Jumat, 14 Juni 2013

14 Mei 2013

SECRET ADMIRER

Cahya-oppa datang lagi. Dia tidak mau jadi L lagi, setelah kemarin Sari meneriakinya heboh demikian rupa. Tapi malam ini dia masih manis, dan memang selalu seperti itu. Di mata hati Sari, Cahya memang selalu sempurna.
Malam ini hangat. Akan sangat sayang jika mereka langsung pulang. “Emang bisa ketemu Oppa itu gampang !” Sari pasti akan merajuk jika Cahya menolak menemani lebih lama. Cahya yang masih dengan flu dan sariawannya, tapi mengiyakan ajakan Sari untuk mampir ke Green Cafe sejenak.
Beriringan mereka memasuki tempat minum yang juga lokasi nongkrong berbagai kalangan itu. Cahya mengedarkan pandangannya sejenak. Suasana cafe sedang cukup ramai. “Mau duduk di mana, Yang ?” Tanyanya pada Sari yang masih memindai beberapa meja kosong tersisa. Mencari posisi paling pewe.
“Di meja situ aja, Oppa.” Jawabnya menunjuk meja untuk dua orang yang dekat dengan pintu. Cahya mengangguk. Berjalan santai meraih salah satu kursi lalu mendudukkan tubuhnya di sana. Sari menarik kursi yang lain, namun tiba-tiba teringat mereka belum memesan minuman.
“Akhirnya kita ke sini juga, ya.” Sari tersenyum saat duduk menghadapi wajah Cahya yang berjarak tak sampai semeter di depannya. Serasa gadis itu bisa memetakan setiap lekuk mahakarya Tuhan pada wajah kekasihnya itu. Sudah dipesannya jus nangka untuk Cahya, jus stoberi bagiannya, dan seporsi kentang goreng kress yang ceria.
Ingatan Sari melayang ke beberapa waktu silam. Ketika dia dan Cahya berselisih hebat, mereka pernah memilih untuk ‘membahas rapat’ mereka di tempat itu. Di beranda luar cafe tepatnya. Tapi itu sudah berlalu. Waktu dan situasinya sudah jauh berbeda. Kini mereka berdua tengah berbahagia.
Sari mendesah jengah saat yukime memunculkan beberapa sms dari penggemar rahasia yang tidak diharapkan. Tipe cowok galau yang meski sudah jelas-jelas tidak pernah ditanggapi tapi masih saja memburunya. Tanpa minat ia sudah akan menghapus langsung sms-sms naas itu namun tiba-tiba Cahya merebut yukime begitu saja.
“Sms dari siapa ?” Tanya Cahya sambil mengecek inbox satu per satu.
Sari yakin ia memutar bola matanya barusan. “Penggemar alay. Sudah jelas-jelas dicuekin masih aja ngganggu. Oppa liat aja sms-smsnya. ” Tukasnya kesal.
“Eh, dia ngajakin Sayang ketemuan loh.” Cahya terkikik geli. Menatap wajah Sari yang menampilkan ekspresi muak pada yang sedang mereka bicarakan. “Nih, Sayang balas gih.”
“Males ahh, Oppa.” Sari langsung menolak. “Ngapain juga diladenin. Oppa mau aku ketemuan sama orang kayak gitu ?”
Cahya masih dengan sisa-sisa tawanya. “Suruh aja dia nyamperin Sayang ke sini. Aku pengen tau manusianya kayak gimana.” Oh oh, Sari segera mengenali, ‘Evil Cahya’ mode: ON. “Cepet dibalas. Kalau dia emang laki, suruh ketemu ke sini.”
“Andwae Oppa... Shirreo...” Sari merajuk. Oppa-nya ini juga ada-ada saja. Masa’ mau memaksanya ketemuan dengan makhluk asing yang ia tidak minat sama sekali, demi iseng ? Sungguh tidak masuk akal.
“Udah, balas aja kok. Kalau nggak gini dia pasti bakal gangguin Sayang terus.” Cahya bersikukuh tak mau kalah. “Emang Sayang mau dismsin terus ?” Senyumnya mengembang saat Sari menggeleng pasrah. “Nah, gitu pinter. Sekarang panggil dia ke sini. Biar kapok dia, sudah berani gangguin pacar orang.”
Mau tak mau Sari mengikuti saja alur permainan Cahya yang tampak menikmati setiap kemajuan dari sms-sms yang diterima Sari kemudian. Tanpa sadar Sari tersenyum. Ditemukannya lagi satu nilai lebih dari kekasihnya itu. Perhatian tidak langsung yang diberikan Cahya padanya. Kelembutan hati di balik tutur katanya yang kadang sembarangan, namun memesona.
Sembari menunggu si penggemar-korban-iseng itu muncul keduanya segera terlibat dalam percakapan ringan yang intim. Ditemani gelas-gelas tinggi jus masing-masing, Cahya dan Sari membicarakan apa saja. Mereka mengobrol seru dan tertawa. Saling mendengarkan saat yang lain bicara. Malam yang membuat Sari merasa begitu bahagia, lebih-lebih karena bisa bersama Cahya.
Namun tak pelak, Cahya masih berambisi meneruskan keisengannya. Memonitori yukime dan meminta Sari cepat membalas jika ada sms baru masuk dari si penggemar. Tapi sayang, beberapa saat berlalu tidak ada sms lagi. Sari mendapati yukimenya yang ganti merajuk. “Sial.”
Sigap gadis itu merestart ponsel tunggalnya. Berharap tidak ada masalah, sementara Cahya yang tak mengerti cara kerja yukime hanya bisa memerhatikan dengan tak sabar. “Hapenya Sayang sering gitu ya ?” Selorohnya membuat Sari menatapnya sok galak. “Sini sini, aku bantu betulin case-nya.”
Tak yakin Sari mengangsurkan yukime pada Cahya. Namun dalam sekali sentakan ujung tepi silicon case ponsel itu langsung sobek. Cahya buru-buru meletakkan benda malang itu begitu saja sambil nyengir bersalah.
“Yak ! Oppa ! Malah sobek...” Sari mengamuk. “Yaaah... Harus ganti dong nih.” Dengan teliti dikembalikannya case itu seperti semula walau bekas sobekannya jelas terlihat.
“Maaf ya, Sayang. Habisnya...”
“Lho !?” Pekik Sari mengejutkan Cahya. “Sms-smsku nggak ada semua, Oppa... Gimana nih ?” Buru-buru Sari mengecek ulang data-data dalam ponselnya. “Iyaa... Smsku hilang semuaa...”
Kening Cahya berkerut. “Kok bisa ?”
“Gara-gara Oppa ini kan. Smsku jadi hilang. Sms-sms dari Oppa hilang semua. Tanggung jawab ! Kirimin ulang semua smsnya.”
Cahya terkekeh. “Mana bisa ? Aku nggak pernah nyimpan sms kok. Ya nanti kan aku sms Sayang lagi.” Sari akan membuka mulut untuk protes namun jari telunjuk Cahya sudah menyentuh bibirya. “Biar aja sms-sms itu hilang. Yang penting aku nggak hilang dari Sayang, kan ?”
Cesss... Dan Sari merasakan amarahnya menguap seketika. Berganti dengan senyum salah tingkah untuk menutupi rona memerah wajahnya atas apa yang baru saja diperbuat oleh Cahya.
“Hemm... Sudah jam 9 ini, penggemarmu nggak jadi datang ya ? Ahh, dasar pengecut.” Ujar Cahya sembari menyeruput sisa jus terakhirnya. “Ayo cepat dihabisin, Yang. Aku antar Sayang pulang.”
Sari mengangguk. Senang menerima uluran tangan Cahya yang menariknya berdiri. Berdua mereka berlalu meninggalkan cafe itu. Meninggalkan si penggemar rahasia yang rupanya sudah diam-diam menunggu. Biar saja, jangan mengganggu. Biar saja tetap seperti itu. Selalu...

***

Kamis, 13 Juni 2013

Secangkir Hujan

nyata kutemui rasa sakit
kala dingin merengkuhku dalam dekapnya
kurasakan perih ini kian mengiris
mengiringi serpihan hujan 
yang membaurkan kenangan 

aku telah melihat sepi yang kau nikmati

tak dapatkah kau percaya ?
sekali saja...
sungguh,
alih-alih aroma kopi hitam yang mengepul 
memburamkan ingatan,
yang ku hidu setiap rindu 
adalah wangi lembut tubuhmu 
serta harum nafasmu 

seharusnya hujan ini 

mampu menyampaikan semuanya 
segala rasa 
tentang rindu 
tentang dinginku tanpamu 
dan harapku akan cinta hangat darimu 
tapi sayangnya ia bisu 

dan langit boleh saja menangis semaunya 

asal kau membagi suhu tubuhmu 
aku tidak akan apa-apa 
kita akan segera melihat pelangi bersama 
membagi warna-warninya 
meleburnya dalam cangkir-cangkir kopi kita



13 Mei 2013

OPPACHAGI as RYUUZAKI

Nggak mungkin nggak tau Ryuuzaki, kan ? a.k.a Lawliet a.k.a L (baca: eru/el) ! xD Karakter penting anime/manga Death Note, one of my most favorite title ever. Cowok usia dua puluhan kurus tinggi agak sangkuk. Suka makan makanan manis, insomnia akut, cerdas cadas! Emotionless, bossy, cuek, king of his own world. Ketceh badai lah, pokoknya. 
Ngosplay-in dia? Gampang. Outfitnya pasti: kaus putih lengan panjang loose, jeans biru tua yang loose juga tentu. Rambut diberantakin dikit, lalu ngejongkok di atas kursi sambil gigit-gigitin ibu jari. Jadi L sudah! *plokplokplok*
And that what nae oppachagi did tonite...
Pagi ini masih sedikit lemas, meski rasa lega sudah kuusahakan terisi ke mana-mana di seluruh penjuru hatiku. Kejadian kemarin sore, remember? Aku masih cukup terpukul, jelas. Tapi mengingat dia sudah membaik semalam then i got an amazing one thing, mungkin oppa sengaja diam karena nggak ingin melimpahkan kemarahannya yang berlebih padaku. Dia tahu aku paling takut dia marah. And his ‘magic world’ aku hampir lupa saking tidak pernah lagi menjumpai kata-kata bengal itu dalam sms-smsnya belakangan ini. Lagi-lagi, mungkin, dia nggak ingin sampai berkata seperti padaku. Alhamdulillah... Akhirnya... :’)
Aku benar-benar bersyukur. Tapi untuk kenyataan bahwa aku masih sering kesepian menghadapi yukime yang sunyi akan dentingan tone sms darinya, memang seperti itu, nggak bisa diapa-apakan lagi.
Maka siang itu aku coba peruntungan untuk meng-sms-i-nya sebuah kabar: nae eomma wanted him to come to our house. Jederrr!! Cetarr membahenol sekali pakai ‘sungguh’ kan? *okeh, saya lebeh*
Jadi bahas ke mana-mana kan, nih... >_<

Tanpa disangka-sangka oppa datang. Setelah sebelumnya memberi ucapan “selamat berbuka puasa” yang sukses bikin aku senyum-senyum sesorean. Dia benar-benar sudah nggak marah lagi rupanya. Syukurlah. Syukurlah.
Then there he was. Came for me. Bawain aku makanan pula. Dia pikir aku belum makan, padahal tadi aku sudah bawa bekal. Aiiihh... Sayangku. :*
Jam mengajar sudah selesai dan kami akan mulai main monopoli ketika dia memutuskan untuk ikut bergabung. Betapa lucunya ! Kami main monopoli berlima sampai tahu-tahu tepat jam delapan malam dan hanya tinggal kami berdua di sana.
Malam itu dia berubah menjadi seorang anak laki-laki besar yang manja. Dia memelukku erat, membenamkan dirinya lama di sana. Aku membiarkannya saja. Tidak ada keberatan, malah aku suka. Aku suka oppa yang seperti itu. Yang sudah mau jujur bahwa dia sedang membutuhkan aku.
Oppa menemaniku makan, i told u i have done my diner. Tapi untuknya aku akan makan lagi dan lagi sebanyak yang dia mau aku untuk makan. Dia menemaniku sambil bermanja-manja, sambil bertanya. Perihal undangan dari nae eomma untuknya. I told him what i knew, what i wanted him to do for this. Dan alhamdulillah responnya sangat baik. Hatiku hampir saja menari jika nggak tahu diri. Rasanya semua beban di hatiku sudah terbebas. :)
Tahu-tahu dia bangkit, sedikit merajuk saat aku iseng mengacak-acak rambutnya yang malam itu memang terlihat sangat bagus padanya. Tepat ketika dia akan kembali, and he did it ! xD Berjalan sangkuk ke arahku dengan dua tangan tenggelam dalam kiri-kanan saku depan celana jins belelnya.
“Eh, aku kayak L, ya?” Ujarnya polos sementara aku melongo parah. Atau terpesona lebih tepatnya. *blushed*
Tapi detik berikunya.. Omaigat !! Aku berlari memeluknya. “Oppaaa... Tega sekali kamu menirukannya.” Aku masih heboh dalam peluknya, oppa balas memelukku. “Kamu-kamu kenapa mirip sekaliii... Huaaaa... Kamu mirip, iya kamu L !” Kembali histeris, aku memeluknya lebih erat. Merasakan oppa tertawa-tawa sambil mendekapku dalam-dalam.
Tuhan, bagaimana mungkin Kau menghadiahiku kekasih yang sesempurna ini ? Aku benar-benar sangat beruntung memilikinya, Tuhan. Aku beruntung bisa mencintai dan dicintai olehnya.
But unfortunately, oppa got cough and flu. He said that he shouldn’t *iss me for a moment. Hehehe... Dan harusnya aku nekat maksa memotretnya saja. Ahh... Aku sangat suka dia, lebih dari apapun di dunia.
Jeongmal neomu neomu saranghae oppachagiya - nae ryuuzaki - nae eru... :*

Rabu, 12 Juni 2013

21 Maret 2013

“Aku sudah benar-benar nggak bisa, Kak...” Sari menemukan suaranya bergetar hebat. Tangannya menggenggam ponsel kuat-kuat seolah benda mungil itu adalah tumpuan satu-satunya, dan akan limbung dirinya jika genggaman itu dilepaskan.
Dengan bibir yang tampak sudah tidak berdaya untuk digerakkan ia berucap lagi, “Aku sudah nyaris gila. Aku nggak akan bisa bertahan dengannya lagi. Aku nggak sanggup, Kak. Kakak harus menolongku...” Sangat lirih, tapi Sari yakin segenap energinya sudah habis untuk itu.
“Andai aku bisa menolongmu, Sayang...” Suara rendah di seberang telepon itu menyahut. Sama lirih dan sarat pilu dengan milik Sari yang didengarnya sejak tadi. Dihelanya napas panjang. Ia tahu hal seperti ini akan segera terjadi. Tapi secepat ini, adalah yang ia harap tidak pernah mau tahu.
“Bawa aku, Kak. Bawa aku pergi bersamamu, atau aku bisa mati di sini...”
Suara gadis itu kian melemah. Timbul tenggelam diantara isak tangis dan pengaturan nafas yang tak sempurna. Cahya tahu kekasihnya itu benar-benar menderita saat ini. Dan ia sangat membenci dirinya yang bahkan tidak mampu berbuat apa-apa untuk Sari.
“Sayang nggak boleh ngomong gitu.” Ucapnya pada akhirnya. “Badai ini akan segera berlalu dan kamu menghadapinya bersamaku.” Berharap kalimatnya dapat sedikit menenangkan gadis itu, dan juga hatinya yang tak henti bergemuruh. Ingin sekali Cahya mendatangi Sari untuk memeluknya. Memberitahu gadis itu bahwa Cahya bersamanya. Tapi ia tidak bisa. Semuanya tidak sesederhana itu. Tidak sesederhana impiannya dan Sari untuk bisa bersatu.
Sari kembali terisak. Bersusah payah menyusun kata. “Me-mereka semua jahat padaku. Mereka yang sangat kusayangi tega melakukan hal ini padaku.” Dan tangisnya kembali pecah.
Cahya sudah akan mengucapkan sesuatu. Bibirnya sudah terbuka namun diurungkan niatnya. Ia mendesah lagi. “Aku tahu Sayang kuat. Sayang pasti bisa melewati malam ini. Dan berjanjilah akan tetap bertahan hidup untuk bersamaku nanti.”
“Sayang masih nggak mau makan?” Pertanyaan Cahya menguap. Hanya isak tangis Sari yang bisa ia dengar, lain tidak. Terakhir kali diingatnya Sari sempat mengabarinya sudah makan siang tadi. Setelah itu Cahya yakin tidak ada apapun yang masuk dalam tubuh lemah gadis itu hingga kini. Kecemasan kembali menyusup dalam celah-celah hatinya. “Aku sama tersiksanya sepertimu, Sayang.”
Dihelanya nafas panjang. Berat sekali. “Yakin mau pergi bersamaku? Kita lihat bagaimana perkembangannya dulu. Kalau memang tidak ada pilihan untuk kita, aku akan membawamu pergi.” Janji Cahya. “Makan atau minumlah sesuatu, lalu tidur. Ini sudah hampir subuh. Dan Sayang sudah menangis sejak jam sembilan malam tadi.”
“I-iya, Kak...” Sari bersuara akhirnya. “Tapi aku tetap belum bisa tenang.”
“Kamu percaya aku, kan?” Cahya yakin Sari mengangguk pelan di seberang sana. “Berdoalah, semua akan baik-baik saja. I love you, Sayang...”
“Love you too, Kak Cahya...”

***

Senin, 10 Juni 2013

060713 (6:36 PM)

Tahu kenapa aku sangat senang sudah 'bisa' sholat lagi? Agar aku bisa banyak2 berdoa setiap kali selesai sholat. Mendoakanmu lekas sembuh, mendoakan kita baik2 saja dan makin kuat tiap harinya.

Kamu harus tahu bahwa aku benar2 menyesal. Selalu bermimpi bisa mengulang lagi hari kemarin, hari di mana kamu terluka olehku. Memang selalu seperti ini, aku selalu terlambat menyadari. Mohon kamu tetap memberitahuku apa yang sebaiknya aku lakukan, dan apa yang tidak seharusnya ku lakukan.

Aku mohon, Chagi, aku mohon untuk entah yang ke berapa kali. Apapun. Apapun asal jangan pergi. Apapun asal kamu tetap di sini. Tetaplah di sisiku seperti ini. :'( I beg you not to leave me, please...

Aku sangat sayang kamu, Chagiya. Mohon maafkan aku... (╥﹏╥)

060713 (9:22 AM)

Then you've been killing me first. :')

Once again i see this nightmare while my eyes wide open, always the same. What was i afraid of; you, your heart, your feeling, and your thinking of me. But as always, we had passed those nightmares away. And met the sunshine, together.


Sekali lagi dicaci-maki seperti itu, seperti aku tidak ada harganya sama sekali untukmu. Memang mungkin, karena nyatanya kamu mampu memuntahkan segalanya padaku. Dan sekali lagi pula aku ikhlas menelannya karena memang aku yang bersalah. Mungkin bagimu aku selalu salah.


Kamu pun sudah bosan dengan berbagai macam permintaan maafku. Lalu bagaimana inginmu sebenarnya? Haruskah aku mengizinkanmu menamparku? Memukulku? Untuk melampiaskan semuanya tanpa sisa? Silakan. Tidak masalah. Siapa tahu itu bisa membayar sakit hatimu. Melunasi ketidakpuasanmu. Aku sungguh-sungguh serius, tanpa bermaksud kurang ajar dan dengan tidak mengurangi rasa hormat dan sayangku padamu.


'Cause as always, anything you've said, you are still and always be mine. My everything. 

Maka sampai mati pun aku tidak akan berhenti berusaha, entah bagaimana pun caranya, agar kamu bisa memaafkan aku dan kita kembali berbaikan lagi.

I'm so sorry, love. I do love you so much. :*

Minggu, 09 Juni 2013

'oppachagi' CDC

aku mengenal genggaman tangan itu
mengingat betul setiap lekuk jemari
merekam jelas hangat yang tercipta
dalam sudut kecil hatiku

aku mengenal bayangan itu
bayangan sosok yang selalu kurindu
bayangan yang melahirkan haru 
satu-satunya di dunia ini
yang melenyapkan raguku

aku jatuh cinta
pada tawa lepas dari sudut bibirmu
bibir yang membuatku candu
aku jatuh cinta 
pada setiap kebersamaan kita
pada perbincangan kala senja 
pada kelakar-kelakar 
pada dentingan gitar 
pada besarnya mimpi yang kau perlihatkan 
tanpa syarat 
tanpa terikat

aku mencintaimu begitu saja
begitu membuka mata dan 
dirimu lah segalanya
aku merindukanmu tak peduli waktu
persetan yang lain meragu
yang ku tahu 
aku hanya menginginkanmu
di sini
di sisiku...



Senin, 27 Mei 2013

Mini Drama : "Dilema"

Tema : 
Dibalik setiap keputusan yang telah diambil, ada akibat yang akan dipertanggungjawabkan.
Judul : 
Dilema
Sinopsis : (ringkasan cerita/gambaran inti cerita)
Pemain :
1. Ares
2. Zeus
3. Hera
4. El (Angel)
5. Il (Devil)

Narasi : (memperjelas situasi/kondisi di tempat kejadian/peristiwa dengan disertakan tokoh yang bermasalah dan penjelasan suatu masalah)

Di suatu siang yang terik, trotoar sepanjang SMK Olimpus menuju halte
Ares : (Keluar dari gerbang sekolah. Melepas dasi. Mengeluarkan ujung kemeja seragamnya. Berjalan gontai menyusuri trotoar, sambil sesekali menyeka peluh yang membanjiri dahinya. Melihat halte kosong, lantas duduk di bangku terdekat).
Zeus : (Memesan sebungkus es jus di warung kecil dekat halte. Usai membayar, dimasukkannya dompet ke dalam saku belakang celana. Lalu menunggu pesanan es jus-nya).
Ares : (Memperhatikan Zeus. Entah darimana tiba-tiba muncul niat buruk).
Il : (Di sisi kiri Ares). (Ada secercah harapan pada dompet yang tampak berisi itu).
El : (Merapat ke sebelah kanan Ares).
Ares : (Menimbang-nimbang, bimbang).
Il : (Merayu menggebu-gebu).
Ares : (Bangkit dan berjalan menuju Zeus dengan sebungkus es jus di yang hampir jadi, kelihatannya sangat segar).
Zeus : (Menerima es jus, berjalan ke arah Ares).
Ares : (Beberapa meter di depan Zeus. Terus berjalan sambil memainkan batu kerikil dengan menendang-nendangnya).
Il & El : (Berjalan mengapit Ares. Il tertawa-tawa senang, sementara El sibuk berkomat-komit).
Zeus : (Sibuk dengan es jusnya hingga tidak melihat Ares yang berjalan lurus ke arahnya).
Ares & Zeus : (Bertabrakan bahu sekilas, Zeus tampak terkejut).
Zeus : (Tersedak).
Ares : (Membungkukkan badan, meminta maaf sekilas).
. . .
Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah
Ares : (Resah).
Il & El : (Menunjuk ke arah Hera yang saat itu sedang bersama seorang, Zeus).
Ares : (Tidak mengenali Zeus).
Il : (Tertawa mengejek).
El : (Memelototi Il).
Hera & Zeus : (Di kejauhan, sedang seru membicarakan sesuatu sambil sesekali bercanda dan tertawa-tawa bersama. Mereka kelihatan sangat akrab).
Ares : (Memperhatikan dua orang di seberangnya. Tampak tak senang Hera tertawa menanggapi perkataan Zeus yang tak bisa ia dengar dengan jelas. Merasa cemburu).
Ares : (Tidak mempedulikan perkataan El dan langsung menghampiri Hera & Zeus).
Zeus : (Sedang bercanda dengan Hera. Merasa ada yang menepuk bahunya, ia menoleh).
Ares : (Mendaratkan sebuah bogem mentah di wajah Zeus).
Zeus : (Menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya).
Hera : (Menjerit)
Ares : (Kaget, memucat ketika akhirnya mengenal Zeus).

Zeus : (Mengenali wajah Ares lantas menarik kerah kemejanya).
Ares : (Panik. Baru menyadari kalau Zeus adalah mahasiswa pemilik dompet yang sudah dicurinya itu).
Il : (Tertawa).
Zeus : (Memukul Ares).
Ares : (Tidak mampu membalas karena kedoknya sudah terbongkar di depan Hera).

Dialog

Ares : Ya Allah, panasnya! Mana laper dan haus, pula. Duit abis. Padahal akhir bulan masih jauh, tapi jatah uang saku udah sekarat banget! Kalau gini gimana aku nembak Hera dan ngajak dia jalan?
Il : Ini kesempatan, Man.
El : Jangan Boyyy… itu nggak baik, dosa! Kamu tau resikonya, kan?
El : Udahlah, ayo cepet pulang aja…
Il : Res… kesempatan nggak datang 2 kali lho! Kamu bakal menyesal kalau nggak kamu lakukan sekarang. Santai aja, Man… pasti aman! Kamu pengen uang jajan lebih buat ngajak Hera jalan, kan? Sekaranglah saatnya!
Zeus : Hei! Kalau jalan lihat-lihat dong! Dasar, bocah…
Ares : Maaf kak, benar-benar nggak sengaja.
Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah.
Ares : Dari kemarin-kemarin pengen banget nembak Hera, tapi belum ada moment yang pas. Kayaknya hari ini aku harus cepet ngomong ke dia. Tapi Hera kemana, ya?
Il & El : Tuh…
Ares : Lho, siapa itu cowok? Kok Hera bisa sama dia, sih?
Il : Cowoknya, kaliii… Wah… Keduluan nih.
El : Kan belum tentu juga, Res. Tanyain dulu aja, gih. Siapa tau mereka cuma teman.
Ares : Sialan, itu cowok! Bisa-bisanya dia godain Hera kayak gitu. Baru kali ini aku lihat Hera bisa tertawa kayak gitu terhadap seorang cowok, bahkan dia nggak pernah bersikap seperti itu saat bersamaku.
Il : Dasar cewek itu… Padahal kamu sudah bela-belain, tapi dia malah deket sama cowok lain.
El : Kita nggak boleh negative thinking, belum tentu juga itu cowoknya. Disamperin aja dulu Res, tanya baik-baik. Hei, hei…
Ares : Heh! Anak mana lo? Jangan beraninya godain cewek sekolah gue, yah!
Hera : Ares! Kamu itu apa-apaan sih? Ngapain pukul-pukul dia, segala?
Ares : Tolong minggir, Ra. Cowok mata keranjang ini tadi godain kamu, kan? Kamu nggak diapa-apain sama dia?
Hera : Omong kosong apa ini?! Res, kenapa kamu mukulin kakakku, sih?
Ares : Kakak? Maksud kamu? Jadi, cowok ini kakak kamu?
Hera : Ya, cowok “mata keranjang” ini kakakku. Dan kamu sudah seenaknya mukul dia sembarangan.
Zeus : Kamu bocah yang udah nyolong dompetku waktu itu, kan?!
El : Aduh… gawat! Il, kita harus bantu Ares!
Il : Kenapa harus? Dia yang menebar benih, jadi biarkan Ares sendiri yang menuai hasil dari perbuatannya. Sudah El, kita nonton saja.
Hera : Kakak kenal sama Ares?
Zeus : Nggak, tapi aku yakin dia yang udah nyolong dompetku. Dasar kurang ajar! Balikin dompetku, bocah!
Hera : Apa itu bener, Res? Kamu yang nyopet kakak aku?
Akhirnya Ares dilaporkan kepada pihak sekolah atas kejadian ini. Orang tuanya pun dipanggil dan ia mendapat skors selama beberapa hari.

. . .

Minggu, 26 Mei 2013

Asa

Bukan buta,
pupil & kornea masih bercinta dg sempurna
bukan bisu,
lidah, gigi, serta pita suara masih riang beradu

namun meski hati hingga lelah menggapai,
pelita itu tetap dilindung temaram
desahan itu demikian dalam tersaput kelam

tertawa
kering
terjerat
rusak
berandai-andai
tertepis
bercumbu
kelu...

Aku mati bersama dekapmu...

Senandung Rindu

dingin ini demikian eratnya memelukku
hendak kau bawa ke mana angan-anganku pergi ?
aku hanya punya satu mimpi
dan aku bercita-cita akan melihat mimpi itu lagi
bersamamu

tapi langit senja sudah jauh berpulang
menyisakan tiupan sepi
yang menyelimuti hati
dan aku tak tahu
yang ingin kulihat esok
adalah dirimu yang amat kucinta saat ini
atau
kisah kebersamaan kita
di masa mendatang ?

aku tak tahu
mengapa aku tersesat sejauh ini
hanya karena wangi aroma tubuhmu
aku tak tahu
apa bagusnya jika kupu-kupu cantik sepertimu
mau menerima hatiku,
bunga kristal yang dingin lagi beku

aku tak tahu
apakah langkah kita akan selalu seirama ?
akankah detak jantung kita
sudah saling tersinkron
satu sama lain ?

aku tak tahu
dan
tak mau tahu
apapun
yang hanya akan membuatku berpikir
bahwa langit sengaja mencipta jarak
antara ku denganmu

aku sungguh tidak tahu
mengapa mencintaimu seperti ini
tapi aku pasti takkan mau tahu
akan jadi apa aku tanpamu
karena
kita selalu bersama, kan ?