lantas mau.

Usai diblender, disaring. Hasilnya lumayan kental juga ternyata karena 100% pure, nggak ditambah apapun termasuk air. Ampasnya masukin lagi ke dalam blender, tambahkan 2 buah naga yang tersisa, susu kental manis, dan gula lalu blender semua sekalian jadi satu. Voila! Panas-panas sumuk minum es jus buah naga kental manis cucok sekali.

Saat diujicobakan kembali, alhamdulillah Aris lebih doyan dari sebelumnya. ヾ(*´∀`*)ノ♪ Es jusnya pun jadi lebih cukup untuk diminum berdua mbahbuk.
Puree Dragonfruit
Berawal dari ibuk yang khilaf merebus makaroni hingga gosong--yang rencananya akan ditambahkan dalam sayur sop--daripada dibuang percuma, toh nggak parah-parah amat, tiba-tiba tercetus ide menjadikannya seblak. Googling lagi, tanya Tantit resep yang pernah dibikin dulu gimana. Padu padankan. Ketemulah resep seblak makaroni sederhana ala bunda Aris. *tsaaahh*
• bumbu halus •
Bawang merah
Bawang putih
Cabe rawit
Cabe merah
Kencur 
• bahan •
Makaroni keriting
Telur
Daun pre
Gula
Garam 
• cara membuat •
Haluskan bumbu.
Rebus makaroni setengah matang. Tiriskan.
Masak telur orak-arik. Masukkan bumbu halus. Aduk rata, beri air secukupnya. Masukkan makaroni, aduk-aduk. Tambahkan gula dan garam. Masukkan daun pre. Didihkan. 
Seblak ala-ala bunda Aris is ready to served. ԅ(¯﹃¯ԅ)
Seblak Makaroni ala Ricchan Auliya
Kali pertama bikin seblak. Masak jarang banget, sekalinya niat malah sok-sokan. Hehehe... Untung rasanya masih bisa diampuni... (ง ˙ω˙)ว Meski mas bojo agak ngeri dengan tampilannya (karena ada sebagian yang gosong) dan dia terus terang berekspektasi jika seblaknya menggunakan kerupuk. Jeongmal mianhae, Chagiyaa~ ( ;∀;)

Oiya, penggunaan makaroni sebagai seblak bisa diganti kerupuk (biar lebih afdol). Boleh menambahkan laos dan cabe hijau ke bumbu halusnya. Kemudian selain telur orak-arik bisa juga ditambahkan variasi sosis dan pentol biar lebih yahud. Tambahkan sayuran seperti sawi juga maknyus.

Chagiya makannya malam, sudah dingin, tapi nggak mau diangetin (seblaknya). Karena sebelumnya sudah disajikan dalam mangkok, pas dingin jadilah dia 'tercetak' dan kuahnya susut. ╥﹏╥ Sensasinya jadi kayak semacam schotel ala-ala gitu, lah. Gaje. Benernya memang seblak lebih endeus disantap selagi panas, biar makin nendang pedasnya. Lengkapi dengan minum yang dingin-manis-segar, ya.

Selamat mencoba! (๑・ิﻌ・ิ๑)

Selasa, 13 Desember 2016

My 6 Months Old Baby's 1st Food

December 13th! My baby has been 6 months old today, and as my promise, I'd start to feed him more than only breast-feeding.
Get ready to eat~~
 Jujur, jika 6 bulan lalu pasca melahirkan Aris aku mengklaim diriku nggak mengalami baby blues syndrome--well, yeah--I thought I get it now. Bagaimana menyakitkannya menyadari bahwa ASI-ku bukan lagi satu-satunya yang dibutuhkan oleh bayiku--yang telah kian tumbuh besar. It is really hurt. And sad deep inside my heart. Waktu benar-benar lekas sekali berlalu. Sadar sih, Aris makin gede, aktifitasnya makin banyak, akalnya makin 'main', dan makin butuh banyak energi juga untuk itu.
Aris Cimbul harus makan apa, dong?
Asupan makanan pertama Aris yaitu bubur beras putih, yang kumasak sendiri, meski dari tepung beli jadi. Efek nggak bisa masak, sih. Jangan ditiru, yaa~ ( ;∀;) Jika kemarin-kemarin pede nian dengan kemampuan dan semangatku untuk fokus ASI Eksklusif selama 6 bulan (insyaallah sampai 2 tahun karena alhamdulillah asiku lancar jaya), sekarang--realistis saja--aku terpaksa menyerah saat ayah membelikan si boy biskuit bayi kemasan dan bubur bayi instan--walaupun nggak setiap hari dibikin dan sesekali aku juga mencoba masak resep-resep mpasi sederhana. #nojudging #nobullying

Hari ini dan besok mungkin menunya akan sama, sebagai perkenalan bagi Aris terhadap rasa dan tekstur suatu makanan. Setelah dua hari tentu akan kuganti dengan menu lain, demikian juga dengan menu dalam satu hari yang sebisanya bervariasi.
Day 1-3 ➡ 1× sehari, siang (pagi dan sore nenen banyak-banyak).
Day 4-7 ➡ 2× sehari, pagi dan sore.
Day 8-10 ➡ 2× sehari, pagi dan sore+snack siang dan petang.
Day 11-14 ➡ 3× sehari. Snack dikondisikan.
Dan seterusnya~~
Happy eating

Rabu, 07 Desember 2016

Sakit Kepala

Rasa-rasanya sudah cukup lama sejak kali terakhir perasaan macam ini singgah. Aku mengenalnya. Hanya saja lebih baik lupa. Berpura-pura juga boleh. Yang pasti kali ini jangan sampai terjatuh lagi.

Dalam pelukannya.

Sempat kudengar ia mengocehkan sesuatu sebelum pergi. Tentang minum obat atau semacamnya. Manalah bisa kuingat? Dentuman jantung dan napasku yang memburu telah mengacaukan pendengaran. Sebentar lagi mungkin mataku akan jadi gelap.

Tapi tidak bisa.

Kaki-kaki itu mengayun. Menjejak apa-apa yang menghalangi, termasuk selembar kain tipis yang membungkus tubuhnya--berharap mampu sedikit menghangatkan di bawah deru kipas angin yang tak henti berputar sehari semalam.

Bagaimana aku bisa tidur?

Kutarik kembali kain tipis hingga sebatas dada. Menepuk-nepuk pelan tubuh mungilnya sembari membacakan doa pengantar tidur. Kukecup keningnya yang berpeluh. Menyekanya agar ia terbuai lebih nyaman. Memandangi wajah lelapnya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan bahagia. Ya, sesederhana itu. Memang sesepele itulah cintaku.

Rasa-rasa yang aneh tadi masih timbul-tenggelam. Tidak apa-apa, nanti pasti akan hilang sendiri. Mungkin cuma sedikit lelah, itu lumrah. Yang penting tidurmu nyenyak. Takkan kubiarkan nyamuk dan kroni-kroninya mencuri darahmu sedikitpun! Meninggalkan bekas gigitan yang akan mengganggumu seharian. Tidak akan.

Karenanya tidurlah, Sayang. Mimpikan dirimu sehebat yang kau mau. Belajarlah apa yang belum kau temukan dariku atau ayahmu, para malaikat dalam mimpi akan mengajarkanmu dengan senang hati. Lalu kau akan bangun dengan semangat baru dan kemampuan yang kian bertambah. Kian membuat kami bangga.

Sakit kepala ini bukan apa-apa. Percayalah. Aku akan mengatasinya dengan mudah. Pening ini tidak sebanding dengan kekuatan yang dianugerahkan-Nya padaku--6 bulan lalu--saat aku mengantarkanmu bertemu dunia pertama kalinya.

Iya, aku tentu sehebat itu.

Bunda akan selalu jadi yang terhebat, untukmu, buah hatiku.