Kamis, 04 Februari 2016

Waktu Istirahat Makan Siang

Hai! Aku sering melihatmu beberapa waktu terakhir di daerah sekitar tempatku bekerja. Kau yang setiap jelang siang duduk sendiri di tembok tepi sungai, mau tidak mau tertangkap inderaku yang hampir setiap hari pula melintasi ruas jalan itu untuk membeli makan siang di sebuah warung kecil di ujung jalan.

Mungkin sedikit tidak sopan, tapi boleh kutahu apa yang kau lakukan di sana? Setiap hari. Seorang diri. Tidakkah terik matahari yang pasti tengah panas-panasnya, akan sangat melelehkan peluh? Belum lagi kotor debu udara dan bising dari kendaraan yang berlalu-lalang. Sungguh kau tidak terganggu dengan itu? Bagaimana dengan para ABG yang juga suka numpang pacaran si sana. Tak membuatmu risih sama sekali juga?

Ya, itu memang terserahmu. Sama halnya dengan terserahku untuk tetap memerhatikanmu yang tetap tak beranjak dari tempatmu duduk--sejak aku melangkahkan kaki masuk warung, memesan makanan, membayar, lalu sudah akan kembali ke kantor. Kau tak bergerak sedikitpun dari situ. Kukuh menatap nyalang Sungai Brantas berarus sedang tepat di depanmu. Apa sih, yang sedemikian seriusnya kau lihat?

★★★

Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatmu. Dirimu yang biasanya menanti kepulanganku, ada di manakah sekarang? Sepi rasanya menatap bangku kosong tanpamu duduk di sana. Sendirian menungguku sambil membaca buku sembari sesekali merapikan rambut yang ditiup angin petang dengan jemari.

Lelahkah kau?

Tapi mungkin itulah yang terbaik, pikirku. Sesak menahan rindu karena tidak bisa melihatmu, samakah dengan dukamu yang terus menunggu, meski kita tetap tak dapat bertemu?


Hei, aku sudah tak lagi ada di sana, kau tahu. Jadi Sayang, berhentilah menunggu.



Penantian panjang, 4 Februari 2016
Yang sudah pergi darimu

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-5

Rabu, 03 Februari 2016

Detak Jantung Kedua

Kepada sosok menakjubkan yang jantungnya berdetak-detik seirama jantungku...

Aku tidak mengenalmu. Belum. Tapi sepertinya tubuhku tak kuasa menolak hadirmu. Sebelumnya hanya ada satu yang berbunyi, namun sekarang ada dua. Deg. Deg. Deg. Sebuah jantung lain turut berpacu dalam tubuhku. Berkejaran. Beriringan. Ialah jantungmu, yang bernyanyi beberapa kali lebih cepat ketimbang milikku yang kiranya mulai aus termakan waktu.

Pagi ini dia menyempatkan menemani. Sengaja kami mengantre lebih dini agar bisa mendapatkan pengalaman terbaik. Saat kuceritakan padanya--sebulan lalu--tentang bagaimana merdunya detak jantungmu, dia juga sangat ingin mendengarnya. Menyiapkan jemari untuk menghitung berapa banyak nada yang tercipta. Menggenapkan risaunya, bahwa tak ada yang salah padamu dan jantung mungil itu.

Alat medis itu disebut doppler. Tentu kami membutuhkannya untuk membantu mendengar detak jantung yang tertanam jauh di dalam rongga dada kecilmu. Seberapa jauh bidan harus mencari? Aku suka bagaimana kau malu-malu menyembunyikannya dari kami semua. Apa kau takut aku dan dia juga mendengar setiap pemikiran naifmu tentang kami? Tidak, tentu tidak. Kami adalah orang-orang yang menghargai privasi. Yakin suatu saat nanti--kala kau sudah sedikit lebih besar dan lebih siap--kau pasti akan bisa menyampaikan segala unek-unekmu, apapun itu, pada kami dengan baik.

Bidan muda yang memeriksa mencandaimu--si kecil aktif yang pemalu. Semalaman tak mau tidur, menemani dia yang baru pulang kerja, dan pagi ini tetap lincah seperti biasa. Tidakkah kau lelah? Atau mengantuk? Ada setitik khawatir menyelinap. Lihatlah, belum apa-apa kau sudah mampu memonopoli perhatianku.

Refleks kuusap perut buncitku sayang. Tahu-tahu bergerak. Kau terbangun rupanya, Nak. Mmm, kira-kira empat bulan lagi, semoga aku dan dia--ayahmu--akan bisa melihatmu menguap dan menggeliat dalam rengkuhan kami.



Ruang tunggu klinik, 3 Februari 2016
Bundamu kelak

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-4

Selasa, 02 Februari 2016

Bidadari Kesiangan

Selamat pagi, duhai Jelita yang belum kunjung membuka mata.

Aku terbangun oleh suara gaduh burung-burung peliharaan tetangga depan rumah. Entah sekarang pukul berapa, seingatku saat membuka jendela beberapa waktu lalu, fajar belum lagi lahir meski di jalan depan sana mulai banyak orang berlalu-lalang. Langit sewarna abu dengan silir angin dingin yang sesekali berembus masuk--alih-alih sejuk. Oh, mendung. Rupanya hujan semalam menyisakan embun panjang pagi ini.

Terdengar tarikan napas panjang. Apa yang terjadi dalam mimpi hingga mengerutkan dahimu seperti itu? Aku sungguh ingin tahu. Bagaimana bisa ada bagian darimu yang tanpa aku, wahai Pipi-merah-jambu? Tak tahan aku untuk mengacuhkan anak rambut yang seringkali jatuh menutupi sebagian wajah ayu itu. Terheranku mengapa mereka--yang meski ikal--terasa begitu lembut dan selalu wangi dan menyenangkan sekali untuk dibelai.

Pandanganku jatuh pada bibir ranum yang tampak selalu minta dicium. Ah, tahukah sudah berapa banyak aku mencuri kecup atasnya? Salahmu, Sayang. Salahmu begitu cantik dan menarik. Bahkan dalam tidur lelapmu sekalipun. Cup. Aku melumatnya sesaat. Kau tidak pernah keberatan aku melakukannya, bahkan kerap meminta di berbagai kesempatan berdua, meski sering kutolak. Ya, aku terpaksa pura-pura enggan. Pria mana yang lebih menyukai rasa lipstik ketimbang tekstur asli dari bibir wanitanya?

"Kamu sudah bangun?" merdu suara bangun tidurmu menyapa. Sayang sekali ciumanku harus membangunkanmu. "Jam berapa sekarang? Aku belum menyiapkanmu sarapan,"

Dengan wajah cantik natural bak bidadari, mana tega aku memintamu bergegas bangun dan mandi? Tidak. Jangan dulu, nanti lenyap aura surgamu berganti riasan duniawi. Hari ini adalah pengecualian, kau tahu.

"Masih sangat pagi, Sayang. Tidurlah lagi," pintaku sembari mengecup sekali lagi puncak kepalamu. Tercium wangi shampoo yang selalu memikat dari sana. "Nanti akan kubangunkan kalau aku sudah akan berangkat."

Dengkur halus terdengar menggantikan jawaban yang kunanti darimu. Dengan raut lugu kekanakan dan kemolekan tubuh tanpa pertahanan seperti itu, bagaimana mungkin aku sanggup berpaling darimu--satu-satunya wanita yang telah dianugerahkan Tuhan untukku?

Selamat tidur, Bidadariku. Izinkan aku--sebentar, hanya sebentar saja--untuk mengagumi sedikit lebih lama lagi.



Singgasana kita, 2 Februari 2016
Suamimu

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-3

Senin, 01 Februari 2016

Sekarangku

Thank you for having me here, tough it is not my own will...

Begitu tahu kamu akan datang, segera saja aku dilanda bimbang. Ini tidak seperti yang kuharapkan, sangat berbeda dengan apa yang kurencanakan. Kamu datang terlalu dini, padahal aku belum ikhlas merelakannya pergi. Ahh, andai aku bisa menggenggammu, juga ia... Bersamaan.

Banyak hal yang belum sempat ia dan aku lakukan bersama. Seperti yang kubilang, kami memang merencanakan semuanya--termasuk kehadiranmu--, hanya saja kami kekurangan waktu. 24x7 niscaya takkan pernah cukup dilewatkan bersama yang tercinta, meskipun tidak harus melakukan apa-apa.

Apa aku salah? Mengira 365 hari kami akan abadi jika kutemukan cara untuk mengekalkannya. Agar tidak ada yang terlupa. Bahwa kami benar-benar pernah bersama, membagi bahagia dan cinta berdua.

Akankah kamu mencintaiku seperti ia mencintaiku tahun lalu? Bisakah kamu membuatku merasakan cinta yang sama seperti yang ia berikan? Yang sanggup membalikkan kutub hati ini dari tak acuh menjadi peduli, lalu cinta pun bersemi. Bunga cintaku bisa merekah kembali.

Ia sudah memberiku begitu banyak cinta dan kenangan indah tahun lalu. Kuingin kamupun begitu. Harus. Tidak boleh tidak. Karena aku juga harus bisa jatuh cinta lagi. Agar bisa bertahan dan melanjutkan hidup bersamamu, dan mereka yang muncul setelahmu kelak. Untuk 365 hari ke depan, berikutnya, dan seterusnya lagi.

Terima kasih sudah berkenan datang dengan berbagai kejutan dan harapan baru. Then just make me fall for you, Sekarangku.



Keterasingan, 1 Februari 2016
Sekarangmu

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-2

Selasa, 26 Januari 2016

Over the 'Rain Camp'

Before I start to type, please excuse me for crying a moment. *nangis darah* ಥ_ಥ Pasalnya salah satu kelemahanku: galau judul, membuatku--barusan--tanpa sengaja men-delete postingan berharga yang susah payah ku-update kemarin. Allahu Akbar!! ᕙ(⇀‸↼‶)ᕗ (ಥ﹏ಥ)

Ya meski materinya nggak penting-penting amat bagi orang lain, but it was a treasure for me~ (ಥ_ಥ) dan sekarang mau nggak mau topik yang kemarin sekalian diulang saja, mumpung cukup nyambung. *maksa*
Uri Aka-chan sudah genap 5 bulan. 
Jadi jadii~~ Senin kemarin, 25 Januari 2016, menurut perhitungan kalender kehamilan Aka-chan sudah genap 20 weeks atau 5 bulan. Nggak terasa, ya? Baru saja belajar tata cara pakai testpack yang benar dan memastikan hasilnya, usia kehamilanku sekarang sudah 5 bulan, jalan 6 bulan. Sudah ada di pertengahan trimester kedua yang akan segera berakhir 4 minggu lagi.

The bumils and the team of puskesmas
Hari ini adalah hari terakhir kelas TPG di puskesmas, sekaligus penutupan kegiatan tahunan tersebut. Nggak terasa 20 hari berlalu dengan begitu cepat dan kami harus menyudahi pertemuan serta pertemanan kami. Sudah diberitahukan sejak Hari Sabtu, dan kemarin kembali diingatkan agar para bumil peserta hadir di acara penutupan.

Aku pun meski sudah berniat, tapi tetap saja tiba di kelas hampir jam setengah sepuluh. Untung belum mulai. :P Nggak banyak materi yang disampaikan oleh Bu Indah di hari terakhir ini. Selain mengenai masalah/kesulitan yang mungkin dialami ibu pasca bersalin dan menyusui, kami mengulang beberapa materi lalu dan melakukan tanya jawab serta sharing pengalaman.

Pukul 10 lewat kelas usai. Kami meminum 'jatah' susu terakhir kami sambil menunggu para bidan yang lain. Katanya akan ada sesi foto dan pemberian cinderamata dari puskesmas kepada para bumil peserta. What a great! Kami juga nggak perlu 'berebut' karena pada masing-masing bingkisan sudah tertera nama. Kata Bu Yekti, kado disesuaikan dengan absen dan keaktifan para bumil. :D Aku kan termasuk yang rajin hadir.

Alhamdulillah, memang banyak yang datang. Yang biasanya jarang ikut kelas atau kebetulan beberapa hari lalu kesehatannya sempat drop, hari ini sukses menghadiri kelas sampai selesai. Sekali lagi kami bertukar kontak (bagi yang belum), bersalaman, dan mendoakan yang terbaik bagi kami dan janin masing-masing berikut persalinan yang Dimudahkan. Aamiiin...

Kebetulan usia kehamilan teman-teman bumil berurutan. Dari HPL Maret sampai yang terakhir Agustus. Sampai jumpa saat kontrol bulanan, atau mungkin pasca bersalin sembari menggendong baby masing-masing. Hihihi...

Suasana di kelas
Gambar di samping menggambarkan suasana kelas TPG kami. Kebetulan foto-foto tersebut diambil ketika kami mengikuti sesi senam hamil (untuk bumil usia kandungan mulai dari 4 bulan) dan makan bersama (padahal nggak ikut makan). Di buku KIA memang sudah tercantum panduan senam hamil yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Tapi bagaimanapun praktik langsung jauh lebih baik daripada hanya sekadar teori, bukan? 

Sebenarnya banyak sekali momen-momen berharga yang sayangnya nggak sempat terabadikan. Di antaranya kami pernah melakukan uji yodium pada garam dapur yang kami konsumsi sehari-hari di rumah, praktik menyusui dan menggedong bayi, sampai sesi makan bersama dengan menu makanan sehat berbahan yang pernah dibahas sebelumnya sebagai materi (nuget kelor). Worth lah, pokoknya. 

Hadiah Aka-chan dari Bu Bidan
Seperti biasa, begitu kaluar dari ruang kelas untuk pulang--dengan kresek makanan ditambah kado berwarna mencolok--kami pasti menjadi bahan tontonan dan bisik-bisik para pengunjung puskesmas. Pada awalnya memang malu dan risih, tapi lama-kelamaan wes biyasah. Toh, ini memang hak kami. Dan ini hari terakhir. Alhamdulillah...

Aku sengaja meninggalkan bingkisannya di rumah. Menunda membukanya untuk menambah penasaran, sekalian menunggu Ayah Anto untuk menunjukkan dan membukanya bersama. Karena kemasannya yang empuk, kukira itu memang semacam kain, entah itu daster(?) ibu, kerudung (sudah pasti aku penerimanya, kan), selimut/handuk bayi, atau pakaian. Tebakan terakhir ternyata benar. Kak Anto senang sekali saat merobek kertas pembungkus kado sembari mengeluarkan selusin pakaian bayi dari dalamnya. Iya, ½ lusin baju dan ½ lusin celana beraneka warna. Barakallah... Rezeki anak sholeh/sholehah.

Teman-teman Aka-chan yang lain dapat apa saja, ya? (^_−)☆

Rabu, 20 Januari 2016

Sing!

Saya bergabung dengan Sing! Karaoke oleh Smule sebagai ercehauliyasari. Unduh aplikasinya untuk bernyanyi bersama saya: http://p.smule.com/u/9f0ad4f4
Hello, there!
Been awhile since I posted my last topic. Kinda insomnia but got nothing to do, then I blogging again. Tonite I'd like to share my new 'games'. Sing! by Smule and Alice's Mad Tea Party.

Sing! merupakan aplikasi hiburan bagi para pecinta nyengnyong alias tarik suara a.k.a bernyanyi. Berbeda dengan Soundcloud yang memungkinkan user mengupload beragam jenis rekaman suara (asli/original) dalam beberapa tipe, Sing! dikhususkan hanya untuk berkaraoke saja. Kabar baguanya user benar-benar difasilitasi untuk bernyanyi tanpa pusing mengenai musik/instrumen pengiring, karena sudah disediakan versi minus one lagu-lagu hits yang bisa dipilih sesuka hati.
Penampakan proses mulai awal sampai lagu selesai recording
Sayangnya aplikasi ini memerlukan 'modal' yang cukup besar. Selain kuota internet harus gemuk, status VIP sangat diperlukan untuk pengalaman yang lebih baik dan lebih luwes--yang membedakannya dengan kaum reguler. :/ Bermaharkan IDR 12k sebulan atau 95k setahun, user baru bisa benar-benar menikmati horenya aplikasi ini karena bebas leluasa memilih lagu untuk dinyanyikan secara 'free' lain halnya dengan user reguler yang tiap lagunya harus 'memotong' beberapa credit miliknya. Iya, prinsipnya semacam naik odong-odong yang harus masukin koin dulu kalau mau jalan.

Alice's Mad Tea Party
Alice's Mad Tea Party awalnya nggak sengaja ter-download pas sedang cari-cari Harvest Moon di Playstore, namun berujung buntu. Sempat kelar download Harvest Moon: Karen's Diary tapi nggak mau terbuka game-nya (yaa nasib). Berulang kali dicoba, lalu berakhir dengan uninstall. Sebagai gantinya Alice ini cukup menghibur. Grafik yang bagus dan alur cerita mengalir, game ini nggak bikin bosan meski sayangnya harus dimainkan secara online. Kuota lagi, kuota lagi... :'(

Apakah ada referensi game android tipe adventure/arcade yang jalan ceritanya mengalir 'tumbuh' tapi offline? Lemme know, please.

Kamis, 14 Januari 2016

Awkward Love

8 monthversary of our wedding❤ Nggak terasa perjalanan kami sebagai pasangan suami istri sudah selama itu. Aka-chan sekarang juga sudah memasuki 18 weeks menuju 5 bulan. Alhamdulillah...

Sangat nggak mudah mencapai titik ini after everythings we've been through. Perselisihan, adu argumen, beda pendapat, miss communication, miss understanding, lelah, stuck. Nggak tahu harus ngapain dan maunya diapain(?). But we do believe that rainbow'll rise after the hard rain, even storm. Paling nggak masing-masing kami tahu kapan dan bilamana tiba saatnya pulang. ^^ Cara mencintai yang nggak umum, eh? Hihihi... Apapun bentuk dan cara penyampaiannya cinta tetap cinta. Kasih sayang pun rupa-rupa, namun tujuannya sama: ingin pasangannya bahagia.

Bersyukur bagiku pribadi, karena selalu diberi kesempatan (dan kemampuan) untuk tetap--bagaimanapun--menemukan hikmah dan pelajaran di balik setiap masalah dan kesukaran yang terjadi. Always remember: what doesn't kill you makes stonger. It really does.


Hari keenam mengikuti kelas TPG dan mulai nyaman berbaur dengan bumil-bumil luar biasa--meski seringnya kami cuma berenam dari belasan yang seharusnya aktif berpartisipasi. Selain menguji coba kandungan yodium dalam garam dapur--yang mestinya kami lakukan kemarin--kami juga makan bareng. Kali ini benar-benar makan bersama dengan menu sehat yang khusus dimasak sendiri oleh dapur puskesmas: nuget ayam+daun kelor, tempe, sayur sop lengkap, sambal kecap, dan nggak lupa segelas susu bumil untuk masing. :'D

Selagi menyantap makanan sehat, kami mengobrol dan sharing banyak hal. Best regards to dear Mbak Rini, Mbak Furi, dan Ina (yes, aku sudah menghafal dan mengenali mereka) yang sudah membagi pengalaman mengasuh anak pertama. Barangkali di kehamilan yang sekarang mereka sudah bisa beradaptasi menilik kehamilan sebelumnya, tapi bagiku dan yang lain--yang baru kali pertama ini hamil--apa yang kami dapat dari yang telah mereka sampaikan adalah ilmu yang sangat berharga.

Unfortunately, my absent is almost useless. Niatnya sejak pagi antri loket (sampai nitip nomor antrian sama Mbak Rini dan Hana, thanks) biar nggak ketinggalan USG Dr. Reza S.Pog, dan sembari nunggu giliran periksa ikut kelas TPG. Tahu-tahu pas nomorku dipanggil dapat info kalau Dr. Reza nggak bisa bertugas hari ini dan jadwal USG digeser besok. Mampus! Alamat besok mangkir kantor lagi. >_<

Padahal sudah rapi dengan semangat pengin ketemu Aka-chan. Si ayah yang kemarin gondok habis-habisan karena nggak ikut periksa ke bidan dan dengar detak jantung si kecil pun sudah nggak sabar, tapi ya apa daya. :'( Sabar ya, Nak. Harapannya besok jadwal kami berjalan lancar sesuai yang seharusnya dan Bunda nggak ada masalah berarti di kantor. Semoga besok jadi hari yang baik untuk semuanya. Aamiiin...

Otsukaresama deshita to my self atas kerja keras beberes kamar dan cucian bersih serta spot tidur baru (we got trouble with the fan, AGAIN). Must go to bed soon supaya nggak kesiangan dan siap tempur 100% untuk besok.

Oyaciumii~~ (☆´3`)

Senin, 11 Januari 2016

Not an 'End' but 'And'

Let's greet the second Monday of January 2016. 11 days have been through, and what've you had 'till now? Hihihihi... For me, 2015 is not ovet yet, it hasn't been end, but still countinuing and get to be solved. :'(

I owed so much to 2015 and feel really sorry to 2016 for the-awkward-greeting. There were so many things happened while I was learning to made them up as best as I could, but yeah, I found my self still none. Buut~ Don't let the dark sky of this mellow afternoon drives us into madness, NO! I'm a mother-wanna-be who won't get sad or stressed. (^ω^)

Forget about what I've wrote above, today I'm feeling good by my 3rd day of TPG (Taman Perbaikan Gizi) Class held in Puskesmas Kedundung plus the tasty healthy meal I got.
Acara apakah itu? Apa aku kurang gizi? :'D Not sure about the vision-mission, tapi menurut pengamatanku beberapa hari ini, kelas TPG adalah sarana yang memfasilitasi para ibu hamil dengan nilai gizi* di bawah rata-rata agar tetap sehat hingga melahirkan dengan lancar dan sukses. Jadi para bumil dikumpulkan di sini bukannya karena mereka kekurangan gizi atau nggak sehat, tapi juga melingkupi banyak faktor.

Misalnya aku sendiri, status giziku sebetulnya baik dan nggak ada masalah. Hanya saja menurut ketentuan kesehatan ibu hamil LiLA(Lingkar Lengan Atas)-ku kurang--alis kurang gemuk sedikit. LiLA minimum adalah 23,5 cm sedangkan milikku hanya 22 cm, cuma kurang 1,5 cm saja padahal. T__T Kasus lain teman 'sekelas' bernama Hana--yang jika dilihat sekilas tampak sangat sehat dan bugar. Unfortunately Mbak Hana ini 'kalah' di Hb(hemoglobin)-nya, yang seharusnya minim berangka 10, tapi Hb-nya cuma kisaran 8. Belum lagi yang memiliki tekanan darah rendah, atau bahkan darah tinggi, punya riwayat keguguran, dll, bisa juga dikategorikan dalam kelas ini.
Me and the bumils
Kali pertama tahu kelas ini dari tetangga yang ternyata adalah kader puskesmas yang memang bertugas memantau ibu hamil setempat. Tapi judulnya "penyuluhan kehamilan berisiko". Pas datang baru ngeh bahwa acara tersebut nggak hanya berlangsung sehari itu saja, tapi selama 10 hari berturut-turut 3 bulan. *dweeng* Seneng-seneng senep lah. Kerjaanku gimanaa? Akhirnya aku meminta tolong pada salah satu kru puskesmas yang bertugas untuk membuatkan izin ditujukan ke pimpinan agar aku bisa mengikuti acara tersebut.

Di luar ekspektasi, pengajuan izinku diterima dengan baik oleh pak bos. Syukur alhamdulillah... Jadi per sabtu lalu, setiap jam 9-10 aku izin cabut ke puskesmas untuk ikut kelas TPG, dan setelah selesai langsung balik kantor lagi. Lumayan sih, perjalanannya. :') Tapi nggak papa, it's worth.

Dipikir-pikir lagi aku sangat diuntungkan oleh program/kegiatan ini.
1. GRATIS tis, alias nggak bayar sepeserpun. Cuma rogoh kocek 2k saja untuk bayar parkir.
2. Banyak ilmu seputar kehamilan, persalinan, dan parenting yang disampaikan oleh tim puskesmas. Selain bu bidan ada juga divisi(?) gizi misalnya, yang memberikan materi tentang makanan sehat. Uji gizi dan praktik senam hamil juga ada.
3. Teman-teman sesama bumil yang friendly dan interaktif. Kami banyak sharing tentang pengalaman pribadi masing-masing, terutama senior yang sudah pernah melahirkan.
4. Susu hangat penambah semangat. Segelas susu hamil disediakan dan bisa diminum selama materi, setiap hari. Boleh juga nambah kalau masih ada sisa. :P Sekotak susu hamil ukuran 200gr juga dibagikan cuma-cuma selama 10 hari sekali.
5. Makanan sehat setiap hari. Sudah gretongan pulang masih dapat 'jajanan'. Selain susu gratis tiap hari, sebelum kelas usai para bumil akan mendapat jatah seporsi makanan yang menunya variatif dan endeus. Bisa dimakan bareng after class, boleh juga dibawa pulang. Sesekali makanan dimasak langsung oleh dapur puskesmas--yang ini harus dimakan di tempat.

Yang manapun asyik. Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Jumat, 01 Januari 2016

2016

What goes around turns around. Everything has left behind, then let it be. Whatever will be will be.

So, hello, (brand) new me. ❤

Senin, 28 Desember 2015

Injury Time

Nite! I wrote this when I was watching "Another" and "Sherlock Holmes" yang sayangnya macet di tengah jalan lantaran para peserta nobar berguguran oleh kantuk yang menumpuk.

Busy Monday as it had to be, setelah Golden Week yang hanya dihabiskan di rumah saja, menemani suami. Pas adek lanang datang Hari Kamis sore dan balik Malang tadi pagi. Harus kuakui, liburan kali ini dananya nyaris zero. Jatahnya sudah all out untuk plesir kami sekeluarga ke Jember dua minggu lalu. Belum lagi tagihan belanja online yang totalnya hampir 1.000k! T__T Kelak harus bisa lebih me-manage porsi keuangan lebih baik lagi nih, kalau nggak pengin liburannya stuck di tempat kayak gini.

Tapi tetap bersyukur. Even wasn't a great holiday, but we had a quite good time together. Namanya 'Rizky' ada saja peluang rezeki untuknya selama pulang. Alhamdulillah...

Di sore kepulangannya aku sengaja membeli sekotak es krim Magnum mini edisi Honeycomb Crunch untuk dimakan serumah ramai-ramai. Di waktu luang Oppa mengajak cowok Malang itu main PS dan ngenet bareng tanpa melupakan kewajiban ibadah dan istirahat. Kami menghabiskan banyak waktu untuk nonton dan ber-quality time di rumah.
Nggak kerasa banget si bungsu sudah kelas akhir SMA, sebentar lagi UAN, kelulusan, dan akan jadi mahasiswa. Alhamdulillah, dia bilang pengin lanjut studi di Malang, perkara mau di universitas mana dan jurusan apa terserah, pokok kalau bisa negeri--bukan swasta. Kepulangan kali ini pun sambil mempersiapkan berkas persyaratan untuk BIDIK MISI. Minta doa untuk keberhasilan si adek, boleh, Minna. :')

Maka di malam terakhir sebelum Rizky balik, Oppa berinistif mengajaknya menjajal main sepatu roda di alun-alun. As we knew, mainan(?) itu sedang hits di kalangan adek-adek perumahan kekinian. Nggak hanya beredar di lingkungan terdekat, tapi sudah menjangkiti banyak kampung dan perumahan di kota ini. Nah, saat beberapa bocah bersepatu roda riuh melintas di jalan depan rumah--menarik perhatian kami--Oppa kontan menanyainya apa ia pernah mencoba bersepatu roda, dan ketika jawabannya negatif Oppa lantas mengajak kami untuk jalan-jalan ke alun-alun dan menyewa beberapa.

Tanpa Iis, berempat kami berangkat sekitar pukul 7 malam. Alun-alun begitu ramai dikunjungi pada weekend yang udaranya gerah. Cocok untuk cari angin. Ibuk yang memang sudah lama nggak menjamah alun-alun menyatakan kekagumannya pada pertumbuhan zaman. Kini alun-alun nggak lagi membosankan dan kumuh, namun menjelma asri, atraktif, dan cukup menarik.

Motor-motor mini beraneka tipe dikendarai anak-anak usia SD bersliweran di sekitar kami yang menuju lapak in-line-skate. Menyewa 2 pasang masing-masing untuk Rizky dan Oppa. Ya, Oppa bilang akan mengajari adik iparnya itu sampai bisa 'berjalan' dengan benar (karena berharap bisa meluncur terlalu jauh). Aku menyarankan untuk melatih keseimbangan di rumput dulu--agar lebih mudah--sebelum turun ke arena. Optimis, karena beberapa bulan lalu aku berhasil berjalan sendiri dengan kaki bersepatu-rodaku, kan?

Sekitar pukul 9 malam akhirnya kami sepakat untuk pulang. Rizky dan Oppa sudah bermandikan peluh. Kemeja dan celana yang dipakai Rizky dipastikan akan langsung cuci karena kotor oleh lumpur dan tanah. Sementara aku dan ibuk mulas kebanyakan tertawa menonton aksi dua cowok itu. It was worth. It was so fun.

Menghitung hari sampai kalender 2015 berganti 2016. Belum punya rencana tahun baruan ke mana dan mau apa. Ladia sudah mulai menginap dan mungkin besok Vira menyusul. :Dv Baguslah, seminggu ini Oppa shift malam, aku jadi nggak harus tidur sendiri. Malam tahun baruan bareng mereka saja gimana?

Seperti tahun yang sudah-sudah, hampir setiap liburan panjang sepupu-sepupu perempuan akan berkumpul dan menginap di rumahku. Rasanya seperti summer camp khusus cewek. Nothing's special. Agenda kami paling maraton film/drama, nonton mv terbaru, menggosipkan artis-artis Korea terutama para bias kami, dan sharing romansa. Tapi untuk yang terakhir sepertinya aku sudah lulus, meski kami berempat masih suka tidur bareng. Ehehehe... Tinggal Mida-nya saja yang jarang ikut kumpul. :|

Semoga hari-hari baik nan menyenangkan terus berlanjut. Enjoy your end year holiday!