Jumat, 11 September 2015

Kampus Fiksi Episode 13

#KampusFiksi13
31 Agustus 2015. Rasanya baru kemarin, namun ternyata sudah dua minggu berlalu. Masih segar dalam ingatan, Jumat jelang siang Kereta Logawa tiba di Mojokerto sesuai jadwal--singgah tak lama--lalu segera membawaku melintasi beberapa kota untuk sampai di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Untuk apa? Tentu demi memenuhi undangan kehormatan dari Kampus Fiksi. Kenapa? Ya karena aku ingin jadi penulis!

Bermula April 2014 silam, pada event #KampusFiksiRoadShow Malang, kubulatkan tekad untuk mengirim salah satu cerpen terbaikku dalam rangka menembus seleksi Kampus Fiksi Reguler yang diadakan di Jogja.

Penantianku nyata berbuah manis tatkala judul cerpen "Dia, Bukan Aku" mengantarkan nama Riza Chanifa Auliya Sari lolos seleksi Kampus Fiksi dan terdaftar di angkatan tigabelas. Sesuatu yang semula di luar ekspektasi tiba-tiba terjadi. Mengingat betapa ketat dan sulitnya menembus seleksi, pun konon antrian angkatan memakan waktu tunggu yang relatif lama.

Siapa bilang 13 itu angka sial? Buatku 13 adalah simbol keberuntungan. 13 yang berisi 24 peserta dari berbagai penjuru Indonesia dengan keunikan yang masing-masing bawa. Teman? Bukan, kita keluarga.
Thirteen!
Keluarga yang begitu ramah menyambut kedatangan layaknya kepulangan. Para senior KF dan kru Diva Press membantu mengurus seluruh keperluan peserta, seperti kami segerombol adik kecil yang wajib dijaga baik-baik. Kecurigaanku gedung karantina sengaja diberi sentuhan sihir hingga terasa nyaman bagai rumah sendiri. (●´∀`●)

with them❤
Menempuh perjalanan di atas rel selama kurang lebih 5 jam, hampir tidak percaya kakiku akhirnya menjejak Jogja. Beruntung salah seorang peserta asal Jombang --Mbak Rialita-- rupanya menaiki kereta yang sama. Kendaraan jemputan pun tidak usah ditunggu. Mas Agus sudah siap menjemput di pintu keluar stasiun, memandu kami menuju gedung Kampus Fiksi.

Apa, ya? Ada semacam deja vu bahwa meski itu adalah kali pertamaku ke sana, namun semua terasa sangat akrab dan tidak asing. Singkatnya perjalanan itu tidak jauh berbeda dengan yang kubayangkan. Mungkin jiwaku sudah datang lebih dulu daripada ragaku?

Bersama Mbak Ria menjadi peserta ketiga dan keempat setelah Mbak Maulida dan Mbak Husnul yang sudah duluan sampai, terbang dari pulau masing-masing. Dalam sekejap saja peserta-peserta lain mulai berdatangan. Berjabat tangan dan berkenalan sembari menyebut daerah asal. Menambah riuh suasana karantina yang memang sudah hangat.

Jumat adalah prolog yang luar biasa, dan rangkaian kegiatan kami pada Sabtu dan Minggu esoknya pastilah lebih menakjubkan lagi.
ヽ(*≧ω≦)ノ


Next: Ter-#KampusFiksi13

Pasar Tanjung Anyar

Bicara tentang pasar di Kota Mojokerto, pastilah Pasar Tanjung Anyar yang dimaksud. Meski dewasa ini pasar modern sudah mulai marak, namun pasar tradisional tidak pernah kehilangan pesonanya.

Terletak hampir di sepanjang Jalan Residen Pamuji, Pasar Tanjung sangat mudah dikunjungi karena masih dalam ruang lingkup kota. Merupakan pasar terbesar di Kota Mojokerto, Pasar Tanjung menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat untuk segala kalangan. Di sinilah masyarakat Mojokerto memenuhi kebutuhan hidup mereka, baik itu secara konsumtif maupun opsional, apakah itu bahan mentah pun yang sudah jadi dan siap guna.
Los-los sayuran dan ikan
Ribuan pedagang menawarkan beragam produk. Meski sangat luas--dengan banyak los dan gang--tidak perlu takut tersesat dan bingung mencari jalan keluar. Di jantung pasar, dekat area pakaian, terdapat peta dari Pasar Tanjung beserta keterangannya. Los-los di pasar ini dibagi berdasarkan barang dagangan. Para penjual daging sapi berkumpul pada sederet los yang sama. Demikian juga dengan para penjual ayam potong yang menempati los yang berdekatan. Dst.
Pedagang ayam potong
Aneka jilbab dan baju
Selain pusatnya sembako dan ragam kebutuhan dapur, di Pasar Tanjung juga tersedia pakaian, tas, sepatu, perabotan rumah tangga, kue dan penganan, kacamata, kosmetik, servis jam, hingga penjahit/permak baju dan tas.

Berbeda dengan pasar modern(swalayan) di mana kita membayar sesuai dengan label harga tertera, di Pasar Tanjung setiap pembeli berhak melakukan penawaran terhadap barang yang akan dibeli jika harganya dirasa terlalu tinggi. Namun mengingat mayoritas pedagang/penjual adalah masyarakat kecil juga, kita sebagai pembeli hendaklah menawar harga sewajarnya. :)

Di pasar ini pembeli pasti diberi harga yang relatif lebih murah daripada di tempat lain, karena para pedagang mendapatkan barang-barangnya langsung dari produsen. Untuk pembeli dengan jumlah banyak akan diberikan harga grosir. Bahkan barang-barang di pasar ini dijadikan 'tempat kulak' bagi pengusaha peracangan, pedagang keliling, dan toko-toko kecil.

Berbelanja di minimarket atau swalayan memang menyenangkan. Terjamin bersih, tidak panas, dan nyaman. Namun alangkah baiknya sebagai warga setempat setidaknya satu-dua kali kita menyambangi pasar tradisional/lokal untuk turut menyejahterakan pertumbuhan ekonomi kota sendiri. :)) *sok bijak*

Salam belanja dari pasar Mojokerto
#30HariKotakuBercerita

Senin, 07 September 2015

Taman Benteng Pancasila

Namanya memang demikian. Aneh, ya? Dinamakan sama dengan nama jalan tempat taman ini berada yakni Jalan Benteng Pancasila, atau yang biasa disebut warga lokal dengan 'Benpas'. Letaknya yang strategis --dalam kota dan dekat dengan perumahan-- membuat taman ini menjadi destinasi jalan-jalan keluarga.
Terlihat gapura ala candi khas Kota Mojokerto
Tidak berbeda jauh dengan alun-alun kota, selain menyediakan ruang hijau bagi masyarakat, beberapa pihak menggunakan taman ini untuk berolahraga, sarana kumpul-kumpul komunitas lokal, alternarif refreshing, dan tempat bermain anak.

Berbentuk persegi panjang dengan lampu-lampu tinggi tersebar di seluruh taman. Pada bagian paling depan taman sejumlah terdapat persewaan bermacam-macam kendaraan mainan untuk adik-adik balita seperti skuter dan mobil-mobilan. Ada juga bermacam-macam odong-odong serta kereta kelinci yang pada jam-jam tertentu 'mangkal' di sana. Semuanya dengan harga terjangkau.

Bagian tengah taman berbentuk lingkaran dengan bangku-bangku taman mengelilingi. Bisa dibilang ini adalah pusatnya. Adik-adik yang menyewa kendaraan mini bisa bermain dan berkeliling di sini.
Di sisi timur berderet penjual jajanan dan minuman ringan. Tak ketinggalan para penjual mainan dan pernak-pernik menarik. Sepasang area bermain ditempatkan di sudut barat dan timur taman; ada ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit. Di sebelahnya pengunjung akan menemukan 'lantai batu' atau 'lantai akunpuntur'. Batu-batu yang ditanam sedemikian rupa pada lantai dipercaya bisa merelaksasi dan membantu melancarkan peredaran darah. Unik, bukan?
Berminat coba?
Hanya dengan membayar parkir Rp. 2.000,- saja pengunjung bisa bebas berjalan-jalan dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Sekadar menghabiskan waktu menikmati udara sejuk ala persawahan hijau, atau berkuliner ria mencicipi berbagai penganan yang dijual. Sebut saja pentol bakar, bakwan, jasuke(jagung-susu-keju), kedai capcin (cappucino cincau), es tebu, dll. Bisa dinikmati sembari bersantai.
Seumur jagung, taman ini dibuat demi mendukung pembangunan Kota Mojokerto. Dahulu Jalan Benteng Pancasila --atau Benpas-- serupa jalan pintas biasa di area persawahan yang cukup luas dan sejajar dengan rel kereta api. Terbayangkah suasananya? Ya, sangat sepi. Masyarakat enggan dan jarang melintasi jalan ini hingga konon menjadi angker dan rawan tindak kejahatan.
Maka pemerintah kota mulai melakukan perombakan besar-besaran terhadap jalan berbentuk siku-siku ini --satu ujungnya berada di Jalan Gajah Mada dengan ujung lain di Jalan Empunala. Pelebaran jalan, pembangunan gedung instansi pemerintah dan swasta seperti Carrefour serta berbagai macam rumah makan, toko, dan warung kopi, relokasi pasar-serba-ada, hingga pembuatan Taman Benpas.
Penambah pesona selain tata letak yang memang mewah(mepet sawah, LOL), pemandangan sunset dari Taman Benpas terbilang cukup indah lantaran luasnya cakrawala. Dengan posisi yang menghadap ke arah selatan, sewaktu-waktu pengunjung juga dapat menyaksikan kereta api yang melintas di sepanjang Benpas. Suara bising khas kereta rupanya mampu membuat pengunjung menolehkan pandang ke arah transportasi tersebut. Sesederhana itu memang, namun --tak terpungkiri-- menyenangkan.

Salam halan-halan. *bukan typo*
#30harikotakubercerita

Rabu, 02 September 2015

Alun-Alun Kota Mojokerto; Selamat Datang di Kota Kecilku

Adakah di antara kalian yang pernah berkunjung ke Kota Mojokerto? Atau justru baru kali ini mendengar namanya? Ialah sebuah kota kecil di belahan timur provinsi Jawa Timur, berjarak tempuh kira-kira sejam perjalanan dari Surabaya atau Jombang, sekitar 2-3 jam jika kalian berangkat dari Malang.

Belum singgah ke Mojokerto jika kalian belum mampir di alun-alun kotanya. Diapit Jalan A. Yani dan Jalan Majapahit --terletak di tepat di jantung kota, alun-alun Mojokerto sangat mudah dijangkau oleh kalian yang melakukan perjalanan luar kota.

Dari arah Surabaya misalnya, selepas menyeberangi Jembatan Gajah Mada, nyalakan lampu sein kanan di lampu merah pertama sebelum memasuki Jalan Pemuda --yang dikenal sebagai kawasan sekolah dan gereja. Selagi melintasi Jalan Pemuda, kalian akan mendapati --di jalan yang tidak terlalu panjang ini-- empat area sekolah yakni SMAN 3 Kota Mojokerto, SDK Wijana Sejati, SDN Gedongan 1, dan SDN Gedongan 3, serta tiga bangunan gereja di antaranya Gereja Kristen Jawi Wetan, Gereja Katholik Santo Yusuf, lalu Gereja Kristen Protestan yang terletak tepat di ujung pertigaan. Ambil lajur kiri sebelum pertigaan, namun segera nyalakan lampu sein kanan lagi di pertigaan berikutnya. Kalian akan berada di Jalan A. Yani dan alun-alun hanya tinggal beberapa meter saja.
Gerbang utama (selatan) alun-alun kota Mojokerto
Di sisi kanan sepasang gapura tinggi khas candi-candi Kerajaan Majapahit megah menyambut, seolah mengatakan "Selamat datang." kepada para pengunjung. Sebentuk tugu yang berada di jantung alun-alun ialah ikon dari alun-alun, yang identik dengan Kota Mojokerto itu sendiri.

Patung gajah yg tetap dipertahankan meski alun-alun sempat dipugar
Pintu masuk utama alun-alun ada di sisi selatan, menghadap Jalan Majapahit. Sementara pintu masuk utara menghadap ke Sungai Brantas dan Jembatan Padhangan. Uniknya kalian hanya bisa masuk dengan berjalan kaki karena kendaraan bermotor dilarang berada di dalam alun-alun. Tapi tenang saja, di sisi barat alun-alun sudah disediakan penitipan kendaraan baik untuk roda dua maupun roda empat. Jika sudah terlanjur berhenti di depan gerbang pun tidak masalah. Di sepanjang sisi selatan dan utara, para tukang parkir akan membatu kalian memarkir kendaraan.

Apabila kalian hendak berjalan mengelilingi alun-alun, kusarankan untuk memulainya dari gapura selatan menuju sisi barat lebih dulu. Menyusuri trotoar yang cukup lapang, kalian akan melihat sebuah patung gajah. Di sekitarnya tetanaman dirawat apik baik dalam pot-pot besar pun yang sudah diatur sedemikian rupa di tanah. Berderet tempat duduk melengkapi. Coba saja nikmati silir anginnya yang begitu memanjakan. Cuaca Mojokerto sendiri memang cenderung stabil, siang yang tak terlalu terik pun udara malamnya tidak akan membuat gigil.
Miniatur Candi Bajang Ratu
Beberapa meter setelah patung gajah, tepat di sudut barat-daya kalian akan disuguhkan miniatur Candi Bajang Ratu yang wujud aslinya berada di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sejak alun-alun rampung dipugar, ini adalah salah satu spot yang laris-manis digunakan untuk background foto. Keren, kan? Bagian tengahnya juga bisa dimasuki, lho. :)
Ponten alias kamar mandi umum. Meriah!
Bergeser ke sisi barat alun-alun, terdapat ponten yang terletak tidak jauh dari miniatur candi dan tempat parkir utama. Di sini pulalah Masjid Al-Fattah berada, salah satu masjid utama dan ternama di Mojokerto. Maka jangan khawatir melewatkan ibadah selagi menghabiskan waktu di alun-alun. Tinggal menyeberang jalan saja.

Masjid Agung Al-Fattah
Paling dekat dengan masjid dan pemukiman warga, menjadikan banyak penjual makanan dan minuman berkumpul di sisi ini. Bakso, mie ayam, gado-gado, es degan, es campur, es oyen, dan masih banyak lagi bisa kalian temukan dengan mudah dan dijamin murah.
Miniatur Candi Tikus
Mari berjalan lagi menuju sudut barat-laut. Kini giliran miniatur Candi Tikus yang akan membuat kalian serasa berada di Trowulan sungguhan. Jika tidak ada banyak waktu untuk melihat candi-candi langsung, mengunjungi miniaturnya bukan pilihan buruk, kan? ;)
Pada foto di atas, terlihatkah sebuah tiang berada di tengah-tengah? Ya, itu adalah tiang bendera. Jangan heran, alun-alun kota Mojokerto selain sebagai sarana rekreasi, juga merupakan bagian dari kegiatan kota. Tak jarang pada hari-hari besar, berkumpullah semua pegawai pemerintahan kota, siswa-siswi sekolah, atau instansi terkait, guna mengadakan upacara bendera di alun-alun ini.

Komunitas-komunitas lokal pun secara rutin menggunakan alun-alun sebagai pusat kegiatan mereka. Sebut saja Komunitas Skateboard, dan Mojokerto Animanga yang acap kali mengadakan event cosplay di sini.
Via Facebook: Mojokerto Animanga
Monumen meriam
Melewati sepasang gapura di pintu masuk utara, terlihat sudut timur-laut alun-alun dengan monumen meriam menghiasi. Selain dua miniatur candi sebelumnya, banyak pengunjung tertarik mengambil foto di sini. Anak-anak kecil tak jarang berpose dengan naik di atas meriam.
Whole landscape of alun2 Mojokerto
Sudut ini adalah yang terteduh. Banyaknya pepohonan di sekelilingnya kian menambah asri dan kenyamanan. Sederet warung dan depot sederhana siap menyambut pengunjung alun-alun yang lapar. Itulah sebabnya kalian bisa menemukan beberapa pengunjung melakukan piknik kecil-kecilan di sini. Datanglah membawa tikar dan bekal buatan rumah, atau silakan pesan makanan atau jajanan dari penjual-penjual yang tersebar di sekitar.
Dari sisi timur versi malam hari
Jika malas kemari di siang hari karena panas, cobalah untuk jalan-jalan sore atau malam hari. Selain kerap difungsikan sebagai tempat jogging setiap pagi dan sore, pengunjung juga gemar datang jelang petang. Begitu gelap lampu-lampu otomatis menyala, termasuk ikon alun-alun kita. Pendar warna-warninya jadi daya tarik tersendiri.
Alun-alun malam hari
Keramaian aktivitas pengunjung
Jangan lupa menjajal In Line Skate atau Roller Skate di sini. Cukup dengan Rp. 10.000,- saja per 30 menit, kalian bisa menyewa sepasang sepatu roda dan bermain bebas dengannya. Tak usah cemas bila belum bisa, akan ada seorang intruktur yang memandu. Mulailah dengan belajar berdiri sendiri di atas rumput yang tidak licin, kemudian baru pindah ke arena luncur. Untuk adik-adik usia sekolah, bisa mencoba menyewa bermacam-macam skuter dan motor mini. Semuanya menyala dalam gelap!
Roller Skate dan motor mini~~ lucu! xD
Terakhir, sebelum kembali ke posisi awal yakni gapura utama di selatan, sekali lagi kalian akan melihat minatur Candi Gentong --yang juga berasal dari daerah Trowulan, Mojokerto-- di sudut tenggara alun-alun. Unik, bukan?
Alih-alih gelap, ini spot yang photoable 
Jadi, kapan mau main-main kemari?

Mojokerto, September 2015
#30HariKotakuBercerita

Senin, 10 Agustus 2015

Sunday Couple

prosesi lamaran
Agustus selalu jadi bulan yang sibuk. Sebagai bulan peringatan kemerdekaan tanah air yang dinanti seantero negeri, Agustus identik dengan perlombaan, pawai/karnaval, jalan santai, sepeda hias, kerja bakti, hingga tasyukuran kampung dalam rangka 17 Agustus. Kegiatan full. Terlebih hari-hari Minggu kami yang sudah booked dengan rangkaian jadwal yang harus kami lakukan.

Jika minggu lalu kami bertolak ke Surabaya dalam rangka menghadiri arisan keluarga dari keluarga Mbah Buk, minggu kemarin kami menyambangi Kota Pahlawan itu lagi sebagai pengiring calon mempelai pria. Yup. Akhirnya Mas Dizar resmi melamar Mbak Ria.

Alhamdulillah acara berlangsung lancar dan sempat ada momen yang begitu mengharu-biru: saat Mas Dizar tiba-tiba diminta melakukan direct propose kepada Mbak Ria yang juga langsung menjawab dengan hasil yang sesuai harapan. Jadi ingat prosesi lamaran sendiri, meski nggak semendramatisir ini juga, sih. :')

Item of the day was: our couple-suit yang rampung dalam sekali cling! Gimana enggak? Sabtu pagi sebelum ngantor aku baru bertemu Bu Ony, menyerahkan kain dan mem-fix-kan rancangan baju kami, dan keesokan paginya kemeja, rok, dan bolero batik orderan kami ternyata sudah siap pakai! Subarashii~~ *plokplokplok*

Sebenarnya agak nggak enak hati dengan beliau karena kesannya kami (aku dan ibuk) maksa banget sudah mengorder seenak udel, tapi tentu saja kami sudah menyesuaikan ongkos kilatnya.

Berita buruknya, oppa macak baru tahu kalau kain batik kami berwarna dasar kuning. Dia lantas protes dan mengancam nggak akan bersedia mengenakan setelan 'seragam rumah' itu sering-sering karena dia benci warna kuningnya yang menurutnya sangat ngejreng, meski sudah di-mix dengan bahan lain warna gelap sekalipun. Hahaha... Jadi ingat ada cerita tersendiri di balik couple-suit ini yang membuatku kurang 'into it'. Hell shit! Not a good experience with one of tailor. :(

Tapi syukurlah meski sambil ngomel, oppa tetap mengenakannya dan jadilah kami serumah berseragam kuning-cokelat. I said many times that it looked so great on him. Hasil rancangan guweh sendiri gitu! Hehehe xD This is the third project after the engagement-blue-suit and the glittery-red-batik-suit.
Kostum khusus acara lamaran kami 22 Maret 2015 lalu. So stunning!
Ala-ala Cheongsam. Warna kita banget! xD
Nggak buruk-buruk amat, kan? Oppaku sayang juga nggak pernah nggak setuju dengan model yang kupilihkan untuknya. Kecuali perkara warna yang tadi. *^_^*

Meski buta kain dan jahit-menjahit, aku cukup senang mengerjakan desain pakaianku sendiri setiap kali ada project 'njahitno kain'. :D Biasanya di tempat penjahit memang disediakan beraneka macam contoh busana untuk menentukan model pakaian yang akan dipesan, tapi sudah lama sekali sejak aku menggambar sendiri sketsa calon baju yang kuinginkan. Jadi sang penjahit tinggal langsung mengerjakannya sesuai contoh gambarku. ;)
Nggak cuma 'couple' tapi kembar serumah lima orang.
Termasuk klien yang rewel dan cerewet, tapi aku bukan jenis klien yang ingin menyusahkan penjahit dengan segala keribetanku. Sewaktu menyodorkan sketsa gambar, aku akan menanyai beliau apakah sanggup untuk mengerjakan sesuai contoh gambarku atau tidak. And believe it or not, the tailor is free to refuse my design if she thinks can't make it. Bu Ony adalah satu dari nggak banyak penjahit yang kupercaya untuk menangani sketsa-sketsa gambarku... *terharu*

Ibuk dan Iis juga acap kali meminta saran dan masukan mengenai model untuk baju-baju mereka yang dengan senang hati akan kutanggapi dengan jujur. Yes, I am a mode and design constultant of Ume-chan. *pede* >_<
Senang melihat orang lain senang dan terlihat bagus dengan apa yang telah kita sarankan untuk mereka. 
Semoga oppaku juga akan mulai menyukai kemeja batik kuning-cokelatnya dan mau mengenakannya setiap kali aku ingin dia mengenakannya bersamaku.

Kisumi :*

Jumat, 07 Agustus 2015

Road to #KampusFiksi13 : Tiket Kereta Api Tut-tut-tut

Erceha go to Yogyakarta!! ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆

Berdasarkan file "ALAMAT DAN PENJEMPUTAN" yang di-email-kan redaksi Diva Press pada calon peserta #KampusFiksi, destinasi penjemputan yang ditentukan antara lain:
1. Bandara Adisucipto
2. Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Yogyakarta (Tugu)
3. Terminal Jombor dan Terminal Giwangan

Penjemputan FREE termasuk makan, penginapan, dan segala macam tetek-bengek selama karantina di Yogya. Jadi minus transport dari rumah saja yang tetap ditanggung peserta.

Namanya salaaah~~ :'<
Lalu aku? Perihal event ini sudah kuberitahukan pada oppa sebelum kami menikah dan sejak saat itu dia sudah berniat untuk ikut menemani. Syukur alhamdulillah terealisasi saat kami sudah sah menjadi suami-istri. Sudah nggak ragu-ragu lagi, deh. :Dv

Kami memutuskan untuk naik kereta api. Naik pesawat? Hell no! Naik bus? Kapan sampainya? I'm not in the mood to take any bus. Just not my favorite. :/ Sempat tanya ke teman-teman yang biasa jalan ke Yogya, baiknya ambil kereta apa yang tarifnya paling hemat. Ada yang menyarankan kami memilih KA Sancaka yang berdestinasi St. Tugu, beberapa yang lain cenderung mem-vote opsi KA yang turun di St. Lempuyangan dari segi ekonominya.

Jadi semua KA yang melewati jalur St. Lempuyangan adalah KA ekonomi, sedangkan KA bisnis dan eksekutif melalui rute St. Tugu. Tapiii~~ perbedaan tarifnya ituu lhooo~~ Σ(゜ロ゜;)

No doubt, kami segera memesan dua tiket KA Logawa dengan jadwal keberangkatan Hari Jumat tanggal 28 Agustus 2015 pukul 09:56am dari St. Mojokerto yang diperkirakan tiba di St. Lempuyangan pukul 02:41pm. Karena menurut rule, kami harus sudah sampai di Yogyakarta maksimal pukul 11pm. Ogah ambil resiko telat, dan memang cuma KA ini saja yang sangat sesuai dengan berbagai macam kondisi kamii~~ *dunanges deh*

Hari ini sudah selesai ngeprint Surat Pernyataan dan bikin daftar pertanyaan seputar permasalahan dalam menulis. Tapi scanner di kantor rusak. Entah ini mau scan Surat Pernyataan dan KTP-nya di mana... Masa' ya mau maksa difoto? Disuruh men-scan malah difoto doangan? Eh, tapi boleh juga idenya. *dikeplak* :(

Anw, Happy Jumat Mubarok, minna~~ Kisumi~ :*

Selasa, 04 Agustus 2015

Road to #KampusFiksi13 : Newborn August

Hello, August!

Hari keempat bulan delapan hadir. Begitu kalender baru dibuka, rangkaian acara dan kegiatan seolah berebut untuk direalisasikan. Apa saja rencana di bulan baru ini?

1 Agustus 2015, senja weekend kulewatkan bersama oppa, ibuk, dan keluarga oppa di rumah Krian. Tanpa banyak rencana, tahu-tahu ibuk menyampaikan keinginannya mengunjungi keluarga besan. And yah, it was a beautiful sunset, meski ada tragedi si ibuk kesasar.

pas acara keluarga
Buk Mudah dan Buk Iit menjamu kami dengan baik. Sambil mengobrol macam-macam, kami bertiga disuguhi pangsit mie ayam dengan porsi yang bagiku tetap super banyak meski selalu enyak. Selepas sholat maghrib ibuk akhirnya minta diri (karena ada jadwal show lagi), aku dan oppa juga pamit nggak lama kemudian karena kami berencana mampir ke stasiun dulu sebelum pulang. Tapi sayang, loket pemesanan tiket sudah tutup, cuma dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore saja. :(

Esok paginya minus Iis ditambah Tantit, dengan nebeng mobil Oom Rozi, kami menghadiri arisan keluarga di kediaman Mbah Yah dan Pakde Yono dkk di daerah Embong Malang, Surabaya. Kali pertama oppa ikut kumpul-kumpul family-branch ini. Garis keturunan dari orangtua kandung Mbah Buk, means buyut kami.

To be honest, I didn't get interest with the people. Dunno, just not one of my kind. Never feel that I'm one of them, except my direct fams of Mbah Buk-Mbak Bapak. Harusnya nggak boleh pilih kasih gitu, ya? Demo shikatanai ne~

Pulangnya kami mampir ke Masjid Agung Al-Akbar karena ibuk dan Bulek Wiwin belum sholat dzuhur. Sembari menunggu aku, oppa, dan Tantit mencoba naik ke menara masjid untuk kali pertama. Bertamasya mata menikmati elok pemandangan dari ketinggian. Masyaa Allah... What a wonderful experience it was! xD
Aku mendapat pencerahan(?) bahwa setelah kegiatan minggu pertama di Surabaya ini, besar kemungkinan minggu depan kami akan kemari lagi dengan tujuan berbeda; Minggu, 9 Agustus mendatang jadwalnya iring-iring lamaran Mas Dizar dan Mbak Ria, setelah Sabtu tanggal 8-nya memenuhi undangan resepsi pernikahan Widhi dan Kiki di Lamongan. Sugoi desu ne? Sedangkan minggu ketiga adalah giliranku piket kantor setelah paginya berpartisipasi jalan santai RW, dan saat minggu kelima aku sudah akan berada di Jogja. Hahaha~~ semoga nggak terjadi apa-apa di minggu keempat yang memang jatahnya goler-goler.
。・゚゚・(>д<;)・゚゚・。

Senin, 3 Agustus. Rutinitas kantor berjalan seperti biasa. Minggu ketiga pasca libur lebaran, hawa malas masih belum juga hilang, tapi pekerjaan sudah kembali semengalir semula. *mulet* Optik mengabari bahwa kacamata pesananku sudah jadi dan bisa diambil. Diantar oppa aku putar-putar Optik Modern,  Stasiun Mojokerto untuk pesan tiket kereta (meski gagal karena KTP oppa ketinggalan), dan TOP Steak&Milk sebagai venue makan siang kami.

pantes, nggak?
Ngomong-ngomong, kacamata Gino Armani tersebut selain dalam rangka ujicoba klaim BPJS, juga sebagai persiapan keberangkatanku ke Yogyakarta, memenuhi undangan Kampus Fiksi angkatan ketigabelas. Kami ke stasiun juga demi alasan serupa. Jangan sampai kehabisan tiket KA Logawa Mojokerto-Lempuyangan, yang akan membawa kami ke tujuan. Just can't wait 'till August 28th to take off. /,\

Kabar diterimanya aku sebagai calon bimbingan Kampus Fiksi memang sudah cukup lama. Eto~ sejak awal tahun? Jadwal keberangkatan semula Bulan Maret, lalu diundur Mei, dan baru benar-benar fix akhir Agustus ini. Alhamdulillah banget, dong! Jadi bisa pergi bareng suami sembari honeymoon. *ehh* *maunya* Apa kabar kalau berangkatnya sebelum itu? Bisa-bisa nggak dapat ijin pergi, kan. >_<

Senja Selasa ini mendung. Dan belum juga dapat kabar lanjutan dari event #30HariKotakuBercerita. Kinda dissappointed 'cause I've been so excited to participacing. :(

See you another day still in August! 

Kamis, 23 Juli 2015

Syawal 1436H

Taqabbalallahu minna wa minkum... Taqabbal yaa kariim...
with hubby
Selamat Hari Raya Idul Fitri!
Ricchan Auliya a.k.a Riza Chanifa Auliya Sari beserta segenap keluarga besar memohon maaf lahir batin atas segala kesilapan baik yang tersengaja maupun yang tanpa rencana(?). *sungkem* *telat* Semoga sekurang-kurangnya diri kita Allah senantiasa berbelas kasih menganugerahkan kita kesempatan untuk kian memperbaiki diri pun akhir yang baik. Aamiiin...

H+6. Sudah mulai masuk kerja (harusnya), tapi...hei, bukannya aku masih punya stok libur 2 hari termasuk hari ini? :P Karena ini-itu I got 2 more off-days, and I write this post while laying on bed. Got kind of insomnia since last nite and turn into headache this morning. Mau move-on dari kasur saja susah betul. Yasudah, lanjut gegoleran hore saja. Alhamdulillah... ( ´∀`)

So how was your holiday, Pals? Must be a quality-family time huh? Banyak yang mudik ke kampung halaman, bertemu dengan orang-orang terkasih yang jarang bisa ditemui. Uri namsaeng -Rizky- had also touchdown in Mojokerto H-1 dan baru balik Malang lagi kemarin sore. Waktu terlalu cepat habis jika dilalui dengan perasaan gembira bareng keluarga. Tahu-tahu Syawal sudah lewat cukup jauh.
Bagaimana rencana membayar 'hutang' puasa Ramadhan lalu?
Ada segolongan yang cenderung 'nanti-nanti' untuk melunasi jumlah harian puasa Ramadhan yang kurang, nggak penuh. "Ahh, baru juga selesai. Masih banyak makanan di rumah kok sudah disuruh puasa lagi," tapi nggak sedikit juga yang memanfaatkan momen Syawal untuk 'sekalian' melunasi hutang puasa Ramadhan dan bersunah puasa Syawal. ;)

Tahun lalu seluruh hutang puasaku tandas dalam sekejap di bulan Syawal. Pikirku untuk apa ditunda-tunda? Mumpung semangat puasa pasca Ramadhan masih meluap. Beberapa tahun sebelumnya saat masih ogah-ogahan puasa Syawal, aku biasa menghabiskan hutang puasaku dengan (lagi-lagi) sekalian puasa Senin-Kamis. Seminggu dua kali. Dalam setahun masa ya nggak lunas juga? :P

Karena puasa Ramadhan hukumnya wajib, apabila nggak bisa penuh (perempuan haid/nifas/menyusui, musafir, orang sakit, dll) maka harus mengganti di hari lain di bulan lain. Ada tenggang hampir setahun untuk 'mencicil', apa jadinya kalau hutang yang tahun lalu belum selesai, dan Ramadhan berikutnya sudah tiba di depan mata? Naudzubillah... Terserah mau kapannya, paling nggak sudah ada jadwal untuk 'masa pelunasan' itu.

with 'The Haris' 
Tahun ini... Lebaran pertama statusku bersuami. Dengan kampung halaman dan tradisi lebaran yang sama sekali baru, berbeda. Harus cermat bagi-bagi waktu untuk silaturrahmi ke sana-sini biar semuanya terkunjungi. Capeknya dobel sih, tapi senangnya juga dobel. Apalagi pengalaman bersosialisasi dengan keluarga mertua. Such an honor to having them. ^///^

Libur lebaran nggak pernah ada kata 'cukup'. Waktunya kurang, kesempatannya kurang, sementara cita-cita silaturrahmi, halal bi halal, hangout/piknik/jalan-jalan bareng teman, sepupu, keluarga, juga kerabat terlalu padat. Banyak sekali interested places yang belum sempat dikunjungi ramai-ramai.

Tapi ya itulah esensinya. Momen lebaran begitu dinanti karena kesebentaran-hadirnya di tengah-tengah kita. Dengan banyaknya checklist yang belum terpenuhi pada lebaran tahun ini, kita semua pasti akan sangat tidak sabar dan bersemangat sekali menyambut bulan suci Ramadhan dan lebaran yang menyertainya tahun depan. *^_^*

The last, how much has your weight been increasing? ;)

#TimAstorCokelat
#TimSempritCokelat
#TimKastengel
#TimPutriSalju

Kamis, 02 Juli 2015

Assalamu'alaikum, Bapak...

Ayahanda dari pria kecintaan saya.

Sebelumnya, ijinkan saya berterima kasih atas restu dan doa Bapak. Pertengahan Mei lalu pernikahan saya dengan putra kedua Bapak -Kak Anto- berjalan lancar sesuai rencana tanpa ada kendala. Meski tak dipungkiri kami sangat mengharapkan Bapak bisa hadir dan menyaksikan langsung janji suci kami.

Saya tahu Bapak ingin sekali menghadiri hari bahagia kami, namun apa daya, terbentangnya jarak antar-pulau dan kondisi kesehatan Bapak kala itu sama sekali tidak memungkinkan. Sebagai gantinya kami sudah menerima berkat dan doa-restu dari Bapak yang diwakilkan oleh Kak Rudi. Insya Allah itu sudah cukup, Pak.

His beloved siblings; your children
Yang tak akan pernah bisa saya lupa, malam, beberapa hari pasca kesibukan pernikahan, Kak Anto mengajak saya untuk menyapa Bapak via telepon. Bertukar kabar, sekadar memberitahukan situasi kami terkini. Dia ingin mengenalkan istrinya ini kepada ayahandanya. Dia ingin suatu saat istrinya ini bisa bertemu dengan bapaknya.

Cita-cita Kak Anto menjadi cita-cita saya juga.

Dia banyak bercerita tentang Bapak. Tentang ibu dan adik-adik. Tentang keluarga di Senipah. Saya hanya bisa tersenyum tatkala memperhatikannya bercerita. Kak Anto tampak begitu senang dan bersemangat ketika menceritakan hari-harinya di sana. Tempat-tempat menarik dan budaya setempat yang belum pernah saya tahu. Namun saya seperti bisa membayangkan. Saya seperti sudah dekat dengan keluarga Bapak sekalian.
Ahh... Mungkin dia rindu Bapak. Barangkali dia ingin pulang ke tanah Kalimantannya. Bisa jadi sayalah alasannya untuk pergi, dan kini dia ingin kembali.

Kak Anto menyuruh saya menyapa Bapak, membicarakan satu-dua hal untuk kali pertama. Apa yang harus saya katakan? Ada rasa malu dan canggung. Sudah lama saya tidak membicarakan hal-hal pribadi dengan orangtua laki-laki. Orangtua suami secara otomatis akan menjadi orangtua istri juga, kan? Maka beruntunglah saya, karena sekali lagi diijinkan memiliki sesosok orangtua laki-laki. Saya senang karena berpikir akhirnya saya bisa punya seorang bapak.

Apakah pemikiran saya tersebut terlalu lancang, Pak?

Saya kehilangan ayah saya hampir sebelas tahun lalu, saat saya berusia tigabelas dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Bisa dibilang masa kanak-kanak saya harus terhenti di situ. Saya harus bisa fight sebagaimana ibu saya yang berjuang sendirian sebagai single-parent.

Saya berusaha mandiri, tapi bohong jika saya bilang tak pernah merindukan ayah. Saya amat sangat rindu beliau, tapi cukup hati saya dan Tuhan (dan sekarang ditambah Bapak) saja yang tahu, nanti ibu dan adik-adik saya ikut teringat dan jadi sedih. Saya tidak ingin itu. :')

Saat diperdengarkan suara Bapak oleh Kak Anto via sambungan telepon malam itu, saya benar-benar dibuat kagum sekaligus heran, saya merasa tidak asing dengan suara Bapak.

Ahh... Itu...

Pernah Kak Anto memperlihatkan foto Bapak pada saya, waktu itu mungkin saya sembari mengira-ngira -Bapak yang tersenyum hangat dan ramah dalam foto- bagaimana cara Bapak berbicara? Bapak kan tahu bahwa Kak Anto memiliki aksen bicara yang khas, belakangan saya dapati cara bicara Kak Rudi juga tidak jauh berbeda. Mungkinkah Bapak memiliki nada suara dan cara bicara seperti yang saya pikirkan?

Ternyata sama.

Suara Bapak sama persis dengan yang pernah saya bayangkan. :D Saya benar-benar senang bisa berkesempatan mengobrol dengan Bapak. Meski sebagian besar saya hanya mendengarkan nasehat Bapak demi hubungan rumah tangga saya dengan Kak Anto. Terima kasih, Pak. Saya akan selalu mengingat dan berusaha melakukan apa yang Bapak sarankan. :')

Oh iya, Pak. Foto-foto pernikahan kami sudah selesai cetak. Kak Anto berniat mengirimkan sebuah album foto -yang ada kami sebagai pasangan mempelai bersama keluarga besar- pada Bapak. Dia bilang akan segera memaketkannya ke Senipah...

Tapi Pak, belum sempat suami saya pergi ke kantorpos guna memaketkan album foto pernikahan kami untuk Bapak -seperti tak sabar- sore tadi dia sudah terbang dari Bandara Juanda menuju Bandara Sepinggan, Kalimatan. Kak Anto terbang pulang menemui Bapak.

Kak Anto bergegas pulang ke Senipah begitu mendapat kabar kesehatan Bapak makin memburuk. Anak mana yang kuasa hatinya mengetahui kemungkinan terburuk; tidak akan bisa bertemu dengan orangtuanya lagi?

Kak Anto sangat menyangi Bapak. Dia sangat mencintai bapaknya.

Kenapa Bapak tidak bisa menunggunya sebentar saja? Sebentar lagi saja...

Dia belum sempat menyampaikan perasaannya pada Bapak. Dia belum sempat memberi dan memperlihatkan pada Bapak album foto pernikahan kami. Dia belum sempat memamerkan betapa tampan dirinya saat mengenakan busana pengantin...

Dia belum sempat berkata, "Pak, ini Riza, istriku. Bagaimana menurut Bapak?"

Terlambat satu jam. Terlewat satu jam dan tak seorang pun dari dia atau saya bisa bertemu muka dengan Bapak untuk selama-lamanya.

Barangkali Tuhan mencukupkan rasa sakit Bapak di hari ini. Agar Bapak tidak perlu banyak menderita lagi. Semoga kesakitan terakhir Bapak hanya ada di sini, semua tertinggal di sini, dan Bapak cukup berbahagia saja di surga. :')
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu...
Marhaban yaa ramadhan... Insya Allah segala amalan badah Bapak diterima oleh-Nya. Aamiiin ya robbal 'alamin...

Wassalamu'alaikum, Bapak...
Semoga suatu saat Tuhan berkenan mempertemukan kita ya, Pak. *^_^*



Kota kecil Mojokerto, 1 Juli 2015
Menantu Bapak nomor dua


Panggil saja Riza