Sabtu, 26 September 2015

Descendants

Produksi : Disney
Genre : Fantasy, comedy-romance, musical
Durasi : 2 jam 12 menit
Pemeran :
Dove Cameron ➡ Mal
Cameron Boyce ➡ Carlos
Booboo Stewart ➡ Jay
Sofia Carson ➡ Evie

Film dibuka dengan narasi oleh salah satu tokoh. Diawali flashback pernikahan Belle dengan Beast--sang pangeran buruk rupa yang kemudian menjadi raja dan ratu Auradon. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Benjamin, berusia 16 tahun dan akan segera naik tahta. Yang menjadi titah pertama dari Pangeran Ben pasca menjadi calon raja baru adalah: agar anak-anak para villain--yang sebelumnya tinggal di Isle of the Lost (pulau isolasi bagi para tokoh antagonis)--diizinkan untuk tinggal di Auradon. Meski tak yakin namun Raja Beast dan Ratu Belle menyetujuinya.

Maka terpilihlah empat orang muda-mudi yaitu Mal putri Maleficent, Evie putri Evil Queen, Jay putra Jafar, dan Carlos putra Cruella De Vil untuk hijrah dari Isle of the Lost menuju Auradon. Rencana ini didukung sepenuhnya oleh Maleficent dengan misi terselubung yakni memerintahkan empat remaja itu untuk merebut tongkat ajaib demi mengembalikan kekuatannya dan membebaskan Isle of the Lost dari kekangan atas tidak adanya sihir.

Di Sekolah Persiapan Auradon, mereka berempat disambut dengan baik oleh Ben, Fairy Godmother selaku kepala sekolah, dan Audrey--putri Aurora dan Pangeran Philip--kekasih Ben. Mulai tampak perselisihan antara Mal dengan Audrey yang akan membumbui romansa film ini.

Mal yang terdoktrin untuk memenuhi perintah sang ibu terus mengingatkan tiga rekannya akan tugas agung mereka; mencuri tongkat sihir milik Fairy Godmother yang ternyata telah dimusiumkan. Di era baru tersebut masyarakat Auradon sudah jarang menggunakan sihir mereka.

The villains and their children
Gagal mendapatkan tongkat sihir pada penyusupan pertama, Mal memperoleh informasi bahwa tongkat sihir tersebut akan dikeluarkan saat peresmian tahta Pangeran Ben. Begitu mendengar informasi bahwa gadis yang menjadi kekasih pangeran berhak mendampingi dan termasuk dalam barisan terdepan selama prosesi penobatan, membuat Mal menginginkan status kehormatan tersebut. Menurutnya, bisa mempersempit jarak dengan keberadaan tongkat sihir akan memperbesar kemungkinannya mengambil alih tongkat itu dan mengadakan serangan balik. Mal harus membuat Pangeran Ben jatuh cinta dan menjadi kekasihnya.

Sementara itu anak-anak villain mulai beradaptasi dengan kehidupan asrama dan sekolah. Jay dan Carlos tergabung dalam ekskul olahraga, berada di tim yang sama dengan Ben. Jay belajar menemukan arti dari kerjasama tim dan cenderung disukai gadis-gadis. Carlos mendapat kebenaran tentang anjing yang tak seperti apa yang diceritakan ibunya. Sedangkan Evie yang 'wifeable' mahir dalam urusan rumah tangga dan pelajaran, tertarik pada Chad--putra Cinderella dan Prince Charming--yang sayangnya tidak menyambut perasaan Evie.

Dibantu kawan-kawan villain-nya, berbekal buku mantera sihir warisan Maleficent, Mal meramu Love Potion--dicampurkan dalam cookies--yang rencananya akan ia berikan pada Ben. Ben si pangeran baik hati tidak menaruh curiga pada Mal saat gadis eksentrik itu menghadiahinya sebungkus cookies dan langsung melahapnya. Sesaat setelah selebrasi kemenangan tim Ben--termasuk di dalamnya Jay dan Carlos--ramuan cinta mulai bereaksi. Di hadapan seluruh penghuni Sekolah Auradon, Ben menyatakan cinta pada Mal, sekaligus memutus hubungan asmara dengan Audrey.

Singkat cerita kisah cinta Ben dan Mal berjalan mulus di bawah ramuan cinta. Ben bersikap sangat baik pada Mal, mereka berkencan, dan Mal dipastikan akan menjadi pasangan Ben saat penobatannya. Namun di sisi lain Mal serta anak-anak villain mulai merasa nyaman dan senang tinggal di Auradon. Hati mereka terusik. Haruskah mereka tetap melanjutkan rencana jahat amanat orangtua mereka, atau melupakannya saja dan hidup damai bersama orang-orang baik itu?

Nahas, kekacauan yang timbul saat Ben mengenalkan Mal sebagai kekasih barunya pada King Beast dan Queen Belle--mengejutkan banyak orang di acara jamuan itu--mengempaskan Mal dkk dari delusi mereka menjadi orang baik. Mereka dipermalukan oleh nenek Audrey yang menaruh dendam pada ibu Mal karena telah mengutuk putrinya dahulu. Chad, bahkan Jane--putri Fairy Godmother--dan Lonnie--putri Fa Mulan dan Li Shang--yang sudah ia bantu dengan sihir pada rambut mereka, turut menghianatinya. Geram, Mal membatalkan sihir pada rambut gadis-gadis itu sehingga kembali jelek seperti semula. Lebih baik mereka melanjutkan rencana pencurian tongkat sihir.

Tidak ingin membebani perasaannya yang mulai menaruh cinta pada Ben, Mal bermaksud menghapus mantera cinta dengan memberi pemuda itu sebuah brownies dengan penawar mantera. Baginya setelah misi berakhir, mereka berempat akan segera pergi. Jadi tidak ada gunanya membuat Ben terus mencintainya.

Namun Mal salah. Ben tahu bahwa brownies yang ia makan tidak murni. Ia pun tahu bahwa 'gadis'nya mencoba memanfaatnya. Semua sudah terungkap bahkan sejak kencan perdana mereka di Enchanted Lake (Danau Pesona)--manteranya luntur saat Ben berenang. Mal yang mengira Ben tenggelam karena tak kunjung muncul setelah menyelam, tanpa sadar ikut menyeburkan diri untuk mencari Ben, padahal ia tidak bisa berenang. Dari situlah meski tahu Mal telah memperdayainya, Ben juga tahu bahwa gadisnya sebenarnya memiliki hati yang baik dan tulus. Jadi sang pangeran tetap memilih bersama Mal dan berpura-pura masih dalam pengaruh mantera.

Dengan kereta kuda menuju penobatan
Yup! Yang menceritakan kisah ini adalah Mal. :)) Terjadi twist menarik di mana Mal yang disangka akan tetap menjalankan misi jahatnya, berbalik arah menyelamatkan Auradon dari ancaman sang ibu--Maleficent--yang sempat berhasil kabur dari Lost of Isle Island akibat tragedi Jane merebut tongkat sihir ibunya sendiri alih-alih Mal yang melakukannya sebagai misi.

Ironi bahwa dalam pertarungan sedarah Maleficent kalah dari sang anak. Villain terjahat dalam cerita ini berubah wujud menjadi sekerdil hatinya dan ditangkap. Prosesi penobatan Raja Ben pun kembali dilangsungkan dengan sukacita.

❤❤❤
Ini film yang bagus banget dan sangat menginspirasi. Bahwa sekalipun orangtua kita atau kita adalah keturunan orang-orang tidak baik, namun akan jadi apa kita di masa depan tergantung keputusan kita sendiri: apakah menjadi tidak baik juga seperti para pendahulu atau memanfaatkan kesempatan kedua dengan sebaik-baiknya menjadi pribadi yang lebih baik tentu.

Saat menonton film ini, yang terbersit di pikiranku adalah kisah-kisah dongeng ini bak tumbuh bersamaku. Ini adalah cerita tentang anak-anak dari para tokoh dongeng terdahulu. Cinderella, Beauty and the Beast, dan Sleeping Beauty mungkin masih eksis di kalangan penikmat dongeng the good vs the bad, tapi untuk nama Jafar sebagai villain dalam dongeng Aladdin--yang niscaya tenggelam dalam pesona Aladdin, Jasmin, bahkan Genie--lalu Cruella De Vil yang muncul pada seri Dalmation di era 2000-an mungkin tidak banyak 'anak sekarang' mengenali mereka.

Good news is penokohan dalam film Descendants cukup jelas, jadi walau ditonton oleh anak-anak dan remaja yang belum pernah mendengar kisah Maleficent, atau tidak tahu siapa itu Jafar dan Cruella De Vil tidak akan terganggu dan jadi bertanya-tanya. Namun tentu akan lebih menarik jika generasi baru tersebut menonton bersama 'senior' yang bisa membantu menceritakan asal-usul para tokoh, misalnya:
"Mal itu anaknya Maleficent. Maleficent adalah penyihir jahat yang mengutuk Aurora hingga menjadi Sleeping Beauty sebelum dibangunkan oleh ciuman cinta sejati Pangeran Philip."
Atau...
"Evi adalah anak perempuan Evil Queen. Tahu siapa yang meracuni apelnya Snow White? Itu dia Evil Queen yang melakukannya karena iri dengan kecantikan Snow White."
Begitu... 。:.゚ヽ(*´∀`)ノ゚.:。 tidak ada salahnya berbagi pengalaman dan pengetahuan sekalipun itu cuma berbahan dongeng. Imajinasi seharusnya tetap dibiarkan tumbuh liar, kan? *nyelam bareng Ariel*

Let the fairy-tales begin...

*Photos by Google

Jumat, 11 September 2015

Ter-#KampusFiksi13

Sabtu, 29 Agustus 2015

Dibuka dengan salam sapa dari Mas Wahyu selaku MC, materi pertama dibawakan oleh Mbak Nisrina yang merupakan salah satu editor kawakan Diva Press. Usai berkenalan kami--para peserta--diberi wawasan seputar naskah. Bagaimana membangun cerita yang baik dengan mengangkat setting tempat favorit, yang nantinya akan kami tuang dalam kelas #Menulis3Jam.

Pak Edy dan materi kepenulisan
Bapak Edy Mulyono selaku pemegang tampuk kepemimpinan Diva Press dan Kampus Fiksi mengisi materi tentang kepenulisan hingga jeda istirahat. Tata cara menulis yang baik, dan tips-tips menulis fiksi beliau sampaikan dengan bahasa yang ringan dan bersahabat namun mudah dicerna oleh kami yang pemula. Disusul selama satu jam, Mbak Ajjah mengisi materi tentang teknik editing dan berbagi tips mengenai self-edit.

Kelas #Menulis3Jam barangkali menjadi momok bagi hampir semua peserta(termasuk aku). Pasalnya dalam waktu hanya 3 jam kami dituntut menyelesaikan sebuah cerpen menggunakan setting tempat favorit, seperti yang telah kami sebutkan masing-masing di awal tatap muka dengan Mbak Rina. Sekalipun dibagi dalam satu-kelompok-lima-orang-dengan-seorang-mentor tetap saja itu tidak mudah buatku. *nangis*

Syaifullan #KF1 berbagi inspirasi menulis
Bersyukur ketegangan akibat sesi sebelumnya seketika dicairkan oleh Mas Syafullan yang sudah berbaik hati hadir dan membagi pengalamannya sebagai yang-juga-pernah-berstatus-penulis-pemula. Alumni KF generasi pertama yang sukses menelurkan beberapa novel di Diva Press tersebut secara kocak dan menyenangkan berinteraksi dengan peserta tentang proses menulis kreatif ala dirinya.

Beranjak malam, tiba saat naskah cerpen peserta dievaluasi perkelompok bersama mentor. Kelompok 5 terdiri dari aku, Patrick, Mbak Ria, Mitha, dan Mbak Yuni, plus Mbak Ajjah selaku mentor. Agak berbeda teknis dengan kelompok lain, Mbak Ajjah menyilakan kami untuk membaca dan mengeditori naskah rekan-rekan sekelompok, sebelum kami membahasnya ramai-ramai.

Rasa minder muncul begitu selesai kubaca empat naskah selain milikku. Semuanya bagus. Kenapa cuma cerpenku yang hancur begini? o(╥﹏╥)o Mbak Ajjah sendiri tidak banyak berkomentar namun sudah menyiapkan notes bagi cerpen-cerpen kami. Wasiat beliau, "Perkara typo atau tanda baca itu gampang. Tidak perlu terlalu dipusingkan. Yang paling penting untuk dibenahi adalah kerunutan cerita dan kelogisannya." Jeng jeeeengg~~ tapi justru itulah yang selama ini jadi kelemahanku. *senden tembok*
"Mengevaluasi karya orang lain jauh lebih mudah ketimbang membuatnya sendiri. Dari nol. Ngomong gampang, tapi melakoni sendiri belum tentu mampu." -Hamba Allah, #KF13 #SelfReminder
Memikirkan betapa mengenaskannya tulisan sendiri pangkal insomnia. Berpartisipasi dalam kegiatan khataman Al-Qur'an dan tahajud bareng--yang konon menu baru Kampus Fiksi--adalah pilihan yang tidak pernah kusesali. Dipimpin langsung oleh Pak Edy selama kurang lebih satu jam, berkat itu hatiku yang gelap dan galau menjadi damai dan kantuk pun lekas datang. Terima kasih Pak Edy, terima kasih Kampus Fiksi. *apadeh*

Minggu, 30 Agustus 2015

Hari kedua. Mbak Munnal mengawali Minggu pagi kami dengan informasi tentang keredaksian; mulai dari urutan penawaran naskah dan tata cara pengirimannya, pemafhuman bahwa penyeleksian naskah butuh waktu (penulis itu harus sabar, tidak disarankan bagi yang labil), proses MoU antara penulis dengan penerbit, hingga naskah siap dicetak dan diterbitkan.

Mas Aconk menyambung dengan materi seputar stategi marketingnya. Penulis yang mungkin berpikir sudah-pasrah-saja-pokok-buku-sudah-terbit niscaya terbuka wawasannya, bahwa penting bagi penulis untuk ikut aktif mempromosikan/mempublikasikan (diri dan)karyanya. Di sini sekaligus dibagi tips-tips kian eksis melalui dunia maya memanfaatkan jejaring sosial. ;)

Kelas kedua bersama Pak Edy membahas cerpen terpilih Salju Turun di Alun-Alun karya Mas Ginanjar Teguh. Fyi, Mas Gin ini penulis novel Bulan Merah yang cukup fenomenal. Cerpen tersebut adalah kontribusi keduanya pada laman basabasi.com setelah Middag in De Eendracht. *plokplokplok* *nih, kubantu publikasi, nih* Atas ketenarannya, ya wajarlah dia yang menang. *hush*

Sempat nyesek saat Pak Bos menyebut, "Kualitas tulisan-tulisan KF generasi 13 kalah jauh dengan angkatan KF sebelum-sebelumnya."

Kretek. Kalian dengar? Patah hati ini, Kawan. Kamipun ingin sekali bisa menghasilkan tulisan-tulisan berstandar dan layak terbit. Namun apa daya, mungkin beberapa dari kami(aku jelas salah satunya) ilmunya memang masih belum mumpuni. Hiks...

Joni Ariadinata, cerpenis sastra senior
Setelah ishoma, giliran Bung Joni Ariadinata menyapa, selaku 'bintang tamu' sekaligus senior dalam dunia kepenulisan. Beliau memberi pengarahan, tips, serta trik menulis hingga naskah kemungkinan besar diterima media massa. Mendengar sendiri beliau menuturkan kisah hidup dan karir menulisnya yang mulai dari nol--dengan penyampaian act-out nan memukau---sungguh menggugah hati. Melahirkan konflik batin. Jika beliau bisa, kami pun bisa, bukan? Setidaknya patut dicoba. *aihh...sok iyes*

Sungguhan. Apapun yang kutulis di sini tetap tak bisa melukiskan hari-hari yang sesungguhnya terjadi. Tak akan sesempurna yang benar-benar kami alami. Tapi ini jujur yang ingin kubagi pada siapa saja yang tertarik dan ingin merasakan hal serupa. Kamu harus datang ke Kampus Fiksi dan mengalaminya sendiri. :')

Minggu sore ditutup dengan materi mengenai bimbingan online oleh Mbak Rina. Fyi, semua alumni Kampus Fiksi berhak memperoleh bimbingan penuh dan menerbitkan novel perdana di Diva Press, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Peserta begitu antusias mengajukan pertanyaan terkait 'fasilitas eksklusif' ini. Penulis mana yang tidak tergiur untuk segera melahirkan karya di bawah bimbingan mentor sekaliber Mbak Rina yang termasuk jajaran editor utama? *salim Mbak Rina*

Hari yang menyenangkan selalu cepat berakhir. Selepas makan malam terakhir di karantina, peserta kembali berkumpul. Sayangnya tidak ada materi lagi. Kami hanya diminta untuk mengisi angket tentang Kampus Fiksi yang sudah dua hari kami ikuti. Barulah aku sadar betapa waktu seringan itu berlalu. Kampus Fiksi yang sebelumnya antusias dinanti, dijadwalkan; tiba hari H, sepenuh hati menerima materi meski sesekali diwarnai dengan mata berat menahan kantuk; kini sudah hampir usai. Begitu lembar angket diserahkan kembali, perpisahan adalah satu-satunya hal yang kuharap tidak terjadi.

Pak Edy menyampaikan petuah-petuah sebagai bekal penutupan. Minggu malam itu kami dinyatakan lulus sebagai peserta dan otomatis menjadi bagian baru keluarga Kampus Fiksi yang sah. Senang. Bangga. Haru. Bimbang. Semacam tidak mau pulang. Tapi di belakang kami akan ada angkatan-angkatan Kampus Fiksi selanjutnya. Harus ada lebih banyak lagi generasi yang tahu, mengenal, merasakan betapa indah dan menyenangkannya menulis bersama-sama, menjadi bagian dari Kampus Fiksi.
Mengikuti Kampus Fiksi adalah satu nikmat Tuhan yang tidak mungkin kudustakan.
Penyerahan sertifikat dan kartu keanggotaan #KampusFiksi dengan nama-nama kami tertera. Meja dan kursi peserta disingkirkan menepi. Dalam foto-foto, semoga kebersamaan kami tetap abadi.
Anak-anak #KF13 bersama 'ayah' Edy
Keluarga besar Kampus Fiksi
Usai sesi pengambilan gambar beberapa peserta alumni #KF13 pamit pulang malam itu juga, meski sebagian besar peserta tinggal semalam lagi. Mas Kiki terlihat beberapa kali berkeliaran memastikan jadwal kepulangan kami esok harinya. So long and good night, Jogja...

Senin, 31 Agustus 2015
"Dapat oleh-oleh apa dari Jogja? Masa' nggak dikasih uang transport?"
Brand new knowledges, experiences, and family are priceless. Apalah uang transport dibanding dengan 'ikatan' yang sudah terjalin di antara peserta dan keluarga Kampus Fiksi lainnya?l It's worth though, and all of us deserve it.

Ilmu gratis, penginapan gratis, konsumsi juga gratis. Tak pernah terlambat sekalipun! Kurang kasih sayang apa lagi Kampus Fiksi? Baik nasi kotak maupun kudapan selalu datang tepat waktu; penyelamat serangan kantuk di tengah materi, penghancur diet alami. ・(/□\*)・゜Mungkin ini adalah satu hal yang kelak dirindukan selain kelengkapan dapur Kampus Fiksi, perjuangan mengantre kamar mandi, dan lomba-cepat-menghabiskan-galon-air.
Dear para member #KampusFiksi13: Amin (Yogyakarta), Bening (Cilacap), Danang (Wonogiri), Devy (Yogyakarta), Fariha (Jombang), Garin (Klaten), Ginanjar (Magelang), Husnul (Lombok Barat), Riyana (Solo), Iken (Salatiga), Ilham (Mojokerto), Irma (Malang), Maulida (Banjarbaru), Aswary (Sampang), Munawir (Sleman), Qoida (Wiyoro), Miela (Sumenep), Tika (Yogyakarta), Ovie (Jakarta Timur), Patrich (Tana Toraja), Ria (Jombang), Mitha (Malang), dan Yuni (Bantul), pertemuanku dengan kalian semua itu bukanlah suatu kebetulan, tapi takdir.
#KampusFiksi13 #sipp #mantab
Kisskiss~~


Bermil-mil jauhnya dari Jogja, dua minggu setelahnya
R.C. Auliya Sari

Kampus Fiksi Episode 13

#KampusFiksi13
31 Agustus 2015. Rasanya baru kemarin, namun ternyata sudah dua minggu berlalu. Masih segar dalam ingatan, Jumat jelang siang Kereta Logawa tiba di Mojokerto sesuai jadwal--singgah tak lama--lalu segera membawaku melintasi beberapa kota untuk sampai di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Untuk apa? Tentu demi memenuhi undangan kehormatan dari Kampus Fiksi. Kenapa? Ya karena aku ingin jadi penulis!

Bermula April 2014 silam, pada event #KampusFiksiRoadShow Malang, kubulatkan tekad untuk mengirim salah satu cerpen terbaikku dalam rangka menembus seleksi Kampus Fiksi Reguler yang diadakan di Jogja.

Penantianku nyata berbuah manis tatkala judul cerpen "Dia, Bukan Aku" mengantarkan nama Riza Chanifa Auliya Sari lolos seleksi Kampus Fiksi dan terdaftar di angkatan tigabelas. Sesuatu yang semula di luar ekspektasi tiba-tiba terjadi. Mengingat betapa ketat dan sulitnya menembus seleksi, pun konon antrian angkatan memakan waktu tunggu yang relatif lama.

Siapa bilang 13 itu angka sial? Buatku 13 adalah simbol keberuntungan. 13 yang berisi 24 peserta dari berbagai penjuru Indonesia dengan keunikan yang masing-masing bawa. Teman? Bukan, kita keluarga.
Thirteen!
Keluarga yang begitu ramah menyambut kedatangan layaknya kepulangan. Para senior KF dan kru Diva Press membantu mengurus seluruh keperluan peserta, seperti kami segerombol adik kecil yang wajib dijaga baik-baik. Kecurigaanku gedung karantina sengaja diberi sentuhan sihir hingga terasa nyaman bagai rumah sendiri. (●´∀`●)

with them❤
Menempuh perjalanan di atas rel selama kurang lebih 5 jam, hampir tidak percaya kakiku akhirnya menjejak Jogja. Beruntung salah seorang peserta asal Jombang --Mbak Rialita-- rupanya menaiki kereta yang sama. Kendaraan jemputan pun tidak usah ditunggu. Mas Agus sudah siap menjemput di pintu keluar stasiun, memandu kami menuju gedung Kampus Fiksi.

Apa, ya? Ada semacam deja vu bahwa meski itu adalah kali pertamaku ke sana, namun semua terasa sangat akrab dan tidak asing. Singkatnya perjalanan itu tidak jauh berbeda dengan yang kubayangkan. Mungkin jiwaku sudah datang lebih dulu daripada ragaku?

Bersama Mbak Ria menjadi peserta ketiga dan keempat setelah Mbak Maulida dan Mbak Husnul yang sudah duluan sampai, terbang dari pulau masing-masing. Dalam sekejap saja peserta-peserta lain mulai berdatangan. Berjabat tangan dan berkenalan sembari menyebut daerah asal. Menambah riuh suasana karantina yang memang sudah hangat.

Jumat adalah prolog yang luar biasa, dan rangkaian kegiatan kami pada Sabtu dan Minggu esoknya pastilah lebih menakjubkan lagi.
ヽ(*≧ω≦)ノ


Next: Ter-#KampusFiksi13

Pasar Tanjung Anyar

Bicara tentang pasar di Kota Mojokerto, pastilah Pasar Tanjung Anyar yang dimaksud. Meski dewasa ini pasar modern sudah mulai marak, namun pasar tradisional tidak pernah kehilangan pesonanya.

Terletak hampir di sepanjang Jalan Residen Pamuji, Pasar Tanjung sangat mudah dikunjungi karena masih dalam ruang lingkup kota. Merupakan pasar terbesar di Kota Mojokerto, Pasar Tanjung menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat untuk segala kalangan. Di sinilah masyarakat Mojokerto memenuhi kebutuhan hidup mereka, baik itu secara konsumtif maupun opsional, apakah itu bahan mentah pun yang sudah jadi dan siap guna.
Los-los sayuran dan ikan
Ribuan pedagang menawarkan beragam produk. Meski sangat luas--dengan banyak los dan gang--tidak perlu takut tersesat dan bingung mencari jalan keluar. Di jantung pasar, dekat area pakaian, terdapat peta dari Pasar Tanjung beserta keterangannya. Los-los di pasar ini dibagi berdasarkan barang dagangan. Para penjual daging sapi berkumpul pada sederet los yang sama. Demikian juga dengan para penjual ayam potong yang menempati los yang berdekatan. Dst.
Pedagang ayam potong
Aneka jilbab dan baju
Selain pusatnya sembako dan ragam kebutuhan dapur, di Pasar Tanjung juga tersedia pakaian, tas, sepatu, perabotan rumah tangga, kue dan penganan, kacamata, kosmetik, servis jam, hingga penjahit/permak baju dan tas.

Berbeda dengan pasar modern(swalayan) di mana kita membayar sesuai dengan label harga tertera, di Pasar Tanjung setiap pembeli berhak melakukan penawaran terhadap barang yang akan dibeli jika harganya dirasa terlalu tinggi. Namun mengingat mayoritas pedagang/penjual adalah masyarakat kecil juga, kita sebagai pembeli hendaklah menawar harga sewajarnya. :)

Di pasar ini pembeli pasti diberi harga yang relatif lebih murah daripada di tempat lain, karena para pedagang mendapatkan barang-barangnya langsung dari produsen. Untuk pembeli dengan jumlah banyak akan diberikan harga grosir. Bahkan barang-barang di pasar ini dijadikan 'tempat kulak' bagi pengusaha peracangan, pedagang keliling, dan toko-toko kecil.

Berbelanja di minimarket atau swalayan memang menyenangkan. Terjamin bersih, tidak panas, dan nyaman. Namun alangkah baiknya sebagai warga setempat setidaknya satu-dua kali kita menyambangi pasar tradisional/lokal untuk turut menyejahterakan pertumbuhan ekonomi kota sendiri. :)) *sok bijak*

Salam belanja dari pasar Mojokerto
#30HariKotakuBercerita

Senin, 07 September 2015

Taman Benteng Pancasila

Namanya memang demikian. Aneh, ya? Dinamakan sama dengan nama jalan tempat taman ini berada yakni Jalan Benteng Pancasila, atau yang biasa disebut warga lokal dengan 'Benpas'. Letaknya yang strategis --dalam kota dan dekat dengan perumahan-- membuat taman ini menjadi destinasi jalan-jalan keluarga.
Terlihat gapura ala candi khas Kota Mojokerto
Tidak berbeda jauh dengan alun-alun kota, selain menyediakan ruang hijau bagi masyarakat, beberapa pihak menggunakan taman ini untuk berolahraga, sarana kumpul-kumpul komunitas lokal, alternarif refreshing, dan tempat bermain anak.

Berbentuk persegi panjang dengan lampu-lampu tinggi tersebar di seluruh taman. Pada bagian paling depan taman sejumlah terdapat persewaan bermacam-macam kendaraan mainan untuk adik-adik balita seperti skuter dan mobil-mobilan. Ada juga bermacam-macam odong-odong serta kereta kelinci yang pada jam-jam tertentu 'mangkal' di sana. Semuanya dengan harga terjangkau.

Bagian tengah taman berbentuk lingkaran dengan bangku-bangku taman mengelilingi. Bisa dibilang ini adalah pusatnya. Adik-adik yang menyewa kendaraan mini bisa bermain dan berkeliling di sini.
Di sisi timur berderet penjual jajanan dan minuman ringan. Tak ketinggalan para penjual mainan dan pernak-pernik menarik. Sepasang area bermain ditempatkan di sudut barat dan timur taman; ada ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit. Di sebelahnya pengunjung akan menemukan 'lantai batu' atau 'lantai akunpuntur'. Batu-batu yang ditanam sedemikian rupa pada lantai dipercaya bisa merelaksasi dan membantu melancarkan peredaran darah. Unik, bukan?
Berminat coba?
Hanya dengan membayar parkir Rp. 2.000,- saja pengunjung bisa bebas berjalan-jalan dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Sekadar menghabiskan waktu menikmati udara sejuk ala persawahan hijau, atau berkuliner ria mencicipi berbagai penganan yang dijual. Sebut saja pentol bakar, bakwan, jasuke(jagung-susu-keju), kedai capcin (cappucino cincau), es tebu, dll. Bisa dinikmati sembari bersantai.
Seumur jagung, taman ini dibuat demi mendukung pembangunan Kota Mojokerto. Dahulu Jalan Benteng Pancasila --atau Benpas-- serupa jalan pintas biasa di area persawahan yang cukup luas dan sejajar dengan rel kereta api. Terbayangkah suasananya? Ya, sangat sepi. Masyarakat enggan dan jarang melintasi jalan ini hingga konon menjadi angker dan rawan tindak kejahatan.
Maka pemerintah kota mulai melakukan perombakan besar-besaran terhadap jalan berbentuk siku-siku ini --satu ujungnya berada di Jalan Gajah Mada dengan ujung lain di Jalan Empunala. Pelebaran jalan, pembangunan gedung instansi pemerintah dan swasta seperti Carrefour serta berbagai macam rumah makan, toko, dan warung kopi, relokasi pasar-serba-ada, hingga pembuatan Taman Benpas.
Penambah pesona selain tata letak yang memang mewah(mepet sawah, LOL), pemandangan sunset dari Taman Benpas terbilang cukup indah lantaran luasnya cakrawala. Dengan posisi yang menghadap ke arah selatan, sewaktu-waktu pengunjung juga dapat menyaksikan kereta api yang melintas di sepanjang Benpas. Suara bising khas kereta rupanya mampu membuat pengunjung menolehkan pandang ke arah transportasi tersebut. Sesederhana itu memang, namun --tak terpungkiri-- menyenangkan.

Salam halan-halan. *bukan typo*
#30harikotakubercerita

Rabu, 02 September 2015

Alun-Alun Kota Mojokerto; Selamat Datang di Kota Kecilku

Adakah di antara kalian yang pernah berkunjung ke Kota Mojokerto? Atau justru baru kali ini mendengar namanya? Ialah sebuah kota kecil di belahan timur provinsi Jawa Timur, berjarak tempuh kira-kira sejam perjalanan dari Surabaya atau Jombang, sekitar 2-3 jam jika kalian berangkat dari Malang.

Belum singgah ke Mojokerto jika kalian belum mampir di alun-alun kotanya. Diapit Jalan A. Yani dan Jalan Majapahit --terletak di tepat di jantung kota, alun-alun Mojokerto sangat mudah dijangkau oleh kalian yang melakukan perjalanan luar kota.

Dari arah Surabaya misalnya, selepas menyeberangi Jembatan Gajah Mada, nyalakan lampu sein kanan di lampu merah pertama sebelum memasuki Jalan Pemuda --yang dikenal sebagai kawasan sekolah dan gereja. Selagi melintasi Jalan Pemuda, kalian akan mendapati --di jalan yang tidak terlalu panjang ini-- empat area sekolah yakni SMAN 3 Kota Mojokerto, SDK Wijana Sejati, SDN Gedongan 1, dan SDN Gedongan 3, serta tiga bangunan gereja di antaranya Gereja Kristen Jawi Wetan, Gereja Katholik Santo Yusuf, lalu Gereja Kristen Protestan yang terletak tepat di ujung pertigaan. Ambil lajur kiri sebelum pertigaan, namun segera nyalakan lampu sein kanan lagi di pertigaan berikutnya. Kalian akan berada di Jalan A. Yani dan alun-alun hanya tinggal beberapa meter saja.
Gerbang utama (selatan) alun-alun kota Mojokerto
Di sisi kanan sepasang gapura tinggi khas candi-candi Kerajaan Majapahit megah menyambut, seolah mengatakan "Selamat datang." kepada para pengunjung. Sebentuk tugu yang berada di jantung alun-alun ialah ikon dari alun-alun, yang identik dengan Kota Mojokerto itu sendiri.

Patung gajah yg tetap dipertahankan meski alun-alun sempat dipugar
Pintu masuk utama alun-alun ada di sisi selatan, menghadap Jalan Majapahit. Sementara pintu masuk utara menghadap ke Sungai Brantas dan Jembatan Padhangan. Uniknya kalian hanya bisa masuk dengan berjalan kaki karena kendaraan bermotor dilarang berada di dalam alun-alun. Tapi tenang saja, di sisi barat alun-alun sudah disediakan penitipan kendaraan baik untuk roda dua maupun roda empat. Jika sudah terlanjur berhenti di depan gerbang pun tidak masalah. Di sepanjang sisi selatan dan utara, para tukang parkir akan membatu kalian memarkir kendaraan.

Apabila kalian hendak berjalan mengelilingi alun-alun, kusarankan untuk memulainya dari gapura selatan menuju sisi barat lebih dulu. Menyusuri trotoar yang cukup lapang, kalian akan melihat sebuah patung gajah. Di sekitarnya tetanaman dirawat apik baik dalam pot-pot besar pun yang sudah diatur sedemikian rupa di tanah. Berderet tempat duduk melengkapi. Coba saja nikmati silir anginnya yang begitu memanjakan. Cuaca Mojokerto sendiri memang cenderung stabil, siang yang tak terlalu terik pun udara malamnya tidak akan membuat gigil.
Miniatur Candi Bajang Ratu
Beberapa meter setelah patung gajah, tepat di sudut barat-daya kalian akan disuguhkan miniatur Candi Bajang Ratu yang wujud aslinya berada di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sejak alun-alun rampung dipugar, ini adalah salah satu spot yang laris-manis digunakan untuk background foto. Keren, kan? Bagian tengahnya juga bisa dimasuki, lho. :)
Ponten alias kamar mandi umum. Meriah!
Bergeser ke sisi barat alun-alun, terdapat ponten yang terletak tidak jauh dari miniatur candi dan tempat parkir utama. Di sini pulalah Masjid Al-Fattah berada, salah satu masjid utama dan ternama di Mojokerto. Maka jangan khawatir melewatkan ibadah selagi menghabiskan waktu di alun-alun. Tinggal menyeberang jalan saja.

Masjid Agung Al-Fattah
Paling dekat dengan masjid dan pemukiman warga, menjadikan banyak penjual makanan dan minuman berkumpul di sisi ini. Bakso, mie ayam, gado-gado, es degan, es campur, es oyen, dan masih banyak lagi bisa kalian temukan dengan mudah dan dijamin murah.
Miniatur Candi Tikus
Mari berjalan lagi menuju sudut barat-laut. Kini giliran miniatur Candi Tikus yang akan membuat kalian serasa berada di Trowulan sungguhan. Jika tidak ada banyak waktu untuk melihat candi-candi langsung, mengunjungi miniaturnya bukan pilihan buruk, kan? ;)
Pada foto di atas, terlihatkah sebuah tiang berada di tengah-tengah? Ya, itu adalah tiang bendera. Jangan heran, alun-alun kota Mojokerto selain sebagai sarana rekreasi, juga merupakan bagian dari kegiatan kota. Tak jarang pada hari-hari besar, berkumpullah semua pegawai pemerintahan kota, siswa-siswi sekolah, atau instansi terkait, guna mengadakan upacara bendera di alun-alun ini.

Komunitas-komunitas lokal pun secara rutin menggunakan alun-alun sebagai pusat kegiatan mereka. Sebut saja Komunitas Skateboard, dan Mojokerto Animanga yang acap kali mengadakan event cosplay di sini.
Via Facebook: Mojokerto Animanga
Monumen meriam
Melewati sepasang gapura di pintu masuk utara, terlihat sudut timur-laut alun-alun dengan monumen meriam menghiasi. Selain dua miniatur candi sebelumnya, banyak pengunjung tertarik mengambil foto di sini. Anak-anak kecil tak jarang berpose dengan naik di atas meriam.
Whole landscape of alun2 Mojokerto
Sudut ini adalah yang terteduh. Banyaknya pepohonan di sekelilingnya kian menambah asri dan kenyamanan. Sederet warung dan depot sederhana siap menyambut pengunjung alun-alun yang lapar. Itulah sebabnya kalian bisa menemukan beberapa pengunjung melakukan piknik kecil-kecilan di sini. Datanglah membawa tikar dan bekal buatan rumah, atau silakan pesan makanan atau jajanan dari penjual-penjual yang tersebar di sekitar.
Dari sisi timur versi malam hari
Jika malas kemari di siang hari karena panas, cobalah untuk jalan-jalan sore atau malam hari. Selain kerap difungsikan sebagai tempat jogging setiap pagi dan sore, pengunjung juga gemar datang jelang petang. Begitu gelap lampu-lampu otomatis menyala, termasuk ikon alun-alun kita. Pendar warna-warninya jadi daya tarik tersendiri.
Alun-alun malam hari
Keramaian aktivitas pengunjung
Jangan lupa menjajal In Line Skate atau Roller Skate di sini. Cukup dengan Rp. 10.000,- saja per 30 menit, kalian bisa menyewa sepasang sepatu roda dan bermain bebas dengannya. Tak usah cemas bila belum bisa, akan ada seorang intruktur yang memandu. Mulailah dengan belajar berdiri sendiri di atas rumput yang tidak licin, kemudian baru pindah ke arena luncur. Untuk adik-adik usia sekolah, bisa mencoba menyewa bermacam-macam skuter dan motor mini. Semuanya menyala dalam gelap!
Roller Skate dan motor mini~~ lucu! xD
Terakhir, sebelum kembali ke posisi awal yakni gapura utama di selatan, sekali lagi kalian akan melihat minatur Candi Gentong --yang juga berasal dari daerah Trowulan, Mojokerto-- di sudut tenggara alun-alun. Unik, bukan?
Alih-alih gelap, ini spot yang photoable 
Jadi, kapan mau main-main kemari?

Mojokerto, September 2015
#30HariKotakuBercerita