Tampilkan postingan dengan label #30HariKotakuBercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariKotakuBercerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2015

Pasar Tanjung Anyar

Bicara tentang pasar di Kota Mojokerto, pastilah Pasar Tanjung Anyar yang dimaksud. Meski dewasa ini pasar modern sudah mulai marak, namun pasar tradisional tidak pernah kehilangan pesonanya.

Terletak hampir di sepanjang Jalan Residen Pamuji, Pasar Tanjung sangat mudah dikunjungi karena masih dalam ruang lingkup kota. Merupakan pasar terbesar di Kota Mojokerto, Pasar Tanjung menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat untuk segala kalangan. Di sinilah masyarakat Mojokerto memenuhi kebutuhan hidup mereka, baik itu secara konsumtif maupun opsional, apakah itu bahan mentah pun yang sudah jadi dan siap guna.
Los-los sayuran dan ikan
Ribuan pedagang menawarkan beragam produk. Meski sangat luas--dengan banyak los dan gang--tidak perlu takut tersesat dan bingung mencari jalan keluar. Di jantung pasar, dekat area pakaian, terdapat peta dari Pasar Tanjung beserta keterangannya. Los-los di pasar ini dibagi berdasarkan barang dagangan. Para penjual daging sapi berkumpul pada sederet los yang sama. Demikian juga dengan para penjual ayam potong yang menempati los yang berdekatan. Dst.
Pedagang ayam potong
Aneka jilbab dan baju
Selain pusatnya sembako dan ragam kebutuhan dapur, di Pasar Tanjung juga tersedia pakaian, tas, sepatu, perabotan rumah tangga, kue dan penganan, kacamata, kosmetik, servis jam, hingga penjahit/permak baju dan tas.

Berbeda dengan pasar modern(swalayan) di mana kita membayar sesuai dengan label harga tertera, di Pasar Tanjung setiap pembeli berhak melakukan penawaran terhadap barang yang akan dibeli jika harganya dirasa terlalu tinggi. Namun mengingat mayoritas pedagang/penjual adalah masyarakat kecil juga, kita sebagai pembeli hendaklah menawar harga sewajarnya. :)

Di pasar ini pembeli pasti diberi harga yang relatif lebih murah daripada di tempat lain, karena para pedagang mendapatkan barang-barangnya langsung dari produsen. Untuk pembeli dengan jumlah banyak akan diberikan harga grosir. Bahkan barang-barang di pasar ini dijadikan 'tempat kulak' bagi pengusaha peracangan, pedagang keliling, dan toko-toko kecil.

Berbelanja di minimarket atau swalayan memang menyenangkan. Terjamin bersih, tidak panas, dan nyaman. Namun alangkah baiknya sebagai warga setempat setidaknya satu-dua kali kita menyambangi pasar tradisional/lokal untuk turut menyejahterakan pertumbuhan ekonomi kota sendiri. :)) *sok bijak*

Salam belanja dari pasar Mojokerto
#30HariKotakuBercerita

Senin, 07 September 2015

Taman Benteng Pancasila

Namanya memang demikian. Aneh, ya? Dinamakan sama dengan nama jalan tempat taman ini berada yakni Jalan Benteng Pancasila, atau yang biasa disebut warga lokal dengan 'Benpas'. Letaknya yang strategis --dalam kota dan dekat dengan perumahan-- membuat taman ini menjadi destinasi jalan-jalan keluarga.
Terlihat gapura ala candi khas Kota Mojokerto
Tidak berbeda jauh dengan alun-alun kota, selain menyediakan ruang hijau bagi masyarakat, beberapa pihak menggunakan taman ini untuk berolahraga, sarana kumpul-kumpul komunitas lokal, alternarif refreshing, dan tempat bermain anak.

Berbentuk persegi panjang dengan lampu-lampu tinggi tersebar di seluruh taman. Pada bagian paling depan taman sejumlah terdapat persewaan bermacam-macam kendaraan mainan untuk adik-adik balita seperti skuter dan mobil-mobilan. Ada juga bermacam-macam odong-odong serta kereta kelinci yang pada jam-jam tertentu 'mangkal' di sana. Semuanya dengan harga terjangkau.

Bagian tengah taman berbentuk lingkaran dengan bangku-bangku taman mengelilingi. Bisa dibilang ini adalah pusatnya. Adik-adik yang menyewa kendaraan mini bisa bermain dan berkeliling di sini.
Di sisi timur berderet penjual jajanan dan minuman ringan. Tak ketinggalan para penjual mainan dan pernak-pernik menarik. Sepasang area bermain ditempatkan di sudut barat dan timur taman; ada ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit. Di sebelahnya pengunjung akan menemukan 'lantai batu' atau 'lantai akunpuntur'. Batu-batu yang ditanam sedemikian rupa pada lantai dipercaya bisa merelaksasi dan membantu melancarkan peredaran darah. Unik, bukan?
Berminat coba?
Hanya dengan membayar parkir Rp. 2.000,- saja pengunjung bisa bebas berjalan-jalan dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Sekadar menghabiskan waktu menikmati udara sejuk ala persawahan hijau, atau berkuliner ria mencicipi berbagai penganan yang dijual. Sebut saja pentol bakar, bakwan, jasuke(jagung-susu-keju), kedai capcin (cappucino cincau), es tebu, dll. Bisa dinikmati sembari bersantai.
Seumur jagung, taman ini dibuat demi mendukung pembangunan Kota Mojokerto. Dahulu Jalan Benteng Pancasila --atau Benpas-- serupa jalan pintas biasa di area persawahan yang cukup luas dan sejajar dengan rel kereta api. Terbayangkah suasananya? Ya, sangat sepi. Masyarakat enggan dan jarang melintasi jalan ini hingga konon menjadi angker dan rawan tindak kejahatan.
Maka pemerintah kota mulai melakukan perombakan besar-besaran terhadap jalan berbentuk siku-siku ini --satu ujungnya berada di Jalan Gajah Mada dengan ujung lain di Jalan Empunala. Pelebaran jalan, pembangunan gedung instansi pemerintah dan swasta seperti Carrefour serta berbagai macam rumah makan, toko, dan warung kopi, relokasi pasar-serba-ada, hingga pembuatan Taman Benpas.
Penambah pesona selain tata letak yang memang mewah(mepet sawah, LOL), pemandangan sunset dari Taman Benpas terbilang cukup indah lantaran luasnya cakrawala. Dengan posisi yang menghadap ke arah selatan, sewaktu-waktu pengunjung juga dapat menyaksikan kereta api yang melintas di sepanjang Benpas. Suara bising khas kereta rupanya mampu membuat pengunjung menolehkan pandang ke arah transportasi tersebut. Sesederhana itu memang, namun --tak terpungkiri-- menyenangkan.

Salam halan-halan. *bukan typo*
#30harikotakubercerita

Rabu, 02 September 2015

Alun-Alun Kota Mojokerto; Selamat Datang di Kota Kecilku

Adakah di antara kalian yang pernah berkunjung ke Kota Mojokerto? Atau justru baru kali ini mendengar namanya? Ialah sebuah kota kecil di belahan timur provinsi Jawa Timur, berjarak tempuh kira-kira sejam perjalanan dari Surabaya atau Jombang, sekitar 2-3 jam jika kalian berangkat dari Malang.

Belum singgah ke Mojokerto jika kalian belum mampir di alun-alun kotanya. Diapit Jalan A. Yani dan Jalan Majapahit --terletak di tepat di jantung kota, alun-alun Mojokerto sangat mudah dijangkau oleh kalian yang melakukan perjalanan luar kota.

Dari arah Surabaya misalnya, selepas menyeberangi Jembatan Gajah Mada, nyalakan lampu sein kanan di lampu merah pertama sebelum memasuki Jalan Pemuda --yang dikenal sebagai kawasan sekolah dan gereja. Selagi melintasi Jalan Pemuda, kalian akan mendapati --di jalan yang tidak terlalu panjang ini-- empat area sekolah yakni SMAN 3 Kota Mojokerto, SDK Wijana Sejati, SDN Gedongan 1, dan SDN Gedongan 3, serta tiga bangunan gereja di antaranya Gereja Kristen Jawi Wetan, Gereja Katholik Santo Yusuf, lalu Gereja Kristen Protestan yang terletak tepat di ujung pertigaan. Ambil lajur kiri sebelum pertigaan, namun segera nyalakan lampu sein kanan lagi di pertigaan berikutnya. Kalian akan berada di Jalan A. Yani dan alun-alun hanya tinggal beberapa meter saja.
Gerbang utama (selatan) alun-alun kota Mojokerto
Di sisi kanan sepasang gapura tinggi khas candi-candi Kerajaan Majapahit megah menyambut, seolah mengatakan "Selamat datang." kepada para pengunjung. Sebentuk tugu yang berada di jantung alun-alun ialah ikon dari alun-alun, yang identik dengan Kota Mojokerto itu sendiri.

Patung gajah yg tetap dipertahankan meski alun-alun sempat dipugar
Pintu masuk utama alun-alun ada di sisi selatan, menghadap Jalan Majapahit. Sementara pintu masuk utara menghadap ke Sungai Brantas dan Jembatan Padhangan. Uniknya kalian hanya bisa masuk dengan berjalan kaki karena kendaraan bermotor dilarang berada di dalam alun-alun. Tapi tenang saja, di sisi barat alun-alun sudah disediakan penitipan kendaraan baik untuk roda dua maupun roda empat. Jika sudah terlanjur berhenti di depan gerbang pun tidak masalah. Di sepanjang sisi selatan dan utara, para tukang parkir akan membatu kalian memarkir kendaraan.

Apabila kalian hendak berjalan mengelilingi alun-alun, kusarankan untuk memulainya dari gapura selatan menuju sisi barat lebih dulu. Menyusuri trotoar yang cukup lapang, kalian akan melihat sebuah patung gajah. Di sekitarnya tetanaman dirawat apik baik dalam pot-pot besar pun yang sudah diatur sedemikian rupa di tanah. Berderet tempat duduk melengkapi. Coba saja nikmati silir anginnya yang begitu memanjakan. Cuaca Mojokerto sendiri memang cenderung stabil, siang yang tak terlalu terik pun udara malamnya tidak akan membuat gigil.
Miniatur Candi Bajang Ratu
Beberapa meter setelah patung gajah, tepat di sudut barat-daya kalian akan disuguhkan miniatur Candi Bajang Ratu yang wujud aslinya berada di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sejak alun-alun rampung dipugar, ini adalah salah satu spot yang laris-manis digunakan untuk background foto. Keren, kan? Bagian tengahnya juga bisa dimasuki, lho. :)
Ponten alias kamar mandi umum. Meriah!
Bergeser ke sisi barat alun-alun, terdapat ponten yang terletak tidak jauh dari miniatur candi dan tempat parkir utama. Di sini pulalah Masjid Al-Fattah berada, salah satu masjid utama dan ternama di Mojokerto. Maka jangan khawatir melewatkan ibadah selagi menghabiskan waktu di alun-alun. Tinggal menyeberang jalan saja.

Masjid Agung Al-Fattah
Paling dekat dengan masjid dan pemukiman warga, menjadikan banyak penjual makanan dan minuman berkumpul di sisi ini. Bakso, mie ayam, gado-gado, es degan, es campur, es oyen, dan masih banyak lagi bisa kalian temukan dengan mudah dan dijamin murah.
Miniatur Candi Tikus
Mari berjalan lagi menuju sudut barat-laut. Kini giliran miniatur Candi Tikus yang akan membuat kalian serasa berada di Trowulan sungguhan. Jika tidak ada banyak waktu untuk melihat candi-candi langsung, mengunjungi miniaturnya bukan pilihan buruk, kan? ;)
Pada foto di atas, terlihatkah sebuah tiang berada di tengah-tengah? Ya, itu adalah tiang bendera. Jangan heran, alun-alun kota Mojokerto selain sebagai sarana rekreasi, juga merupakan bagian dari kegiatan kota. Tak jarang pada hari-hari besar, berkumpullah semua pegawai pemerintahan kota, siswa-siswi sekolah, atau instansi terkait, guna mengadakan upacara bendera di alun-alun ini.

Komunitas-komunitas lokal pun secara rutin menggunakan alun-alun sebagai pusat kegiatan mereka. Sebut saja Komunitas Skateboard, dan Mojokerto Animanga yang acap kali mengadakan event cosplay di sini.
Via Facebook: Mojokerto Animanga
Monumen meriam
Melewati sepasang gapura di pintu masuk utara, terlihat sudut timur-laut alun-alun dengan monumen meriam menghiasi. Selain dua miniatur candi sebelumnya, banyak pengunjung tertarik mengambil foto di sini. Anak-anak kecil tak jarang berpose dengan naik di atas meriam.
Whole landscape of alun2 Mojokerto
Sudut ini adalah yang terteduh. Banyaknya pepohonan di sekelilingnya kian menambah asri dan kenyamanan. Sederet warung dan depot sederhana siap menyambut pengunjung alun-alun yang lapar. Itulah sebabnya kalian bisa menemukan beberapa pengunjung melakukan piknik kecil-kecilan di sini. Datanglah membawa tikar dan bekal buatan rumah, atau silakan pesan makanan atau jajanan dari penjual-penjual yang tersebar di sekitar.
Dari sisi timur versi malam hari
Jika malas kemari di siang hari karena panas, cobalah untuk jalan-jalan sore atau malam hari. Selain kerap difungsikan sebagai tempat jogging setiap pagi dan sore, pengunjung juga gemar datang jelang petang. Begitu gelap lampu-lampu otomatis menyala, termasuk ikon alun-alun kita. Pendar warna-warninya jadi daya tarik tersendiri.
Alun-alun malam hari
Keramaian aktivitas pengunjung
Jangan lupa menjajal In Line Skate atau Roller Skate di sini. Cukup dengan Rp. 10.000,- saja per 30 menit, kalian bisa menyewa sepasang sepatu roda dan bermain bebas dengannya. Tak usah cemas bila belum bisa, akan ada seorang intruktur yang memandu. Mulailah dengan belajar berdiri sendiri di atas rumput yang tidak licin, kemudian baru pindah ke arena luncur. Untuk adik-adik usia sekolah, bisa mencoba menyewa bermacam-macam skuter dan motor mini. Semuanya menyala dalam gelap!
Roller Skate dan motor mini~~ lucu! xD
Terakhir, sebelum kembali ke posisi awal yakni gapura utama di selatan, sekali lagi kalian akan melihat minatur Candi Gentong --yang juga berasal dari daerah Trowulan, Mojokerto-- di sudut tenggara alun-alun. Unik, bukan?
Alih-alih gelap, ini spot yang photoable 
Jadi, kapan mau main-main kemari?

Mojokerto, September 2015
#30HariKotakuBercerita