Rabu, 01 Oktober 2014

ROCKTOBERawrr

Hi! Have you seen our brand new step of this newly month: October? :))

Well, the truth is we've been in this blessfull October. For only next three months we will done with 2014. Are you ready to move on, soon? Sounds weird, huh? Afraid? What should we afraid of? Peoples are getting older everyday, every hour, every minute, every second... Hehehe... So am I.

"Wake me up, when September ends..."

September has ended already. Left so many kinds of feeling behind. For me? September must be a quite nice month. Honestly, it did make me somehow, hontou ni.

Salah satu masalah krusialku adalah waktu. Entah mengapa aku kurang bisa memahami kawan satu ini dengan baik. Kadang waktu terlalu bermain-main danganku dan tiba-tiba saja habis masa, menjadi jauh lebih singkat. Kali lain ia benar-benar serius tidak ingin melepaskanku begitu saja yang ingin segera melupakan segala masalahku. Melupakan waktu. Dan detik justru berjalan enggan. Menyiksaku pelan-pelan. Aku tidak akan melupakan tanggal kepulangan Chagiya 3 Agustus lalu; betapa aku pusing dengan lagu yang akan kutampilkan pada pentas seni tujuh belasan di penghujung Agustus; melewatkan beberapa hari ulang tahun teman dan kerabat pada bulan September, lalu sekarang sudah tahu-tahu Oktober tiba.

September 2014 adalah bulan yang baik, meski tidak selalu baik padaku. Terlebih pada perasaanku. September kemarin dipenuhi ombak bergulung, angin kencang, hujan lebat disertai sambaran petir. Tapi meski begitu rupanya hatiku masih bisa bertahan. Yokatta ne! :) And do you know that what doesn't kill you makes stronger? Apa yang tidak bisa membunuhmu, akan menjadikanmu lebih kuat. Seleksi alam. Ujian. Cobaan. Peringatan. Berhasil, kau lulus dan bersiap menghadapi tantangan selanjutnya. Jika gagal, berarti kau belum cukup baik untuk berkompetisi dalam ajang yang hanya menginginkan yang terbaik. Matilah. x))

Awal September aku mengantar kepergian Chagiyaku (lagi-lagi). Merasa belum mendapat kesempatan di kota sendiri, kali ini Solo menjadi destinasi rantauannya. Bukan hal baru bila kami harus kembali terpisah jarak. Ya, setidaknya kami menghuni tanah Jawa yang sama, melintasi bagian waktu yang sama. Kesibukan sedikit banyak membantu mengobati sepi saat aku merindukan Chagiya. Bosan juga kadang-kadang datang. Rutinitas monoton, kegiatan yang itu-itu saja. Tapi lagi-lagi, saat keputusasaan itu mampir, separuh hatiku menolak. Mengingat Chagiya yang juga (pastinya) sedang berjuang untuk kami, maka aku pun bisa bertahan kembali.

Bulan September menjadi momen pendulang berkah bagi mereka yang memilihnya untuk melaksanakan hari besar. Undangan-undangan pernikahan datang bertubi-tubi. Teman, tetangga, serta beberapa yang masih kerabat. Pertunangan? Mereka, para pelaku kebahagiaan itu, terlihat seolah-olah berlomba untuk mencari siapa yang paling terberkati. Sedangkan aku? :( Ya, sesegeranya, itu juga yang selalu kuminta pada Tuhan.

Begini, aku mungkin satu dari (menurutku) tidak banyak orang yang peka dalam menghitung kemampuan dan prospek pribadinya. Aku tahu keinginanku, sebesar apa itu, bagaimana caraku mendapatkannya, menyesuaikan dengan kapasitasku yang ada saat ini. Jadi, jika aku sedang diam saja, bukan berarti aku tidak mau berusaha atau ogah-ogahan dalam berjuang, mencapai apa yang (setahu orang lain) aku inginkan. Jangan menyuruh atau memaksaku mendapatkan apa yang aku inginkan tapi belum bisa kudapatkan sekaligus. It's irritating to know something you really wanted but you can't get it immidiately. Dibutuhkan stra~te~gi. Aku pasti akan tahu aku bisa jika memang aku sudah siap untuk itu. So do not force me jika kalian hanya ingin tertawa jahat saat melihatku bersusah payah. :'(

Misalnya: bagaimana mungkin aku tidak ingin (segera) menikah? Begini-begini aku wanita normal yang punya pasangan dengan niat tidak main-main dalam hubungan kami. Menikah? Itu goal paling dinanti. Tapi apa bisa semudah itu? Kalian mana tahu sebanyak apa aku dan Chagi menginginkannya, tanpa melupakan realitas hidup yang tengah kami jalani sekarang. :( Jika kami bisa (berusaha) sabar, kenapa kalian yang (hanya) 'audiences' tidak bisa menunggu untuk menikmati hiburan berupa progress hubungan kami itu? Well, apapun yang kami lakukan pun, akan kami jalani dengan atau tanpa persetujuan dari orang lain. See, you won't ever make us. It's my life, our life. You just watch, so don't ruin anything you don't deserve to. Hargai orang lain.

Okay, guess I'm too fired up.

Sebagaimana kutahu aku bukan orang baik, aku pun tidak sejahat pikirku sendiri. Paling tidak ada kemasuk-akalan dalam ketidakingin-bahagiaanku melihat orang -yang-kupikir-aku-benci-tapi-dia-tidak-sehebat-itu-untuk-bisa-mendapatkan-kebencianku- bahagia. Menjijikkan, bukan? Katakan kau punya seseorang yang kau pikir sangat mengganggu hidupmu. Melihatnya saja malas. Kau punya banyak alasan untuk membela diri dan membaikkan diri, membanding-bandingkan dirimu dengannya.

Unfortunately, I do have those persons. Orang-orang yang bisa selalu membuatku muak terhadap apapun yang mereka lakukan. Sekecil apapun. Tak peduli baik atau buruk, mereka akan selalu buruk di mataku. Sayangnya, ketika sudah merasa demikian, maka mau tidak mau aku akan bisa selalu tahu apa yang terjadi pada orang-orang itu. If they are misfortune, I could deadly happy. Dan sebaliknya, aku bisa jadi sangat desperate saat mereka bisa lebih dulu mendapatkan apa yang sangat ingin kudapatkan (tapi aku belum mampu). Kupikir aku benar-benar benci mengetahui mereka bisa (lebih) bahagia (dariku).

Well, I knew that si-sampah-pencemburu ini tidak lain adalah diriku sendiri. Tapi karena aku memang tidak sejahat pikiranku, kurasa bagaimanapun, they don't deserve to take my hatred after all. Perasaan sepihak memang (kebanyakan) menyakitkan. :'( Aku tidak ingin membenci mereka yang barangkali tidak menyadari kebencianku sepihakku. Aku tidak ingin mereka mendapat perhatian lebih dariku, so I won't care anything about them again. *smirk*

Kenapa semakin ke bawah tulisan ini semakin menghitam, ya? Hahaha...

Maka dari itu, September merupakan saksi dari proses perbaikan diriku juga. Banyak tantangan. Aksi-reaksi. Dari segala kejadian, aku belajar. Tumbuh. Berusaha hidup lebih baik, dan berharap semoga sepeninggalnya -si September yang katanya ceria- aku bisa menjumpai Oktober dengan hati yang tak kalah bersemangatnya. :))

Yosh! Fighting!!

*edited on 14th October 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

It's my pleasure to know that you've left a comment here. Arigatou~~ *^_^*